Home / Berita / Astronomi / Dimensi Waktu dan Sistem Kalender

Dimensi Waktu dan Sistem Kalender

Ding Dong
Waktu masih kanak-kanak, Sarpakun pernah terpesona oleh sebuah jam besar yang terletak di sudut ruangan megah Bapak Bupati, yang tak begitu jauh dari rumahnya la terkesima oleh bunyi “ding dong”-nya yang bergema begitu panjang, apa lagi di ruangan yang semegah dan selengang ftu. Sering jika malam tiba dan Sarpakun berbaring di kamarnya, ia merasa agak takut membayangkan bunyi dingdong jam Pak Bupati. Entah mengapa bunyi itu seperti membawa bayangan yang seram-seram tentang setan dan sebangsanya. Lucunya pada siang hari, Sarpakun selalu berkeinginan untuk melihat Jam besar itu serta menikmati bunyinya yang –jika siang hari – terasa indah.

Waktu berlalu, masa berlari. Teknologi perarlojian sudah demikian maju, sehingga berbagai jenis jam baik besar maupun kecil, baik berbunyi maupun tidak, baik bunyinya dingdong maupun hanya tit tit… tit, sudah banyak dibuat orang. Sarpakun yang kini sudah beranjak dewasa tahu, bahwa jam tidak dibuat orang hanya untuk sekedar menimbulkan bunyi ding dong.

Jam ternyata (dan terutama) dibuat orang untuk membagi waktu menjadi satu-satuan penanggalan sehingga dapat dijadikan padoman dalam kehidupan. la dibuat untuk memilah waktu menjadi “ketika” dan “saat” yang berlainan atas mana kemarin, hari ini, dan esok menjadi sebuah perjalanan yang urut.

Tentu saja jam yang membagi waktu menjadi menit dan detik, berinduk pada proses penghitungan yang lebih besar, yakni penanggalan, yang memilah waktu menjadi tahun, bulan, minggu dan hari. Perhitungan penanggalan dibuat orang dengan cara yang berbeda-beda. Ada penanggalan Mesir, penanggalan Inca penanggalan Jawa, penanggalan Hijriyah (Islam) dan penanggalan Masehi. Cara penghitungan yang berbeda-beda tersebut berpengaruh juga pada teknologi perarlojian. Pola penanggalan Masehi yang banyak berlaku kini, tentu saja tak akan memunculkan jam pasir, karena jam pasir tersebut beranjak dari cara penghitungan yang lain lagi.

Namun betapapun berbeda-bedanya cara penghitungan penanggalan tersebut, ia selalu dibuat dengan semangat yang sama, yakni mencoba memijah waktu menjadi “saat” dan “ketika” yang berbeda. Walaupun tentu saja perbedaan perhitungan penanggalan terkadang erat kaitannya dengan cara suaal peradaban menghayati waktu.

Sarpakun dengan pengetahuannya kini, ternyata tidak menjadi kehilangan rasa takutnya.

Rasa takut itu –bagai pajak— masih saja mengikutinya kemanapun ia pergi. Tentu saja rasa takutnya yang sekarang tak ada hubungannya dengan mahluk bernama setan, jin, dan saudara-saudaranya. Rasa takutnya kini lebih disebabkan karena kesadaran bahwa “Sang waktu” (dengan atau tanpa dingdong) selalu berjalan dengan laju sekah: Jika sebuah “saat”, sebuah “ketaka” datang dan tak berhasil dinnanfaatkannya, Sarpakun tahu bahwa “ketika” dan “saat itu belum tentu akan datang lagi meski ditunggu berpuluh minggu berbelas tahun Sarpakun juga tahu, bahwa berrnain dalam laju sang waktu ia bisa saja kedodoran jika tak awas. Boleh jadi seribu kalender telah disobek orang, seribu kalender telah diganti orang, seribu arloji rusak dan berganti baru tanpa ia sempat tahu apa makna semuanya.

Kalender demi kelender dibuat orang dengan gambar-gambar yang indah, jam, demi jam dibuat orang dengan berbagai model yang menawan, dan Sarpakun telah tahu bahwa kalender tidak dibuat orang karena gambarnya, dan arloji rusak dan berganti baru tanpa ia sempat tahu apa makna semuanya.

Sarpakun tahu, waktu akan terus berialu walau boleh jadi jam besar milik Bapak Bupati dulu itu sudah farna tak memperdengarkan dingdongnya.

Agus R. Sarjono.
—————————————-

Fisikawan yang satu ini memang cukup jeli memandang aiam sekelilingnya. Dialah si jenius Albert Einstein, asli Jerman yang hidup di negeri berpegunungan Swiss. Pada tahun 1905, dengan beraninya beliau mengajukan makalah yang bcrjudul “On the Electrodynamics of Moving Bodies”. Makalah yang dipublikasikan tersebut membuat banyak orang terbengong-bengong, karena selain berisi pendahuluan tentang teori relativitas juga membahas adanya dimensi keempat di alam raya ini. Bagaimana tidak, pada waktu itu manusia hanya mengenal adanya tiga dimensi atau yang disebut dimensi ruang. Einstein mengemukakan bahwa semua kejadian di alam raya ini tidak bisa lepas dari adanya dimensi keempat,. yaitu dimensi waktu.

Waktu, yang mengiringi segala kehidupan, kelihatannya mernang sudah mulai terbentuk seiring dengan terciptanya alam kosmos atau alam jagad raya ini. Atau bahkan mungkin Sang Waktu telah ada jauh sebelum segalanya terbentuk seperti sekarang ini. Tetapi sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia, perhitungan waktu pun mulai terbentuk. Meskipun bila dibandingkan dengan kelahiran kosmos, perjalanan penghitungan waktu yang dilakukan manusia ternyata baru mencapai saat yang relatif sangat pendek.

Penghitungan waktu di bumi dari hari ke hari dimulai setelah peradaban manusia mencapai taraf yang tinggi. Dan hal tersebut tidak hanya dilaksanakan di satu tempat saja, melainkan di beberapa tempat meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan. Hasil dari perhitungan mereka yang sebagian masih kita kenal dewasa ini dengan sistem kalender, baru berjalan 4000-an tahun bila dibandingkan dengan umur kosmos yang sudah milyaran tahun.

Pengaruh Alam
Saat menyadari dirinya merupakan bagian dari alam, mulailah manusia melihat dan membuka cakrawala rekaman terhadap sekelilingnya, pertama-tama dengan memperhatikan benda-benda penghuni langit. Mereka melihat bahwa nampaknya matahari, bulan dan benda langit lainnya selalu berulang-ulang melakukan perjalanan yang sama di langit, dan selalu kembali ke tempat semula setelah beberapa waktu. Kemu-dian mereka menghitung kedudukan dan saat keberadaannya. Karena benda langit terbesar yang bisa diamati hanya ada 2 yaitu matahari dan bulan, maka kedua benda itulah yang dijadikan patokan perhitungan waktu.

Para astronom dan filsuf kuno ternyata tidak sia-sia. Mereka berhasil menghitung waktu peredaran bulan dan matahari saat mengitari bumi. Pada saat itu mereka masih percaya bahwa semua benda langit berjalan berputar mengelilingi bumi. Sedangkan bumi pun dianggap sebagai benda datar yang diam di tempatnya (baca rubrik Astronomi).

Sejak semula bahkan telah diyakini oleh manusia, yang diwakili para astrolog, bahwa matahari, bulan, bintang dan planet-planet mempunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia. Kelahiran dan kematian, baik dan buruk, nasib dan peruntungan, semua bergantung pada kedudukan benda-benda langit. Hal ini berlaku tidak saja di Mesir, Kaldean, Yunani, Aztek, dan lain-lain, tetapi juga di masyarakat Jawa Purba.

Karena pengamatan benda-benda langit hanya bisa dilakukan pada malam hari, maka kalender primitif yang mula-mula populer sejak jaman Dinasi II di Mesir adalah kalender yang berdasarkan perhitungan peredaran bulan. Sejalan dengan itu ada pula kalender musim yang didasarkan pada perhitungan peredaran matahari.

Kalender Dunia
Melacak perjalanan sistem kalendel ternyata tidak segampang menghitung jari. Untunglah di dunia ini pernah lahir astronom dan filsuf seperti Pythagoras, Aristarchus, Aristoteles, Hipparchus, dan lain-lain. Dari merekalah perhitungan peredaran waktu mula-mula diketahui. Kalau dirunut lebih jauh lagi, maka pada kira-kira 1.350 sebelum Masehi di Inggris bagian setatan pernah berdiri bangunan batu atau megalith raksasa untuk menghitung peredaran perjalanan matahari. Kemudian pada 747 Sebelum Masehi lengkungan matahari baru berhasil ditabelkan. Kemajuan di negeri barat akhirnya memacu perkembangan di tempat lain. Pada tahun 585 SM Filsuf Yunani, Thales, telah berhasil merumuskan dan meramal kedudukan lengkungan hiatahari. Pengamatan dan sistem kalender baik yang didasarkan pada waktu peredaran bulan maupun matahari tentu tidak begitu saja mengalami kesempurnaan. Dinasti II di Mesir yang berkuasa sekitar 3000-3780 SM telah mempopulerkan sistem kalender. Sistem Kalender utama adalah yang didasarkan pada waktu peredaran bulan. Kalender ini umumnya di pakai baik untuk keperluan sehain-hari maupun kepentingan keagamaan. Sedangkan sistem kalender yang lain didasarkan pada waktu peredaran dan perhitungan matahari. Kaiender ini dipakai untuk keperluan pertanian dan perhitungan musim. Sistem kalender yan,u mereka ciptakan mula-mula tidak diberi angka atau nomor urut tetapi diberi nama atas kejadian-kejadian penting selama selang waktu 2 tahunan, sesuai dengan masa reproduksi hewan peliharaan mereka, sapi misalnya.

Dari perjalanan waktu, kedua kalender tersebut akhirnya disatukan. Umur kalender mengambil jumlah waktu peredaran matahari yaitu 365 hari, sedangkan pembagian bulan yang berjumlah 12 adalah berdasarkan pada peredaran atau daur bulan. Umur bulan masing-masing 30 hari. Jadi 1 tahun = 12 x 30 hari. Pada akhir tahun ditambahkan 5 hari sebagai hari iibur dan hari upacara keagamaan. Para pendetalah yang diper-cayakan untuk tugas pengaturannya. Menurut ahli purbakala Amerika, Jarnes Henry Breasted, kalender 365 hari yang pertama kali di dunia tersebut bahkan telah mulai dipakai pada 4236 sebelum Masehi. Selama abad-abad selanjutnya diketemukan bahwa 1 tahun sebenarnya terdiri dari 365 1/4 hari. Pada 238 Sebelum Masehi, Firaun Ptolomeus III atau yang dikenal sebagai Euergetes I mencoba membetulkan kesalahan perhitungan dengan cara menambahkan 1 hari lagi dalam kalender setiap 4 tahun. Hari. tambahan ini diharapkan agar menjadi hari libur keagamaan, namun para pen-deta tidak mau menerimanya.

Awal tahun dimulai dengan tibanya musim penghujan, atau kalau dihitung memakai kalender sekarang kira-kira tanggal 19 Juli, yang saat dimulai berbarengan dengan kemunculan bintang Sirius (Dog Star). Nama-nama bulan yang dipakai diambilkan dari nama bintang atau rasi yang berhasil dipetakan oleh para filsuf. Yang oleh para astrolog, nama-nama rasi Bintang yang dipakai sebagai nama bulan tersebut diyakini mernpunyai pengaruh terhadap kehidupan manusia.

Kecuali Mesir, negara lain pun mempunyai perhitungan sistem kalender masing-masing. Kalender kuno Babylonia juga mempunyai 12 bulan, tetapi awal tahunnya dimulai pada bulan purnama pertama setelah bulan baru. Kalender yang didasarkan pada perhitungan waktu peredaran buian tersebut kemudian ditambah jumlah harinya sehingga sama dengan perhitungan tahun musim. Demikian juga yang terjadi di Yunani Kuno. Sehingga kesalahan perhitungan menjadi semakin besar.

Kebiasaan sistem kalender Yunani kuno kernudian berlanjut di jaman kekaisaran Romawi. Bahkan kalender Romawi purba yang dimulai pada abad ke 6 sebelum Masehi mendasarkan perhitungannya semata-mata pada peredaran bulan, sehingga umur tahun hanya 355 hari. Kalender tersebut sulit dan membingungkan. Terdapat 12 bulan bahkan kadang-kadang ada bulan ke 13 yang disebut Mercedonius. Bulan ini kadang disisipkan secara serampangan. Kalender tersebut berlaku sampai pertengahan abad pertama sebelum masehi. Pada waktu itu perhitungan kalender digabungkan dengan perhitungan kalender musim. Jaman keemasan Julius Caesar ternyata banyak membawa dampak perbaikan dan penyempurnaan sistem kalender.

Budaya Seberang Benua
Bukan hanya penghuni sekitar kawasan Laut Tengah saja yang mengawali penghitungan dan pembuatan sistem kalender. Bangsa Indian, misalnya, terutama keturunan Mesoamerica yang diwakili oleh bangsa Aztec, Maya dan Olmec, telah mengenal sistem kalender sejak 1500 sebelum Masehi. Bangsa Indian yang mendiami Semenanjung Yukatan, Amerika Tengah, mempunyai sistem kalender yang cukup aneh pula. Kalender utamanya berumur 260 hari, dipakai untuk keperluan keagamaan. Kalender Tzoikin tersebut terdiri dari 13 bulan x 20 hari. Setiap hari memiliki nama yang dikombinasi dengan nomor-nomor dari 1 sampai 13. Selain itu mereka juga mempunyai kalender musim yang umurnya sama dengan kalender kawasan Laut Tengah, yaitu 365 hari. Kalender Tun ini mempunyai 18 bulan x 20 hari ditambah 5 hari ekstra yang ditambahkan pada saat akhir tahun. Hari-hari diberi nomor dari 0 sampai 19. Kalender-kalender tersebut sampai sekarang rnasih disimpan, bentuk penanggalannya berupa batu berisikan sistem kalender Aztec.

Demikian pula dengan bangsa Cina yang diawali oleh Dinasti Chou 1027 – 256 sebelum masehi. Dari setumpuk peninggalan masa lalunya, ternyata sistem kalendernya pun masih diyakini keber-adaannya sampai sekarang. Meski tanpa perjanjian terlebih dahulu dengan bangsa lain, bangsa Cina sejak 600-an sebelum Masehi telah berhasil menghitung waktu peredaran kedua benda langit terbesar yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Seperti bangsa-bangsa di benua yang lain, kalender Cina pun mendasarkan dirinya pada perhitungan peredaran bulan digabungkan dengan waktu edar matahari. Hanya bedanya kalau kalender yang lain awal tahunnya dikaitkan dengan tibanya musim penghujan, maka di Cina dimulai saat terjadinya bulan baru pertama setelah berlalunya puncak musim dingin. Kalau dihitung dengan kalender modern, tahun baru Cina akan jatuh antara tanggal 21 Januari sampai 19 Februari. Dengan adanya tradisi yang sangat kuat di masyarakat Cina, pesta tahun baru selalu mereka rayakan secara besar-besaran sampai sekarang. Urutann bulan dalam kalender Cina memang tidak diberi nama khusus. Tetapi urutan nama-nama zodiak malahan dipakai untuk memberi nama tahun. Sehingga nama tahun akan berulang setiap 12 tahun sekali. Oleh para filsuf dan astrolog Cina kuno, nama-nama tahun tersebut dikaitkan dengan nasib dan peruntungan setiap orang atau masyarakat pada umumnya.

Urutan nama tahunnya adalah: Ci (tikus) — Aries, Gu (kerbau) — Taurus, Houw (macan) — Gemiri Tow (kelinci) — Cancer, Liong (naga) — Leo, Coa (ular) — Virgo, Beh (kuda) — Libra, Yo (kambing) — Scor-pio, Kauw (monyet) — Sagitarius,. Kee (ayam) — Capricornus, Kao (anjing) — Aquarius, dan Tie (babi) — Pisces. Meskipun urutan nama tahunnya sama dengan urutan zodiak, namun pada pemberian nama tahun kalendernya mempunyai arah terbalik. Misalnya setelah tahun babi, tahun berikutnya bukan tahun tikus tetapi tahun anjing. Begitu seter usnya.

Kambing, misalnya, adalah binatang yang diyakini oleh para astrolog sebagai makhluk lemah lembut. Oleh karenanya mereka meramalkan bahwa tahun kambing akan merupakan tahun perdamai-an, manusia akan hidup dengan tenteram dan penuh kedamaian. Perlambang inipun mempunyai makna terhadap kepribadian bayi yang baru lahir. Persis seperti perwatakan Zodiak Scorpio. Bayi yang lahir pada ahun kambing mempunyai watak lembut, bijaksana, intelijen (cakap), pemurah dan peramah, meski kadang-kadang keras kepala dan pesimistis. Watak lainnya, suka berkawan, simpatik, loyal, sering terlalu hati-hati, penakut dan tidak berani mengambil keputusan. Begitu seterusnya, konon!

Hampir bersamaan dengan kalender Cina, lahir pulalah kalender bangsa Jepang. Karena bangsa Jepang percaya bahwa kaisar mereka masih keturunan langsung dewa matahari, maka kalendernya pun menggunakan patokan waktu peredaran matahari. Sejak kekaisaran Jimmu tahun 660 sebelum masehi, kalender bangsa Jepang pun menggunakan sistem penamaan tahun seperti tetangganya. Bahkan kepercayaan terhadap nasib dan peruntungannya pun sama dengan bangsa Cina. Tetapi sejak jaman Meiji Tenno, bangsa Jepang menggabungkannya dengan kalender Gregorian. Awal tahunnya 1 Januari tetapi angka tahunnya meneruskan kalender mereka sendiri.

Untuk tujuan keagamaan, orang Yahudi dan umumnya bangsa-bangsa Timur Tengah meyakini bahwa sistem kalender yang didasarkan pada waktu edar bulan, pertama kali dibuat oleh Nabi Ibrahim. Dimulai dari tahun kejadian, 3760 sebelum Masehi, kalender tersebut mempunyai umur 354 hari terbagi dalam 12 bulan. Umur bulan terdiri dari 29 dan 30 hari secara bergantian. Suatu bulan tambahan yang terdiri dari 29 hari disisipkan 7 kali setiap siklus 19 tahun. Setiap kali hal ini terjadi, salah satu bulan yang berumur 29 hari diperpanjang menjadi 30 hari. Nama-nama bulan mereka adalah Nisan (Maret-April), Iyyar, Sivan, Tamuz, Av, Elul, Tishri, Heshvan, Kislev, Tevet, Shevata dan Adar. Tahun dimulai pada musim gugur atau pada tanggal 1 Tishri.

Kalender lain yang masih populer sampai sekarang dan mendasarkan perhitungan waktunya pada peredaran bulan, adalah kalender Hijriah. Tahun Hijriah dipergunakan oleh sebagian besar bangsa Arab dan para pemeluk agama Islam lainnya. Dimulai ketika Nabi Muhammad saw memindahkan (berhijrah) titik tolak perjuangannya dari kota Mekah ke Medinah, pada hari Jum’at 16 Juli 622 Masehi. Sesuai dengan waktu peredaran bulan, kalender hijriah mempunyai umur 354 hari yang terbagi dalam 12 bulan. Masing-masing bulan terdiri dari 30 dan 29 hari, bergantian dari bulan Muharam sampai DhullHijja. Untuk menyesuaikan dengan waktu edar bulan yang sesungguhnya, maka tahun hijriah pun mengenal adanya tahun panjang (355 hari) dan tahun pen-dek (354 hari). Tahun panjang terjadi bila angka tahun setelah dibagi 30 masih sisa 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, atau 29. Pada saat tahun panjang, maka bulan terakhir (DhuI-Hijja) berubah dari 29 menjadi berumur 30 hari. Awal pergantian dari hari ke hari berikutnya dilakukan atau dihitung sejak matahari terbenam di ufuk barat.

Kalender Modern
Percaya atau tidak, ternyata kaiender modern baru rnenunjuk angka tahun 1988, namun meski begitu hal itu tidak-lah merupakan indikasi bahwa perjalanan kebudayaan kemanusiaan dari waktu ke waktu baru sepanjang itu, namun setidaknya sistem kalender itulah yang terakhir kalinya mengalami penyempurnaan. Beberapa kali telah mengalami perbaikan, baik rnenyangkut jumlah hari dalam setahun, urutan nama-nama bulan, serta perbedaan pemakaian di setiap negara, maupun nilai historis yang mampu menggeser penggunaan kalender setempat bagi kepentingan hubungan internasional.

Tak bisa disangkal lagi, cikal bakal kalender modern yang kita kenal dewasa ini merupakan bentuk kelanjutan dari kalender bangsa Romawi purba. Dan kalender ini pun bukan milik asli bangsa Roma, karena mula pertama kalender Romawi mendasarkan perhitungan tahunnya pada waktu peredaran bulan. Satu tahun kalender sama dengan 355 hari. Terbagi dalam 7 bulan berumur 29 hari. 4 bulan berumur 31 hari dan 1 bulan dengan 28 hari. Tetapi meski umar kalendernya hanya 355 hari. narnun permulaan tahun kalender seIalu disesuaikan dengan awal permulaan musim semi. Sehingga setiap tahunnya ada tambahan rata-rata 10 hari.

Hanya ketika pada pertengahan abad pertama sebelum masehi, Julius Caesar, yang waktu itu tinggal sementara di Mesir, mengetahui bahwa kalender Mesir tersebut lebih sempurna dibandingkan dengan kalender bangsanya sendiri. Pada waktu itu kalender matahari bangsa Mesir memang sangat ketat dijaga dan diawasi dengan cermat oieh para penguasa dan pendeta, sehingga tidak dikenal oleh dunia luar selama 30 abad.

Bangsa Romawi menggunakan sistem perhitungan kalender yang cukup rumit. Ada 3 tartggal yang bisa dikatakan tetap, yaitu calend, ide, dan none. Calend selalu jatuh pada hari pertama setiap bulan. Ide jatuh pada tanggal 15 bulan Martius, Maius, Sextilis dan October. serta pada hari ke 13 dalam bulan-bulan yang lain. None selalu jatuh pada hari ke 8 sebelum ide. Dalam menentukan suatu hari tertentu dalam satu bulan, bangsa Romawi selalu meng-hitung mundur dari calend, ide, atau none.

Kalender dipercayakan pada suatu dewan pendeta yang dikepalai seorang pontifexmaximus. Para pontif yang pegawai negeri tersebut bertanggung jawab atas pengaturan berbagai masalah keagamaan. termasuk penentuan tanggal upacara dan pesta-pesta. Julius Caesar dipilih menjadi pontifexmaximus pada tahun 63 sebelum masehi, tetapi baru pada tahun 46 sebelum masehi ia mengambil langkah pertama untuk mengubah sistem kalender.

Pada waktu itu Julius Caesar memanggil para penasehat falakiah mengingat beberapa upacara keagamaan sudah tidak cocok lagi dengan kedudukan benda-benda langit seperti jaman nenek moyangnya. Ahli ilmu falak dan astronom Sosigenes dari Mesir/Yunani kemudian menghitung kembali keduchikan matahari dan benda langit lainnya. Menurut perhitungannya, maka hari-hari yang sudah berjalan sampai tahun 46 SM tersebut mengalami keterlambatan 85 hari dibandingkan dengan keduduk-an benda-benda langit. Dernikian sehingga Julius Caesar pada tahun 46 sebelum masehi mengeluarkan dekrit dan menetapkan bahwa tahun 46 SM diperpanjang selama 85 hari.

Saat itu terjadi pada bulan November. Melihat kejadian itua Julius Caesar akhirnya mengeluarkan dekrit lain yaitu bahwa 1 Januari berikutnya ditetapkan sebagai awal tahun baru. Dengan mengikuti saran Sosigenes tersebut, Julius Caesar, akhirnya menggunakan tahun matahari untuk kalender Romawi. Dengan menetapkan umur kalender adalah 365 hari, ditambah hari atau 6 jam. Tambahan waktu ini dikumpulkan selama 4 tahun, sehingga pada tahun kabisat (tahun panjang) umur kalender menjadi 366 hari. Tahun 46 sebelum Masehi menjembatani kalender purba dengan cikal bakal kalender modern. Tahun berikutnya, 45 sebelum Masehi. benar-benar merupakan tahun pertama yang menggunakan kalender yang sudah diubah. Julius Caesar tetap menggunakan sistem calend, none dan ide yang rumit untuk perhitungan hari dan bulannya.

Gregorius, penyempurna.
Perubahan kedua terjadi pada tahun 1582 Masehi oleh Paus Gregorius XIII, meskipun pada jauh .sebelumnya (permulaan abad ke 6) telah disadari adanya baberapa kesalahan. Tahun Julian yang mendasari perhitungan kalender dengan waktu peredaran matahari 365 1/4 hari ternyata berbeda bila dibandingkan dengari perhitungan yang lebih akurat yakni 365,2422. Perbedaan 0,0078 per hari tersebut kalau dikalibrasi menjadi 3 hari tiap 4 abad. Selisih ini tampak nyata ketika para peserta Konsili (Sidang Gereja Tertinggi) di Nikaia pada tahun 325 masehi mulai merasa adanya ketidakcocokan. Menurut perhitungan mereka saat melihat kedudukan benda-benda langit, pihak gereja merasa perlu untuk merayakan hari Paskah pada 21 Maret dan bukan 25 Maret seperti kalau mengikuti kalender Julius. Pesta Paskah menurut kebiasaan agama Kristen dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama saat vernal equinox (siang sama panjang dengan malam saat musim semi). Dan biasanya jatuh antara 21 Maret sampai 25 April.

Tentu saja perbedaan perhitungan yang sartgat kecil tersebut baru benar-benar terasa setelah waktu berjalan cukup lama. Pada jaman Paus Gregorius XIII, yang bernama asli Ugo Buoncompagni (1502 – 1585) dan ditahbiskan menjadi Paus pada 1572, penyimpangan kalender Julian telah menumpuk men-jadi 10 hari. Penghitungan tersebut tidak bisa lepas dari jasa pertolongan seorang ahli matematika Christopher Clavius dan seorang dokter yang juga ahli astronorni Aloysius Lilius. Setelah kedua ahli tersebut meru’yah lagi, equinox di musim semi saat itu akan jatuh pada 11 Maret. Urituk kepefluan pesta-pesta gerejani seterusnya, maka Paus Gregdrius Dada hari Kamis 4 Oktober 1582 mengeluarkan dekrit yang menetapkan bahwa setelah hari Kamis tersebut berakhir, maka hari berikutnya adalah Jum’at 15 Oktober 1582. Selain itu dekrit juga menetapkan adanya perhitungan tahun kabisat atau tahun. panjang, dimana umur bulan Februari berubah dari 28 menjadi 29 hari. Dan tahun kabisat terjadi bila angka tahun habis dibagi 4 atau 400.

Terhadap reformasi Gregorian, ter-sebut tentu saja semua negara Katolik. Roma bisa langsung menerimanya. Tetapi kelompok Kristen lainnya sulit menerimanya. Bangsa Inggris baru me-makai kalender Gregorian pada 1752 dengan mernbatalkan 11 hari bulan Septembernya. Perancis dan Belanda pada Desember 1582. Tetapi akibat adanya konflik dengan pihak Gereja, Perancis pada 1792 menggunakan kalender revolusioner sampai saat Napoleon berkuasa pada 1802 sebagai upaya rujuk dengan gereja. Jerman pada 1700 (Jerman Katolik 1 584), Polandia 1586. Turki baru memberlakukan kalender Gregorian sepenulmya pada 1927 setelah Mustafa Kemal Ataturk berkuasa, meski angka tahunnya tetap meneruskan angka tahun mereka sendiri. Seperti terjadi juga di Jepang 1873, angka
tahunnya tetap meneruskan kalender Meiji Tenno. Rusia 1918, Yunani 1924, dll. Mirip dengan Perancis, di Rusia pun pernah berganti pula dengan kalender Bolshevik, dan baru kembali memakai kalender Gregorian setelah 1940.

Impian Perubahan
Kalender Gregorian yang telah melayani kebutuhan manusia hampir 4 abad ternyata oleh beberapa pemikir dicoba untuk diubah lagi. Mereka mencoba menciptakan perbaikan dengan tujuan untuk mengembalikan kestabilan kalender dalam kerangka tahun berdasarkan musim. Pada 1834 Abbe Marco Mastro fini mengutarakan sebuah rencana sehingga setiap tahunnya akan sama dan kestabilan kalender yang sudah hilang akan dikembalikan lagi. Dalarn kalendernya terdapat 364 hari, yang angkanya mudah dibagi dengan berbagai cara. Hari ke 365 dan 366 (kabisat) disisipkan sebagai hari ekstra. Awal tahun selalu dimulai pada hari Minggu 1 Januari.

Atau perbaikan yang dicoba oleh Liga Bangsa-Bangsa pada 1923. Lembaga ini mengajukan usul kalender dunia, dengan membagi 1 tahun menjadi 4 kuartal sesuai dengan lamanya musim yaitu 91 hari atau13 minggu. Juga ingin menetapkan bahwa awal tahun selalu jatuh pada hari Minggu. Hari ekstra diletakkan pada akhir tahun dan hari kabisat di tengah-tengah tahun.

Dan percobaan perubahan terakhir adalah saat Konferensi Kalender Internasional di Jenewa Juni 1931. Beberapa usul. dari peserta yang ingin menggunakan kalender dunia, bermaksud menetapkan adanya 13 bulan dalam setahun, masing-masing berumur 28 hari (4 pekan). Bulan tambahan yang disebut sol disisipkan antara Juni dan Juli. Hari ekstra ditempatkan sebagai hari spesial pada akhir tahun atau tengah tahun.

Meskipun kalender-kalender dunia yang dikemukakan di atas kelihatan sederhana, namun banyak negara menolaknya. Sebagian besar yang menolak merasa sangat dirugikan ditinjau dari telah mapannya upacara-upacara peringatan maupun dari segi bisnis. Sehingga sampai saat sekarang kalender Gregorianlah Yang dipakai oleh masyarakat dunia.

Hari dan Bulan
Seperti juga penentuan umur kalender dalam setahun, maka penentuan dan pemberian nama hari dan bulan pun mengalami sejarah yang panjang. Ketiga hal tersebut tentu saja saling berkait satu sama lain. Sejalan dengan dimulainya perhitungan sistem kalender, dan pemberian nama-nama benda langit, maka dicarilah nama-nama bulan dan hari. Dari rekaan para filsuf, astronom dan ahli astrologi serta pendeta, akhirnya ditentukanlah nama-nama bulan dan hari dalam setahun.

Penentuan pertama yang muncul adalah pemberian nama bulan dalam setahun. Pemberian nama bulan dimulai atau dipopulerkan pada jaman kekaisaran Romawi abad ke 6 sebelum masehi. Mula-mula nama-nama bulan tersebut dipakai untuk menghormati dewa-dewa mereka atau saat upacara keagamaan yang harus dilangsungkan.

Pada mulanya nama-nama bulan dalam kalender Romawi purba adalah: March atau Martius sebagai perlambang terhadap dewa perang. Bulan ini dipakai sebagai pembuka tahun. karena bangsa Romawi memang mengagungkan peperangan. Bulan kedua adalah Aperire atau Aprilis, yang berarti membuka. Nama ini dipakai untuk memperingati saat bumi mulai menghasilkan buah-buahan baru. Ketiga, Maia sebagai perlambang dewi Yunani atau Maius perlambang dewa besar Yupiter. Keempat, Juno atau Junius merupakan dewi kebersamaan bangsa Roma dan Sabine. sewaktu Romulus atau juga berarti yunior menurut bahasa Latin, karena dianggap lahir setelah bulan Mei yang berarti lebih tua. Kelima, Quintilis. Keenam, Sextilis. Diikuti bulan yang hanya menunjukkan angka, yaitu September (bulan ke 7), October, November, dan December. Bulan ke 11 adalah Janus atau Januarius. sebagai perlambang dewa Janus. Bulan terakhir, Februus atau Februarius yang berarti pesta permurnian.

Sebenarnya pada awalnya bangsa Romawi purba hanya mengenal adanya 10 bulan dalam 1 tahun. Barulah pada tahun 452 sebelum Masehi mereka menambahkan 2 bulan lagi yaitu bulan Januari dan Februari. Dan pada tahun 153 sebelum Masehi bulan Januari dipakai sebagai awal tahun kalender. Mereka mengambil nama Janus, dewa permulaan bangsa Roma, digambarkan sebagai dewa bermuka dua, penjaga lo-rong dan pintu masuk.

Mark Antony, (83-30 SM) kekasih Cleopatra, yang berkuasa setelah Julius Caesar (lahir 102 SM) terbunuh pada tahun 44 sebelum masehi kemudian mengubah nama buLan Quintilis. Untuk menghormati kaisar Julius yang mempunyai jasa besar bagi bangsa Roma, maka Antony mengubah nama Quintilis menjadi July. Itu terjadi pada tahun meninggalnya Julius Caesar. Sejarah kemudian mencatat bahwa pengganti Antony adalah Augustus Caesar. (63 SM — 14 Masehi), keponakan Julius. Atas jasa-jasanya, oleh senat dipersilahkan untuk memakai namanya sebagai nama bulan. Caesar Augustus Octavianus kemudian mengganti sextilis menjadi bulan Agustus. Selain itu juga mengambil 1 hari Februari untuk ditambahkan pada bulan Agustus sehingga menjadi sama panjang dengan bulan Juli.

Tidak seperti hari, bulan dan tahun, maka perhitungan minggu atau pekan tidak terdapat pada catatan perhitungan kalender. Kebiasaan membagi hari menjadi kelompok pekan (7 hari) mula-mula hanya mengikuti kebiasaan orang-orang Assyria (Irak bagian Utara) pada awal abad 10 sebelum masehi. Atau juga kebiasaan bangsa Timur Tengah (Yahudi) berdasarkan kitab Kejadian pada jaman Nabi Ibrahim. Mereka beranggapan bahwa hari ke 7 merupakan hari istirahat. hari libur atau hari untuk mensucikan diri atau melakukan upacara keagamaan.

Namun, kaisar Constantin (kaisar Romawi pertama yang masuk Kristen) pada tahun 321 Masehi mengeluarkan dekrit tentang pembagian pekan menjadi 7 hari. Dekrit ini mengambil alasan antara lain bahwa berdasar kitab Injil Tuhan menciptakan dunia dalam 6 hari dan istirahat pada hari ke 7. Selain itu bahwa paaa jaman Constantin telah diketahui adanya 7 planet yang mengitari bumi.

Sebelum adanya pembagian pekan atau minggu, kalender hanya terdiri dari 3 x 10 hari dalam tiap bulan, sehingga hanya dikenal adanya awal, tengah atau akhir bulan saja. Pembagian hari dalam sepekan menurut kaisar Constantin di-mulai dari matahari (sun), bulan (moon) dan nama hari lainnya mengambil nama dewa-dewa Teutonic atau nama planet.

Tahun Caka tak kalah aneh
Dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, bahwa Indonesia purba termasuk agak terlambat mengenal pembagian sistem kalender. Konon menurut cerita, masyarakat Indonesia purba (Jawa khususnya) pada waktu itu telah mempunyai tradisi amat kuat di bidang keagamaan, kemasyarakatan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dll. Bidang keagamaan, terutama, mereka termasuk masyarakat yang sangat susah menerima hal-hal baru. Hal ini selain karena mereka sudah mempunyai tradisi animistik yang sangat kuat juga akibat pola pikir yang sangat sederhana dan sifat keluguan masyarakatnya. Sikap dan sifat tersebut telah berjalan sejak jaman pra Hindu, sehingga setiap agama baru yang mencoba memasuki alam masyarakat Jawa harus mempunyai strategi tersendiri. Para penyebar agama pada akhirnya tidak bisa banyak berharap bahwa masyarakat Jawa akan bisa menyerap semua pola dari agama yang disebarkannya.

Tetapi di bidang lain, yang tidak berhubungan dengan masalah kebatinan dan kejiwaan, masyarakat Jawa umumnya cepat tanggap dan bisa menyerap sepenuhnya. Bidang sains dan teknologi misalnya, kemajuan yang pernah dicapai oleh bangsa Indonesia purba cukup mengagumkan. Beberapa contoh bisa disebutkan antara lain gamelan dan seni musik, kesusasteraan, pertanian dan astronomi, teknologi persenjataan termasuk keris dan sejenisnya, juga strategi peperangan baik infanteri, marinir maupun artileri. Baca Mekatronika Edisi Jaman Bahari.

Kemajuan masyarakat Indonesia purba dipacu dengan adanya sistem kalender matabari yang disebut tahun Caka. Perhitungan tahun Saka (Caka) dimulai sejak meninggalnya raja Saliwahana di India keturunan dinasti Cakya pada 14 Maret 78 Masehi. Perhitungan tahun Saka tersebut kemudian dipakai oleh masyarakat Indonesia purba (Jawa khususnya) sejak jaman raja Ajar Panangi atau Sri Maha Punggung di Medang Kamolan, atau yang dikenal sebagai raja Aji Saka.

Sistem kalender Saka tersebut ter-nyata sangat aneh dibandingkan dengan bentuk yang ada di negara lain, baik saat awal tahunnya, perhitungan hari dan bulannya, maupun penggunaannya. Pada dasarnya kalender Saka adalah juga kalender musim, 1 tahun berumur 365 hari, tetapi saat dimulainya kalender adalah awal musim gugur atau pada pertengahan kemarau. Kalau dihitung menurut kalender sekarang, awal tahun Saka adalah 22 Juni.

Sesuai dengan pemakaian utamanya sebagai kalender musim, tahun Saka juga membagi kalendernya ke dalam 12 bulan. Namun berbeda dengan kalender di tempat lain, umur bulan tahun Saka tidak sama satu sama lain. Bervariasi dari 23 hari sampai 41 hari, bergantung pada musim dalam satu tahun yang me-nurut masyarakat Indonesia purba juga terbagi menjadi 12 dan bukan cuma 4 seperti di wilayah subtropis. Setiap musim mempunyai ciri dan perwatakan tersendiri. Selain itu juga berkaitan dengan bidang astrologi meski hanya secara umum. Lihat tabel berikut.

PRATELAN MANGSA (PERHITUNGAN MUSIM)

no mangsa umur hari tanggal mulai arti kias (candra) keadaan
1 Kasa 41 22 Juni Sotiyo murca ing embanan (permata hilang dari pelukan) Gegodongan mbrindili (daun mulai gugur)
2 Karo 23 2 Agustus Bantala rengka (bumi retak) Lemah nela (tanah peceh-pecah)
3 Ketiga 24 25 Agustus Suta manut ing bapa(anak patuh pada ayah) Lunglungan mrambat
4 Kapat 25 18 September Waspa kumembeng jroning kayun (air mata di pelupuk) Sumber asat (mata air kering)
5 Kalima 27 13 Oktober Pancuran mas sumawur ing bumi (air mancur emas tersebar di bumi) Wiwit udan(hujan mulai tiba)
6 Kanem 43 9 November Rasa mulya kasucian (rasa kebahagiaan tersucikan) Ungsum woh-wohan (musim buah-buahan)
7 Kapitu 43 22 Desember Wisa kentar ing maruta (bisa/racun terbawa angin) Akeh lelara(banyak penyakit)
8 Kawolu 26/27 3 Februari Anjrah jroning kayun (masuk dalam hati) Uret, gandik(hewan mulai kawin)
9 Kasanga 25 1 Maret Wedaring wacana mulya (terungkapnya arti kebahagiaan) Gareng (tonggeret mulai bersuara)
10 Kasepuluh 24 26 Maret Gedong mineb jroning kalbu (gedung tertutup dalam hati) Kewan-kewan meteng (hewan-hewan bunting)
11 Desta 23 19 April Sotiya sinara wedi (permata teman sejati) Ngloloh, randu kembang (hewan beranak)
12 Sadha 41    12 Mei Tirta sah ing maruto (air tertiup angin) Bediding (musim dingin)

Selain itu juga masih banyak meng-ajarkan hal yang lain meski tidak tertulis dalarn tabel. Misalnya perhitungan musim tanam, kapan dan apa yang mesti Juga pengenalan jenis, waktu dan kedudukan bintang sehubungan dengan musim yang bersangkutan. Atau pola dan jenis hujan serta karakter cuaca bagi kehidupan. Dan masih banyak lagi kegunaan dari sistem kalender tahun Saka.

Selain memberi angka pada urutan tahun Saka, pada setiap upacara yang dianggap mempunyai niiai sejarah, biasanya digunakan Condrosengkolo. Bukan berupa angka tahun tetapi bentuk gambar sesuatu ujud, atau kalimat berangkai. Sengkalan kalimat disebut aan-dralukita, atlu lamba dan sengkalan gambar dinamai juga sengkalan memet atau eandrapeta. Untuk mempelajari tahun dalarn sengkalan periu me-ngetahui nilai perwatakan dari setiap kata yang terkandung di dalamnya. Ada watak 0 (das) yang berarti hilang, sampai watak 9 untuk dewa-dewa atau yang berarti berlubang. Misalnya ,berdirinya kerajaan Majapahit diberi sengkalan: masa rupa rawi yang berarti tahun 1216 Caka atau 1294 masehi. Atau hancurnya Majapahit, sirna ilang kertaning bumi = 1400 Caka. Yang berbentuk sengkalan memet misalnya, di gapura kerajaan Mataram Yogyakarta; dua naga saling membelit, dwi naga rasa tunggal = 1682.

Kalau pemberian nama tahun dan pembagian musim sala sudah cukup unik, apalagi sistem pembagian hari da.n pekartnya. Bahkan pembagian bulan huii ada 2 macam. Pertama pembagian uar pemberian nama bulan berdasarkan arhitungan musim (pratelan mongso). Kedua adaiah pembagian nama bulan yang umurnya sarna dengan kalender dunia purba. Nama-nama bulan tersebut adalah Mina, Mesa, Wrsaba, Midhuna, Karka, Singha, Kanya, Tula, Vrccika, Bhanu, Makara, dan Kumbha. Nama-nama tersebut berkaitan dengan nama benda langit, atau rasi bintang. Misalnya mina = pisces, dan seterusnya. Pemberian nama hari atau pekan terbagi ke dalam 4 jenis. Pertama adalah saptawara, 7 hari sepekan, yaitu dite, soma, anggara, buda, respati, sukra, dan tumpak. Masing-masing hari mempunyai nilai pernasiban, yang bervariasi dari 3 untuk buda (rabu) sampai 9 untuk tumpak (sabtu). Kedua adalah paringkelan atau sadwara yang berarti 6 hari sepekan. Paringkelan mengandung arti hari-hari naas, biasanya digambarkan dengan perlambang. Masing-masing adalah tungle (datm), uwas (burung), mavvulu (biji), paningron (ikan), aryang (manusia), dan warukung (hewan). Ketiga adalah pancawara atau pasaran, terbagi ke dalam legi (manis), paing, pon, wage, dan kliwon. Tiap nama pasaran mempunyai nilai pernasiban yang apabila digabungkan dengan nilai nasib dari nama hari akan menunjukkan besarnya peruntungan dalam kehidupan. Nilai pernasiban (neptu) dari pasaran bervariasi dari 4 untuk wage sampai 9 untuk paing. Dan keempat adalah padangon yang terdiri dari 9 hari, yaitu dangu, jagur, gigis, kerangan, mohan, wogan, tulus, wurung, dan dadi.

Selain itu masih ada lagi yang disebut pawukon. Pawukon mengandung arti yang menyangkut nasib, peruntungan dan perbintangan seseorang. Terbagi dalam 30 nama wuku, yang berganti setiap 1 pekan (7 hari). Konon menurut sejarah, pawukon tersebut dipakai untuk memperingati raja Watugunung yang memperisteri ibunya sendiri. Wuku 1 adalah nama isteri atau ibunya. yaitu Sinta. Wuku-wuku selanjutnya adalah nama selir, Landep, diikuti 27 nama putra-putra sang prabu. Dan wuku 30 adalah watugunung.

Seperti kalender dunia, maka kalender Saka juga pernah mengalami reformasi. Pada jaman pemerintahan Sultan Agung terjadi reformasi frontal. Sultan Agung mengeluarkan dekrit yang meng-ubah sistem kalender tahun Saka (tahun matahari) menjadi tahun Jawa (tahun bulan). Itu terjadi pada hari Jum’at 8 Juli 1633 masehi atau tahun Saka 1555. Sultan Agung melakukan revisi besar-besaran, baik menyangkut urutan angka tahun, penentuan umur dan nama bulan sampai pemberian nama tahun dan Windu.

Umur tahun berubah dari 365/366 menjadi 354/355 hari. Angka tahun kalender yang baru meneruskan kalender Saka. Nama-nama tahun dibagi menjadi suatu kelompok yang disebut windu. Satu windu terdiri dari 8 nama tahun. dan masing-masing mengambil nama huruf Arab. Diantaranya adalah Alip, ehe, je, dal, be, wawu, jimakir. Setiap windu yang terdiri dari 8 tahun kemudian diberi nama. Ada 4 nama windu yang digunakan secara bergiliran, yaitu windu Kuntoro lambang kulawu, Sangoro lambang langkir, Sancoyo lambang kulawu, dan Adi lambang langkir. Untuk keperluan astrologi dan kebudayaan. dari kalender Saka hanya tinggal perhitungan Wuku yang masih dipopulerkan, Selain itu juga perhitungan nama pasaran yang terdiri dari 5 hari.

Nama dan umur bulan disesuaikan dengan Kalender Hijriah meski tidak sama persis. Nama-nama bulan tersebut adalah Suro, Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadil awal, Jumadil akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkaidah, dan Besar. Masing-masing bulan berumur bergantian dari 30 (Suro) dan 29 (Sapar), dan seterusnya. Hanya pada tahun wuntu (kabisat) umur bulan Besar berubah dari 29 menjadi 30 hari.

Dalam 8 tahun kalender ini mempunyai tahun panjang 3 kali, yaitu pada waktu tahun Ehe, Je, atau kadang Dal dan Jimakir. Agar supaya perhitungan tahun sama dengan kalender Hijriah, maka setiap 120 tahun diadakan perubahan yang dinamakan ganti kurup. Hal ini dimaksudkan agar awal tahun bisa bersamaan dengan kalender Hijriah. Selain itu juga berkaitan dengan hari dan tanggal upacara agung kerajaan yang disebut grebeg Mulud tahun Dal. Sejak jaman Sultan Agung sampai sekarang telah ada pergantian kurup sebanyak 4 kali. Pertama kali memakai kurup Jamngiyah, berlaku dari tahun Alip 1555 sampai Jumadilakhir 1674. Kemudian diganti kurup Kamasiyah 1675 sampai 1746. Pergantian ketiga, kurup Arbangiyah, 1747 — 1866. Kurup keempat adalah Selosongiyah yang berlaku sejak tahun Alip 1867 sampai sekarang. Saat ini tahun Jawa sudah berumur 1920.

Tiada akhir.
Menilik perjalanan sejarah dari setiap kalender yang pernah ada, ternyata bahwa masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Meskipun pada akhirnya hanya satu yang berlaku untuk umum, masyarakat dunia. Kalender Gregorian-lah yang saat ini dipakai sebagai patokan hubungan antar masyarakat dunia.

Barangkali itu memang bukan jalan terakhir. Siapa tahu pada suatu saat kita harus menggunakan kalender yang lain lagi, kalender kosmos atau kalender astronomi misalnya. Atau bahkan mungkin kalender geologi yang bisa diputar mundur dari sejak lahirnya bumi kita ini. Walahualam …
——————————————————

Ketika Burung Menghitung Waktu dan Sistem Kalender

Jika manusia baru bisa menghitung sistem kalendernya pada 4000-an tahun yang la:u, maka tidaklah demikian dengan mahluk yang satu ini. Ada banyak mahluk jenis lain yang dikaruniai bakat alam yang sudah mulai menggunakan sistem kalender pada jutaan tahun silam. Dari waktu ke waktu mereka selalu meyakini dan mentaati pola yang diciptakan alam baginya. Dengan sistem kalendernya, mereka menghitung kapan musim perkawinan, atau bagaimana pola perjalanan hidupnya diatur.

Akibat perputaran bumi pada porosnya, dan perjaianan bumi mengelilingi matahari, maka terciptalah siang dan malam, dan juga daur musim yang selaiu tepat waktunya. Adanya siang dan malam membuat semua kehidupan di bumi juga terbagi menjadi dua. Sebagian kecil hewan hidup di maiam hari, dan iainnya (termasuk bangsa manusia) hidup di siang hari.

Untuk menyesuaikan kehidupannya dengan pola kegiatan, hewan-hewan tertentu mengembangkan kemampuannya dalam suatu bentuk yang disebut jam biologis. Jam yang beriaku dari hari ke hari, tahun demi tahun secara konsisten. Irama hidupnya benar-benar diatur waktunya oleh jam bio-Eogis dan sistem kalender. Bukan saja menentukan siang dan malam, tetapi juga dimana dan bagaimana pola hidupnya harus dijalani.

Migrasi
Penggunaan sistem kalender yang kelihatan secara menyolok adalah pada pola migrasi. Migrasi adalah pola perpindahan dari satu tempat ke tempat lain yang dirasa lebih nyaman kondisinya. Umumnya perpindahan hewan-hewan tersebut berlaku dari daerah dingin sub tropis atau pada jalur lingkaran kutub ke daerah yang lebih. hangat.

Tepat pada saat angin dingin mulai menghembus ke daerah sub tropis dan lingkaran kutub di belahan utara bumi, itu berarti musim dingin akan segera tiba. Menghadapi cuaca dan kehidupan yang susah, banyak hewan melakukan migrasi ke daerah selatan yang lebih hangat dan nyaman (bila belahan utara musim dingin, maka belahan selatan bumi musim panas). Dengan kemampuan tubuh yang prima ditunjang sistem navigasi yang super canggih, banyak hewan (terutama burung) menjelajahi dan mengarungi angkasa, sejauh 2000 sampai 18.000 kilometer tanpa henti.

Begitu hebatnya mereka. Binatang sekecil kupu-kupu mampu mengarungi jarak 2000 km dari Kanada Selatan menuju daerah Mexico pada setiap musim gugur tiba. Atau camar laut di daerah Artik menuju Antartika sejauh 18.000 km. Mereka migrasi secara massal selama musim dingin, dan akan kembali setelah musim panas tiba.

Bukan hanya jenis hewan terbang saja yang mengenal migrasi. Para penghuni laut pun banyak yang melakukannya. Belut laut misalnya, berangkat dari kawasan laut Sargasso (kawasan Atlantik) menuju sungai-sungai di daratan Eropa barat atau Amerika utara untuk bertelur bila musim dingin tiba. Atau jenis anjing laut yang hidup di Kep. Pribilof (Alaska) dan di selat Bering, pergi menuju kawasan Kalifornia selatan sejauh 5.000 km. Hewan yang satu ini termasuk yang aneh. Berangkat dalam satu rombongan besar, termasuk bayi-bayi mereka, tetapi anjing laut jantan tidak bisa berenang terlalu jauh entah karena kemampuannya lebih terbatas, atau kondisi tubuhnya iebih mampu mengatasi laut yang lebih dingin. Sedangkan betinanya meneruskari perjalanannya sampai ke tempat yang lebih hangat.

Memang, yang paling mudah untuk diamati dan di pantau pola migrasinya adalah jenis burung. Selama pengembaraannya, banyak yang sempat mampir ke Indonesia, bahkan tak jarang yang bertelor dan beranak di sini. Dan setelah daerah asalnya mulai hangat atau mendekati musim panas, mereka akan kembali ke sana.

Begitulah poia burung-burung dan hewan lain mengikuti atau menjalani sistem kaiendernya. Sejak jutaan tahun yang lalu sampai sekarang mereka melaksanakannya dengan konsisten. Mengapa dan bagaimana mereka menentukan navigasi-penerbangannya, sampai sekarang manusia tak bisa menjawabnya dengan pasti. Kalaupun ada hipotesa dan pengujian yang telah dilakukan, itupun hanya memberi jawaban yang samar-samar. Sesamar jawaban atas pertanyaan, kapankah dan pernahkah sistem kalender mereka rnengalami perubahan. Barangkali jawaban yang pasti hanya berupa decak kagum saja.

Sumber: Majalah Mekatronika No. 64 — Januari 1988

Share
%d blogger menyukai ini: