Home / Berita / Astronomi / Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua wilayah di permukaan bumi akan mengalami panjang waktu siang dan malam hampir sama.

Setiap tanggal 21-24 September, matahari akan kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa. Saat ini, semua wilayah di permukaan bumi akan mengalami panjang waktu siang dan malam hampir sama. Momentum ini juga menandai akhir musim panas dan datangnya musim gugur di belahan bumi utara serta akhir dari musim dingin dan datangnya musim semi di belahan bumi selatan.

Saat matahari di atas khatulistiwa, masyarakat Indonesia lebih mengenalnya sebagai hari tanpa bayangan. Selama waktu ekuinoks September ini, bayangan benda di sejumlah daerah yang dilintasi garis khatulistiwa pada saat matahari tepat di atas kepala akan jatuh di bawah benda tersebut hingga seolah-olah bayangan benda menghilang.

Daerah-daerah yang dilintasi khatulistiwa di Indonesia tersebut meliputi, antara lain, Pulau-pulau Batu, Nias Selatan (Sumatera Utara), Bonjol, Pasaman (Sumateran Barat), Pulau Lingga (Kepulauan Riau), dan Pontianak (Kalimantan Barat). Juga di Parigi Moutong (Sulawesi Tengah), Pulau Kayoa, Halmahera Selatan, dan Pulau Gebe, Halmahera Tengah (Maluku Utara), serta Pulau Kawe, Raja Ampat (Papua Barat).

Namun, posisi matahari tepat di atas khatulistiwa pada ekuinoks September tahun 2020 ini terjadi pada Selasa (22/9/2020) pukul 20.30 WIB. Meski puncaknya terjadi pada malam hari, hari tanpa bayangan masih bisa dinikmati keesokan harinya.

”Plus minus dua hari dari matahari tepat atas khatulistiwa, masyarakat (di daerah yang dilintasi garis khatulistiwa) masih bisa menikmati fenomena hari tanpa bayangan,” kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin seperti dikutip Kompas, 20 Maret 2018.

KOMPAS, 28 MARET 2013—Patokan Penentuan Waktu dalam Satu Tahun

Ekuinoks September merupakan peristiwa kebalikan dari ekuinoks Maret yang biasanya diperingati lebih semarak. Ekuinoks Maret menjadi tanda berakhirnya musim dingin dan masuknya musim semi di belahan bumi utara. Sebaliknya, bagi penduduk bumi selatan, ekuinoks Maret adalah tanda akhir musim panas dan datangnya musim gugur.

Waktu tepat
Meski bisa terjadi pada rentang waktu 21-24 September, ekuinoks September paling sering terjadi pada kurun 22-23 September.

Selama beberapa milenium sebelumnya, seperti dikutip dari Timeanddate.com, ekuinoks September yang jatuh pada 21 September tidak pernah terjadi sama sekali. Namun, pada abad ke-21 ini, ekuinoks pada 21 September itu akan terjadi pada tahun 2092 dan 2096. Sementara ekuinoks yang jatuh pada 24 September terakhir terjadi tahun 1931 dan baru akan terjadi lagi tahun 2303.

Variasi waktu ekuinoks September antara 21-24 September itu terjadi karena perbedaan definisi satu tahun yang digunakan dalam sistem kalender Masehi saat ini dengan waktu tepat bumi untuk satu kali mengelilingi matahari yang dijadikan patokan penentuan panjang satu tahun. Dalam kalender Masehi atau disebut juga kalender Gregorian, satu tahun didefinisikan sebagai 365 hari. Sementara waktu revolusi bumi mengelilingi matahari adalah 365,256 hari.

Perbedaan 0,256 hari itu membuat waktu terjadinya ekuinoks September pada tahun berjalan akan mundur sekitar enam jam dibandingkan waktu ekuinoks September tahun sebelumnya. Jika ekuinoks September 2020 ini terjadi pada 22 September pukul 20.30, peristiwa yang sama pada 2019 terjadi pada 23 September 14.50 WIB dan pada 2018 berlangsung pada 23 September pukul 08.54 WIB.

Sementara ekuinoks September tahun 2021 mendatang akan terjadi pada 23 September pukul 02.21 WIB dan tahun 2022 berlangsung pada 23 September pukul 08.03 WIB.

Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, mengatakan, peristiwa ekuinoks yang berlangsung dua kali setahun, yaitu ekuinoks Maret dan ekuinoks September, terjadi karena kemiringan sumbu rotasi bumi sebesar 23,5 derajat saat mengelilingi matahari. Kemiringan poros rotasi itu menciptakan musim-musim di bumi, sekaligus membuat seolah-olah matahari bergerak bolak-balik dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan dan sebaliknya.

Pada ekuinoks Maret yang berlangsung antara 19-21 Maret setiap tahun, matahari seolah-olah bergerak dari belahan bumi selatan ke utara. Sebaliknya, pada ekuinoks September, matahari seolah bergerak dari utara ke selatan.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN—Murid-murid kelas VI melihat fenomena hari tanpa bayangan di SDN Sukabumi Selatan 05, Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (9/10/2019). Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, kulminasi atau transit atau istiwa adalah fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit.

Saat matahari tepat berada di atas khatulistiwa, baik pada ekuinoks Maret maupun ekuinoks September, semua tempat di muka Bumi akan mengalami panjang waktu siang dan malam yang hampir sama, yakni 12 jam. Namun, adanya pembiasan cahaya matahari saat terbit dan tenggelam atau saat fajar dan senja membuat panjang hari sedikit melebihi waktu malam.

Aneka festival
Jika masyarakat di sekitar khatulistiwa umumnya menyambut ekuinoks ini sebagai hari tanpa bayangan, masyarakat di negara-negara empat musim akan menyambut ekuinoks September dengan berbagai perayaan, festival, dan ritual.

Namun, perayaan ekuinoks September umumnya tidak semeriah peringatan ekuinoks Maret. Situasi itu bisa dimaklumi karena sebaran penduduk bumi memang lebih banyak di belahan bumi utara sehingga datangnya musim gugur tentu tidak seindah datangnya musim semi. Hadirnya musim semi saat ekuinoks Maret identik dengan datangnya kehangatan dan kebahagiaan di bumi utara.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA—Ratusan payung berwarna-warni menghiasi kawasan wisata Tugu Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (21/3), untuk memeriahkan acara kulminasi matahari, yakni saat matahari tepat melintas di atas ekuator. Pada saat kulminasi tidak ada bayangan sehingga disebut juga hari tanpa bayangan.

Meski demikian, banyak budaya tetap memiliki perayaan khusus menyambut datangnya ekuinoks September. Seperti dikutip dari Space.com, 23 September 2019, masyarakat Jepang sama-sama menjadikan saat ekuinoks Maret dan ekuinoks September sebagai hari libur nasional yang disebut Ohinagan. Pada saat itu, masyarakat Jepang akan melakukan ritual untuk menghormati leluhur mereka yang telah meninggal.

Bangsa-bangsa belahan bumi utara juga menjadikan ekuinoks September sebagai masa datangnya panen setelah berbagai buah dan sayur yang mereka tanam pada musim semi dan panas yang lalu matang buahnya dan daunnya mulai berguguran.

Karena itu, masyarakat asli Amerika Utara menjuluki bulan purnama yang jatuh paling dekat dengan ekuinoks September sebagai harvest moon atau purnama panen. Waktu munculnya purnama panen itu bisa terjadi pada bulan September atau awal Oktober.

Tahun 2020 ini, purnama panen akan terjadi pada 2 Oktober 2020 pukul 04.05 WIB. Istilah purnama panen ini juga sudah ada sejak tahun 700-an Masehi di negara-negara pengguna bahasa Anglo-Saxon atau bahasa Inggris Kuno dan bahasa Jerman Kuno.

Jika waktu purnama panen itu jatuh di bulan September, purnama di bulan Oktober akan dinamakan purnama pemburu (hunter’s moon) karena menjadi awal dimulainya waktu berburu untuk persediaan makanan selama musim dingin. Sementara jika purnama panen terjadi di bulan Oktober, purnama di bulan September dinamakan purnama panen jagung (full corn moon) atau purnama barli, sejenis tanaman sereal mirip gandum.

KOMPAS/AGUS SUSANTO—Hari tanpa bayangan di Tugu Khatulistiwa, Pontianak Utara, Kalimantan Barat, Rabu (21/3/2018). Tugu Khatulistiwa menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan yang mengunjungi Pontianak.

Penyebutan berbagai nama bulan purnama sesuai dengan aktivitas warga itu juga menunjukkan, bangsa-bangsa Eropa dan Amerika Utara pada masa lalu juga banyak memakai wujud bulan sebagai basis perhitungan waktu sebelum mereka mengenal sistem penanggalan Masehi atau kalender Gregorian. Penanggalan berbasis bulan itu juga menjadi dasar pembentukan awal kalender Masehi sebelum sistem kalender itu berevolusi menjadi seperti sekarang.

Datangnya ekuinoks September juga disambut gembira oleh masyarakat China. Perayaan ini tidak berlangsung pada hari ekuinoksnya, tetapi saat bulan purnama terdekat dengan datangnya waktu ekuinoks September. Momentum ini umumnya dirayakan sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur atau juga disebut Festival Kue Bulan dan Festival Lentera.

Dalam kalender China, tahun ini perayaan tersebut akan jatuh pada 1 Oktober 2020 mendatang. Festival ini umumnya juga dirayakan sejumlah negara Asia lain, seperti Vietnam, Hong Kong, dan juga Taiwan.

Bagi masyarakat modern, saat perhitungan waktu astronomi jadi lebih mudah, datangnya ekuinoks ini mungkin tidak banyak memiliki arti bagi kehidupan mereka, kecuali yang masih menganut nilai-nilai tradisi. Namun, munculnya berbagai perayaan menyambut ekuinoks yang ada hingga kini menunjukkan dekatnya hubungan antara manusia dan berbagai peristiwa langit.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 23 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: