Home / Berita / Astronomi / Riuh Tetabuhan Pengusir Kegelapan

Riuh Tetabuhan Pengusir Kegelapan

Saat gerhana tiba, ketika benderang siang atau indah malam purnama berganti kegelapan, keriuhan melanda bumi Nusantara. Dengan harapan Matahari dan Bulan tak jadi ditelan Batara Kala atau raksasa Rahu, warga membunyikan aneka tetabuhan supaya kegelapan sesaat itu lekas berlalu dan terang sejati kembali datang. Itulah respons masyarakat yang hidup bersama mitos.

Masyarakat Jawa biasa menabuh lesung dan kentongan secara spontan saat gerhana matahari dan gerhana bulan. Kolaborasi bunyi-bunyian suara lesung yang dipukul-pukul alu dan suara kentongan bertalu-talu yang ditabuh membentuk irama tertentu. Itulah “pertunjukan” musik perkusi gejog lesung.

Dulu, masyarakat menggunakan lesung untuk menumbuk padi jadi beras. Padi kering ditumbuk sejenis tongkat bernama alu. Kini, peran lesung digantikan mesin giling. Menumpuk padi dalam lesung hanya dilakukan kelompok masyarakat tradisional tertentu atau sebagai atraksi seni.

Kentongan yang dipukul dengan nada tertentu menjadi penebar informasi terjadi sesuatu hal di masyarakat. Alat itu wajib ada di pos keamanan lingkungan atau ronda. Sama seperti lesung, kentongan sudah banyak ditinggalkan.

Sebagai pengusir raksasa penelan gerhana, gejog lesung umumnya dimainkan 12 orang. Setiap pemain menabuhkan alu pada bagian atau sisi tertentu. Bunyi yang dihasikan lesung bagian tengah berbeda dengan bagian ujung atau tepi. Aneka bunyi dari lesung yang berbeda-beda itu dipadukan hingga membentuk irama.

Seiring irama lesung itu, umumnya juga didendangkan tembang kegembiraan dan tari-tarian tertentu, seperti membawa tampah untuk menampi beras yang sudah ditumbuk.

Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, PM Laksono, Senin (22/2), mengatakan, penggunaan lesung sebagai sumber bunyi-bunyian memang dilakukan masyarakat Jawa secara spontan untuk menghadapi kegelapan tidak normal saat gerhana tiba. Jika kini tradisi itu menjadi pertunjukan gejog lesung, itu diibaratkan sebagai pencarian harmoni kehidupan baru.

Dalam mitologi gerhana Jawa, setelah mendengar bunyi-bunyian, Batara Kala yang dianggap menelan Matahari atau Bulan akan memuntahkan kembali. Itu penanda datangnya hari baru. “Begitu pula dengan lesung, padi yang dimasukkan dan ditumbuk akan berubah menjadi beras dan lahirlah kehidupan baru,” katanya.

Aneka bunyi-bunyian pengusir kegelapan gerhana itu juga menjadi tradisi masyarakat lain di Nusantara meskipun dengan ekspresi berbeda-beda.

Suku Dayak di Kalimantan, misalnya, biasa memukul gandang karampet (kendang bermembran satu), gandang manca (kendang dua membran), dan katambung (kendang kecil bermembran satu) saat gerhana. Bunyi ketiga kendang itu dipadukan dengan suara suling, garantung (gong), salakatok (semacam kentongan), dan kenong. Suara aneka tetabuhan yang dipukul bertalu-talu menjadi ekspresi yang sakral.

Rohaniawan Hindu Kaharingan Bajik Rubuh Simpei di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menyebut tetabuhan alat-alat musik tradisional suku Dayak itu pertanda dan pemberitahuan bagi semua makhluk akan terjadinya gerhana yang langka. Tetabuhan itu juga sekaligus mencerminkan kebahagiaan masyarakat Dayak atas berputarnya Matahari, Bumi, dan Bulan sehingga menghasilkan terang dan gelap yang menghidupkan manusia.

“Dalam keadaan biasa, gong dan kentongan menjadi alat komunikasi warga yang jauh di ladang atau hutan. Namun, saat gerhana, tetabuhan itu menggugah kesadaran manusia untuk bersyukur atas kehidupan,” katanya.

Sementara itu, pembina Sanggar Palangka Hadurut, Palangkaraya, Chendana Putra Syaer Sua, mengatakan, bunyi-bunyian itu juga ekspresi sukacita, syukur, sekaligus permohonan. “Tetabuhan itu permohonan agar Matahari bersinar kembali dan segala pengaruh buruk dapat dihalau,” katanya.

Suara dan harapan
Suara berbagai tetabuhan itu juga menjadi harapan agar datang umur panjang bagi manusia. Salakatok Dayak yang dibunyikan terbuat dari tempurung kura-kura, binatang yang identik dengan simbol umur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Pembunyian salakatok itu diharapkan agar manusia juga dilimpahi kesejahteraan dan umur yang panjang seperti kura-kura.

Lain halnya yang dilakukan masyarakat Maluku Utara. Saat gerhana, mereka membuat kegaduhan dengan membunyikan benda apa pun secara nyaring untuk mengusir kegelapan yang datang sekaligus menaruh harapan agar terang datang kembali.

Bunyi-bunyian yang keras itu biasa dibuat masyarakat Maluku Utara untuk mengusir burung, kera, atau binatang pengganggu tanaman di ladang. Ekspresi serupa juga dilakukan saat gerhana meski tanpa irama khusus. “Benda apa pun akan dipukul sesuka hati untuk mengusir kegelapan yang datang,” kata pengajar Antropologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Agus Salim Bujang.

Mahibur Mandar (34), warga Maba, Halmahera Timur, menambahkan, bunyi-bunyian dari aneka benda itu dilakukan masyarakat untuk mengurangi rasa takut dan menaruh harapan agar kegelapan sesaat di luar kebiasaan itu segera sirna. Bunyi-bunyian itu diperdengarkan karena sebagian masyarakat menganggap gerhana sebagai peristiwa yang menakutkan.

Meski demikian, aneka bunyi yang ditimbulkan masyarakat Nusantara bukan hanya tetabuhan. Masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, yang banyak dipengaruhi budaya Tiongkok, sering kali membunyikan petasan saat gerhana datang. Bahkan, meriam juga sering kali diledakkan di Tiongkok untuk menciptakan kegaduhan demi mencegah sang naga mencaplok Matahari atau Bulan. (NAW/DKA/FRN)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 Februari 2016, di halaman 24 dengan judul “Riuh Tetabuhan Pengusir Kegelapan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: