Home / Berita / Gempa Banjarnegara Dipicu Sesar Lokal

Gempa Banjarnegara Dipicu Sesar Lokal

Gempa berkekuatan 4,4 Magnitudo yang mengguncang Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (18/4/2018), pukul 13.28.35 bersumber dari sesar atau patahan lokal. Gempa di darat dengan kedalaman 4 kilometer ini mengakibatkan ratusan bangunan di Kecamatan Kalibening rusak, serta 2 orang tewas dan 21 orang terluka akibat tertimpa bangunan yang roboh.

Titik pusat gempa terletak pada koordinat 7,21 Lintang Selatan dan 109,65 Bujur Timur. Episenter ini berada di darat, tepatnya di Kecamatan Kalibening, pada jarak sekitar 18 kilometer arah utara Kota Banjarnegara atau sekitar 19 kilometer sebelah tenggara Pekalongan. Belum terpantau adanya gempa susulan.

Karena kedalamannya 4 kilometer, maka sumbernya dari sesar aktif di darat (inter plate), bukan megathrust subduksi selatan Jawa. Sesar yang belum terpetakan (unidentified) ini merupakan bagian dari sistem sesar Baribis Kendeng.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteologi Klimatologi dan Geofisika, Daryono dan peneliti geologi gempa bumi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mudrik Rahmawan Daryono, secara terpisah di Jakarta, Rabu (18/4/2018).

Mudrik mengatakan, gempa ini menunjukkan juga bahwa bagian utara Jawa memiliki sesar aktif penghasil gempa. Jalur sesar aktif ini, yaitu sesar Baribis Kendeng, perlu penelitian geologi gempa yang serius untuk lebih mengetahui karakteristik dan parameter sesar aktifnya.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Mushala Al Muhaimin di Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah roboh akibat gempa berkekuatan 4,4 Magnitudo, Rabu (18/4/2018).

“Jalur sesar aktif Baribis Kendeng inilah yang berindikasi menerus hingga memotong ibukota, Jakarta,” ujarnya.

Gempa tersebut, jelas Mudrik, dari sumber sesar aktif yg belum teridentifikasi di peta. Karena kualitas resolusi data yg digunakan dalam peta Gempa Bumi Nasional masih menggunakan data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) beresolusi 30 meter.

“Seharusnya badan/instansi pemerintah yang memiliki data resolusi tinggi lebih baik dari 10 meter resolusi bisa memetakan lebih baik sumber sesar aktif di kawasan Jawa,” tambahnya

Efek penguatan
Daryono mengatakan, meskipun magnitudo gempa ini relatif kecil, tetapi karena kedalaman gempanya sangat dangkal, maka di wilayah yang tersusun oleh tanah lunak, dapat mengalami penguatan guncangan gempa atau amplifikasi. Fenomena ini dikenal sebagai efek kondisi tanah setempat (local site effect).

“Jika kondisi struktur bangunan lemah dan tidak sesuai standar keamanan terhadap gempa maka rentan terjadi kerusakan bangunan rumah,” lanjutnya.

Guncangan gempa dirasakan kuat di wilayah Kalibening kurang dari 5 detik. Berdasarkan pemodelan peta tingkat guncangan (shake map) dan laporan masyarakat, maka gempa ini secara umum menimbulkan guncangan pada skala intensitas II-III Modified Mercally Intensity (MMI), tetapi untuk wilayah Kecamatan Kalibening yang mengalami kerusakan, intensitas gempa mencapai IV-V MMI

Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara, sebanyak 316 rumah, 4 masjid, 1 mushala, dan 1 gedung sekolah dasar rusak. Beberapa rumah yang roboh rata dengan tanah merupakan rumah berdinding tembok.

Kepala Kepolisian Resor Banjarnegara Ajun Komisaris Besar Nona Pricillia Ohei di lokasi kejadian mengatakan, dua warga yang tewas adalah Asep Triyono (11) warga Desa Kasinoman dan Kasrip (100) warga Desa Kertosari. “Korban meninggal akibat tertimpa tembok,” ujarnya.

Mengungsi
Nona mengatakan, paling tidak ada tiga lokasi pengungsian yang menampung sekitar 500 orang yang rumahnya rusak. Dari pantauan Kompas di Desa Kasinoman, Rabu malam hujan deras dan listrik padam. Sebagian warga mengungsi di tempat tetangga serta mendirikan tenda darurat beratap terpal beralas tikar di sebuah tanah lapang.

“Takut tidur di rumah karena rusak. Takut tertimpa rumah,” kata Katimah (37) di lokasi pengungsian.

Di pengungsian Desa Kasinoman sedikitnya ada 50 orang. Sebagian besar ibu rumah tangga dan membawa anak kecil. “Rumah rusak. Retak-retak dan terpaksa mengungsi ke tempat ini. Tidak bawa apa-apa dari rumah, hanya selimut buat tidur,” kata Istijab (24) sambil menggendong Mujab (5 bulan), anaknya.

Purdiyanto (52), warga Desa Kasinoman mengatakan, saat gempa terjadi terdengar suara seperti petir, tetapi cuaca saat itu cerah, tidak hujan. “Suaranya kelas sekali. Tiang listrik dan pohon cemara bergoyang keras. Lalu tembok-tembok runtuh,” kata Purdiyanto yang rumahnya rusak parah pada bagian samping dan belakang.

Gempa berlangsung sangat cepat. “Kami di rumah sedang nonton televisi. Tiba-tiba ada suara rug-rug-rug dan tembok rumah roboh. Kami langsung lari keluar,” tutur Sarwiyah (48), warga RT 02/RW01 Desa Kasinoman.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari BPBD. “Kami mengimbau agar warga berhati-hati dan hindari berlindung di bawah bangunan yang berpotensi roboh. Jangan mudah terpengaruh dengan isu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.–YUNI IKAWATI DAN MEGANDIKA WICAKSONO

Sumber: Kompas, 19 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...