Home / Berita / Usai El Nino, La Nina Bersiap Pengaruhi Cuaca

Usai El Nino, La Nina Bersiap Pengaruhi Cuaca

Intensitas El Nino, fenomena iklim yang menekan curah hujan di Indonesia, terus menurun dan diperkirakan dalam posisi netral sekitar April-Mei nanti. Namun, masyarakat perlu bersiap dengan fenomena yang akan datang selanjutnya, yaitu La Nina.

Fenomena yang satu ini bagi Indonesia akan membuat curah hujan lebih tinggi dibandingkan normalnya sehingga bisa membawa dampak buruk sekaligus baik.

“Sebanyak 75 persen El Nino kuat biasanya diikuti dengan La Nina berintensitas moderat atau kuat,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya, Senin (14/3/2016), dalam jumpa pers tentang prakiraan awal musim kemarau, di Jakarta.

Menurut dia, El Nino saat ini sudah semakin meluruh sehingga publik tidak perlu lagi mengkhawatirkan dampak El Nino. Hal yang harus diwaspadai saat ini adalah La Nina karena terkait dengan curah hujan berlebih.

El Nino merupakan fenomena menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa yang memicu penurunan curah hujan di wilayah Indonesia, terutama di selatan khatulistiwa. Kondisi tersebut membuat kemarau panjang dan musim hujan terganggu. Berkebalikan dengan El Nino, La Nina adalah fenomena mendinginnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa, yang mendorong bertambahnya suplai uap air bagi Indonesia.

Andi mengatakan, indeks El Nino berdasarkan pemutakhiran 13 Maret lalu sebesar 1,51 derajat celsius. Itu menandakan intensitas El Nino sudah menurun ke El Nino moderat, karena nilai indeks sudah di bawah 2 derajat celsius.

La Nina diprediksi muncul bulan Oktober-Desember 2016 dengan peluang 50 persen. Itu bertepatan dengan awal musim hujan di sejumlah daerah.

Menurut Andi, kemungkinan adanya La Nina dapat meningkatkan jumlah curah hujan pada akhir musim kemarau 2016 sehingga kemungkinan menimbulkan apa yang disebut sebagai musim kemarau basah. Wilayah-wilayah yang berpeluang mengalami kemarau basah yaitu yang berada di selatan khatulistiwa, terutama wilayah Indonesia bagian tenggara.

“Karena La Nina, potensi banjir tentu lebih besar. Seberapa besar ya mengikuti indeks La Nina nanti,” ujar Andi. Namun, ia mengingatkan, faktor risiko banjir bukan hanya meningkatnya curah hujan.

Hal itu juga terkait dengan intervensi manusia, misalnya pada tata ruang kota yang membuat air hujan bisa tersimpan di tanah atau tidak. BMKG sudah memberi peringatan sehingga kelanjutannya bergantung pada publik dan pemerintah serta pemerintah daerah untuk mengendalikan risiko bencana karena akan adanya La Nina.

Namun, La Nina juga berpotensi membawa manfaat. Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim BMKG Nurhayati menuturkan, peluang La Nina merupakan kabar baik bagi pelaku pertanian padi. Sebab, curah hujan yang tinggi sejak musim kemarau berarti mereka berpeluang lebih sering menanam padi. Meski demikian, ada juga sektor yang tidak diuntungkan karena curah hujan tinggi, misalnya perkebunan tembakau dan tambak garam.

J GALUH BIMANTARA

Sumber: Kompas Siang | 14 Maret 2016
———-
50 Persen Zona Musim Mundur

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan, 283 zona musim atau 65,8 persen dari total zona musim masuk awal musim kemarau 2016 pada Mei dan Juni. Mengacu riwayat musim 30 tahun terakhir, awal musim kemarau pada hampir 50 persen ZOM kemungkinan mundur dari normalnya. Ditambah potensi La Nina, sebagian wilayah diprediksi mengalami kemarau basah.

“Itu (mundurnya awal musim kemarau) penyesuaian alam setelah El Nino kuat,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya, seusai jumpa pers, Senin (14/3), di Jakarta. El Nino berintensitas kuat berlangsung hingga pekan pertama Februari, lalu terus meluruh.

El Nino merupakan fenomena menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa yang memicu penurunan curah hujan di Indonesia, terutama di selatan khatulistiwa. El Nino membuat kemarau 2015 lebih panjang dan selama musim hujan 2015/2016, curah hujan tertekan.

Berdasarkan data prakiraan BMKG dengan membandingkan kondisi rata-rata tahun 1981-2000, awal musim kemarau 2016 mundur pada 49,7 persen dari total 342 zona musim (ZOM) di Indonesia dengan kemunduran terbanyak terjadi di Pulau Jawa (117 ZOM). Adapun awal musim kemarau bakal normal pada 27,5 persen total ZOM dan maju dari normal pada 22,8 persen total ZOM.

Kepala Subbidang Analisa dan Informasi Iklim BMKG Adi Ripaldi menambahkan, salah satu faktor pemicu kemunduran musim kemarau adalah angin muson Asia yang stabil. Angin itu membawa massa udara basah dari Asia ke Australia sehingga menimbulkan angin baratan di Indonesia yang menandai musim hujan bagi mayoritas wilayah.

“Angin baratan datang terlambat sehingga kami perkirakan, angin yang berkebalikan, yaitu angin muson dari Australia, juga bakal terlambat,” ujar Adi. Faktor lain, masih ada aktivitas Osilasi Madden-Julian fase basah di sekitar wilayah Indonesia dan suplai uap air masih memadai.

Kemarau basah
Andi mengatakan, La Nina diprediksi mulai muncul Oktober-Desember dengan peluang 50 persen sekitar periode akhir musim kemarau dan awal musim hujan. Fenomena itu kebalikan dari El Nino.

Oleh karena itu, sifat musim kemarau di sejumlah lokasi bakal basah dengan jumlah curah hujan di atas normal. “Belajar dari El Nino, banyak wilayah yang mengalami kemarau basah di selatan khatulistiwa,” ujarnya.

Wilayah yang diprediksi menerima curah hujan di atas normal selama kemarau mendatang adalah Aceh Tengah, Sumatera Selatan bagian timur, sebagian Lampung, pantai utara Jawa Barat, Sulawesi Selatan (khususnya sekitar Makassar), dan Kalimantan bagian timur.

Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim BMKG Nurhayati menuturkan, prediksi itu kabar baik bagi pelaku pertanian padi. Sebab, penanaman padi bisa lebih sering meski di sisi lain, petani juga harus mewaspadai ledakan hama. Ada juga sektor yang dirugikan karena curah hujan melebihi normal, misalnya perkebunan tembakau dan tambak garam. (JOG/C11)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Maret 2016, di halaman 13 dengan judul “50 Persen Zona Musim Mundur”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: