Bangsring, Godaan Destinasi Pertobatan Laut

- Editor

Senin, 28 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Desa Bangsring di Banyuwangi awalnya tak diperhitungkan dalam pengembangan destinasi wisata di ujung timur Pulau Jawa. Sejak setahun terakhir, wisatawan berdatangan ingin menyaksikan hasil pertobatan wilayah desa pengebom terumbu karang menjadi pelestari yang militan.

Di awal libur panjang Paskah ini, rombongan wartawan, didampingi instruktur selam dari Komando Pasukan Katak Komando Armada RI Kawasan Timur berlatih selam di Bangsring dalam kegiatan Xplore Biota Laut. Sesuai tema acara, kami tidak hanya menambah jam selam, tetapi juga mencari tahu biota penghuni pantai bertekstur landai curam itu.

Obyek wisata itu agak tersembunyi. Ditempuh sekitar 30 menit dari Lapangan Terbang Belimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya, lokasi itu terletak sekitar 5 kilometer dari arah kota atau obyek wisata Watudodol yang dikenal dengan penanda patung penari gandrung, tari tradisional setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah melewati SPBU Pertamina, kendaraan yang kami tumpangi melaju perlahan karena penanda Pantai Bangsring yang hanya berupa petunjuk bertuliskan Rumah Apung ZLB. Singkatan ZLB adalah zona lindung bersama karena warga pesisir setempat berkomitmen melindungi keberadaan laut dengan swadaya desa.

Sekitar 20 jurnalis dan kurang dari satu peleton anggota Kopaska menginap di empat tenda militer yang dibangun di tepi pantai. Kebutuhan makan siang-malam hampir selalu mengandalkan katering dari warga setempat.

Saat hendak menceburkan diri ke air, saya sempat mengira lokasi penyelaman akan gitu-gitu aja. Apalagi, saat pengenalan, Ikhwan Arief, pimpinan Bangsring Underwater, lembaga pengelola wisata milik warga setempat di Bangsring, mengatakan, hasil studi Pelangi (2008) menunjukkan, lebih dari 80 persen terumbu karang di daerah itu rusak.

Kondisi itu termasuk rusak berat menurut kriteria Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Namun, setelah menjejakkan fin atau sepatu katak melintasi pantai yang hitam menuju laut dan mencelupkan goggle mask ke dalam air, suguhan pemandangan alam bawah laut pun menggoda mata.

Di dalam perairan yang jernih di pagi hari menunjukkan titik-titik perbaikan terumbu karang yang menggembirakan. Karang-karang akropora dengan beragam jenis ikan menjadi sambutan cukup menggembirakan. Apalagi, mengingat daerah itu pernah menjadi sasaran warga setempat yang mengebom ataupun menggunakan apotas untuk menangkap ikan ataupun mencungkil karang.

Jika diamati lebih rinci, di permukaan rumah karang itu ternyata juga dihinggapi biota-biota lain yang tak kalah eksotis. Sebut saja kelinci laut berwarna putih (Nudibranch) dan ikan scorpion atau lepu yang tampak berdiam di atas karang meski didekati penyelam.

b4603a9ac07e4915a581348af5024e98KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Terumbu karang, Kamis (24/3), di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur.

Saya sempat menjumpai karang meja atau karang jenis acropora tabulate bertingkat dengan diameter sekitar 1 meter pada lapisan bawah dan lapisan atasnya masih kecil. Biasanya, karang jenis itu amat rentan patah atau ambruk jika terinjak.

Rumah apung
Selain menyelam, Bangsring Underwater menawarkan jasa selam di permukaan air (snorkeling), permainan air memakai perahu karet berbentuk pisang ukuran besar (banana boat), dan penyeberangan singkat menuju Rumah Apung Bangsring. Di rumah itu, kita bisa melihat lokasi semacam keramba yang di dalamnya ada puluhan hiu sirip hitam (black tip shark) dan hiu sirip putih (white tip shark), predator utama ekosistem terumbu karang di daerah tropis.

Di tempat itu, pengunjung bisa menceburkan diri dalam keramba dan jika sabar dapat berswafoto bersama hiu di dalamnya. Sebagai catatan, wisata bersama hiu dalam keramba ditentang sejumlah organisasi lingkungan karena hiu, apa pun jenisnya, harus berada di alam.

Namun, pandangan berbeda diungkapkan Didi Sadili dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sebelumnya memberi pembekalan bagi peserta penyelam. Menurut dia, dari 119 jenis hiu di Indonesia, hanya beberapa hiu yang dilarang untuk dipelihara tanpa izin, seperti hiu paus (whaleshark) dan hiu gergaji atau hiu sentani.

Dengan snorkeling di pinggir rumah apung itu, kita bisa menikmati “serbuan” ratusan hingga ribuan ikan terongan berukuran panjang telunjuk tangan orang dewasa. Itu terjadi saat ikan-ikan tersebut “dipanggil” dengan menabur remah-remah roti tawar.

Kabar buruknya, ikan itu biasanya bergerombol datang mengikuti sampah dedaunan atau plastik yang mengikuti arus pantai setempat. Sampah, terutama plastik kemasan makanan dan minuman, tersebut berasal dari dua sungai setempat yang mengapit Bangsri.

“Kami memikirkan cara agar sampah dari sungai itu tak mengotori laut lagi,” kata Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi, yang dikonfirmasi mengenai keberadaan sampah-sampah ini.

Kehadiran tumpukan sampah itu tentu mengganggu wisatawan yang mencapai ribuan orang pada Sabtu dan Minggu atau hari libur. Sampah plastik yang jadi masalah umum di lingkungan perairan laut di Indonesia itu perlu segera dicari solusinya.

Apalagi, Bupati Azwar Anas mengakui, destinasi wisata Pantai Bangsring itu tidak diperhitungkan sebelumnya. Inisiatif dan kesadaran warga untuk mengembalikan kondisi alam Bangsri dan menyuguhkannya sebagai atraksi biota penghuni laut Banyuwangi itu harus terjaga. Apalagi, warga setempat membuktikan kemandirian dalam mengelola ekowisata.
(ICHWAN SUSANTO)
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 Maret 2016, di halaman 6 dengan judul “Bangsring, Godaan Destinasi Pertobatan Laut”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB