Home / Berita / Gempa Kekuatan Kecil Bisa Picu Tsunami

Gempa Kekuatan Kecil Bisa Picu Tsunami

Gempa berkekuatan M 6,7 yang mengguncang Turki dan Yunani pada Jumat (21/7) pukul 01.31 waktu setempat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Meskipun gempa berkekuatan di bawah M 7, ternyata bisa memicu tsunami setinggi setengah meter.

“Artinya, patahan-patahan yang tersebar di dasar laut di wilayah Indonesia pun bisa memicu tsunami meski gempanya tak harus di atas M 7,5,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono, di Jakarta, Jumat.

Daryono menambahkan, wilayah di Indonesia bagian timur yang secara tektonik sangat aktif dan kompleks memiliki banyak sesar di dasar laut. “Kewaspadaan harus ditingkatkan dan perlu difahamkan konsep mitigasi evakuasi mandiri. Sebab, di wilayah ini banyak sesar aktif di dasar laut yang berdekatan dengan daratan atau pulau berpenghuni,” katanya.

Dalam kejadian di Turki, kata Daryono, tsunami dipicu gempa yang berkedalaman dangkal dengan mekanisme patahan turun. Berdasarkan data Lembaga Survei Geologi AS (USGS), pusat gempa berada pada koordinat 36,949 Lintang Utara dan 27,458 Bujur Timur atau di lepas pantai Teluk Gokova pada jarak 93 kilometer arah selatan kota Bodrum. Kedalaman sumbernya hanya 10 kilometer sehingga dikategorikan dangkal. Tsunami yang dipicu gempa ini menewaskan dua orang dan melukai ratusan orang.

“Secara tektonik, Teluk Gokova merupakan sistem graben terbesar di Turki bagian barat yang keberadaannya berkaitan dengan bekerjanya gaya ekstensional di wilayah Aegean,” kata Daryono.

Secara seismik, wilayah Turki bagian barat merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas gempa paling aktif di dunia. Di wilayah ini sudah beberapa kali terjadi gempa signifikan.

Pada 12 Juni 2017, gempa berkekuatan M 6,3 mengguncang Pantai Aegean yang menyebabkan 1 orang tewas dan 15 orang terluka. Pada 17 Agustus 1999, gempa besar berkekuatan M 7,0 juga mengguncang kota Izmit menyebabkan 17.000 orang tewas, dan pada 23 Oktober 2011 gempa berkekuatan M 7,2 mengguncang Propinsi Van menyebabkan 600 orang tewas.

Perulangan
Peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, mengatakan, Indonesia memiliki jejak panjang tsunami. Temuan endapan tsunami tua di Aceh yang mencapai 11 lapisan dan di selatan Bali sebanyak dua lapisan baru-baru ini oleh tim peneliti internasional menjadi bukti penting tentang perulangan bencana di masa lalu.

Sebelumnya, penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menemukan jejak endapan tsunami di selatan Jawa. Temuan deposit tsunami di selatan Jawa dan Bali memiliki makna penting karena di dua lokasi ini sejauh ini tidak ada bukti tertulis tentang kejadian tsunami besar di masa lalu.

Ini menunjukkan bahwa banyak wilayah pesisir Indonesia yang sejauh ini dinilai aman tsunami ternyata berisiko. Padahal, kawasan selatan Jawa saat ini tengah dibangun sejumlah infrastruktur penting, seperti Bandar Udara Yogyakarta. Demikian halnya selatan Bali saat ini telah berkembang menjadi kawasan wisata yang padat. (AIK/REUTERS)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Gempa Kekuatan Kecil Bisa Picu Tsunami”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: