Home / Berita / Gizi Anak; Kasus Anak Balita Pendek Cenderung Meningkat

Gizi Anak; Kasus Anak Balita Pendek Cenderung Meningkat

Jumlah anak berusia di bawah lima tahun yang mengalami masalah tubuh pendek semakin tinggi. Selain itu, kasus gizi kurang dan kelebihan gizi juga mengancam kesehatan anak.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2013, prevalensi anak bertubuh pendek (stunting) mencapai 37,2 persen. Jika dibandingkan dengan data Riskesdas 2010, prevalensi stunting meningkat 2 persen dari 35,6 persen. Hal ini terungkap dalam program edukasi kesehatan menyambut Hari Gizi Nasional yang diselenggarakan Soho Global Health, Rabu (22/1), di Jakarta.

Menurut Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, masalah kesehatan anak, yaitu tubuh pendek, gizi kurang, dan kelebihan gizi, harus ditangani sedini mungkin. Ketiga masalah ini tidak hanya berdampak pada kesehatan anak pada masa depan, tetapi juga akan berdampak luas pada kondisi ekonomi terkait produktivitas generasi mendatang.

Data gizi kurang 2013 adalah 19 persen, bertambah 1 persen dari angka 17,9 persen pada 2010. Adapun kasus kelebihan gizi turun dari 14 persen pada 2010, menjadi 11,9 persen pada 2013. ”Meski terjadi penurunan pada masalah kelebihan gizi, persoalan ini masih serius karena bisa memicu terjadinya penyakit tidak menular, seperti gangguan jantung dan pembuluh darah serta diabetes pada usia muda,” kata Anung.

Kondisi ini terjadi karena tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah dan pemahaman masyarakat terkait gizi yang kurang. ”Akar masalahnya terletak pada kesulitan ekonomi yang membelit masyarakat,” kata Doddy Izwardi, Direktur Bina Gizi Kemenkes.

Menurut Doddy, jumlah kasus anak bertubuh pendek tertinggi ada di Nusa Tenggara Timur (NTT), sedangkan yang paling rendah di Kepulauan Riau. Sebanyak 13 provinsi berada di bawah angka rata-rata nasional kasus anak bertubuh pendek. ”Pertambahan ini secara garis besar bisa dibilang dalam kondisi stagnan. Sebab, pertambahan angkanya tidak terlalu jauh,” ujar Doddy.

Pemerintah telah melakukan berbagai intervensi terkait masalah gizi. Beberapa kegiatan di antaranya pemberian vitamin A, promosi pemberian air susu ibu, promosi penggunaan garam beryodium, pemulihan pada anak balita gizi kurang, dan perawatan pada anak balita gizi buruk. ”Dalam waktu dekat, kami (Kemenkes) akan meresmikan Pedoman Gizi Seimbang,” ujar Doddy.

Berakibat buruk
Dokter spesialis anak RSAB Harapan kita, Laila Hayati, yang juga menjadi pembicara dalam acara itu, mengatakan, gizi kurang, anak bertubuh pendek, ataupun kelebihan gizi, memiliki dampak yang bisa berakibat buruk bagi kesehatan anak.

Menurut Laila, perawakan pendek pada anak tidak hanya menghambat perkembangan secara fisik, tetapi memiliki dampak negatif yang akan berlangsung di periode usia selanjutnya. Anak-anak pendek menghadapi kemungkinan lebih besar untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang kurang percaya diri, kurang sehat, dan lebih rentan terhadap penyakit tidak menular. ”Seorang anak balita yang normal, biasanya bertambah tinggi 1-2 sentimeter per bulan,” kata Laila.

Ia menambahkan, untuk kasus gizi kurang, idealnya ketika anak bertambah umur, bertambah juga berat badan dan tingginya. ”Pada kasus gizi kurang, terlebih pada kasus gizi buruk bisa mengakibatkan penyakit, kecacatan, bahkan kematian,” kata Laila. (A10)

Sumber: Kompas, 23 Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: