Home / Berita / Fenomena El Nino Menguat

Fenomena El Nino Menguat

Fenomena El Nino yang mulai terdeteksi pada Februari lalu terus mengalami peningkatan hingga Juni ini. Sejak awal Mei, El Nino yang sebelumnya berkategori lemah telah menjadi moderat. Ini ditunjukkan dengan peningkatan penghangatan suhu muka laut di atas normalnya.

Meskipun begitu, tingkat ketersediaan air permukaan di sebagian besar wilayah Indonesia saat ini masih dalam kategori cukup. Zona musim yang telah mengalami neraca air yang tergolong kurang adalah wilayah Nusa Tenggara.

Ini dikemukakan Kepala Subbidang Analisis dan Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan dan Kepala Bidang Informasi Iklim BMKG Evi Lutfiati, Sabtu (13/6).

Ardhasena menjelaskan, kemunculan fenomena El Nino di Samudra Pasifik akan berdampak pada kurang hujan di sebagian besar wilayah di Indonesia, terutama di kawasan timur. Sejak awal Mei, klasifikasi El Nino naik ke tingkat moderat, yang ditunjukkan oleh Indeks Oskilasi Selatan berkisar + 1 hingga + 2. “Ini artinya terjadi kenaikan suhu muka laut di Pasifik 1 hingga 2 derajat celsius dibandingkan dengan rata-rata normalnya.”

“Awal minggu kedua Mei telah terpantau indeks + 1. Pada awal Juni meningkat menjadi + 1,2 dan seminggu terakhir mendekati +1,3,” ujar Ardhasena. Selain pantaun BMKG, semua pemodelan iklim yang dibuat beberapa negara, seperti Australia, Amerika Serikat, dan Jepang, menunjukkan gejala peningkatan.

Berdasarkan data yang ada, Ardhasena memperkirakan kondisi El Nino akan bertahan hingga kuartal ketiga tahun ini atau bulan Oktober.

“Saat ini kolam hangat di Samudra Pasifik bagian barat bergeser ke bagian tengah dan melebar. Kondisi ini akan mengurangi suplai air ke wilayah Indonesia.,” katanya.

Sementara itu, suhu perairan di Indonesia cenderung mendingin. Pendinginan terjadi di seluruh perairan Indonesia dan sekitarnya, kecuali Samudra Hindia sebelah barat. Penurunan suhunya 0,5 hingga 1,5 derajat celsius dari kondisi normal. Wilayah perairan yang mendingin terlihat di timur Filipina hingga utara Papua, Selat Karimata, Laut Jawa, hingga selatan Sulawesi serta perairan Maluku dan Nusa Tenggara.

Karena itu, berkait kondisi kelautan ini, pembentukan awan hujan di wilayah Nusantara juga menurun saat kemarau. Menurunnya suplai uap air dari Pasifik dan dari perairan Indonesia perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan kekeringan.

Menurut Ardhasena, daerah yang mungkin terdampak El Nino adalah yang mengalami hujan monsunal, yaitu wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa. Sementara daerah sebelah barat, yaitu wilayah Sumatera, dari Sumatera Barat hingga ke Aceh, diperkirakan normal.

Sementara itu, cuaca di barat Indonesia relatif normal. Hal ini disebabkan fenomena di-pole mode di Samudra Hindia tergolong netral. Walaupun begitu, ada kecendungan ke arah positif atau pendinginan. Apabila itu terjadi, akan memperkuat dampak kekeringan di wilayah Indonesia, urai Ardhasena.

Ketersediaan air
Kekurangan hujan telah disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistya medio Mei lalu. Hujan berkategori rendah, yaitu dalam waktu sebulan curah hujan berkisar nol hingga 100 mm.

Sejak awal Mei, beberapa wilayah di Zona Musim telah mengalami kemarau dengan curah hujan di bawah normal, bahkan ada beberapa wilayah yang telah sebulan tak hujan, antara lain Bali dan Nusa Tenggara. Kondisi ini diperkirakan mencapai puncaknya Agustus. “Upaya antisipasi berupa penghematan air perlu dilakukan penduduk,” kata Widada.

Pada Juni, sebagian besar Zona Musim di Indonesia sudah memasuki kemarau. Kondisi kurang hujan juga dialami Kalimantan bagian barat, selatan, dan tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian tengah dan selatan, terutama Merauke.

Meski hujan mulai menurun sejak Mei lalu, jelas Evi, ketersediaan air permukaan, yaitu kandungan air di permukaan tanah hingga kedalaman 1 meter, masih tergolong cukup di sebagian besar wilayah ZoM. Kategori cukup artinya kandungan air di atas 60 persen.

Kategori sedang antara 40,1 dan 60 persen, sedangkan kurang sama dengan 40 persen. Jika tingkat ketersediaan air tanah kurang dari nol persen, ini menunjukkan kandungan air wilayah tersebut berada di bawah titik layu permanen. Jika lebih dari 100 persen, hal itu menunjukkan telah terjadi surplus atau jenuh air, ujar Evi.

Ketersediaan air saat ini menunjukkan tingkat yang kurang atau defisit air di wilayah Nusa Tenggara, yaitu berkisar dari 0 hingga 40 persen. Hal ini dipengaruhi oleh pola angin monsun Australia yang kering bertiup ke arah barat laut menuju Benua Asia. “Dalam pola musim normalnya, wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau adalah wilayah tenggara,” urai Evi.

YUNI IKAWATI
Sumber: Kompas Siang | 13 Juni 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: