Home / Berita / Orang Indonesia Tidak Suka Membaca? Hanya Mitos

Orang Indonesia Tidak Suka Membaca? Hanya Mitos

Pada 2016, Indonesia menjadi negara kedua terendah dalam hal minat baca. Namun, hal itu dinilai hanya mitos. Sebenarnya, masyarakat Indonesia suka membaca, tetapi terhambat kurangnya distribusi buku ke daerah-daerah.

Hasil pada 2016 itu merupakan studi ”Most Littered Nation In The World” milik Central Connecticut State University. Pada studi itu, minat baca Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara. Sementara itu, berdasarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang suka membaca.

Meski demikian, pendiri pegiat literasi Pustaka Bergerak Indonesia, Nirwan Ahmad Arsuka, mengatakan, statistik tersebut hanyalah mitos. Menurut dia, orang Indonesia suka membaca apabila memiliki akses terhadap buku.

Mitos orang Indonesia tidak suka membaca itu palsu. Buku yang kami kirim ke daerah selalu habis dibaca dalam waktu singkat oleh masyarakat. Malah kami sering dimarahi masyarakat daerah kalau tidak ada buku baru dalam jangka waktu tertentu.

KELVIN HIANUSA UNTUK KOMPAS–Lobi Perpustakaan Nasional, Jakarta. Minat baca di Indonesia dinilai masih tinggi, tetapi terkendala akses sulit

”Mitos orang Indonesia tidak suka membaca itu palsu. Buku yang kami kirim ke daerah selalu habis dibaca dalam waktu singkat oleh masyarakat. Malah kami sering dimarahi masyarakat daerah kalau tidak ada buku baru dalam jangka waktu tertentu,” kata Nirwan, Selasa (20/2), dalam konferensi pers untuk acara Seminar Nasional Literasi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Pustaka Bergerak Indonesia adalah pegiat literasi yang menyuplai buku untuk masyarakat dari Aceh sampai Papua. Gerakan ini dibantu oleh 1.200 tim relawan yang tersebar. Relawan itu akan mengirimkan buku lewat motor, kuda, dan perahu untuk menjangkau masyarakat yang tidak mendapatkan akses buku.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Pengunjung membaca buku dan melakukan aktivitas lain di Perpustakaan Nasional di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (1/2). Di Perpusnas ini juga tersedia, antara lain, ruang baca untuk anak, ruang penyandang disabilitas dan lansia, serta coffe shop.

Menurut dia, pengiriman buku sudah mencapai 140 ton hanya dari Mei 2017. Jumlah itu merupakan bukti kecil bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya suka membaca.

Ucapan Nirwan juga didukung data Perpusnas pada 2015. Dalam data itu, kegiatan masyarakat pada waktu luang didominasi oleh membaca dengan 35 persen, diikuti menonton televisi dan bermain gim atau media sosial, masing-masing sebesar 21 persen.

Data Perpusnas juga membuktikan, masyarakat Indonesia lebih menyukai meminjam buku ke perpustakaan, sebanyak 33 persen, dibandingkan membeli sendiri sejumlah 31 persen.

KELVIN HIANUSA UNTUK KOMPAS–Konferensi pers untuk Seminar Nasional Bappenas 28 Februari mendatang.

Masalahnya, ucap Nirwan, pemerataaan akses buku sangat terbatas. Banyak daerah yang sulit menjangkau perpustakaan di daerah perkotaan. Untuk itu, Nirwan coba menggalang kekuatan masyarakat daerah setempat untuk membantu pergerakan buku.

Menurut Nirwan, pemerintah perlu mendukung gerakan baca tersebut dengan penyediaan buku-buku. ”Masalahnya itu keterbatasan akses dan jumlah buku,” ucapnya.

Hal tersebut diakui Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Amich Alhumami. Menurut dia, pemerintah kesulitan membangun perpustakaan fisik di daerah terpencil.

Untuk itu, pemerintah akan mendorong penyebaran buku dengan mobilitas lebih tinggi lewat motor dan perahu. ”Kami ingin fokus ke daerah terpencil yang sulit dijangkau dengan penyebaran buku tanpa perpustakaan fisik. Salah satunya mendukung pegiat literasi seperti Nirwan,” katanya.

Adapun, Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando mengatakan, saat ini ketersediaan perpustakaan sudah cukup merata.

”Perpustakaan di provinsi sudah mencapai 100 persen, kabupaten atau kota mencapai 98 persen, serta perguruan tinggi mencapai 60-70 persen,” katanya.

KELVIN.HIANUSA–Konferensi Pers Seminar Nasional Bappenas

Fokus pemerintah
Menurut Amich, Bappenas menetapkan program literasi untuk membangun sosial ekonomi masyarakat. Hal itu menjadi Kegiatan Prioritas Nasional dalam Rencana Kerja Pemerintah 2019.

”Peningkatan literasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Literasi dapat memberi pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup. Masyarakat yang punya akses pengetahuan mampu meningkatkan daya saing ekonomi,” kata Amich.

Selain itu, pengetahuan lewat buku juga bisa dijadikan modal bagi masyarakat untuk membuat usaha kecil-kecilan. Amich mencontohkan, seperti menjahit, jualan keripik, dan usaha lainnya.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Seorang mahasiswi membaca buku di perpustakaan Universitas Airlangga (Unair).

Untuk merumuskan kebijakan terkait pengembangan literasi, Bappenas mengadakan Seminar Nasional, Selasa (27/2), di kantor Bappenas. Acara itu akan menghadirkan sejumlah aktivis sosial pegiat literasi.

Syarif menambahkan, buku adalah kumpulan pengetahuan dari kisah sukses seseorang. Ilmu terapan yang dibawa buku bisa menjadi inspirasi masyarakat.

”Tidak cukup menjadi pegawai negeri. Lihat saja pendiri Alibaba, Jack Ma, dia kan bisa sukses karena ditolak saat melamar kerja. Dengan adanya buku, kelompok masyarakat bisa belajar mengikuti jejak tersebut,” katanya. (DD06)

Sumber: Kompas, 20 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: