Transformasikan Penggalian Arkeologi

- Editor

Jumat, 11 September 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penggalian arkeologis di situs Gunung Tambora menghasilkan temuan lengkap sehingga bisa untuk merekonstruksi kehidupan sosial budaya sebelum 200 tahun lalu di kawasan itu. Tantangan ke depan adalah mentransformasikan temuan itu agar bermanfaat bagi masyarakat.

Temuan-temuan dari penggalian situs Gunung Tambora itu dipaparkan Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa dalam seminar bertema “Bencana dan Peradaban” yang digelar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) di Denpasar, Bali, Kamis (10/9).

Made Suarbhawa memaparkan, artefak yang ditemukan di Tambora itu antara lain aneka pecahan keramik, kereweng, aneka senjata dan perkakas dari logam, fragmen tulang binatang, konstruksi rumah dari kayu, batu umpak, kopi, padi, alat tenun, dan kerangka manusia. “Temuan kami lengkap untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Tambora saat letusan,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski artefaknya lengkap, hingga kini belum ditemukan pusat Kerajaan Tambora. Kemungkinan artefak yang kebanyakan ditemukan di Desa Oibura, Kabupaten Bima, itu masih berupa permukiman di kawasan pinggiran ataupun pedesaan.

Ketua Tim Penelitian Situs Tambora dari Arkenas Sony Wibisono mengatakan, berdasarkan temuan-temuan itu, tahun ini rumah penduduk Tambora berhasil direkonstruksi. Rekonstruksi rumah panggung berbahan kayu itu dibangun di sekitar lokasi penggalian di Oibura.

Daud Aris Tanudirjo, dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), yang jadi penanggap diskusi mengingatkan, arkeolog juga bertugas menyampaikan pengetahuan dan nilai budaya masa lampau untuk pembelajaran di masa kini dan mendatang. “Kita biasanya asyik mendokumentasi dan merekonstruksi, tetapi melupakan aspek pembelajarannya bagi publik,” ucapnya.

Ekskavasi peradaban Tambora yang terkubur letusan gunung api punya karakteristik mirip dengan situs Liyangan di Jawa Tengah, yang terkubur letusan Gunung Sindoro. “Seharusnya, tak semua harus dibuka. Bisa juga disisakan beberapa artefak dalam kondisi asli tertutup material gunung api agar warga bisa belajar tentang bahaya letusan gunung api,” katanya.

Selain itu, filolog Perancis yang mengajar di University of Malaya, Henri Chambert Loir mengatakan, perlu dikaji teks- teks lama yang ditulis warga pribumi tentang Tambora. Ada tiga naskah pribumi menceritakan Tambora, yakni Bo’ Sangaji Kai atau kronik Kerajaan Bima, Syair Kerajaan Bima, dan legenda lokal Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora diterbitkan PP Roorda van Eysinga pada 1841. Dari tiga naskah itu, kita bisa belajar tentang respons masyarakat Bima menyikapi bencana. (AIK)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 September 2015, di halaman 13 dengan judul “Transformasikan Penggalian Arkeologi”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB