Home / Berita / Andri; Terumbu Karang untuk Kampung Paniis

Andri; Terumbu Karang untuk Kampung Paniis

Hati Andri (33) tertambat di Kampung Paniis, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Keindahan pantai di Paniis dan pulau-pulau di sekitarnya begitu memukaunya. Namun, lebih dari itu, kekayaan terumbu karang di kawasan ini telah memikat dia untuk melestarikannya bersama warga setempat.

Andri datang ke Paniis pada 2005. Pantai Cimarende dan beberapa pulau di sekitarnya, seperti Handeleum, Badul, serta Mangir, menghamparkan panorama yang memukau. Hanya sejenak Andri terpesona, setelah mengetahui bahwa terumbu karang di kawasan ini perlu dilestarikan.

Sebelumnya, dia bercerita, penggunaan potasium untuk meracuni ikan serta penggunaan jaring genjring (semacam pukat) dan bom merajalela di kawasan ini. Padahal, Paniis berbatasan dengan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Andri lalu membaur dengan para pemuda di Paniis. Dia juga melakukan pendekatan kepada para tokoh masyarakat setempat.

Berkat kemahirannya, Andri diterima warga setempat. Dia adalah instruktur selam Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) sekaligus petugas Ekowisata dan Pesisir World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Ujung Kulon Project.

Pendekatan yang dia lakukan antara lain dengan mengajak warga menyelam. ”Saya juga pernah selama tiga bulan membuat konsep strategi pemasaran untuk hasil budidaya karang warga,” ujarnya.

Pada 2006, Andri memfasilitasi pembentukan struktur organisasi kelompok Paniis Lestari. Dia menjadi pembina. Paniis Lestari menawarkan paket ekowisata. Di sini, wisatawan bisa berenang, memancing, dan pelesir dengan kapal sekaligus melestarikan alam dengan menanam karang.

Sekitar 10.000 koloni karang sudah ditanam hingga kini, dengan jenis yang dibudidayakan adalah karang cemara (Nephthea sp) dan karang jamur (Sarcophyton sp). Sebelum Paniis Lestari dibentuk, kemampuan warga yang terbatas menyebabkan eksploitasi laut berlebihan ”hanya” demi penghasilan yang tidak seberapa.

Kegiatan masyarakat Paniis semula hanya bertani, berkebun, dan melaut. Kini, ekowisata membuat taraf hidup warga meningkat. Warga mendapatkan uang dengan menghasilkan karang yang ditanam oleh wisatawan. Karang dibeli seharga Rp 10.000 per koloni.

Wisatawan pun antusias membeli karang dan menanamnya dengan gembira. Mereka bertamasya sekaligus melestarikan alam. Kedalaman laut untuk menanam karang pun bervariasi. Di Pulau Badul, misalnya, penanaman dilakukan pada kedalaman 6 meter sampai 10 meter.

”Bukan wisatawan lokal saja yang mau berlibur ke Paniis, melainkan juga turis asing, seperti dari Belanda, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jepang,” ujarnya.

Pemandu wisata
Warga setempat tak hanya termotivasi membudidayakan karang, tetapi juga menjadi pemandu wisata, perajin suvenir, penyedia makanan, menawarkan rumah sebagai penginapan, serta menyewakan kapal untuk memperoleh penghasilan. Tarif untuk seorang pemandu wisata, misalnya, Rp 100.000 per hari.

”Saya ingin warga menerapkan ekowisata, peduli lingkungan, dan sadar bahwa aktivitas itu berdampak positif untuk mereka,” kata Andri.

Ekowisata kian kaya dengan kesenian lokal, seperti tari lesung dan rengkong yang biasanya digelar saat selamatan sebelum warga bercocok tanam. Perusahaan elektronik, pemerintah daerah, perbankan, lembaga pelestari lingkungan, komunitas otomotif, dan akademisi pun menanam karang bersama Paniis Lestari.

”Kalau hanya wisata yang ditonjolkan, hampir tak ada pengaruh positif untuk lingkungan. Itulah perlunya ekowisata,” kata Andri.

Kini, warga Paniis tak lagi melakukan aktivitas yang merusak lingkungan. Meski demikian, gangguan warga dari daerah-daerah lain tetap muncul. Oleh karena itu, bersama anggota Paniis Lestari yang berjumlah sekitar 25 orang, Andri berpatroli secara rutin untuk memantau pertumbuhan karang.

Para perusak karang diberikan peringatan, diusir, bahkan ditangkap dan dilaporkan kepada Balai TNUK. Mereka umumnya adalah pencari ikan hias yang tidak peduli kepada kelestarian terumbu karang. Mereka hanya ingin mendapatkan uang.

Menyelam
Sejak masih kecil, Andri jatuh cinta kepada laut. Sudah lebih dari 30 tempat menyelam dia kunjungi, dari Sabang sampai Merauke. ”Saya dibesarkan di daerah pesisir. Setiap hari kami bermain di pantai dan akrab dengan kehidupan di laut,” ujarnya.

Tempat yang pernah disinggahi Andri antara lain Krakatau (Lampung), Bunaken (Sulawesi Utara), dan Nusa Penida (Bali). Pendidikan Andri pun lekat dengan keragaman hayati, yakni Jurusan Biologi Umum Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta. Awalnya, dia fokus mempelajari serangga dan perairan.

”Itu hingga tahun kedua saya, sebelum penjurusan pada tahun ketiga dan kebetulan ada latihan menyelam. Hasrat saya menekuni biologi kelautan muncul lagi,” katanya.

Skripsi yang disusun Andri pun cocok dengan pekerjaannya, yakni mengenai transplantasi karang di Kepulauan Seribu, Jakarta (2003). Dia juga hobi fotografi bawah laut. Andri mulai serius mendalami olahraga selam pada 2002 dengan mengikuti kursus.

Andri tetap mencintai olahraga selam meskipun berkali-kali dia mengalami peristiwa yang nyaris merenggut nyawa. Kejadian paling mencekam dia alami di Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Ketika itu, tahun 2003, Andri sedang melakukan survei analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Bersama rekannya, dia mengambil data dan membawa kamera di Paiton.

”Waktu itu ombaknya besar dan anginnya pun kencang. Sebenarnya atasan saya yang memutuskan untuk menyelam. Saya kemudian mengecek arus dan sepertinya tidak berbahaya,” cerita Andri.

AndriNamun, ketika dia terjun ke laut, ternyata arus airnya begitu kuat hingga dia terseret. Andri terpaksa merelakan sepatu katak yang dia pakai lenyap ditelan arus.

”Waktu itu kaki saya rasanya hampir patah karena terempas arus yang begitu kuat. Untung saya bisa selamat. Bahkan, saya juga bisa ikut menyelamatkan rekan yang juga menyelam,” katanya.

Andri juga pernah ”kehilangan” para penyelam bimbingannya beberapa kali. Beruntung, mereka akhirnya bisa ditemukan tanpa kurang suatu apa pun. ”Kalau rekan menyelam saya hilang, deg-degannya minta ampun. Saya bisa disangka menghilangkan orang kalau rekan sesama penyelam itu tidak ditemukan,” ujar Andri.

—————————————————————————
Andri
? Lahir: Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, 25 Oktober 1981
? Pendidikan:
– SDN 1 Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung
–  SMPN 25, Jakarta
–  SMAN 53, Jakarta
–  S-1 Jurusan Biologi Umum Fakultas Biologi Universitas Nasional, Jakarta
? Penghargaan:
–  Lulusan terbaik Pelatihan Instruktur Selam Pengurus Besar Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Surabaya, Jawa Timur,  2009
– Juara I Lomba Foto kategori Biodiversity WWF Indonesia, 2006

Oleh: Dwi Bayu Radius

Sumber: Kompas, 10 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Planet Seukuran Jupiter Mengelilingi Bintang Mati WD 1856

Keberadaaan eksoplanet WD 1856 b yang mengelilingi bintang katai putih 1856 adalah bukti bahwa planet ...

%d blogger menyukai ini: