Ilmuwan Temukan Cara Kerang Mencerna Mikroplastik

- Editor

Kamis, 6 Desember 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sampah plastik saat ini menjadi masalah global di laut. Sampah plastik itu terpotong-potong menjadi plastik berukuran sangat kecil yang disebut mikroplastik. Mikroplastik itu sebagian besar (90 persen) menjadi serat mikroplastik yang dicerna oleh ikan dan satwa laut lainnya. Namun, bagaimana serat mikroplastik itu akan sampai ke manusia masih belum jelas. Ilmuwan di Amerika Serikat berhasil menemukan mekanismenya di tubuh kerang biru atau kupang.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD)–Lontong kupang makanan khas Sidoarjo yang menggunakan bumbu petis. Kupang ternyata diketahui mencerna mikroplastik, tetapi kemudian membuang sebagain besarnya.

Penelitian berjudul “Penyerapan Serat Mikroplastik, Konsumsi, dan Pengeluaran di Kerang Biru (Mytilus edulis)” yang dimuat dalam jurnal Elsevier yang juga dipublikasikan sciencedaily.com edisi 4 Desember 2018.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Potongan-potongan besar plastik Anda temukan di pantai adalah yang terlihat oleh Anda, tetapi mikroplastik ada di mana-mana. Kami sangat membutuhkan cara untuk secara akurat dan tepat mengukur jumlah mereka di laut,” kata Paty Matrai, peneliti Laboratorium Ilmu Kelautan Bigelow, AS, yang meneliti bersama rekannya David Fields.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)–Atraksi wisata bawah laut di Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur kerapkali terganggu oleh sampah plastik kiriman dari sungai. Perilaku jorok dan tak bertanggungjawab yang menempatkan sampah tak sesuai tempatnya mengganggu pesona bawah laut yang mulai menjadi destinasi ekowisata baru di ujung timur Jawa. Seperti tampak, Kamis (24/3) di Pantai Bangsring yang dikelola warga setempat.

Jenis mikroplastik yang paling melimpah adalah serat, yang mudah terlepas dari bahan yang sama seperti karpet dan pakaian bulu, dan yang ukurannya yang kecil membuat mereka dapat dimakan oleh kehidupan laut sekecil zooplankton.

“Kami tahu bahwa serat mikroplastik dapat dikonsumsi oleh kerang, tetapi pada tingkat berapa dan berapa lama mereka ditahan oleh hewan masih belum jelas. Sejauh mana plastik berdampak pada rantai makanan tidak diketahui, tetapi karena semakin banyak plastik yang masuk ke laut, jumlah organisme yang mengandung plastik pasti meningka,” papar Fields.

KOMPAS/VINA OKTAVIA (VIO)–Nelayan di pesisir Teluk Lampung di Kelurahan Kota Karang Raya, Kecamatan Tanjung Karang Timur, Kota Bandar Lampung, memanen kerang hijau (Perna viridis) yang dibudidayakan menggunakan media keramba apung, Jumat (6/1/2017).

Percobaan utama yang digunakan untuk penelitian ini menempatkan kerang dalam air yang mengandung serat pada tingkat yang setara dengan yang ada di lautan. Tim Matrai menggunakan FlowCam, instrumen optik yang awalnya dikembangkan di Laboratorium Bigelow, untuk lebih mudah menghitung partikel. Metode baru ini membuka pintu untuk eksperimen serat mikroplastik pada masa depan.

”Studi rinci tentang spesies dan mekanisme mereka untuk seleksi partikel akan menjadi penting untuk memahami bagaimana mikroplastik mempengaruhi ekosistem pada skala yang lebih besar,” kata Madelyn Woods, koordinator penelitian kelautan di Shaw Institute, AS.

KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA–Pengupas kerang di kawasan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (27/11/2018).

Melalui serangkaian percobaan laboratorium, tim menemukan bahwa kerang dengan cepat menolak sebagian besar serat mikroplastik yang mereka ambil dengan melapisi mereka dalam lendir dan membuangnya. Metode ini memungkinkan mereka untuk melepaskan diri dari beberapa serat secara efisien tanpa membawa mereka sepenuhnya ke dalam tubuh mereka.

Namun, kerang menelan hampir satu dari 10 serat, mengumpulkan mereka di jaringan tubuh mereka. Memindahkan kerang itu ke air bersih, para ilmuwan menemukan, memungkinkan mereka menyiram sebagian besar serat yang terakumulasi dari tubuh mereka.

“Karena lautan begitu luas, mikroplastik sebenarnya tidak terkonsentrasi. Tapi tidak ada yang tahu dampak sepenuhnya yang mereka miliki,” kata Matrai.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 5 Desember 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB