Dampak El Nino hingga Mei 2016

- Editor

Jumat, 14 Agustus 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BMKG dan NOAA Kerja Sama Ina-Prima
Fenomena El Nino pada kemarau tahun ini diprediksi berdampak bencana bagi negara di kawasan cekung Pasifik hingga musim semi atau April-Mei 2016. Meski demikian, efek El Nino 2015 bagi sebagian Indonesia, yaitu kekeringan, diperkirakan tak separah tahun 1997.

Data pantauan iklim di Samudra Hindia saat ini masih netral. Artinya, masih ada peluang hujan di beberapa wilayah di Indonesia.

Hal ini disampaikan Michael James McPhaden, pakar iklim kelautan dari Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA), pada 10th Annual Indonesia-USA Partnership Workshop on Ocean and Climate Observation, Analysis and Applications, di Bandung, Rabu (12/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena El Nino, yaitu menghangatnya suhu muka laut di ekuator Pasifik, umumnya akan berakhir saat musim semi sekitar April. Namun, untuk El Nino tahun ini tidak dapat dipastikan akan melemah pada bulan yang sama, lanjut Phaden yang juga Direktur Proyek Tropical Atmosphere Ocean (TAO).

Pada proyek tersebut dilakukan pemasangan jejaring pelampung pemantau kondisi perairan tropis Samudra Pasifik. Sejak 1985 kini terpasang 60 pelampung. Dengan fasilitas pelampung itu dapat dibuat pemodelan cuaca iklim dan dibuat prediksi hingga sembilan bulan ke depan.

Meski demikian, masih ada kemungkinan prediksi meleset, yaitu dampak El Nino yang berupa kekeringan atau curah hujan yang tinggi berlangsung lebih panjang hingga musim panas.

“Kemungkinan apa pun dapat terjadi saat musim semi tahun depan,” kata Phaden. Ia mengatakan, ini karena kejadian El Nino menjadi melemah atau menguat dipengaruhi fenomena cuaca dan iklim di sekitarnya, di antaranya fenomena mirip El Nino di Samudra Hindia yang disebut Indian Ocean Dipole (IOD) atau Dipole Mode Event, yaitu pola pergerakan “kolam hangat” atau suhu muka laut di arah timur atau barat.

Untuk El Nino 2015, Phaden mengungkapkan gejalanya telah terlihat tahun 2014, tetapi kemudian melemah. Pelemahan ini tak diketahui penyebabnya. Menurut dia, El Nino 2014-2015 ini tergolong berkarakteristik unik. “Setiap kejadian El Nino mempunyai karakteristik. Hal ini dipengaruhi dinamika kelautan dan atmosfer yang memengaruhi saat kejadiannya,” kata Phaden.

Ina-Prima
Karena itu, untuk meningkatkan prediksi El Nino, mekanisme interaksi laut-atmosfer perlu dipantau. Salah satu yang menjadi perhatian NOAA adalah fenomena IOD.

Untuk itu dijalin kerja sama NOAA dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melaksanakan program Indonesia Program Initiative on Maritime Observation and Analysis (Ina-Prima).

Program ini dilaksanakan berdasarkan MOU antara BMKG dan NOAA pada 2012. Untuk itu BMKG akan melaksanakan pelayaran di Samudra Hindia dengan melibatkan lembaga terkait lain, antara lain Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, yang akan mengoperasikan kapal riset Baruna Jaya I untuk memasang empat pelampung Atlas yang baru dalam jejaring Research Moored Array for African- Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction (RAMA).

Aktivitas ini juga untuk mendukung implementasi kerja sama program Global Ocean Observing System, urai Nurhayati, penanggung jawab Proyek Ina-Prima. Ina-Prima merupakan bagian dari International Indian Ocean Expedition II yang akan dilaksanakan NOAA pada 2015 hingga 2020

Proyek ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas SDM di Indonesia tentang observasi laut. Menurut Kepala BMKG Andi Eka Sakya, kerja sama riset ini bermanfaat bagi Indonesia dalam meningkatkan prediksi cuaca dan iklim di Indonesia. Data ini selanjutnya juga dapat digunakan sektor lain, seperti pertanian, perikanan, dan kesehatan, untuk melakukan langkah antisipasi terhadap dampak El Nino.

Ia menambahkan, dari data observasi yang ada perlu ada pergeseran paradigma, yaitu menjadi memperkirakan berdasarkan dampak dan menginformasikan berdasarkan risiko pada masyarakat. Masyarakat harus terinformasikan tentang bencana, juga tentang bagaimana melakukan reaksi dan respons yang tepat untuk menghindarkan kerugian.(YUN)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Agustus 2015, di halaman 13 dengan judul “Dampak El Nino hingga Mei 2016”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab
Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan
Kincir Angin: Dari Ladang Belanda Hingga Pesisir Nusantara
Surat Panjang dari Pinggir Tata Surya
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 19 November 2025 - 16:44 WIB

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 12 November 2025 - 20:57 WIB

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Sabtu, 1 November 2025 - 13:01 WIB

Habibie Award: Api Intelektual yang Menyala di Tengah Bangsa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 16:30 WIB

Di Balik Lembar Jawaban: Ketika Psikotes Menentukan Jalan — Antara Harapan, Risiko, dan Tanggung Jawab

Rabu, 1 Oktober 2025 - 19:43 WIB

Tabel Periodik: Peta Rahasia Kehidupan

Berita Terbaru

Berita

Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami

Rabu, 19 Nov 2025 - 16:44 WIB

Artikel

Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma

Rabu, 12 Nov 2025 - 20:57 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Okt 2025 - 13:23 WIB

Fiksi Ilmiah

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Sabtu, 18 Okt 2025 - 12:10 WIB