Ide Besar Muncul dari Aktivitas Baca-Tulis

- Editor

Senin, 9 April 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tingkat literasi di Indonesia menempati posisi 61 dari 62 negara yang dinilai. Hal ini disebabkan oleh rendahnya budaya membaca. Mentalitas membaca dan menulis perlu dibangun sejak dini agar terbiasa berani memunculkan ide dan gagasan dalam bentuk karya.

Berdasarkan riset Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu. Lama waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Jumlah buku yang dibaca per tahun rata-rata sekitar 5-9 buku. Jadi, rata-rata tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia adalah 36,48 persen. Angka ini tergolong

Direktur Penerbitan dan Pendidikan PT Gramedia Asri Media Suwandi S Brata mengatakan, tingkat kegemaran membaca masih rendah karena sejak dini tidak pernah dibangun kebiasaan membaca.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Dengan tingkat literasi yang rendah, ini berbahaya. Ide-ide besar selalu muncul ketika orang suka membaca. Mereka perlu dimotivasi untuk mulai menyukai budaya membaca,” ujar Suwandi dalam konferensi pers Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2018 di Perpusnas, Jakarta, pada Jumat (6/4/2018).

NIKOLAUS HARBOWO–(Dari kiri ke kanan) Penyair Joko Pinurbo, staf humas Perpusnas Elsa, Direktur Penerbitan dan Pendidikan PT Gramedia Asri Media Suwandi S Brata, serta Penulis Elvira Natali, dalam konferensi pers Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) 2018 di Perpusnas, Jakarta, pada Jumat (6/4/2018).

GWRF 2018 digelar mulai hari ini hingga Minggu (7-8 April) di Perpusnas. Acara tersebut akan dihadiri oleh beberapa penulis dan penyair, seperti Sapardi Djoko Damono, Leila S Chudori, Joko Pinurbo, Maman Suherman, Tere Liye, Eka Kurniawan, Donny Dhirgantoro, dan Bernard Batubara.

Suwandi menuturkan, budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini untuk merangsang ide atau gagasan baru. Pemikiran tersebut pun diharapkan lebih reflektif dan tetap kontekstual.

“Jadi ada pemikiran kritis yang timbul, tidak pragmatis,” ucap Suwandi.

Penulis muda, Elvira Natali (21), mengatakan, kebiasaan membaca mampu menggerakan seseorang untuk berkarya.Elvira mengaku suka membaca sejak sekolah dasar. Ia mengawalinya dengan membaca cerita bergambar. Beranjak sekolah menengah atas, ia mulai menyukai bacaan novel.

Elvira pun termotivasi untuk mencoba berkarya. Saat itu dia duduk di kelas X SMA. Ia mengaku, naskahnya pun sempat ditolak oleh penerbit. Namun, ia terus belajar dan mengirimkan naskahnya kembali. Hingga kini, Elvira telah menerbitkan lima buku, yakni Janji Hati (2013), Return (2014), Two Souls (2016), (Never) Looking Back (2016), dan Bluebell (2018).

“Saya menyukai dunia menulis, jadi saya tidak mau berhenti begitu saja meski ditolak. Kalau tidak pernah mencoba, tidak akan jalan,” tutur Elvira.

Sebagai generasi milenial, Elvira menilai, kelemahan pada generasinya adalah lebih suka sesuatu yang instan. “Mereka terdidik membaca tulisan yang singkat, sehingga malas membaca buku yang panjang. Karena singkat, semenit lewat, jadi akhirnya tidak ada sesuatu yang berkesan bagi mereka,” ujar Elvira.

Penyair Joko Pinurbo menambahkan, perlu ada peningkatan kualitas membaca bagi generasi sekarang. Ia mencontohkan, tidak mudah untuk dapat memahami sebuah karya sastra apabila tidak pernah dibiasakan membaca.

“Untuk bisa mengapresiasi sebuah karya sastra tidak mudah, perlu latihan, perlu proses, perlu kekhusyukan sendiri. Tidak semudah kalau hanya membaca sepintas, sehingga kualitas membaca itu sangat penting,” ujar pria yang biasa disapa Jokpin.

Jokpin mengatakan, hal serupa juga perlu diterapkan dalam menulis. Menulis, menurut dia, perlu konsistensi.

“Menulis itu seperti menabung. Sedikit demi sedikit, berani mencoba. Jadi memang prosesnya harus konsisten. Kita menjaga energinya yang penting,” ucapnya.

Jokpin bercerita, dirinya mulai menulis puisi sejak umur 15 tahun. Namun, puisi pertamanya baru terbit ketika ia berumur 37 tahun.

“Saya kalau putus asa, saya sudah berhenti menulis. Artinya, ada faktor mental juga yang harus dijaga,” ujar Jokpin.

Dalam berkarya, Jokpin menuturkan, penulis juga harus berani mencari hal yang berbeda dari yang sudah ada di pasaran. Penulis harus memiliki kekhasan dalam mengekspresikan karyanya agar dikenali orang. Ia mengaku, hampir 20 tahun mencoba meneliti kosakata yang belum pernah ditulis oleh penyair-penyair di Indonesia.

“Gaya itu melekat pada diri penulis. Jadi, sulit ditiru siapapun,” ujarnya.(DD18)

Sumber: Kompas, 7 April 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru