Gempa di Gunung Salak dari Patahan Bayah

- Editor

Senin, 25 Juni 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gempa M 3,6 yang terjadi di Gunung Salak, Jawa Barat pada Sabtu (23/6/2018) pukul 23.30 WIB dipastikan bukan dari aktifitas vulkanik. Gempa ini bersifat tektonik yang bersumber dari aktifitas sesar aktif di zona Bayah.

Demikian kesimpulan dari analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Disebutkan, episenter gempa terletak pada koordinat 6,72 Lintang Selatan dan 106,57 Bujur Timur, tepatnya di darat pada jarak 27 kilometer arah baratdaya Kota Bogor dengan kedalaman hiposenter 4 km

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan dan kedalaman hiposenternya, tampak gempa ini juga merupakan gempa kerak dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono, Minggu (24/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dampak gempa ini dirasakan beberapa warga di sekitar Gunung Salak, seperti di Ciampea, Pamijahan, Gunung Bunder, Cimapang, Gunungpicung, Puraseda dan Palasari dalam skala intensitas II MMI (Mercally Modified Intensity).

“Gempa ini meski dirasakan guncangannya tetapi belum merusak,” kata dia.

Menurut Daryono, gempa ini merupakan gempa dirasakan ke-2 setelah sebelumnya pada pukul 21.10. 06 WIB juga dirasakan gempa dengan skala Intensitas II MMI.

Hasil monitoring BMKG, hingga Minggu belum terjadi gempa susulan. “Untuk itu kepada masyarakat dihimbau untuk tetap tenang,” kata dia.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 25 Juni 2018
——————
Gempa Langka di Utara Indramayu

SUMBER: BMKG–Gempa tektonik berkekuatan M 5,3 terjadi di Indramayu, Jawa Barat, dan dirasakan hingga Lampung pada Sabtu (23/6/2018) pukul 03.57 WIB.

Gempa tektonik berkekuatan M 5,3 terjadi di Indramayu, Jawa Barat, dan dirasakan hingga Lampung pada Sabtu (23/6/2018) pukul 03.57 WIB. Pusat gempa yang berada di bawah Laut Jawa, sekitar 119 kilometer arah utara kota Indramayu dengan kedalaman 662 kilometer. Gempa di utara Jawa ini tergolong sangat jarang terjadi.

”Meskipun peristiwa gempa deep focus dengan hiposenter yang dalam di utara Indramayu ini tidak menimbulkan kerusakan, peristiwa ini sangat menarik untuk dicermati dalam konteks ilmu kegempaan atau seismologi,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono.

Gempa bumi dalam dengan hiposenter melebihi 300 kilometer di Laut Jawa merupakan fenomena langka. Secara tektonik, tumbukan lempeng antara Indo-Australia ke Eurasia terjadi di bawah Samudra Hindia di selatan Jawa. Namun, Lempeng Indo-Australia ternyata menunjam dengan lereng menukik ke bawah Lempeng Eurasia hingga di kedalaman 625 kilometer di bawah Laut Jawa.

SUMBER: BMKG–Lempeng Indo-Australia (warna kuning) menunjam di bawah lengan Lempeng Eurasia (warna merah).

”Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, gempa utara Indramayu ini terjadi karena dipengaruhi gaya tarikan lengan lempeng ke arah bawah (slab-pull gravity). Oleh karena itu, mekanisme sumber gempa ini berupa penyesaran turun (deep normal),” ujar Daryono.

Sebelumnya, gempa juga pernah terjadi di utara Indramayu ini pada 19 Oktober 2016. Menurut Daryono, aktifnya deep focus earthquake di Laut Jawa ini menjadi petunjuk bahwa semua proses subduksi lempeng di zona subduksi dangkal, menengah, dan dalam Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, hingga kini masih sangat aktif.

Ini juga menjadi warning mengenai aktifnya sejumlah sesar darat di kawasan utara Jawa, seperti sesar Kendeng dan Cimandiri yang melintasi sejumlah kota dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 23 Juni 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 31 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru