Home / Berita / Musim Hujan Berpeluang Mundur

Musim Hujan Berpeluang Mundur

Peralihan musim dari kemarau ke musim hujan berpeluang mundur. Hal itu diperkirakan terjadi sebagai dampak adanya El Nino dengan intensitas lemah yang mulai aktif awal September hingga awal tahun depan.

Kondisi puncak musim kemarau diprediksi mulai meluruh awal September 2018. Namun, El Nino dengan intensitas lemah yang mulai aktif awal September hingga awal tahun 2019 diperkirakan memundurkan peralihan musim hujan.

”Prakiraan curah hujan dasarian ketiga bulan Agustus menunjukkan, sebagian wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua akan mendapat penambahan hujan meski belum memasuki musim hujan,” kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto, di Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Hasil pemantauan BMKG hingga pertengahan Agustus 2018, sebanyak 95,6 persen wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Sementara 4,3 persen masih mendapat hujan dengan intensitas 50-150 milimeter dalam 10 hari terakhir. Hanya 0,1 persen wilayah mendapatkan curah hujan lebih dari 150 mm per dasarian.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO–Ngatmi (45) mengambil air dari cerukan di dasar sungai yang telah mengering di Desa Jerukan, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (3/8/2018). Sedikitnya sembilan kecamatan di kabupaten tersebut telah mengalami kekeringan pada musim kemarau ini.–KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)–03-08-2018

Menurut Siswanto, puncak musim kemarau saat ini ditandai dengan 30 persen wilayah di Indonesia di selatan khatulistiwa mengalami kurang hujan kategori amat panjang, yakni 31-60 hari tanpa hujan. Bahkan 6,23 persen di antaranya dikategorikan ekstrem atau lebih dari 60 hari tanpa hujan.

”Hanya 8,4 persen wilayah terpantau masih ada hujan, yakni sebagian wilayah di pesisir barat Sumatera, Sulawesi bagian tengah, dan Papua,” kata dia.

Meluruh
Memasuki pergantian bulan, puncak musim kemarau diprediksi akan meluruh. Prakiraan curah hujan dasarian ketiga Agustus oleh BMKG menunjukkan, sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mulai mendapat penambahan hujan meskipun belum memasuki musim hujan. Namun, 29 persen wilayah masih akan mengalami kurang hujan atau hanya mendapatkan hujan kurang dari 50 mm dalam 10 hari.

Kepala Bidang Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko menambahkan, berdasarkan analisis prakirawan BMKG, peluang hujan terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat pada Jumat sore kategori sedang hingga lebat dan berlangsung hingga malam hari. Hujan ringan juga berpeluang terjadi di Denpasar dan Yogyakarta. Adapun wilayah lain di Indonesia mayoritas berawan dan cerah.

El Nino
Berdasarkan data BMKG, saat ini sudah ada delapan provinsi dilaporkan terdampak oleh kekeringan. Akan tetapi, 95 persen daerah kurang hujan diprediksi akan berkurang menjadi hanya 29 persen di awal September ini.

Meskipun masih kemarau, sejumlah daerah akan mulai mendapat sedikit hujan. Peluang hujan dipengaruhi pergerakan pusat konvektif masa udara basah MJO (Madden Julian Oscillation) dari barat ke timur melintasi Indonesia dengan siklus kehadiran 30-90 hari dan berdampak pada penambahan curah hujan beberapa hari hingga minggu ke depan.

Siswanto memaparkan, meski secara klimatologis September mulai terjadi hujan, mulai menguatnya fenomena cuaca El Nino perlu diwaspadai.
”Kondisi El Nino dengan intensitas lemah diprediksi berpeluang aktif mulai September 2018 hingga awal 2019,” ujarnya.

El Nino lemah ini ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur sebesar 0,5 derajat celsius hingga 1 derajat celsius. Kemunculan fenomena anomali iklim global El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik diketahui dan dipantau dengan indeks perubahan kondisi laut dan atmosfer yang dikenal dengan Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation).

Hingga Oktober 2018, suhu muka laut di wilayah Indonesia diprediksi dalam kisaran normalnya dan cenderung hangat dengan perubahan fluktuatif -0,5 derajat celsius sampai dengan 0,5 derajat celsius. Sebagian wilayah perairan diprakirakan lebih hangat hingga 2 derajat celsius, di antaranya perairan Laut Banda dan sekitar Papua.

Sementara di sisi barat, fenomena anomali iklim Samudra Hindia Dipole Mode berada pada kondisi normal dengan indeks 0 sampai 0,4 pada Agustus hingga Oktober 2018.

Kondisi atmosfer global dengan El Nino lemah di Samudra Pasifik dan Dipole Mode normal di Samudra Hindia pada kuartal akhir 2018 dimungkinkan akan berdampak pada peralihan musim kemarau ke musim hujan akhir tahun ini. ”Ada potensi terjadi keterlambatan awal musim hujan di sejumlah wilayah di selatan khatulistiwa,” kata Siswanto.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 1 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: