Bayi Pendek Bisa Terjadi Lintas Generasi

- Editor

Jumat, 10 Juli 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Status gizi pendek atau stunting pada anak balita bisa terjadi lintas generasi. Dengan kata lain, ibu yang pendek dan berstatus gizi jelek berpeluang melahirkan bayi yang pendek juga. Oleh karena itu, intervensi gizi pada remaja perempuan dan ibu hamil perlu dilakukan dengan lebih baik lagi.

Demikian disampaikan peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Trihono, Kamis (9/7), di Jakarta. Trihono mengatakan, selain pertambahan berat badan selama hamil yang kurang dari standar dan asupan gizi di bawah angka kecukupan gizi, faktor determinan lain terjadinya bayi pendek ialah tinggi badan ibu yang kurang dari 150 sentimeter dan indeks massa tubuh (IMT) ibu hamil kurang dari 18,5 kg/m2.

“Ada banyak data tentang status gizi pendek pada bayi, anak balita, dan anak yang bisa dipakai untuk merumuskan kebijakan oleh pemerintah. Dari data yang ada, kita bisa melihat ternyata status gizi pendek bisa lintas generasi. Perlu penanganan komprehensif semua pihak untuk memutusnya,” ujar Trihono.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan, kelompok anak pendek pada umumnya lahir dari ibu yang rata-rata tinggi badannya lebih pendek (150,7 sentimeter) ketimbang ibu dengan rata-rata tinggi badan normal (152,4 sentimeter). Kelompok ibu yang pendek (tinggi di bawah 150 sentimeter) cenderung melahirkan bayi pendek lebih banyak (47,2 persen) dibandingkan dengan kelompok ibu dengan tinggi normal (36 persen).

Ibu yang pendek dan IMT-nya buruk sangat terkait dengan status gizi ibu tersebut. Ibu hamil yang status gizinya buruk berpeluang melahirkan bayi dengan berat rendah (di bawah 2.500 gram) dan panjang kurang dari 48 sentimeter. Riskesdas 2013 menunjukkan, prevalensi pendek pada bayi baru lahir dengan panjang kurang dari 48 sentimeter 20,2 persen.

Oleh karena itu, Trihono menyarankan, untuk menurunkan prevalensi anak pendek, perlu pendekatan siklus kehidupan sebab kondisi calon ibu sejak remaja hingga status gizinya saat hamil akan sangat memengaruhi bayi yang dilahirkannya. Program yang bisa dilakukan pemerintah dan sektor swasta ialah pemberian makanan tambahan tinggi kalori protein dan mikronutrien bagi semua ibu hamil karena pada umumnya konsumsi ibu hamil tidak memenuhi angka kecukupan gizi, pemberian makanan tambahan dan mikronutrien bagi anak balita, serta pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI.

Trihono menyebutkan, selain faktor determinan di atas, faktor lain, seperti pendidikan dan status ekonomi, juga berpengaruh pada status gizi pendek. Semakin tinggi pendidikan dan semakin sejahtera keluarga, prevalensi pendek kian kecil.

Ketua Pembina Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi yang tidak dapat tergantikan. Pemberian ASI eksklusif dapat membuat bayi terhindar dari gangguan tumbuh kembang, obesitas, marasmus, kwashiorkor, juga marasmus-kwashiorkor.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menuturkan, untuk mengatasi masalah kesehatan, diperlukan kerja sama pihak lain, seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dalam kesehatan masyarakat, pembangunan kesehatan oleh Kementerian Kesehatan sendiri hanya memiliki daya ungkit keberhasilan 30 persen. Sebanyak 70 persen sisanya sangat bergantung pada sektor lain.

ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas Siang | 9 Juli 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB