Home / Berita / Astronomi / Kalender Islam dan Kalender Jawa, Serupa Tapi Tak Sama

Kalender Islam dan Kalender Jawa, Serupa Tapi Tak Sama

Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriah dan Tahun Baru Jawa 1 Sura 1952 Jawa (Bé) pada tahun 2018 ini jatuh bukan pada hari yang sama. Meski masing-masing kalender memiliki sistem mandiri yang berbeda, keduanya sering dicampuradukkan dan disalahpahami hingga jadi rancu.

Tanggal 1 Muharram 1440 H jatuh pada Selasa (11/9/2018) dan 1 Sura 1952 (Bé) bertepatan dengan Rabu Kliwon (12/9/2018). Kalender Islam dan Jawa merupakan kalender Bulan (moon) yang mengacu pada gerak Bulan mengelilingi Bumi. Karenanya, panjang satu bulan (month) dalam kedua kalender itu selalu 29 hari atau 30 hari.

IMAH NOONG–Hilal atau Bulan sabit tipis yang menandai datangnya tahun baru Islam 1 Muharram 1440 Hijriah. Citra hilal itu dipotret oleh tim dari Observatorium Mini dan Musholatorium Imah Noong, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat pada Senin (10/9/2018).

Pergantian hari kedua kalender itu terjadi setelah Matahari terbenam atau saat magrib, bukan tengah malam atau pukul 00.00 seperti dalam kalender Masehi. Karena itu, meski 1 Muharram jatuh pada Selasa (11/9/2018), sejatinya itu berlangsung dari Senin (10/9/2018) sekitar pukul 18.00 hingga Selasa esoknya sebelum magrib.

Aturan yang sama berlaku dalam kalender Jawa. Namun, ada pula pengguna kalender Jawa yang menggunakan batas waktu pergantian hari pada sore hari atau sesudah ashar, bukan selepas magrib saja.

Ketentuan itu membuat peringatan tahun baru Jawa yang digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Mubeng Benteng dan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan Kirab 1 Sura digelar pada Selasa (11/9/2018) malam hingga Rabu dini hari.

Sementara, masyarakat di berbagai daerah sudah merayakan 1 Muharram pada Senin (10/9/2018) dengan berbagai kegiatan, mulai pawai obor keliling hingga doa bersama.

Pola pergantian hari selepas Matahari terbenam itu membuat di Indonesia lebih dikenal istilah malam Minggu dibanding Sabtu malam meski merujuk pada waktu yang sama. Demikian pula lebih dikenal malam Jumat dibanding Kamis malam.

Namun aturan pergantian hari dan beda kalender Islam dan Jawa itu kurang dipahami masyarakat. Padahal, itu terkait dengan penentuan waktu ibadah atau pelaksanaan berbagai ritual dan tradisi.

Kerancuan penggunaan kalender Islam dan Jawa juga sering ditemukan pada kalender yang diterbitkan sejumlah lembaga atau perusahaan negara. Meski di keterangan mereka menyebutnya dengan nama bulan dalam kalender Islam, namun tanggal yang disematkan justru dari kalender Jawa.

“Wajar jika masyarakat tidak memahami sistem kalender Islam dan Jawa karena sudah jarang menggunakannya di kehidupan sehari-hari,” kata peneliti etnoastronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta serta pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, Widya Sawitar.

Akulturasi
Kalender Jawa merupakan akulturasi kalender Islam dan kalender Saka yang digunakan umat Hindu hingga kini. H Djanudji dalam Penanggalan Jawa 120 Tahun Kurup Asapon (2006) menyebut kalender Jawa mulai digunakan di masa Raja Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma tepat pada 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M.

Kalender baru itu dibuat untuk menyatukan sejumlah sistem penanggalan yang dipakai masyarakat Jawa masa itu, yaitu masyarakat kejawen menggunakan kalender Saka dan kaum santri memakai kalender Islam.

Sistem penentuan hari dan bulan kalender Jawa menyerap aturan dalam kalender Islam yang namanya sudah disesuaikan dengan lidah Jawa atau tradisi Islam masyarakat Jawa. Namun untuk angka tahun, kalender Jawa mempertahankan angka tahun kalender Saka.

Akibatnya, kalender Jawa dimulai dengan angka tahun 1 Sura 1555 Jawa, bukan 1 Sura 1 Jawa. Tahun 1555 itu diambil dari tahun Saka saat kalender Jawa mulai digunakan.

Sementara itu, untuk penyebutan angka tahun itu juga ditambahkan dengan penanda siklus delapan tahunan alias windu. Nama tahun dalam siklus itu menggunakan huruf Arab yang penyebutannya, sekali lagi, disesuaikan dengan lidah Jawa. Dengan menyebut angka tahun dan urutan dalam siklus windunya, maka akan langsung diketahui angka tahun tersebut berada dalam urutan siklus windu ke berapa.

Sebagai contoh, 1 Sura 1555 Jawa (Alip) menunjukkan tahun 1555 Jawa berada di urutan pertama siklus windu.

Aturan itu membuat kalender Jawa yang merupakan hasil akulturasi kalender Islam dan Saka itu menjadi sistem kalender baru yang unik.

Hal yang membedakan kalender Islam dan Jawa adalah metode penyusunannya. Kalender Islam adalah kalender astronomis yang penentuan awal bulannya didasarkan atas terlihatnya hilal atau sabit tipis piringan Bulan. Sedang kalender Jawa adalah kalender matematis, mirip kalender masehi, yang aturan berdasar perhitungan matematis pergerakan Bulan.

Dalam kalender Islam, jumlah hari tiap bulannya bisa 29 hari atau 30 hari. Sedang di kalender Jawa, untuk bulan ganjil panjangnya 30 hari dan bulan genap lamanya 29 hari. Aturan ini membuat bulan Pasa di kalender Jawa yang setara dengan Ramadhan di kalender Islam, panjangnya selalu 30 hari.

“Sifat kalender Jawa yang matematis membuatnya relatif tidak mengalami perdebatan seperti kalender Islam,” kata pendiri observatorium mini dan musholatorium Imah Noong, Lembang, Jawa Barat Hendro Setyanto. Minimnya perdebatan itu juga terjadi karena kalender Jawa hanya digunakan dalam lingkup kecil dan ada keraton sebagai otoritas penjaganya.

Melemahnya peran keraton membuat penggunaan kalender Jawa juga makin meredup. Bahkan kurup atau siklus 120 tahun sebagai metode koreksi kalender pun tidak diadopsi seluruh masyarakat. Metode koreksi ini baru ditemukan 72 tahun setelah kalender Jawa berjalan. Akibatnya, masih ada masyarakat Jawa yang memakai kurup Aboge meski saat ini sudah masuk kurup Asapon.

Terlepas dari segala masalahnya, tantangan terbesar kalender Islam dan kalender Jawa adalah pemanfaatannya. Saat ini, kedua kalender itu hanya digunakan untuk ibadah, bukan administrasi publik.

“Sebagai produk budaya, sebuah kalender akan hilang jika tidak digunakan,” kata dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung Moedji Raharto.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 12 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: