Home / Berita / arkeologi-antropologi / Arkeologi Eksperimental Masih Terpinggirkan

Arkeologi Eksperimental Masih Terpinggirkan

Selama ini, penerapan arkeologi eksperimental belum banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu bagian ilmu arkeologi ini masih terpinggirkan, karena minimnya pemahaman komunitas dan peneliti arkeologi.

Christopher Busuttil dalam bukunya “Experimental Archaeology.” Malta Archaeological Review 2008-2009 (2019) menyebut, eksperimen adalah percobaan peniruan yang terkendali untuk mereplikasi fenomena masa lalu secara berurutan, guna menghasilkan dan menguji hipotesis yang bisa meningkatkan analogi dalam interpretasi arkeologi. Singkatnya, arkeologi eksperimental adalah proses di mana sebuah eksperimen terkontrol digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan spesifik dalam penelitian arkeologi.

BALAI ARKEOLOGI KALIMANTAN SELATAN FOR KOMPAS–Arkeolog sedang bereksperimen membuat tungku pelebaran besi di Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Eksperimen ini digelar mulai 19 Juli sampai 21 Juli 2019

Ada dua hal spesifik yang akan dilakukan dalam arkeologi eksperimental. Pertama, percobaan untuk menguji hipotesis tentang suatu situs atau jenis artefak tertentu. Adapun yang kedua, percobaan untuk menguji metode pengumpulan data-data masa lalu sekaligus memastikan bahwa data yang dikumpulkan benar-benar representasi sejati dari masa lalu.

Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Harry Octavianus Sofian mengatakan, beberapa arkeolog Indonesia telah menerapkan arkeologi eksperimental pada alat batu seperti yang dilakukan Ali Akbar, Ansyar Rasyid dan Anton Ferdianto. Namun demikian, untuk eksperimen pada logam kuno jarang sekali dilakukan di Indonesia.

Dalam penelitian arkeologi di Indonesia, arkeologi eksperimen belum banyak dilakukan oleh komunitas dan peneliti arkeologi. “Umumnya penelitian arkeologi yang dilakukan masih banyak menggunakan tahap metode deskriptif dan metode historis, tetapi belum banyak yang menggunakan metode eksperimen,” ucapnya, Rabu (31/7/2019) di Jakarta.

BALAR KALIMANTAN SELATAN FOR KOMPAS–Tungku-tungku peleburan besi kuno yang berhasil ditemukan para peneliti Balar Kalimantan Selatan dan Puslit Arkenas

Eksperimen Tungku lebur Besi
Arkeologi eksperimental dipraktikkan para peneliti Balai Arkeologi Kalimantan Selatan dan Puslit Arkenas setelah menemukan tungku peleburan besi kuno tertua di Daerah Aliran Sungai (DAS) Montalat, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Berdasarkan hasil pertanggalan karbon, tungku-tungku peleburan besi itu dibuat pada abad ke-15 hingga ke-19.

Tungku peleburan besi kuno atau buren yang ditemukan berbentuk bulat di bagian luar namun persegi di bagian dalam. Bentuk tungku lebur besi ini berbeda dengan tungku peleburan besi kuno di Sungai Batu, Kedah, Malaysia yang di bagian luar dan dalamnya berbentuk bulat.

“Berdasarkan hasil diskusi kami dengan Pira Venunan, arkeometalurgis dari Silpakorn University, Thailand dan Siran Liu, arkeometalurgis dari Institute of Cultural Heritage and History of Science and Technolohy, University Science and Technology Beijing, pembuatan tungku lebur berbentuk persegi di bagian dalam tidak lazim. Mereka baru melihat ada tungku lebur berbentuk persegi di bagian dalamnya,” kata Harry.

Tungku lebur berbentuk persegi dikatakan kurang maksimal karena adanya dinding yang memantulkan udara ke dinding lain sehingga titik lebur yang dihasilkan tidak terlalu tinggi. Namun hal ini menjadi menarik, mengapa pola persegi ini yang dipilih oleh para pengerajin besi di Buren Benangin, DAS Montalat bukan pola tungku membulat.

Untuk menjawab dua temuan berbeda ini dibutuhkan studi lebih lanjut berupa eksperimen dengan membuat tungku persegi dan tungku bulat mirip seperti tungku yang ditemukan di Kalimantan Tengah dan di Malaysia. Saat proses peleburan dilakukan, keduanya kemudian diukur suhunya dan dibandingkan.

“Hasilnya relatif sama dari sisi suhunya yaitu sekitar 1700an derajat celcius. Namun demikian, dari sisi efisiensi ternyata tungku berbentuk kotak bisa memuat bijih besi yang lebih banyak dibanding tungku berbentuk bulat. Dari sisi pembuatan, tungku kotak juga lebih mudah dibuat,” terang Harry.

Eksperimen ini juga meluruskan mitos yang berkembang di masyarakat lokal di Kabupaten Barito Utara. Menurut cerita yang beredar di sana, saat bahan baku laterite dibakar, terdengar suara meledak-ledak. Setelah dibuktikan secara ilmiah, ternyata cerita itu tidak benar. Letupan-letupan kecil memang ada, tetapi suara itu berasal dari bahan baku yang masih basah atau arang pembakar yang kurang kering.

Sejak masa kolonial
Ketua Tim Penelitian Jejak Pengerjaan Logam di Montalat, Hartatik mengatakan sejak 2017, tim peneliti menelusuri keberadaan tungku peleburan besi kuno di Kalimantan Tengah berdasarkan catatan Schwaner, peneliti asing pada masa kolonial Belanda. Dalam ekspedisinya di Kalimantan pada 1847, Schwaner melaporkan bahwa di sepanjang Sungai Montalat ada sekitar 10 tempat peleburan besi.

“Catatan Schwaner tentang peleburan besi di sepanjang Sungai Montalat sesuai dengan cerita yang beredar pada masyarakat hulu Sungai Barito. Penduduk di sana mengenal besi Montalat sebagai bahan membuat senjata yang ampuh dan disakralkan,” ucapnya.

Schwaner menggambarkan aktivitas peleburan biji besi di tepi Sungai Barito dalam lukisannya. Pada waktu itu, bijih besi yang digunakan adalah sferosiderit yang dikumpulkan dari tepi sungai yang mengandung tanah liat. Dalam catatannya, Schwaner menggambarkan Montalat sebagai wilayah yang membayar upeti kepada penguasa di Barito. Alat-alat besi hasil kerajinan dari Montalat didistribusikan ke Borneo bagian tenggara.–ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 1 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: