Home / Berita / El Nino Memuncak Desember

El Nino Memuncak Desember

El Nino yang terdeteksi pertengahan September akan memuncak Desember ini dan berakhir April 2016. Namun, kehadirannya tak selalu berakibat kekeringan panjang. Ada empat fenomena lain yang dapat menekan pengaruh negatifnya, termasuk angin monsun.

Indonesia baru memasuki masa transisi dari kemarau ke musim hujan bulan November. Pada kondisi cuaca normal, masa pancaroba berawal September, yang biasanya ditandai hujan sporadis, berintensitas tinggi, dan relatif singkat.

Kemunduran awal musim hujan 1-2 bulan itu disebabkan kemunculan El Nino yang tergolong kuat. Itu ditandai menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah. El Nino dikategorikan kuat apabila kenaikan suhu di perairan itu lebih dari 2 derajat celsius di atas normalnya. Hingga akhir Oktober, terpantau temperatur rata-rata di Pasifik masih 2,66 derajat celsius di atas normal.

Terbentuknya kolam hangat di Pasifik beberapa bulan terakhir menyedot massa udara di Indonesia yang berada di barat daya Pasifik. Ketiadaan hujan di wilayah Nusantara juga disebabkan perairan mendingin dan angin monsun tenggara dari Australia tak lewat Indonesia.

Suhu laut yang dingin itu menyebabkan cuaca kering di Indonesia. Kondisi itu berasosiasi dengan dipole mode positif. “Sering kali, kasus El Nino kuat berbarengan gejala dipole mode positif, yaitu suhu dingin di perairan barat Sumatera,” kata Edvin Aldrian, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pemantauan dipole mode positif akhir November, penyimpangan +0,13 derajat celsius dari normalnya. Itu masuk kategori netral dengan rentang minus 0,5 derajat celsius hingga plus 0,5 derajat celsius.

Peningkatan suhu laut di barat Sumatera itu berdampak positif. Sebab, di tengah pengaruh El Nino kuat masih terbuka peluang pembentukan uap air hingga mendatangkan hujan di wilayah barat Indonesia.

Kehadiran monsun
Kondisi El Nino ekstrem itu umumnya berkurang seiring pergeseran garis edar matahari mendekati Indonesia. Itu berakibat pola angin monsun berubah. “Sejak September, peredaran Matahari bergeser ke selatan khatulistiwa. Sekarang di atas Pulau Jawa,” kata prakirawan cuaca di Pusat Meteorologi BMKG, Eko Hadi Santoso.

Kondisi itu yang akan membentuk pusat tekanan udara rendah di selatan Indonesia, yaitu di Samudra Hindia, dan menarik massa udara dari utara khatulistiwa sehingga menimbulkan pola angin monsun atau musim baratan.

Meski demikian, monsun timuran dari Australia ke daratan Asia masih berlangsung. Di Samudra Hindia juga belum terbentuk badai tropis. Sebaliknya, badai di timur Filipina dekat perairan utara Pulau Papua.

“Akhir November, monsun timuran melemah berbarengan posisi Matahari yang terus ke selatan. Hilangnya monsun timuran berganti monsun baratan dari daratan Asia,” kata Eko.

Bagi Indonesia-negeri tropis kepulauan-angin monsun berpengaruh dominan. Penelitian Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University, AS, menyebut pengaruh fenomena cuaca itu begitu kuat bagi terbentuknya curah hujan di Asia Tenggara, terutama Indonesia, hingga 70 persen.

Menurut pakar oseanografi, yang juga Kepala Pusat Teknologi Survei Kelautan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu Pandoe, keberadaan angin monsun baratan memang dapat menimbulkan banyak hujan. Namun, pengaruhnya berkurang karena El Nino masih kuat.

Hal itu diindikasikan kolam hangat di daerah Nino 3 atau Pasifik Tengah. Indeksnya masih di atas 2,5, yaitu 2,5 derajat celsius di atas suhu laut normalnya, 27-28 derajat celsius. Suhu hangat itu hingga 300 meter di bawah permukaan laut. Sebaliknya, di timur Pasifik atau di sekitar Papua Niugini terjadi pendinginan laut 2 derajat celsius dari normalnya. Pendinginan itu tercatat hingga sedalam 200 m.

Prakiraan Edvin, puncak El Nino Desember ini. “November, indeks El Nino 2,66. Desember akan meningkat di atas 3. Sebenarnya, pengukuran mingguan pada 18 November telah tercatat indeks El Nino 3. Saat El Nino 1997, indeksnya bahkan mencapai 3,62,” katanya.

Prediksi yang sama dikeluarkan Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) yang menyebut El Nino kategori kuat bertahan hingga Desember. Badan Meteorologi Australia, Jepang, dan AS memprediksi kenaikan indeks rata-rata per bulan Desember, masing-masing 2,65, 2,55 dan 2,8.

Kondisi El Nino kuat pada musim penghujan ini mengakibatkan berkurangnya suplai hujan. Pengaruh El Nino itu, menurut Edvin, bertahan hingga April 2016. Setelah itu perlu diwaspadai datangnya fenomena kebalikannya, La Nina yang membawa banyak hujan.

Peluang La Nina
Berdasarkan data historis cuaca dan iklim Indonesia, Wahyu menambahkan, setelah El Nino 1997 yang terbesar sepanjang sejarah di negeri ini, terjadi La Nina hingga tiga tahun berturut-turut meski lemah. Sebaliknya, seusai El Nino 1973, tiga tahun muncul La Nina kuat.

Saat ini, mayoritas wilayah Indonesia telah masuk musim hujan. Dari 339 zona musim (ZOM), 40 persen lebih atau 136 di antaranya memasuki penghujan November. Adapun 105 ZOM menyusul Desember, terbanyak di Jawa. Desember dan Januari, puncak musim hujan di Indonesia, curah hujannya diprakirakan di bawah normal. Namun, anomali seperti Madden- Julian Oscillation yang muncul dalam 40 harian berpotensi memberi tambahan suplai curah hujan bagi wilayah yang dilalui.—YUNI IKAWATI
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “El Nino Memuncak Desember”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: