Temuan Baru Teknologi Situs Liyangan

- Editor

Kamis, 3 Juli 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat pada masa Kerajaan Mataram kuno yang menghuni kawasan situs Liyangan telah memiliki pengetahuan dan pemahaman teknologi pembangunan maju dan unik. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah temuan di situs Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Pada tahun kelima ekskavasi, berbagai temuan mematahkan beberapa hipotesis awal para arkeolog. Mereka semula beranggapan, bangunan-bangunan dan jalan di situs itu dibangun dengan desain dan teknik konvensional.

Ketua Tim Peneliti Situs Liyangan dari Balai Arkeologi Yogyakarta Sugeng Riyanto mengemukakan hal itu, Selasa (1/7), di Temanggung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Sugeng, desain dan teknik pembangunan unik itu, antara lain, ditunjukkan dari dua tangga batu yang baru ditemukan tim peneliti situs Liyangan pada Juni 2014. Dua tangga itu terdapat di dua lokasi berbeda, yakni di ujung jalan batu dan jalan tanah.

”Semula kami berpikir semua jalan merupakan jalan batu. Namun, setelah kami gali lagi, jalan batu itu hanya sepanjang 50 meter. Setelah itu beralih menjadi jalan tanah, diakhiri dengan jalan batu,” ujarnya.

Jalan batu, jalan tanah, dan tangga batu itu diyakini dibangun dengan mempertimbangkan fungsi dan kegunaan. Perbedaan jalan itu akan diteliti lebih lanjut oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.

Satu tangga batu lain menghubungkan daerah permukiman dan area peribadatan. Temuan itu mematahkan hipotesis para arkelog sebelumnya yang beranggapan kedua area itu hanya dihubungkan jalan batu biasa.

Temuan unik lain adalah ditemukannya kompleks khusus pembuatan logam, gerabah, dan lumbung padi. Pada situs itu juga ditemukan sisa bangunan kayu serta sisa pertanian padi, jagung, pala, dan kelapa.

Sugeng mengatakan, ekskavasi yang dilakukan selama 18 Juni hingga 3 Juli ini adalah tahap akhir dari penelitian jangka menengah pertama. Tahun depan, Balai Arkeologi Yogyakarta akan memulai jangka menengah kedua dengan membuat buku berisi data temuan di situs Liyangan.

Menurut juru pelihara situs Liyangan, Budiono, temuan-temuan itu kerap kali diperoleh dari aktivitas penambangan di sekitar situs. Bersama para petambang, ia dan pihak Balai Arkeologi Yogyakarta telah berkoordinasi dan meminta mereka menjauhi lokasi-lokasi tertentu di mana pernah ditemukan benda cagar budaya.

”Di sekitar lokasi temuan, para petambang juga tidak diizinkan menggali hingga kedalaman 1 meter,” ujarnya. (EGI)

Sumber: Kompas, 3 Juli 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB