Home / Berita / Arti Dua Kali Musim Kemarau bagi Riau

Arti Dua Kali Musim Kemarau bagi Riau

Musim dan cuaca memiliki anomali atau penyimpangan, tak terkecuali bagi Provinsi Riau, yang secara iklim memiliki dua musim kemarau. Kondisi itu berisiko bagi daerah dengan kerusakan lahan gambut seperti Riau.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), saat ini Riau, seperti umumnya daerah lain di wilayah Sumatera bagian utara dan barat, telah memasuki musim hujan. Nantinya, pada Januari dan Februari, ketika sebagian besar provinsi di Indonesia mengalami puncak musim kemarau, Riau justru memasuki musim kemarau.

“Waspada saja, kemaraunya bisa lebih kering meskipun tidak sekering musim kemarau yang kemarin itu,” kata Kepala Pusat Iklim, Agroklimat, dan Iklim Maritim BMKG Nurhayati yang dihubungi di Jakarta, Jumat (13/11).

Di Pulau Sumatera, Riau merupakan daerah langganan kebakaran lahan gambut, selain Sumatera Selatan dan Jambi. Pada kebakaran terakhir lalu, warga Riau dikungkung asap lebih dari dua bulan. Bahkan, titik panas masih terpantau di Riau hingga Rabu lalu.

Apabila Riau memiliki dua musim kemarau dan dua musim hujan, tidak dengan Sumatera Selatan dan Jambi. Itulah kenapa BMKG mengingatkan agar Riau kembali mewaspadai kebakaran lahan gambut pada awal tahun 2016.

Curah hujan rendah
Sebelumnya, Rabu lalu, Kepala BMKG Andi Eka Sakya memaparkan, 11 dari 15 tahun terakhir, curah hujan di wilayah Riau berkategori rendah. Prediksi musim kali ini, curah hujan di Riau pada Januari dan Februari 2016 sangat rendah.

“Pada bulan itu, Riau perlu perhatian lebih, khususnya untuk potensi kebakaran,” katanya. Karakter gambut bisa menyimpan bara api hingga berbulan-bulan lamanya sebelum muncul lagi sebagai api di petak gambut lain.

Menurut Nurhayati, Riau akan memasuki transisi musim kemarau ke musim hujan pada Maret. Lalu, kembali beralih ke kemarau pada Agustus hingga Oktober, dengan catatan tidak ada fenomena El Nino kuat seperti tahun ini.

El Nino membuat kawasan di bawah garis khatulistiwa (ekuator), seperti halnya Riau dan Pontianak di Kalimantan, memiliki musim kering yang panjang dan lama. Itulah kenapa Riau dan Pontianak disebut memiliki pola musim ekuatorial (dua musim kemarau dan dua musim hujan).

Adapun kawasan lain, dengan satu musim hujan dan satu musim kemarau dalam setahun, disebut daerah dengan pola musim monsunal.

Soal Riau dan Pontianak, serta daerah lain di sekitarnya memiliki masa musim yang berbeda, menurut Nurhayati, sebenarnya bukanlah fenomena baru. Sudah dari dulu seperti itu.

Hanya saja, ada faktor perubahan iklim global. Faktor itu pula yang saat ini menjelaskan kenapa 11 dari 15 tahun terakhir, curah hujan di Riau masuk kategori rendah.

Secara geografis, Riau juga berada pada belokan angin. Kondisi tersebut membuat wilayah itu memiliki kondisi musim yang berbeda. Dari sisi intensitas hujan, Riau pada dasarnya memiliki curah hujan banyak.

Namun, fakta saat ini, berita cuaca dan musim di Riau adalah tentang kebakaran hutan dan lahan gambut berujung asap pekat. Hal tersebut karena kerusakan masif gambut.

Kini, gambut belum pulih, sedangkan kemarau kian kering. Tiada kata terlambat mencegah dampak buruk. (GSA)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 November 2015, di halaman 14 dengan judul “Arti Dua Kali Musim Kemarau bagi Riau”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: