Home / Tokoh / Ikhwan Arief; Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali

Ikhwan Arief; Menyelamatkan Ekosistem Selat Bali

Ikhwan Arief (30) mengembangkan gerakan swadaya menyelamatkan terumbu karang Selat Bali di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Berbekal ketekunan dan kemahiran berkomunikasi, dia berhasil merangkul para nelayan yang semula pelaku pengebom ikan menjadi pelestari lingkungan.

Meski demikian, tidak mudah mengajak para nelayan untuk menjadi pelestari lingkungan. Apalagi, nelayan di lingkungan tersebut secara turun-temurun menggunakan bom untuk menangkap ikan. Membutuhkan waktu sekitar enam tahun, Ikhwan berhasil mengajak sekitar 200 nelayan untuk menjadi pelestari lingkungan.

Ikhwan mengawali gerakannya dengan mengajak beberapa nelayan yang memiliki interaksi relatif dekat dengannya. Para nelayan itu sebelumnya dia kenal sebagai pemasok ikan hias untuk keluarganya.

”Mereka mengeluh, ikan semakin sulit didapat. Setiap tahun semakin jauh saja mereka harus berlayar. Padahal, dulu, kata mereka, di tepi pantai pun sudah banyak ikannya,” kata Ikhwan.

Sampai suatu ketika, Ikhwan yang baru pulang kampung seusai menimba ilmu di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, mendapati bahwa ekosistem di Pantai Bangsring rusak. Saat menyelam, dia menemukan 80 persen lebih terumbu karang di pantai itu sudah hancur karena bom ikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ikan hias pun sulit didapatkan.

Melihat kondisi tersebut, Ikhwan kemudian berinisiatif untuk memulai gerakan mengembalikan ekosistem Selat Bali di Desa Bangsring.

”Awalnya beberapa orang saja yang saya ajak ngobrol (tentang ekosistem) sembari ngopi. Mereka punya kesulitan, makin lama semakin sulit mendapatkan ikan. Lalu, saya coba tunjukkan, salah satu penyebabnya adalah terumbu karang yang rusak,” tutur Ikhwan.
Sempat menolak

Akan tetapi, bukan perkara mudah mengajak nelayan berkumpul sebab mereka hampir selalu sibuk mencari nafkah. Apalagi, mengajak mereka untuk tidak menggunakan bom ikan. Beberapa nelayan sempat menolak karena tidak mau hasil tangkapan mereka kian sedikit. Namun, ada pula nelayan yang mau mencoba menangkap dengan cara aman.

Lima nelayan yang mencoba menangkap ikan tanpa bom awalnya kecewa karena hasil tangkapan mereka berkurang. Biasanya, dengan bom ikan, mereka bisa mendapatkan belasan ikan. Kini, ikan yang didapat bisa dihitung dengan jari.

Akan tetapi, Ikhwan terus menyemangati mereka. Sampai akhirnya mereka mahir menangkap tanpa memakai bom.

Ketika gerakan kian solid, Ikhwan pun membentuk komunitas nelayan bernama Samudera Bhakti. Komunitas nelayan itu bergerak lebih jauh dengan menanam terumbu karang secara swadaya.

Tak membutuhkan uang miliaran rupiah untuk bisa membangun terumbu karang buatan. Nelayan Samudera Bhakti hanya butuh pipa paralon, tali senar, tenaga, dan niat. Paralon mereka rangkai sehingga menjadi bingkai bujur sangkar.

Di sepanjang batang paralon itulah tali senar dipasang sehingga membentuk jaring di dalam bingkai. Di titik sela-sela lubang jaring itu lalu diselipkan semen dari demplot bibit terumbu karang.

Setelah rangkaian itu selesai disusun, nelayan berlayar ke tengah laut, kemudian menyelam untuk meletakkan terumbu karang buatan di dasar laut. Kotak-kotak itu disusun dan dirangkai sehingga menjadi apartemen ikan nantinya.

Modal membuat terumbu karang buatan itu diperoleh dari hasil sumbangan nelayan. Selain itu, dana juga mereka peroleh dari sistem adopsi terumbu karang. Jadi, siapa pun bisa berpartisipasi dengan menyumbang Rp 100.000 untuk biaya membuat terumbu karang sederhana.

”Sekarang ini sudah ratusan terumbu karang buatan yang mereka bikin. Sebagian sudah mulai tumbuh dan menjadi rumah ikan,” kata Ikhwan.
Zona konservasi

Untuk menjaga agar ikan selalu bertumbuh dan beranak pinak, nelayan Samudera Bhakti juga membuat zona konservasi seluas sekitar 5 hektar di Selat Bali. Zona konservasi itu terlarang bagi siapa pun nelayan yang ingin menangkap ikan.

Kini, setelah enam tahun berlalu, nelayan mulai merasakan hasilnya. Tangkapan ikan melimpah walau nelayan tak menggunakan potas ataupun bom ikan. Ikan yang sebelumnya langka didapat nelayan kini mulai banyak ditemukan di Selat Bali.

Meski mulai membuahkan hasil, gerakan penyelamatan lingkungan tersebut tak berhenti pada titik ini. Setiap akhir pekan, nelayan mengajak siswa SD hingga SMA untuk mengenal laut dengan mengajak mereka belajar di lapangan.

Mereka menularkan gerakan penyelamatan ekosistem kepada para siswa tersebut. Mereka juga diikutsertakan membuat terumbu karang untuk menjadi apartemen ikan di Selat Bali. Dengan demikian, virus pelestarian lingkungan kian tersebar luas.
Menebus kesalahan

Tekad Ikhwan untuk mengembalikan ekosistem pantai di Bangsring dan menyebarluaskan arti penting kelestarian lingkungan tidak lepas dari rasa bersalahnya terhadap tradisi nelayan di kampungnya.

Ikhwan datang dari lingkungan pedagang ikan hias. Dia lahir dan besar di Bangsring, sebuah desa di tepi Selat Bali yang banyak menghasilkan ikan hias untuk ekspor. Sewaktu masih kecil, cerita dia, para nelayan bisa menangkap banyak ikan dari laut untuk dijual kepada ayahnya.

d85abd22a7274f0aa8f8b94474d8e979Dia juga tahu bahwa mengebom menjadi cara yang dipilih nelayan di Bangsring untuk menangkap ikan ketika itu. ”Saya ingin menebus kesalahan para pendahulu. Oleh karena itu, saya rela meluangkan waktu untuk memperbaiki lingkungan laut ini,” ujar Ikhwan.

Tidak ada timbal balik berupa materi yang Ikhwan dapatkan dari gerakannya tersebut. Namun, dia memperoleh kepuasan tersendiri saat melihat ratusan ikan berenang di Selat Bali ketika menyelam.

Ikhwan turut merasa lega melihat para nelayan hidup lebih baik dengan mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah tanpa merusak lingkungan.

”Beberapa dari mereka sudah bisa menabung untuk biaya sekolah anak-anak mereka. Bahkan, ada juga nelayan yang mampu membeli mobil,” ungkapnya.

Ikhwan memilih hidup di tengah-tengah para nelayan. Sehari-hari dia mengajar di madrasah ibtidaiyah di Desa Bangsring. Dia masih ingin membuat satu impiannya terwujud, yakni membuat dana beasiswa abadi bagi anak-anak nelayan. Caranya, menanami jalur di tepi jalan desa dengan pohon yang bernilai ekonomi.

”Jika nanti pohon yang kita tanam itu berbuah atau sudah besar bisa dipetik atau ditebang untuk biaya sekolah anak-anak nelayan,” kata Ikhwan.
—————————————————————————
Ikhwan Arief
? Lahir: Banyuwangi, Jawa Timur, 6 April 1984
? Istri:  Ayu Kusuma Dewi
? Anak:
– Alvin Nurhikam El Arief
– Naufal Arief
–  Asya Azzahra
? Pendidikan:
– S-1 Jurusan Hukum Islam Fakultas Agama Islam Universitas Islam Malang
– S-2 Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Institut  Agama Islam Ibrahimy Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur
? Pekerjaan: Pengajar Madrasah Ibtidaiyah Nurul Karim di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi

Oleh: Siwi Yunita Cahyaningrum

Sumber: Kompas, 27 Oktober 2014

Share

One comment

  1. Ass
    Saya nela dari jakarta, untuk bisa menghubungi bapak ikhwan ariefnya saya dapat menghubungi beliau kemana ya? Soalnya contact person beliau saya tidak punya.
    Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: