Home / Profil Ilmuwan / Wisnu Jatmiko, Profesor Muda yang Mencari Solusi Lewat Ilmu Robotika

Wisnu Jatmiko, Profesor Muda yang Mencari Solusi Lewat Ilmu Robotika

Wisnu Jatmiko (45), Guru Besar Bidang Robotika dan Kecerdasan Buatan di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, mengatakan, sebenarnya dirinya sudah berada di zona nyaman untuk ukuran Indonesia. Selain mampu mencapai gelar akademik guru besar di usia termuda di fakultasnya, ia juga memiliki jabatan struktural yang baik. Meski demikian, dia tetap produktif sebagai ilmuwan serta mendapatkan banyak dana hibah penelitian.

Wisnu menghasilkan sejumlah prototipe riset yang menggabungkan ilmu robotika dan kecerdasan buatan untuk solusi bagi masyarakat, seperti di bidang kesehatan, lalu lintas, dan mengatasi bencana.

Guru Besar UI Wisnu Jatmiko
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU (ELN)
10-04-2019

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Guru Besar Universitas Indonesia Wisnu Jatmiko di ruang kerjanya, 10 April 2019.

Wisnu punya 30 asisten, di antaranya 15 mahasiswa, untuk membantu di Lab Computer Networks, Architecture and High Performance di Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Indonesia. Berbagai riset berbasis robotika dan kecerdasan buatan sejak 2007 hingga sekarang antara lain menghasilkan telehealth system.

Dengan sistem itu, pemeriksaan USG pada ibu hamil dan pemeriksaan EKG untuk pasien yang diduga ada kelainan jantung bisa dilakukan dari jauh. Sistem pendeteksian kesehatan jarak jauh ini dapat mengatasi keterbatasan dokter ahli kandungan dan jantung yang umumnya berada di kota untuk tetap bisa melayani masyarakat di perdesaan.

Wisnu fokus juga dalam pengembangan teknologi robot cerdas, yaitu robot pencari sumber kebocoran gas serta sistem cerdas yang ditanamkan atau unmanned aerial vehicle (UAV). Robot dipakai untuk mendeteksi aktivitas-aktivitas tidak biasa di hutan ataupun untuk mendeteksi obyek-obyek ketika terjadi bencana.

Ada sistem pendeteksian, pelacakan, dan perhitungan kendaraan untuk selanjutnya dimanfaatkan pada intelligent transportation system (ITS). ITS merupakan implementasi sistem cerdas tertanam untuk mengatasi masalah kemacetan lalu lintas.

”Untuk implementasi telehealth USG dan EKG, kami mendapat hibah yang besar. Sayang, kami masih terkendala soal izin edar karena standardisasinya belum ada,” kata Wisnu.

Di Kampus Fasilkom UI pada awal April, Wisnu bersama tim mengundang sejumlah pihak, yakni perwakilan akademisi, bisnis, pemerintah, dan komunitas, untuk bisa berdiskusi. Masukan dibutuhkan agar riset soal telehealth untuk USG dan EKG secara daring dapat membantu permasalahan kesehatan secara nasional.

”Sebagai peneliti, capek juga, harus ikut mengurusi hal ini. Kalau di luar negeri, link and match dengan dunia usaha sudah jalan. Jadi, ada hasil riset yang potensial sudah bisa langsung dikembangkan untuk bisa dimanfaatkan masyarakat. Namun, mau bagaimana lagi, di Indonesia masih banyak urusan birokrasi dan ketidaksinkronan,” kata Wisnu.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Guru Besar UI Wisnu Jatmiko, Rabu (10/4/2019), menunjukkan dua dari berbagai penghargaan yang ia peroleh baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Namun, pencapaian Wisnu di Indonesia diakuinya belum memuaskan dirinya. Wisnu, antara lain, mendapat penghargaan sebagai peneliti yang sangat produktif. Ia menerima lebih dari 25 hibah sebagai peneliti utama. Ia juga memiliki lebih dari 100 publikasi internasional terindeks Scopus and Google Scholar, serta menerbitkan 13 buku dan delapan hak cipta peranti lunak komputer dari produk penelitiannya.

Di tahun 2019 ini Wisnu terpilih sebagai Ketua Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Indonesia. IEEE yang berkantor di New York, Amerika Serikat, merupakan organisasi terbesar di dunia dalam bidang kelistrikan dan elektro, telekomunikasi, teknik komputer, dan kedisiplinan lainnya.

Wisnu memiliki sejumlah pencapaian. Pencapaiannya itu termasuk meraih gelar profesor yang cepat, profesor termuda di Fasilkom UI, paper terbanyak, hingga penerima Habibie Award, Duta Iptek Nasional, serta berbagai penghargaan dari Asia Pasifik. ”Tetapi, bagi saya, enggak senang. Jangan-jangan saya kelihatannya jago kandang. Saya bisa saja termasuk ranking pertama di Indonesia, tetapi kalau saya di ASEAN bukan apa-apa,” katanya.

Menurut Wisnu, dirinya memiliki mimpi besar yang tidak mudah untuk digapai. Ia ingin bisa meraih penghargaan sebagai fellow IEEE, salah satu penghargaan bergengsi tingkat internasional. ”Saya ingin bisa sejajar dengan peneliti top di dunia,” ujar Wisnu.

Ia semakin bertekad mewujudkan impian ini, apalagi setelah profesor pembimbingnya ketika S-3 di Nagoya University, yakni Profesor Toshio Fukuda, terpilih menjadi Presiden IEEE 2019. Dia merupakan ilmuwan pertama dari Asia yang mampu meraih pucuk pimpinan tertinggi IEEE dunia. Wisnu bermimpi untuk mengejar fellow IEEE buat membuktikan bahwa orang Indonesia itu bisa menguasai suatu bidang keilmuan.

Sebenarnya, kata Wisnu, dirinya punya peluang untuk melejit lebih cepat jika mau pindah ke Jepang. Profesor Toshio Fukuda menawarkan untuk bergabung karena punya proyek besar riset nano life science. Untuk ”life” ini butuh algoritma yang dikuasai Wisnu.

”Saya diyakini punya skill yang dibutuhkan dan akan dibayar tinggi. Saya sebenarnya senang juga dengan gaji dan fasilitas yang bagus. Terutama akses ke alat yang sampai ratusan miliar. Ini membuat saya tertarik juga untuk memikirkan menerima tawaran di Jepang,” ujar Wisnu.

Pilihan hidup
Wisnu terkenal dengan kedisiplinannya dan kerja keras. Anak seorang anggota TNI Angkatan Laut itu juga meresapi budaya Jepang dari profesor dan orangtua angkatnya di Jepang. Wisnu dikenal sebagai dosen 7-11 (seven–eleven). ”Saya terkadang tidur di kantor juga. Namun, bukan berarti melupakan keluarga. Semuanya diupayakan diatur secara seimbang,” kata Wisnu yang memang hobi soal robot.

Guru Besar UI Wisnu Jatmiko (kedua dari kiri) bersama pengurus IEEE Indonesia
KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU (ELN)
10-04-2019

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Guru Besar UI Wisnu Jatmiko (kedua dari kiri) bersama pengurus IEEE Indonesia, Rabu (10/4/2019).

Wisnu pun butuh tidur hanya 4 jam sehari. Apalagi, jika ada riset yang menantang, Wisnu semakin terpacu untuk memecahkan masalah. Dia juga terus memperdalam ilmunya untuk membaca buku-buku fisika dan matematika.
Menurut Wisnu, keluarga besarnya banyak yang bergelar doktor dan profesor.

”Saya pernah diwanti-wanti oleh keluarga besar. Kalau cuma mau mengejar jabatan sebagai dekan, rektor, atau pejabat pemerintahan, habis waktu. Sebaliknya, kalau jadi peneliti, akan lebih mengangkat harkat martabat Indonesia,” katanya. Akan tetapi, memang pilihan tersebut berat, penuh ketidaknyamanan.

Wisnu mengaku sedang menimbang-nimbang untuk berpindah ke Jepang. Peluang untuk lebih cepat meraih mimpinya menjadi salah satu fellow IEEE lebih terbuka lebar di Jepang. ”Tawarannya masih terbuka, kapan saja. Sampai saya bosan di Indonesia. Namun, bagi saya, NKRI tetap di dadaku,” ujar Wisnu seraya tertawa.

Wisnu Jatmiko

Lahir: Surabaya, 16 Desember 1973

Istri: Irma Hanny, ST, MT

Anak: Aisya Amalia Putri, M Yusuf Haidar, M Yunus Setiaji, Maryam Thufaila Putri, dan Daud Ibrahim

Pendidikan:
S-1 Teknik Elektro di Universitas Indonesia (1992-1997)
S-2 Ilmu Komputer di Universitas Indonesia (1998-2000)
S-3 Bidang Micro and Nano Engineering di Nagoya University, Jepang (2004-2007)

Penghargaan, antara lain:
100 penulis versi Science and Technology Index (2017)
”Who’s Who in the World” 2016 -33rd Edition (2016)
Habibie Award (2015)
Duta Iptek Nasional dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (2014)
Finalis Best Student Paper IEEE Sensors di California, Amerika Serikat

Pengalaman Kerja:
Manager Riset Fasilkom UI (2008-2018)
Koordinator Program Studi Pascasarjana Ilmu Komputer (2018-sekarang)

Perolehan Hak Kekayaan Intelektual (hak cipta)
Sistem Informasi Zakat: Pemberdayaan Potensi Masyarakat dengan Teknologi (2015)
Program Komputer/Kompresi EKG 12 Lead (2015)
Program Komputer/Terrain: Sistem Telehealth Pertumbuhan Janin (2014)
Program Komputer/Simulator Robot Pencari Sumber Asap (2014)
Program Komputer/Prototype Sistem Pengaturan Lampu Lalu Lintas
Terdistribusi Menggunakan Sensor Kamera dan Data Real-
Time (2014)
Program Komputer/E-Cardio: Sistem Terintegrasi Pendeteksian Dini dan Monitoring Penyakit Jantung (2014)

ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 9 Mei 2019

Share
x

Check Also

Retno Wahyuningsih dan Mimpi Besar Peneliti Penyakit Jamur

Riset yang dilakukan Retno bersama ahli lainnya akan mengubah manajemen penanganan TBC dalam jangka panjang, ...

%d blogger menyukai ini: