Home / Berita / Musim Hujan Mundur, Intensitas Normal

Musim Hujan Mundur, Intensitas Normal

Mulai Perbaiki Saluran Air untuk Cegah Banjir
Awal musim hujan 2014-2015 di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada Oktober-November. Dari 342 zona musim di Indonesia, awal musim hujan di hampir separuh zona musim mundur 10-30 hari dari rata-rata awal musim hujan. Awal musim di sepertiga zona sama, sisanya justru maju.

”Curah hujan di sebagian besar zona musim normal,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya, di Jakarta, Jumat (29/8). Hanya seperempat zona yang curah hujannya di bawah rata-rata dan kurang dari 10 persen yang di atas normal.

Wilayah yang lebih dulu masuk musim hujan adalah Sumatera, dari utara ke selatan. Lalu, musim hujan akan terjadi di Jawa dari barat ke timur dan terakhir di Nusa Tenggara Timur.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistya mengatakan, awal musim hujan di beberapa daerah ada yang terjadi pada Juli, tetapi ada pula yang mulai pada April 2015.

Kondisi itu terjadi karena perbedaan iklim di tiap daerah. Awal musim hujan pada Oktober-November terjadi di daerah beriklim monsun, bagian terbesar wilayah Indonesia, seperti selatan Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, serta Kalimantan Tengah dan Selatan.

Di daerah beriklim khatulistiwa, seperti Kalbar dan Sumatera tengah, hujan bisa terjadi sepanjang tahun dengan puncak pada April dan Oktober saat Matahari di sekitar khatulistiwa.

Di daerah beriklim lokal, seperti timur Sulawesi Tengah dan Selatan serta di sekitar Ambon, musim hujan kebalikan dari Jawa. Artinya, puncak hujan terjadi saat Jawa kemarau, Juni-Juli.

Pasokan uap air
Andi mengatakan, mundurnya awal musim dan normalnya curah hujan pada musim hujan kali ini dipengaruhi tak ada tambahan pasokan uap air di Indonesia timur dari Samudra Pasifik. Sebab, El Nino cenderung lemah hingga moderat sampai Desember. Menurut Widada, jika El Nino muncul akhir tahun, dampaknya tak besar karena musim hujan di mayoritas wilayah.

Adapun dipole mode di Samudra Hindia normal sehingga pasokan uap air bagi Indonesia barat tidak bertambah. Sumber pasokan uap air saat musim hujan nanti dari perairan Nusantara. Suhu muka laut Nusantara naik hingga 1 derajat celsius dibanding rata-rata. Laut hangat membuat pasokan uap air banyak.

Namun, pada September-Maret, akan bertiup angin monsun barat atau barat laut dari Asia menuju Australia. Akibatnya, sebagian uap air itu akan terbawa ke selatan Nusantara sehingga curah hujan cenderung normal.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus Subagyo Swarinoto menjelaskan, hangatnya perairan memicu hujan lokal di sisa musim kemarau. Hingga November, hangatnya suhu muka laut di barat Jawa dan selatan Sumatera akan menimbulkan hujan lokal di Jakarta. Hingga Februari 2015, suhu hangat laut hanya terjadi di Laut Jawa dengan intensitas melemah sehingga tidak menambah pasokan uap air secara signifikan selama puncak musim hujan.
Dampak

Maju mundurnya awal musim hujan selama satu bulan dinilai Widada tak masalah bagi petani selama irigasi baik karena awal musim sulit tiba sama. ”Jadi masalah jika mundurnya awal musim hujan 3-4 bulan karena ada kemarau panjang,” ujarnya.

Andi menambahkan, datangnya musim hujan tak perlu membuat khawatir terjadi banjir jika tanah memiliki resapan baik. ”Di Jakarta, daya serap tanah tinggal 20 persen. Akibatnya, air turun langsung memenuhi got, kali, banjir kanal, dan jalan,” ujarnya.

Di daerah beriklim monsun, puncak musim hujan Desember-Februari. Karena itu, untuk mencegah banjir, saluran air perlu segera diperbaiki agar menampung limpasan. (MZW)

Sumber: Kompas, 30 Agustus 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: