Kapan Gerhana Kembali Lagi?

- Editor

Sabtu, 12 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gerhana Matahari Total 2016
Pekikan takbir menyelinap di antara bunyi musik tradisional dolo-dolo yang dimainkan puluhan bocah di pelataran Dhuafa Center, Kota Ternate, Maluku Utara, Rabu (9/3/2016) pagi. Kegelapan yang baru saja menghilang tiga jam lalu itu seakan kembali menyergap. Di tengah suhu yang terus menurun, cahaya matahari pun meredup dihalang bulan yang menyisir dari sisi timur laut matahari.

Sambil memainkan dolo-dolo, rombongan bocah berpakaian muslim putih-putih itu keluar dari pelataran dan menyusuri Jalan Sultan M Djabir Sjah menuju panggung utama acara gerhana matahari total (GMT) yang berdiri tak jauh dari Dhuafa Center. Sepanjang jalan yang berada di pesisir pantai itu terdapat puluhan ribu orang menanti detik-detik berlangsungnya GMT.

Suasana semakin riuh ketika gerhana matahari mencapai fase total pukul 9.52 WIT. Bunyi dolo-dolo pun terdengar kian keras. Dalam keseharian warga, bunyi dolo-dolo mengandung arti mengusir sesuatu atau memberi tanda telah terjadi sesuatu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut mitos masyarakat Ternate atau Maluku Utara pada umumnya, gerhana terjadi ketika ada naga raksasa yang menelan matahari. Bunyi dolo-dolo dimainkan warga untuk mengganggu naga tersebut agar segera memuntahkan kembali matahari.

Selama fase gerhana total berlangsung, warga berteriak mengagumi keindahan fenomena alam yang langka itu. Bahkan, beberapa laki-laki paruh baya melakukan sujud syukur. Namun, keindahan itu hanya berlangsung sesaat, yakni selama 2 menit 36 detik.

Ekspresi ketidakpuasan pun terpancar di wajah mereka setelah fase gerhana total berakhir. Semacam ada rasa kehilangan. Mereka masih ingin melihat keindahan itu lebih lama lagi. Namun, tak ada yang bisa menghentikan alam.

“Kapan gerhana kembali lagi?” teriak seorang warga. Butuh waktu sekitar 375 tahun kemudian, gerhana kembali melintasi daerah itu. Di titik lain Nusantara, gerhana matahari akan menyambangi lagi pada 2023.

Nurdin Hamid (51), salah satu di antara yang sujud syukur itu, berurai air mata. Melihat gerhana seperti suatu yang menyempurnakan perjalanan hidupnya. Ia datang ke tempat itu bersama istri dan empat cucunya. Mereka tiba sekitar pukul 06.30 atau lebih kurang dua jam sebelum gerhana dimulai.

Kekaguman yang sama dirasakan warga di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Warga berbondong-bondong menyaksikan gerhana matahari total.

Ribuan warga Kalteng bercampur dengan para turis, baik asing maupun lokal, juga berkumpul di Bundaran Besar, Palangkaraya. Orang tua, anak-anak, remaja, berpasang-pasangan, semuanya ingin menjadi saksi gerhana matahari total 2016.

Saat detik-detik langit mulai gelap, serempak semua orang menggunakan kacamata dan menyiapkan kamera masing-masing. Selama 10 detik suasana berubah hening, hanya nyanyian sang Basir, pemuka adat Dayak Kaharingan, yang terus bernyanyi. Begitu langit benar-benar gelap dan cahaya matahari perlahan surut, gemuruh sorak-sorai, tepuk tangan, dan pukulan salakatok atau kenthongan memecah keheningan.

Eko Sunardi (29), pengunjung asal Jawa Timur, mengatakan, selama hidupnya belum pernah melihat gerhana, baik bulan maupun matahari. Meski tidak memiliki kacamata GMT, ia dan istrinya menggunakan lembar plastik kaca berwarna hitam untuk melihat gerhana. “Ini momen yang enggak boleh dilewatkan. Saya senang sekali apalagi ada ritual adatnya,” kata Eko yang bekerja di salah satu hotel di Palangkaraya.

Selain Eko, wisatawan asing yang berasal dari Jepang, Yuriko Hikamaru, datang dengan membawa berbagai peralatan, mulai dari kamera lengkap dengan berbagai ukuran lensa sampai teropong. Ia dan teman-temannya terlihat sibuk mencatatkan berbagai macam angka dan catatan di buku yang dipegang masing-masing. “Matahari itu dewa. Saya sangat kagum dengan ritual adat yang ada di sini. Selain itu, tari-tarian mereka yang seperti burung itu sangat unik,” ungkapnya sambil tersenyum.

Momentum wisata
GMT disambut berbagai jenis kegiatan. Di Ternate, gerhana disambut Festival Legu Gam yang mulai digelar sejak awal Maret lalu. Biasanya, Festival Legu Gam digelar setiap tahun mulai awal April dengan puncak acara pada 13 April sesuai hari ulang tahun mediang Sultan Ternate Mudaffar Sjah.

Sejumlah pertunjukan budaya dan pameran ditampilkan dalam festival itu untuk memeriahkan GMT. Dipercepatnya festival itu sebagai bentuk dukungan Kesultanan Ternate terhadap momentum GMT. Warga dan wisatawan asing pun antusias menyaksikan acara itu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate Anas Konoras mengatakan, momentum GMT menjadi ajang promosi bagi daerah itu. Ia yakin, sajian alam dan budaya di pulau itu dapat memikat hati wisatawan asing untuk kembali lagi atau mengabarkannya kepada orang lain. Sebanyak 1.157 wisatawan asing menyaksikan GMT di Ternate.

Berlalunya GMT menjadi awal memperkuat industri pariwisata di daerah itu. Masih banyak perlu dibenahi. “Kami kesulitan karena tidak ada peta penunjuk jalan di kota ini. Tetapi alam di sini indah,” ujar Jeany, wisatawan asal Australia.

(MEGANDIKA WICAKSONO/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO)

FRANS PATI HERIN

Sumber: Kompas Siang | 11 Maret 2016

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 12 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB