Home / Featured / Inspirasi dari Perempuan Peneliti: Jalan Terang Masa Depan

Inspirasi dari Perempuan Peneliti: Jalan Terang Masa Depan

Mereka melakukan riset di berbagai bidang, seperti kecerdasan buatan, bioteknologi molekuler, dan energi terbarukan. Lima Tokoh Tempo Hari Kartini perempuan peneliti.

DERRY Tanti Wijaya tertarik memperhatikan bahasa dan kecerdasan buatan (AI) sejak ia menghabiskan masa kecilnya di Malang, Jawa Timur. Kegemaran orang tuanya pada gawai mutakhir menjadi pemicunya.

Saat remaja, Derry mendapatkan komputer pertamanya dari bapak dan ibunya yang bekerja sebagai dosen akuntansi dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang. Namun kala itu Derry lebih sering menggunakan komputer tersebut untuk bermain game. “Saya tertarik ke komputer karena rasa penasaran dan hobi, sebelum akhirnya tahu ada sekolah khusus untuk mempelajari itu,” katanya melalui konferensi video pada Selasa, 19 April lalu.

Perempuan kelahiran 23 Desember 1979 itu sudah membuat program komputer untuk membantu gurunya saat menempuh studi di Temasek Junior College, Singapura, pada 1999. Ketika itu gurunya mengalami kesulitan menulis surat rekomendasi bagi siswanya. Derry lalu membantu membuatkan program komputer untuk memudahkan sang guru membuat surat rekomendasi.

Seiring dengan berjalannya waktu, Derry konsisten menelaah soal mesin penerjemah otomatis seperti Google Translate. “Penelitian saya, bagaimana membuat sistem penerjemah untuk bahasa yang belum dijamah seperti oleh Google Translate,” tuturnya. Sederhananya, penelitian Derry membuat orang dari beragam latar belakang dan bahasa bisa bertanya dan mendapatkan informasi dari mesin pencarian seperti Google dan Siri—asisten pribadi dalam iOS.

Selama ini, pengetahuan yang tersedia di mesin pencari didominasi bahasa Inggris. Penggunaan sistem penerjemahan sangat penting untuk membuat pengetahuan mudah diakses oleh semua orang. Derry menyebutnya sebagai demokratisasi pengetahuan.

Penelitian yang dilandasi oleh pengalaman juga dilakukan oleh Levana Laksmicitra Sani. Perempuan kelahiran Singapura, 18 Mei 1992, ini memiliki pengalaman buruk perihal obat. Kakeknya mengalami efek samping buruk tambar jantung. Ketika sang kakek berobat, dokter yang memeriksanya meresepkan salah satu jenis obat. Namun, saat berobat ke dokter lain, kakeknya mendapat obat jenis lain. “Efek obat yang saling berinteraksi bisa menyebabkan beliau jadi kejang-kejang hingga mengalami gangguan motorik,” ujar Levana lewat konferensi video, Kamis, 14 April lalu.

Keluarga Levana membawa sang kakek berobat ke Mayo Clinic, Amerika Serikat, karena kondisi kesehatannya terus memburuk. Dokter di sana menuturkan, kakek Levana seharusnya tidak mengkonsumsi 8-12 obat jika tambar pertama efektif mengobati penyakit jantungnya. “Coba kalau obat pertama cocok, kami tidak akan melakukan berbagai percobaan yang menyebabkan efek samping yang justru membuat beliau sangat sengsara,” ucapnya.

Pengalaman buruk itu membuat Levana tertarik belajar biokimia. Belakangan, penelitiannya berkembang hingga ia dan kawan-kawannya mendirikan perusahaan rintisan di bidang pengujian genetik bernama Nalagenetics. Melalui tes berbasis farmakogenomik, seseorang bisa mengetahui kecocokan dengan suatu obat sehingga efektivitas tambar dan efek sampingnya bisa dihindari.

Pembaca, Derry dan Levana adalah dua dari lima perempuan peneliti yang ceritanya kami ketengahkan dalam edisi khusus berkaitan dengan peringatan Hari Kartini ini. Ketiga perempuan peneliti lain adalah peneliti biotelmologi molekuler Fenny Martha Dwivany, peneliti energi terbarukan Noor Titan Putri Hartono, dan peneliti penyakit autoimun Novalia Pishesha. Tahun ini kami menetapkan tema penelitian yang akan banyak bermanfaat bagi masyarakat seperti bioteknologi molekuler, teknologi kesehatan, energi terbarukan, dan kecerdasan buatan.

Untuk mendapatkan sosok-sosok perempuan peneliii tersebut, kami melakukan penelusuran ke lapangan dan menghimpun informasi dari berbagai narasumber. Kami juga berdiskusi dengan Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia Herawati Supolo Sudoyo; anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Neni Nurainy; dan Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Intemasional Sastia Prama Putri.

Kami menyampaikan sejumlah nama kandidat yang telah kami kantongi kepada mereka. Para ilmuwan tersebut kemudian memberikan sejumlah catatan atas beberapa nama peneliti yang kami sodorkan. Misalnya kandidat yang akan ditulis profilnya sebaiknya sudah rampung menempuh program doktoral. Kami juga menelusuri rekam jejak penelitian dan capaiannya. “Sebailawa memang peneliti yang rekam jejaknya sudah terbukti (di-endorse oleh peers) dan impact penelitiannya jelas,” ujar Sastia.

Levana Sani, misalnya, belum menempuh pendidikan doktoral tapi capaiannya sudah memadai. Pada 2021, Forbes menobatkan dia sebagai salah satu perempuan dari Asia yang berpengaruh di dunia dalam bidang Healthcare and Science di usianya yang masih di bawah 30 tahun.

Salah satu ilmuwan yang kami ajak berdiskusi sempat menyampaikan perlunya peneliti yang ditulis dalam edisi khusus ini telah berkontribusi bagi Tanah Air. Namun kami berpendapat manfaat penelitian mereka sebaiknya tidak dibatasi oleh batas negara karena pengetahuan bersifat universal dan dapat digunakan oleh siapa pun.

Tak semua peneliti yang profilnya kami tulis dalam edisi khusus ini telah merampungkan riset dan membuat penemuan tersebut bisa diproduksi secara massal dalam waktu dekat, seperti penelitian panel surya berbahan perovskite yang dilalcukan oleh Noor Titan. Meski sudah menemukan komposisi perovskite yang lebih stabil untuk digunakan sebagai bahan altematif panel surya, perempuan asal Cimahi, Jawa Barat, ini masih menelitinya lebih lanjut di Jerman.

Kami memutuskan tetap menulis sosok Noor Titan untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ilmuwan-ilmuwan muda yang kompeten. Mereka harus dijaga dan difasilitasi agar tidak hengkang ke negara lain atau berhenti meneliti lantaran minim anggaran riset dan tak memadainya fasilitas yang mereka butuhkan.

Tak semua perempuan peneliti berusia di bawah 50 tahun. Peneliti bioteknologi molekuler Fenny Martha Dwivany, misalnya, lahir pada 18 April 1972. Namun peneliti pisang yang mendapat julukan “Banana Lady” ini konsisten meneliti buah itu hingga kini.

Kami menyadari masih banyak perempuan peneliti di luar sana yang kiprahnya tak kalah dari kelima sosok tersebut. Tidak tertutup kemungkinan ada nama lain yang perjuangannya tak kalah gigih tapi luput dari perhatian kami.

Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat, per 2015, jumlah perempuan peneliti secara global mencapai 30 persen. Meski jumlahnya belum sebanding dengan laki-laki peneliti, mereka memiliki peran penting dalam pengembangan riset di berbagai bidang.
Dengan membagikan kisah mereka, kami berharap dapat menularkan semangat dan inspirasi untuk kemajuan dunia penelitian di negeri ini. Kelima sosok yang kami tuliskan ceritanya dalam edisi khusus ini tentu tidak dapat mewakili semua perempuan peneliti kita yang tersebar di berbagai kampus ataupun lembaga penelitian, baik di Indonesia maupun mancanegara. Setidaknya kelima peneliti tersebut dapat memantik harapan bahwa Indonesia memiliki perempuan peneliti yang hasil risetnya bermanfaat bagi orang ramai.

Oleh: Gangsar Parikesit

————————————————–
TIM EDISI KHUSUS TOKOH PEREMPUAN 2022
Penanggung jawab: Sapto Yunus I Kepala proyek: Gangsar Parikesit I Penulis: Abdul Manan, Dini Pramita, Gangsar Parikesit, Isma Savitri, Mahardika Satria Hadi I Kontributor: Anwar Siswadi (Bandung) I Penyunting: Bagja Hidayat, Dody Hidayat, Iwan Kurniawan, Sapto Yunus, Seno Joko Suyono I Penyunting bahasa: Edy Sembodo, Hardian Putra Pratama, Iyan Bastian I Fotografer dan periset foto: Gunawan Wicaksono, Jati Mahatmaji, Ratih Purnama Ningsih, Prima Mulia (Bandung) I Penata letak: Djunaedi, Munzir Fadly I Desainer digital: Imam Riyadi Untung, Rio Ari Seno, Riyan Rahmat
—————————————

Derry Wijaya, Mengawinkan Kecerdasan Mesin dan Bahasa Manusia

Arek Malang, Kecerdasan Mesin, dan Pemrograman Bahasa

Oleh: Isma Savitri

Derry Wijaya mendalami natural language processing (NLP) alias cabang kecerdasan buatan (AI) yang mengaitkan bahasa alami manusia dengan komputer.

“DERRY held the ASEAN scholarship when she joined the College in January .1998. Derry has a sharp and analytical mind and is able to think in a logical and systematic manner. Thus, Derry is quick to grasp concepts and is adept in applying them. In addition, being IT savvy, Derry has developed an outstanding computing program which was extremely useful.”

Surat rekomendasi guru tentang muridnya itu terasa meyakinkan. Susunan kalimat dalam lima paragrafnya runut, diawali dengan profil si murid, kepribadiannya, sampai menyoal hobi yang spesifik seperti hortikultura. Namun jangan terkecoh. Surat ini rupanya dibikin dengan bantuan komputer yang sudah dibekali program bahasa. Si pembuatnya adalah Derry Tanti Wijaya saat ia masih bersekolah di Temasek Junior College, Singapura, 1999 silam. Derry membuat program khusus itu untuk gurunya, Loo Lai Leng.

Menurut Derry, gurunya yang mengampu mata pelajaran fisika tak lihai di bidang kepenulisan, apalagi dalam bahasa Inggris. Padahal sang guru mesti membuat surat rekomendasi untuk murid-muridnya. Sepercik ide pun terpikirkan oleh Derry. Ia berinisiatif membikin bahasa pemrograman yang memuat pola bahasa, karakter personal, ekstrakurikuler, juga kelebihan seseorang. Variasi itu di-input Derry ke program bahasa yang bisa dipakai gurunya untuk membuat surat rekomendasi yang utuh.

Dengan begitu, si guru tinggal memasukkan poin penilaian di program untuk dijahitkan secara otomatis menjadi kalimat utuh. “Beberapa kalimat, seperti `she writes and speaks in alluent and clear manner’ atau ‘quick to grasp concep’, saya yang menaruhnya di program,” ujar Derry saat mengobrol dengan Tempo via Zoom, Selasa pagi, 19 April lalu. Untuk kenang-kenangan, surat rekomendasi Loo Lai Leng masih disimpan Derry sampai sekarang. “Beberapa bagian sepertinya ditambahkan lagi oleh dia. Guru saya itu memang lucu,” ucapnya, lalu tertawa.

Program bahasa untuk surat rekomendasi adalah salah satu karya yang dibuat Derry sejak belia. Perempuan kelahiran Malang, 23 Desember 1979, itu menekuni komputer dan bahasa hingga kini menjadi asisten profesor di Departemen Ilmu Komputer Boston University, Amerika Serikat. Sebelum bergabung ke kampusnya sekarang, Derry lulus program doktoral Carniege Mellon University dan melakukan riset pascadoktoralnya di University of Pennsylvania.

Di Boston University, Derry mengajar di kelas saban Selasa dan Kamis serta disibukkan juga oleh jabatannya sebagai Co-Direktur AI & Education Initiative Computer Science (CAS) Boston University, inisiatif penelitian lintas disiplin yang berfokus pada kecerdasan mesin.

Perhatian Derry pada bahasa dan kecerdasan buatan (AI) telah meletup sejak ia menghabiskan masa kecilnya di Malang, Jawa Timur. Salah satu pemantiknya adalah kesukaan orang tuanya membeli gawai terbaru. Bapak dan ibu Derry yang bekerja sebagai dosen akuntansi dan sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang memberinya komputer saat remaja. Namun ketika itu Derry lebih sering memakainya untuk nge-game.“Saya tertarik ke komputer karena rasa penasaran dan hobi, sebelum akhirnya tahu bahwa ada sekolah khusus untuk mempelajari itu,” tuturnya.

Kesenangan pada komputer membuat Derry memilih ekstralcurikuler itu saat menempuh sekolah menengah atas. Di situ Derry kian tertarik pada pemrograman komputer karena dianggapnya dapat memproses sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi manusia. Di sisi lain, cita-citanya sebagai dokter menguap karena ternyata ia merasa “ngeri” pada pelajaran biologi. Walhasil, saat kuliah, Derry memilih jurusan Teknik Informatika di National University, Singapura. Ia juga meneruskan pendidikan masternya di sana. Baru pada 2010, Derry hijrah ke Amerika Serikat untuk mendalami ilmu bahasa alami dan pemrograman komputer di Carniege Mellon University.

Kini Derry konsisten menelaah mesin penerjemah otomatis seperti Google Translate. Penelitiannya yang berfokus pada cara membuat sistem terjemahan ini juga merangkum lebih banyak bahasa di dunia. Derry menyebutkan, dari sekitar 7.000 bahasa di semesta, yang sudah terdata di Google Translate belum lebih dari 200 bahasa. Ia mencontohkan bahasa daerah dengan jumlah penutur besar di Indonesia, seperti Minang, Madura, dan Manado, belum mengikuti jejak bahasa Jawa dan Sunda yang terekam lebih dulu di Google Translate.

Salah satu penyebabnya adalah minimnya entri data dan sumber tulisan di Internet yang memakai bahasa yang belum terjamah mesin penerjemah. “Jumlah data yang bisa dipakai untuk melatih sistem masih sedikit. Jadi pekerjaan rumahnya adalah bagaimana bahasa yang tidak banyak etraining data’ dan minim sumber dayanya ini bisa terbaca oleh mesin penerjemah,” kata Derry.

Ada idealisme yang terpancang di hati Derry dalam mendalami ilmu ini. Ia menyebutnya dengan istilah “demokratisasi pengetahuan”. Menurut dia, penggunaan sistem terjemahan penting agar ilmu pengetahuan yang tersedia di dunia ini bisa diakses dan dimanfaatkan oleh semua orang. Derry mencontohkan bagaimana selama ini pengetahuan yang tersedia di mesin pencari didominasi bahasa Inggris. Akibatnya, saat kita berusaha mencari informasi di Internet dengan bahasa (selain Inggris) yang dipahami, mesin pencari kerap tak memberikan jawaban yang dibutuhkan.

Begitu juga, misalnya, aplikasi Siri yang dibenamkan dalam semua perangkat iOS-nya Apple. Walau dalam Siri pengguna bisa menerapkan penggunaan bahasa Melayu alih-alih Inggris, hal itu tak serta-merta memudahkan kita untuk mengorek informasi. Derry menjajalnya sendiri di tengah wawancara. “Coba ya, saya tanya, `Siri, siapa yang menikah dengan (mantan Presiden Amerika Serikat) Barack Obama?'” Siri ternyata tak bisa menjawabnya. Jawaban Siri baru betul jika ditanya dalam bahasa Inggris.
Derry mengaku kini sedang meneliti sejumlah bahasa, termasuk dari Benua Afrika, seperti bahasa Somali, Swahili, Yoruba, dan Hausa. Datanya ia himpun dari komunitas NaturaL Language Processig (NLP) di Afrika. Di luar Afrika, Derry juga mempelajari bahasa lain, seperti Kazakstan, juga sejumlah bahasa India termasuk Gujarati.

Adapun dari Tanah Air, Derry sedang mendalami bahasa alay yang selama ini kerap dipakai untuk pergaulan sehari-hari. Menurut Derry, bahasa gaul harus mendapat perhatian khusus karena populer sekali dan sering digunakan. Salah satu kata yang kini trendi dipakai adalah “jujurly”, yang berarti “jujur saja”. Diksi itu sudah terbaca di Google Translate, dengan pemaknaan yang pas. “Bahasa Indonesia itu sangat dinamis. Jadi sistem komputer harus beradaptasi dengan itu, untuk menghindari eror,” ucapnya. “Kita harus ingat, kepintaran mesin itu sejauh seperti yang kita ajarkan.”

FOKUS penelitian Derry di bidang pemrograman bahasa tak hanya itu. Pemenang Best Data Researcher 2021 dari Data Science Indonesia Award ini juga pernah mendapat sejumlah dana hibah, baik lewat penelitian AI tentang linguistik dan pengetahuan visual lewat Visual Genome, mesin terjemahan, dukungan untuk sarjana perempuan, maupun evolusi bias rasial dari waktu ke waktu lewat analisisframing ke media massa.

Pada 2018, bersama koleganya di Boston University, ia mendapat dana hibah US$1 juta dari US National Science Foundation untuk menganalisis komunikasi publik. Dana itu dimanfaatkan untuk menggarap proyek bahasa yang produknya kini bisa ditengok via situs Openframing.org. Derry menjelaskan, dalam proyek Open Framing ia berkolaborasi dengan peneliti komunikasi dan jurnalisme untuk meneliti sudut pandang media massa dalam pemberitaan atau news framing. Misalnya, dalam isu virus corona yang diliput oleh jumalis dari berbagai media, ada yang lebih berfokus pada sudut pandang ekonomi, politik, juga kesehatan.

Nah, yang juga diteliti lebih lanjut adalah kasus kekerasan berbasis senjata api (gun violence) di Amerika Serikat yang disebutkan Derry terjadi hampir tiap hari di Amerika. Salah satu yang mencuat dan menjadi perhatian dunia adalah kasus penembakan massal di sebuah sekolah di Parkland, Florida, Amerika Serikat, yang menewaskan 17 orang. Sang pelaku, Nikolaus Cruz, adalah bekas siswa yang dikeluarkan dari sekolah itu.

Catatan kasus kekerasan berbasis senjata api itu direkam di situs Gunviolencearchive.org. Walau sudah menelan banyak nyawa dan menjadi isu panas di Negeri Abang Sam, sampai sekarang belum ada regulasi yang mengatur kepemilikan senjata api. “Kami ingin tahu, kenapa sih seperti ini kondisinya? Bagaimana sudut pandang jurnalis dalam kasus ini, kok sampai sekarang belum ada kesepakatan di level kebijakan untuk mencegah berulanguya kasus?” kata Derry.

Dari penelitian ini diketahui bahwa sepanjang 2016-2018 jurnalis lebih sering mengambil sudut pandang politik saat menuliskan kekerasan berbasis senjata api. Padahal, di sisi lain, perspektif regulasi dan kesehatan mental tak kalah penting dibahas dalam pemberitaan. Dari pembacaan data pula diketahui keberpihakan media kepada partai politik di Amerika; Demokrat ataukah Republik. Setelah menelaah kasus kekerasan dengan senjata api, Derry menyebutkan penelitian berikutnya adalah bingkai media soal perubahan iklim.

Derry menjelaskan, situs Openframing.org tak hanya memberi gambaran contoh riset berbasis data. Situs ini pun menyuguhkan alat untuk menganalisis cara media membingkai berita lewat multibahasa dengan memanfaatkan teknologi AI. “Sistem ini terbuka untuk dipakai banyak orang karena didanai dengan hibah. Bahkan kami juga mengajarkan tahap pemakaiannya disertai data dan contoh. Untuk mengarsipkan artikelnya sendiri kami memakai platform Crimson Hexagon,” ujarnya.

Data yang dihasilkan Open Framing dapat dimanfaatkan untuk materi pengambil kebijakan. Pemerintah, misalnya, tak hanya mendapat informasi ihwal sudut pandang media, tapi juga “temperatur” di masyarakat dalam suatu fenomena. Walaupun begitu, memang tetap ada tantangan, seperti keterbatasan data, dalam hal ini perihal akses dalam bahasa Melayu atau non-Inggris lain.

Tantangan lain, ujar Derry, adalah kendala fasilitas. Derry membandingkan ketersediaan server di Amerika dengan minimnya fasilitas di negara lain. “Jadi ini tantangan untuk sejumlah negara, karena AI di negara tertentu bisa maju lcarena ada dukungan besar dari pemerintahnya; ujar Derry. Ia mengaku respek pada semangat belajar AI yang tinggi dari orang Indonesia. “Masalahnya, apakah pelatihannya sudah cukup? Apakah fasilitas di kampus sudah memadai? Kebanyakan yang saya temui, orang-orang di Indonesia belajar AI secara otodidaktik.”

Penyuka drama Korea ini berharap di masa mendatang orang di berbagai belahan dunia bisa mengakses ilmu yang sama, dari sumber yang sama, dengan memakai bahasa masing-masing. “Kita harus membuat pengetahuan apa pun bisa diakses secara bebas oleh siapa saja,” kata Derry Wijaya.

Derry Tanti Widjaya
• Tempat dan tanggal lahir: Malang, 23 Desember 1979
• Pendidikan: Sekolah Dasar Percobaan Malang, 1986-1992, Sekolah Menengah Pertama 3 Malang, 1992-1995, Sekolah Menengah Atas 3 Malang, 1995, Tanjong Katong Girls’ School, Singapura, 1996-1998, Temasek Junior Callege, Singapura, 1998-2000, National University of Singapore (S-1 dan 5-2), Carniege Mellon University (5-3), University of Pennsylvania (pascadoktoral), 2010

• Penghargaan:
• 2021 Best Data Researcher, Data Science Indonesia Award
• 2019-2022 — Provost’s Career Development Professorship dari Boston University
• 2013 Anita Borg Scholarship dari Google
• 2010 – 2013 — International Science and Technology Fellowship dari Fulbright
• 2007 Google Global Community Scholarship dari Google
• 2006-2008 Research Scholarships dari National University of Singapore
• 2000-2004 Undergraduate Studies Scholarships dari Singapore Computer Systems
• 1996 – 1999 ASEAN scholarships for Secondary School and Junior College
• Hibah dan research grants:
• Judul: “Social Media Analysis of Misinformation and Vaccine Hesitancy in Three Middle-Income Countries”
• Sumber pendanaan: Center for Emerging Infectious Diseases Policy & Resea rch (CEID)
• Jumlah: US$ 25.000

• Judul: “Exploring the Evolution of Racial Biases Over Time Through Framing Analysis”
• Sumber pendanaan: Google
• Jumlah: US$ 60.000

• Judul: “Explore CS Research (Research Workshop for Female Undergraduates)”
• Sumber pendanaan: Google
• Jumlah: USS 18.000

• Judul: “LEARN: Label-Efficient Active Resilient Network”
• Sumber pendanaan: US Defense Advanced Research Projects Agency
• Jumlah: US$ 462.000

Judul “Semi-supervised Learning of Multimodal Representations”
• Sumber penda naan: US Defense Advanced Research Projects Agency
• Jumlah: US$ 200.000

Judul: “Linguistic and Visual Knowledge through Visual Genome”
•Sumber pendanaan: Boston University Hariri Institute
• Jumlah: US$ 28.000

• Judul: Semi-supervised Learning of Multimodal Representations”
• Sumber pendanaan: US Defense Advanced Research Projects Agency
• Jumlah: US$ 200.000

• Judul: “Linguistic and Visual Knowledge through Visual Genome”
• Sumber pendanaan: Boston University Hariri Institute
• Jumlah: US$ 28.000

• Judul: “Multiplatform, Multilingual, and Multimodal Tools for Analyzing Public Communication in over 100 Languages”
• Sumber pendanaan: US National Science Foundation
• Jumlah: US$ 1 juta
————————————————————–

Fenny Dwifany: Mengatur Pematangan Pisang

Peneliti Pisang dari Kota Kembang

Oleh: Gangsar Parikesit

Fenny Martha Dwivany memakai rekayasa genetika untuk mengatur pematangan pisang. Menghijaukan desa kering dan gersang.

KERAP diajak ayahnya pergi ke kebun dan mengenal beragam tanaman, Fenny Martha Dwivany tertarik pada biologi sejak masih bocah. Ketertarikannya kian besar ketika ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Bandung. Fenny menganggap pelajaran biologi tidak membosankan. “Karena mempelajari sesuatu yang hidup, tumbuh, dan bergerak,” ujarnya pada Jumat, 15 April lalu.

Kecintaan pada ilmu hayat pula yang membawa Fenny kuliah di Jurusan Biologi Institut Teknologi Bandung pada 199o. Kala itu ia mengenal banyak aspek aplikasi ilmu hayat. Ia bahkan harus memiliki dasar matematika, kimia, dan fisika yang kuat untuk mendukung kuliahnya.

Fenny mulai mempelajari teknologi kultur jaringan saat mengeijakan skripsi. Metode itu digunakan untuk memproduksi senyawa obat antimalaria dari sel kina. Kultur jaringan juga memiliki keunggulan dibanding teknik konvensional yang hanya mengekstrak senyawa obat dari kulit pohon karena sel kina yang dihasilkan dapat diperbanyak dalam jumlah tak terbatas secara singkat. “Pengalaman ini membuat saya makin mengerti potensi aplikasi ilmu hayat untuk menjawab masalah di sekitar kita,” tutur Fenny.

Lulus kuliah pada 1995, Fenny mendapat beasiswa penelitian sambil melanjutkan program magister di ITE. Ia tertarik mempelajari variasi genetik pada pohon jati dengan telmologi asam deoksiribonukleat (DNA) fingerprinting.

Riset tersebut menjadi pengalaman perdana bagi Fenny untuk bekerja langsung dengan telmologi DNA. Ia pun menjadi tertarik mendalami biologi molekuler. ITE lalu mengirimnya ke Australia untuk mengambil studi doktoral di University of Melbourne pada 2000.

Penelitian Fenny berfokus pada fungsi gen yang berperan dalam pembentukan dinding sel tanaman padi-padian. Ia belajar mengenai rekayasa genetika. Salah satu teknik terbarunya saat itu adalah asam ribonukleat interferensi (RNAi). Tujuan studi ini adalah merekayasa dinding sel biji-bijian agar industri lebih mudah mengolahnya menjadi bahan pangan.

Fenny tertarik meneliti pisang saat kembali ke Bandung pada 2004. Ketertarikannya bermula saat seorang pedagang langganannya lewat dan menawarkan pisang. Ia melihat sekujur buah pisang tersebut hitam dan tak segar. “Saat itu seperti ting! Saya harus riset soal pisang,” katanya.

Perempuan kelahiran Bandung, 18 April 1972, ini lantas membentuk The Banana Group dan menjadi koordinatornya. Ia pun mendapat julukan “Banana Lady” dari kelompok peneliti tersebut. Tujuan penelitian itu sederhana, yakni membuat pisang yang dijual pedagang keliling tak cepat matang dan tetap segar hingga di tangan konsumen. Riset itu juga menjadi syarat baginya untuk kembali mengajar di ITB setelah meraih gelar doktor. Perempuan kelahiran Bandung, 18 Apri1 1972, ini lantas membentuk The Eanana Group dan menjadi koordinatornya. Ia pun mendapat julukan “Banana Lady” dari kelompok peneliti tersebut. Tujuan penelitian itu sederhana, yakni membuat pisang yang dijual pedagang keliling tak cepat matang dan tetap segar hingga di tangan konsumen. Riset itu juga menjadi syarat baginya untuk kembali mengajar di ITB setelah meraih gelar doktor.

Masalah biaya sempat membuatnya khawatir memulai penelitian di Indonesia. Apalagi, saat kuliah di Australia, ia melihat para peneliti didanai untuk mengikuti seminar di berbagai negara demi mendukung riset mereka. Mereka juga mendapat dukungan peralatan laboratorium yang memadai.

Fenny lalu belajar kepada seniornya cara membuat proposal untuk mendapat dana penelitian. Kecemasannya sirna setelah ia mendapat dana dari acara Bogasari Nugraha (Indofood Riset Nugraha) pada 2004. Perusahaan itu tertarik pada topik penelitian Fenny dan mengajaknya menjadi anggota tim riset tentang isolasi gen. Riset gen pisang itulah yang menjadi riset pertama peneliti yang meraih International L’Oreal-UNESCO For Women in Science Awards 2007 tersebut.

Fenny memilih pisang ambon lumut sebagai model penelitiannya karena sejak kecil ia dan keluarganya menggemari buah itu. Indonesia juga merupakan pusat keanekaragaman pisang.

Badan Pusat Statistik menyebutkan angka produksi pisang Indonesia pada 2020 mencapai 8.182.756 ton. Tiga provinsi penghasil pisang terbanyak adalah Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur dengan jumlah produksi 1,2-2,6 juta ton. Indonesia pun menjadi produsen pisang terbesar keenam di dunia. Namun Indonesia hanya menempati peringkat ke-60 daftar eksportir pisang sepanjang 2005-2009.
Salah satu teknik yang digunakan dalam penelitian itu ialah RNAi. Asam ribonukleat adalah salah satu molekul utama pembawa bahan genetik selain DNA dan protein. Teknik RNAi merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk memahami interaksi antargen, protein, dan sifat yang diturunkan dengan cara menghambat aktivitas suatu gen.

Molekul RNA yang berukuran kecil dalam bentuk untai ganda dimasukkan ke sel tanaman sehingga menyebabkan degradasi RNA target secara enzimatik. Perubahan biokimia dan sifatnya lalu diukur. “Pada pisang, rekayasa genetika itu membungkam atau menonaktifkan gen pematang buah,” ujar Fenny.

Gen yang dibungkam kerjanya itu berperan memproduksi hormon etilena. Hormon berupa gas itu berperan dalam pematangan buah. Fungsi lain etilena ialah mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan penyakit serta menjadi alat pertahanan tumbuhan. Etilena bisa menguar dari kulit pisang yang luka atau bonyok karena ditumpuk langsung saat diangkut. Akibatnya, pisang akan lebih cepat matang.

Konstruksi gen tersebut selanjutnya dimasukkan ke sel embrio tanaman pisang, lalu ditumbuhkan menjadi tanaman pisang utuh. Fenny menggunakan ratusan sel embrio dari setiap transfer gen tersebut. “Gen asli pisang tidak dihilangkan dan masih ada di sel tanaman pisang, tapi keija gen itu jadi bisa diatur agar tetap bekerja atau tidak sesuai dengan keinginan,” ucapnya.

Fenny membutuhkan waktu cukup lama untuk mengidentifikasi gen yang berperan dalam pematangan pisang ambon lumut dan Cavendish atau ambon putih dengan metode Sebab, informasi gen pada tanaman pisang di dunia sangat sedikit dan belum ada urutan gen pisang varietas asli Indonesia. Hasil kerja identifikasi gen yang berperan dalam pematangan pisang ambon lumut itu telah dikirim ke GenBank, basis data gen terpenting di dunia.

Menurut dia, salah satu masalah dalam ekspor pisang, terutama non-Cavendish, adalah kualitas buah yang rendah. Penyebabnya terentang dari masa prapanen hingga pascapanen. “Pematangan buah merupakan salah satu masalah pascapanen,” tuturnya. “Masalah pasca-panen lain seperti hama, penyakit, hingga distribusi buah.”

Fenny juga menggunakan pendekatan lain untuk menghambat pematangan pisang. Ia merancang kotak penyimpanan buah atau fruit storage chamber untuk memodifikasi atmosfer pematangan buah pada skala laboratorium. Tim ITB bekerja sama dengan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dalam riset tersebut.

Penelitian bersama itu berkembang guna menguji kondisi atmosfer di luar angkasa untuk mengetahui efeknya terhadap pematangan buah. Tahap persyaratan proyek itu dirintis pada 2007. Tim ITB juga sempat bekeija sama dengan Lapan dan badan antariksa di Jepang dalam program Ground Based Experiment to Study Fruit Ripening Process. Fenny dan tim membuat proposal penelitian efek lingkungan ruang angkasa terhadap ekspresi gen yang menyangkut pematangan pisang.

Para peneliti melakukan simulasi dengan klinostat—perangkat yang menggunakan rotasi untuk meniadakan efek tarikan gravitasi pada pertumbuhan tanaman. “Di luar angkasa, kadar oksigen sedikit dan karbon dioksida tinggi sehingga hipotesisnya pematangan pisang akan lebih lambat,” ujar Fenny.

Perangkat klinostat itu berbentuk bingkai segi empat dari bahan logam yang posisinya dipasang menyilang, lalu diputar-putar oleh mesin yang dibuat ITE. Pada salah satu bingkai dipasang alat semacam ram. Di bagian tengah alat tersebut terdapat stoples plastik bening untuk menempatkan pisang.

Perputaran klinostat diatur seperti di luar angkasa, tanpa orientasi ke satu titik. Dari beberapa hasil pengujian, diketahui pisang yang proses matangnya berlangsung lebih dari tujuh hari adalah yang disimpan dalam kondisi ruang tertutup pada klinostat.

Namun ide pengujian pisang di luar angkasa yang direncanakan pada 2017 itu kandas. “Ada kendala dana,” kata Fenny. Penelitian itu membutuhkan biaya besar dan fasilitas yang memadai.

Fenny dan tim lantas memperbaiki desain kotak penyimpanan buah sehingga dapat diaplikasikan untuk industri kecil, petani, dan pedagang buah. Riset itu melibatkan dosen dan peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam serta Fakultas Seni Rupa dan Desain ITE.

Purwarupa yang pernah dipatenkan adalah wadah buah pisang dari anyaman bambu. Wadah bambu berperan menahan pembusukan sehingga pisang bisa bertahan lebih lama. “Biasanya buah hasil panen hanya tahan seminggu. Nah, kami ingin lebih tahan lama,” tuturnya.

Wadah bambu juga dipertahankan karena ekonomis, ramah lingkungan, dan bermanfaat secara umum. Tim peneliti melapisi wadah tersebut untuk meredam oksigen. Digunakan pula molekul senyawa nanoteknologi untuk mendegradasi etilena.

Fenny mengatakan produk purwarupa itu bisa menyimpan pisang sebanyak 13 kilogram. Banana Group menggunakanfruit storage chamber di desa binaan mereka, yaitu Desa Bukti, Kabupaten Buleleng, Bali. Harapannya, wadah tersebut dapat didistribusikan secara merata ke seluruh desa.

Desa Bukti mendapat penghargaan Desa Iklim Lestari dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2020. Desa yang semula tandus itu kini menjadi penghasil pisang. Bahkan batang pohon pisang yang telah ditebang pun bisa digunakan sebagai pupuk kompos dan pakan ternak. tak ada yang tersisa alias zero waste.

Tim ITB kini bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kotak penyimpan hasil panen pisang seukuran kulkas yang dilengkapi sensor untuk memantau kondisi suhu dan kelembapan pisang serta lingkungannya. Alat itu menjadi solusi bagi para pemasok buah.

Sebelumnya, mereka kerap menghadapi kendala dalam memantau kualitas buah. Akibatnya, produk mereka sering dikembalikan sesampai di distributor karena telah busuk. “Jadi nanti (kotak penyimpan) bisa dipakai saat distribusi ataupun di supplier,” kata Fenny.

Bersama Ketut Wikantika, profesor dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITE, Fenny juga melakukan penelitian multidisipliner mengenai pisang. Mereka mengadakan riset awal untuk memantau kondisi pisang raja bulu dalam pematangan di pohon dengan pendekatan teknologi remote sensing atau pengindraan jarak jauh. Penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Diversity terbitan Multidisciplinary Digital Publishing Institute pada 7 April 2022 dengan judul “Integrated Studies of Banana on Remote Sensing, Biogeography, and Biodiversity: An Indonesian Perspective”.

Menurut Wikantika, Fenny adalah perempuan tangguh, konsisten, dan berkomitmen meneliti pisang. “Sedikit peneliti seperti itu,” ucap Wikantika, yang mengenal Fenny sejak 2012.

Wikantika juga bergabung dengan Banana Group dan membuat banyak proposal riset serta pengabdian masyarakat, seperti Banana Smart Village. Dari tiga desa yang menjadi perintis di Kabupaten Euleleng, hanya Desa Bukti yang berkembang karena Sekretaris Desa Bukti adalah seorang insinyur pertanian.

Ketua Kelompok Tani Ternak Kerti Winangun Desa Bukti, Made Suparta, menyebutkan kebutuhan akan pisang di Bali sangat tinggi, termasuk untuk keperluan upacara adat. Warga Desa Bukti bersama Fenny merintis Banana Smart Village pada Januari 2019.

Mulanya, penduduk desa menanam 500 pohon pisang. Kini kebun tersebut sudah bisa memenuhi kebutuhan penduduk. Desa yang semula kering dan tandus itu kini memiliki area hijau berupa kebun pisang seluas 27,5 hektare.

Penghasilan warga Desa Bukti pun meningkat sejak mereka menanam pisang. Sebelumnya, penduduk menanam singkong dan mendapat penghasilan Rp 250-300 ribu per bulan. Adapun penghasilan dari menanam pisang mencapai Rp 1,5-1,8 juta per bulan. “Dengan keberhasilan ini, masyarakat makin antusias menanam pisang,” tutur Suparta.

Fenny Martha Dwivany
• Tempat dan tanggal lahir: Bandung, 18 April 1972
• Pendidikan: S-3 (doktoral) University of Melbourne, Australia
• Pekerjaan: Dosen dan peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung di Kelompok Keilmuan Genetika dan Bioteknologi Molekular dengan bidang keahlian biologi molekuler
• Penghargaan: Institut Teknologi Bandung Research Award 2022; Special Achievement Award The Japanese Society for Biological Sciences in Space 2019; Study and Research in Agriculture The Southeast Asian Ministers of Education Organization Research Award 2016; Institut Teknologi Bandung Innovation Award 2015; Satyalancana Karya Satya X 2013; Anugerah IPTEK-RISTEK 2012; Schlumberger Faculty for the Future Award 2011; Australia Award (Endeavour Research Award) 2010; Hayati The Best Paper Award 2009; International L’Oreal-UNESCO For Women in Science Awards 2007; International For Women in Science L’Oreal Indonesia-Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO 2006.
——————————————-

Levana Sani: Agar Obat Lebih Akurat

Oleh: Mahardika Satria Hadi

Levana Sani mendirikan perusahaan rintisan kesehatan di Singapura yang berfokus pada farmakogenomik. Obat lebih manjur, efek samping berkurang, biaya kesehatan bisa ditekan.

Levana Laksmicitra Sani mendirikan Nalagenetics, perusahaan rintisan teknologi kesehatan di Singapura yang berfokus pada farmakogenomik. Melalui uji genetik, Nalagenetics membantu menaikkan kemanjuran obat untuk beberapa penyakit dan mengurangi efek samping. Pada penyakit kusta di Papua dan Papua Barat, kematian pasien akibat alergi obat bisa ditekan hingga nol kasus. Pendekatan farmakogenomik juga menekan ongkos kesehatan.

MASIH lekat dalam ingatan Levana Laksmicitra Sani peristiwa kepergian kakeknya pada 2014. Sang kakek yang berusia tahun berpulang setelah menjalani serangkaian pengobatan jantung. Ia menjalani pengobatan kepada beberapa dokter. “Kakek saya sampai minum 8-12 jenis obat,” kata Levana saat berbincang dengan Tempo melalui konferensi video, Kamis, 14 April lalu.

Pendiri Nalagenetics, yang berkantor di Singapura, ini beralasan membawa kakeknya ke beberapa dokter karena tak ada obat yang manjur. Jantung kakeknya tetap bermasalah dan sering kejang. Ketika keluarga membawanya ke Rumah Sakit Mayo Clinic di Amerika Serikat, dokter di sana mengatakan bahwa kakeknya minum terlalu banyak obat. “Efek samping obat membuat akhir hayatnya sangat sengsara,” ujar Levana.

Memori tentang kakeknya itu terus terekam saat Levana bekerja di Genome Institute of Singapore pada 2014-2016. Perempuan 29 tahun ini menjadi salah satu peneliti di lembaga riset genetik terkemuka di Negeri Singa itu. Berkutat dengan materi genetik manusia di laboratorium, Levana selalu terpikir mengenai personalisasi obat supaya tidak semua orang harus mengkonsumsi tambar yang bisa memicu efek samping. Menurut dia, setiap pasien harus mendapat obat yang tepat dengan takaran yang pas.

Momentum itu datang ketika Levana berjumpa dengan Alexander Lezhava, Jianjun Liu, dan Astrid Irwanto. Ketiganya adalah senior Levana di Genome Institute of Singapore. Mereka awalnya menggarap proyek penelitian genom manusia yang berfokus terhadap farmakogenomik pada Dapson, obat penyakit kusta. Tim peneliti ini menemukan biomarka HLA-B*13:01 yang memprediksi Dapsone hypersensitivity syndrome bereaksi akibat obat yang seharusnya menyembuhkan.

Levana dan tim mendapat perhatian pemerintah Indonesia. Mereka dilibatkan untuk membantu menyebarkan 1.000 alat tes genetik di lima desa di Papua dan Papua Barat—daerah endemis kusta. Studi itu menemukan 20 persen pasien kusta membawa gen HLA-B*13:01. Tes genetik ini membantu dokter memutuskan obat yang tepat dan aman untuk pasien. “Pasien kusta meninggal bukan karena penyakitnya, tapi gara-gara efek samping obatnya,” ucap Levana.

Setelah meneliti biomarka pengidap kusta, Levana dan tiga koleganya mendirikan Nalagenetics pada 2016. Perusahaan rintisan di bidang teknologi kesehatan yang berbasis di Singapura itu berfokus pada farmakogenomik. Mereka mempelajari peran gen dalam mempengaruhi respons pasien terhadap terapi obat. Tujuannya mengurangi efek samping obat, meningkatkan kemanjuran resep, dan meningkatkan efisiensi biaya. Nalagenetics mengumpulkan pendanaan awal US$ 3,4 juta, termasuk US$ 1 juta atau sekitar Rp 15 miliar dari pemodal ventura.

Levana sempat jeda dari Nalagenetics ketika melanjutkan studi S-2 di Harvard Business School, Amerika Serikat. Sepulang dari sana pada 2018, perempuan kelahiran Singapura tapi tumbuh di Indonesia ini didapuk menjadi chief executive officer. Di bawah kepemimpinannya, Nalagenetics berkembang pesat. Dari Singapura, perusahaan startup itu meluaskan jangkauan layanan ke Indonesia dan Malaysia. “Kemungkinan akan di Inggris tahun ini; ujamya.

Kolaborasi dengan dokter dan rumah sakit berbasis riset juga bertambah. Nalagenetics kini bekerja sama dengan 40 rumah sakit dan ldinik di Indonesia dan Singapura serta menggandeng 52 dokter Indonesia dan 22 dokter di Singapura. Nalagenetics berkolaborasi dengan perusahaan asuransi kesehatan. Menurut Levana, tidak mudah melibatkan dokter yang biasanya meresepkan obat tanpa tes genetik. Umumnya dokter muda, yang sudah membaca lebih banyak publikasi penelitian ilmiah dan terlibat berbagai riset, menyambut positif teknologi baru.

Uji genetik untuk pasien kusta, studi kasus pertama Nalagenetics, masih berjalan hingga kini. Hana Krismawati, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Papua, mengatakan tes genetik menjadi skrining awal bagi pasien kusta sebelum menjalani pengobatan. “Kalau dia terlahir dengan gen HLA-B*13:01, setiap minum Dapson kemungkinan besar mengalami alergi,” tuturnya saat dihubungi, Jumat, 1.5 April lalu. Dapson, Rifampisin, dan Lampren adalah obat untuk pengidap kusta yang gratis dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Ketiga obat antibakteri itu biasanya diberikan dalam satu paket blister.

Dalam kasus di Kota Jayapura dan Manokwari, kata Hana, alergi obat umumnya hanya dijumpai pada Dapson. Gejala klinis akibat alergi Dapson tidak main-main. Pasien bisa mengalami demam, sesak napas, sampai gangguan fungsi hati yang ditandai dengan mata menguning hingga kulit mengelupas.

Alergi Dapson juga bisa berujung kematian. Dengan skrining awal, dokter bisa mengetahui pasien yang berpotensi mengalami alergi. Dokter tinggal mencoret Dapson dari daftar obat dan menyisakan Rifampisin dan Lampren. Rifampisin adalah bakterisida yang paling kuat. Menghilangkan Dapson, menurut Hana, sejauh ini tidak mengurangi kualitas penyembuhan pasien meski memerlukan penelitian lebih lanjut.

Hana terlibat dalam penelitian Levana dan timnya sejak 2o16. Untuk mengetahui cara kerja tes genetik, Hana berangkat ke Singapura untuk alih teknologi di laboratorium Nalagenetics. Alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini mengatakan Balai Penelitian dan Pengembangan Papua setiap tahun menyediakan 200-30o tes genetik. Petugas mengambil sampel darah pasien lalu menganalisisnya selama satu hari. Tahun ini uji genetik diperbanyak menjadi soo karena area penelitian meluas ke Kabupaten Manokwari Selatan dan Kabupaten Jayapura. Sejauh ini pembiayaan uji genetik diperoleh dari dana hibah dari Leprosy Research Initiative.

Kusta sebagian besar telah musnah dari Indonesia sejak dua dasawarsa lalu. Tapi penyakit akibat infeksi bakteri Mycobacterium leprae ini masih merajalela di populasi Melanesia di Indonesia timur, khususnya Papua dan Papua Barat. Ini berkaitan dengan genetik orang Melanesia yang terlahir dengan persentase gen HLA-B*13:01 cukup tinggi dibanding ras atau etnis lain.

Indonesia bahkan masih menempati peringkat ketiga negara dengan penderita kusta terbanyak setelah India dan Brasil. Di Jayapura dan Manokwari, misalnya, pasien kusta bertambah 100-120 orang tiap tahun. Menurut Hana, metode skrining dengan uji genetik memang tidak serta-merta bisa menurunkan angka kasus kusta. “Tapi kasus fatal karena alergi Dapson bisa ditekan, bahkan dihilangkan sama sekali,” ujamya.

Levana mengatakan Dapsone hypersensitivity syndrome terjadi saat tubuh pasien bereaksi keras terhadap obat itu. Sementara orang normal memproses Dapson tanpa efek samping, pasien dengan gen HLA-B*13:oi menganggap obat itu musuh. “Langsung berdampak ke seluruh tubuh dan mulai menyerang sel,” katanya. Masalahnya, Dapson paling sering dipakai pada pasien kusta. Karena itu, Levana menilai skrining pasien dengan tes genetik menjadi sangat penting.

Nalagenetics juga menerapkan farmakogenomik untuk pasien kanker payudara. Bekerja sama dengan Samuel J. Haryono, dokter spesialis bedah onkologi di Rumah Sakit MRCCC Siloam, Jakarta, Nalagenetics mendeteksi gen CYP2D6 yang berfungsi memetabolisme tamoxifen, senyawa aktif golongan antiestrogen untuk mengobati risiko kanker payudara. Sebanyak iso pasien sudah diuji secara sukarela lewat tes usap mulut. Nalagenetics menanggung semua pemeriksaan genetiknya.

Didampingi Faustina Audrey Agatha, Stevany Tiurma Br. Sormin, dan Marco Wijaya dari SJH Initiatives Siloam Research Collaboration, yang terlibat dalam penelitian, Samuel menuturkan bahwa hasil tes genetik para pasien cukup mengejutkan. Sekitar 40 persen subyek penelitian mengekspresikan gen CYP2D6 dalam kadar sedang hingga rendah. Artinya, metabolismenya rendah. “Angka itu besar sekali,” ucapnya pada Rabu, 20 April lalu. “Di Asia Tenggara cuma sekitar 20 persen.”

Semua pasien yang menjadi subyek penelitian Samuel dan Nalagenetics adalah pengidap kanker payudara stadium dini, dengan reseptor estrogen (ER) positif, dan umumnya masuk masa pramenopause atau berusia di bawah 50 tahun. Pada pasien-pasien ini, kemoterapi masih belum diperlukan. Pengobatan hanya bertumpu pada tamoxifen dosis 20 miligram yang harus dikonsumsi setiap hari selama lima tahun.

Menurut Samuel, berkurangnya kemampuan metabolisme berdampak pada serapan obat yang tidak optimal. Tamoxifen masuk ke tubuh sebagai obat yang belum jadi, lalu diolah di dalam hati dengan enzim menjadi endoxifen. “Adanya mutasi pada gen CYP2D6 akan mengurangi peran enzim untuk memetabolisme tamoxifen,” kata Samuel. Berkurangnya ekspresi gen CYP2D6 menghasilkan tingkat endaufen yang lebih rendah. Akibatnya, efikasi atau kemanjuran obat merosot.

Dengan mengetahui kondisi genetik pasien sejak awal, dokter bisa lebih akurat meresepkan tamoxifen. Pada pasien dengan ekspresi CYP2D6 kadar sedang hingga rendah, dokter memberikan 4o miligram tamoxifen. “Kalau minum 20 miligram masih kurang,” Samuel berujar. Menurut Levana, dengan kurangnya asupan tamoxifen, pasien bisa kambuh bahkan penyakitnya menjalar jadi sel-sel kanker.

Kanker payudara memiliki jumlah kasus tertinggi di Indonesia. Global Burden of Cancer Study dari WHO mencatat 65.858 dari total 396.914 kasus kanker di Indonesia pada 2020 adalah kanker payudara. Angkanya mencapai 16,6 persen. Adapun menurut penelitian Nalagenetics, dosis atau resep yang salah bisa menyebabkan 30 persen kekambuhan.

Langkah Levana tidak berhenti di situ. Dia dan tim Nalagenetics menggunakan pendekatan farmakogenomik untuk penyaldt jantung, epilepsi, hingga gangguan kejiwaan, yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Nalagenetics juga mengembangkan tes nutrigenomik—program pengaturan diet dan latihan fisik berdasarkan data genetik—serta untuk cek kesehatan. Levana kini tengah menjajaki kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Hingga saat ini, lebih dari 2.000 orang telah menggunakan layanan farmakogenomik dan nutrigenomik. Selain meningkatkan kualitas hidup pasien, Levana mengldaim personalisasi pengobatan menghemat biaya kesehatan. Di Singapura, skrining genetik untuk pengidap kanker payudara berisiko tinggi bisa menghemat hingga Sin$ 3.670 atau sekitar Rp 38,5 juta seumur hidup. Di Indonesia, tamoxifen ditanggung BPJS Kesehatan. Hanya, BPJS belum menanggung tes biomarka yang ongkosnya berkisar Rp 1-2,5 juta untuk setiap orang.

Sejak memimpin Nalagenetics, kegiatan Levana berkutat di laboratorium perlahan berkurang. Perannya lebih banyak diisi rekan-rekannya yang, menurut dia, “jagonya setengah mati di laboratorium”. Sementara itu, perempuan yang masuk daftar Forbes 3o Under 3o ini lebih banyak berjibaku untuk menggaet investor dan mempromosikan Nalagenetics. Baru-baru ini Nalagenetics mendapatkan pendanaan US$ 12,6 juta atau setara dengan Rp 181 miliar. Kementerian Kesehatan juga memilih Nalagenetics sebagai salah satu inovator kesehatan terbaik dalam Health Innovation Sprint Accelerator 2022 pada Maret lalu.

Levana Laksmicitra Sani
• Tempat dan tanggal lahir: Singapura, 18 Mei 1992
• Pendidikan: Sarjana sains bidang biokimia dari University of Southern California, Amerika Seri kat (2010-2014); Master bidang administrasi bisnis dari Harvard Business School, Amerika Serikat (2016-2018)

• Pekerjaan: Peneliti magang di Dexa Group, Tangerang Selatan, Banten (Mei-Agustus 2012); Peneliti magang di A.T. Kearney, Chicago, Illinois, Amerika Serikat (Juli-Agustus 2013); Asisten peneliti di University of Southern California, Los Angeles, Amerika Serikat (Agustus 2012-Mei 2014); Petugas pengembangan bisnis di PT Rekan Usaha Mikro Anda, Jakarta (Juni-Agustus 2014); Peneliti di Genome Institute of Singapore, Singapura (September 2014-Juni 2016); Pendiri Nalagenetics (2016); Chief Executive Officer Nalagenetics (September 2018- sekarang)

• Penghargaan: Forbes 30 Under 30 kategori Healthcare and Science tahun 2021; G20 Healthcare Track Winner; TechCrunch Early Stage Winner; Top 3 Innovation Kementerian Kesehatan Indonesia
———————————————–

Noor Titan Putri Hartono: Alternatif Sel Surya

Sel Surya Alternatif dari Cimahi

Oleh: Abdul Manan

Noor Titan Putri Hartono menekuni perovskite, bahan sel surya menggantikan silikon sebagai komponen pembangldt listrik tenaga surya yang lebih murah dan efisien.

MATEMATIKA dan mesin sudah membayang-bayangi hidup Noor Titan Putri Hartono sejak kecil. Ayahnya seorang dosen teknik mesin dan elek-tronika di sebuah kampus. Bila Titan mendapat peringkat baik di sekolah dasar, orang tuanya selalu menghadiahinya buku matematika. “Awal-awal yang dibeliin buku latihan matematika. Baru belakangan kalau ingin novel juga dibeliin,” kata perempuan kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 13 Desember 1992, ini dalam wawancara daring pada Rabu, 13 April lalu.

Tempaan di masa kecil itu berpengaruh terhadap pilihan studi Titan. Saat menempuh pendidikan sarjana di Massachusetts Institute of Technology (1‘11-2), Amerika Serikat, ia memilih jurusan teknik mesin. Ia mengambil jurusan yang sama saat mengambil jenjang master dan doktoral di kampus yang sama. Pada periode pendidikan master itulah dia mulai meneliti perovskite, material pembentuk sel surya yang digadang-gadang akan menggantikan silikon sebagai komponen pembangkit listrik tenaga surya yang lebih murah dan efisien.

Sel surya perovskite, seperti halnya silikon, berfungsi menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Ini merupakan material baru yang dikembangkan sebagai alternatif silikon, yang sekarang banyak dipakai di pasar. Menurut Titan, material perovskite dilirik sebagai alternatif karena diyakini bisa lebih murah harganya saat diproduksi massal dibandingkan dengan silikon.

Titan menuturkan penelitian perovskite mulai marak sekitar 10 tahun lalu. Artikel di jumal ilmiah pertama yang membahasnya terbit pada 2oso. Kini sejumlah perusahaan rintisan bahkan berfokus pada pengembangannya. Namun, sampai saat ini, belum ada hasil berupa produk panel surya yang selnya dari perovskite. “Kebanyalcan silikon,” ucapnya.

Titan menambahkan, silikon sebagai material pembentuk sel surya itu kurang-lebih sama prosesnya dengan semikonduktor. Butuh modal dan biaya besar untuk produksinya, meskipun harga jual produknya makin lama makin turun. “Makanya orang-orang tertarik untuk mengembangkan perovskite ini. Ada potensi lebih murah, tapi performanya kurang-lebih sama dengan silikon,” tuturnya.

Kelebihan perovskite lain adalah lapisannya yang bisa lebih tipis dibanding silikon. Menurut Titan, perovskite bisa berukuran sekian ratus nanometer. Materinya juga lebih fleksibel sehingga potensial bila dikembangkan untuk membuat jam tangan bertenaga surya. “Risetnya masih berjalan. Banyak kelompok riset di dunia yang berfokus di situ,” ujarnya.

Dalam penelitian Titan, perovskite yang disiapkan untuk se1 surya itu dibentuk dari gabungan material timbel, iodin, dan bromin. Bahan yang dominan adalah timbel. Meski memiliki kelebihan, perovskite juga punya kelemahan, seperti sifatnya yang beracun dan materialnya tidak stabil.

Titan memulai penelitian perovskite di MIT pada 2016 dan menjadikan perovskite sebagai topik tesis mastemya. Pada assalnya ia mengajukan permohonan ke sejumlah laboratorium dan akhirnya diterima di MIT Photovoltaics Research Laboratory, yang memang sedang meneliti perovskite. Saat itu, gairah penelitian untuk mencari pengganti silikon, yang sudah dikembangkan sejak 1970-1980-an, sangat tinggi.

Ada tiga tim, yang masing-masing terdiri atas tiga-empat orang, yang meneliti perovskite tapi dengan fokus berbeda-beda. Fokus mereka antara lain mengembangkan efisiensi bahan, mengurangi sifat beracunnya, dan menstablikan materialnya. Titan masuk ke tim yang bertugas khusus di bagian terakhir itu.
Kestabilan silikon sebagai sel surya bisa bertahan sampai 25 tahun. Artinya, dalam periode itu bahannya tidak perlu diganti dan hanya perlu perawatan minimal. Berbeda halnya dengan perovskite. “Perovskite ini, dalam waktu sekian bulan saja, sudah terdegradasi, enggak bisa dipakai,” kata Titan.

Hampir tiap hari Titan melakukan eksperimen di laboratorium. Ini juga untuk membiasakannya bekerja di laboratorium karena pembuatan perovskite tidak mudah. Titan mengibaratkan prosesnya seperti membuat nasi goreng. Untuk bisa membuat variasi, ia perlu membuat nasi goreng dasar dulu sebelum mengubahnya dengan resep yang pas. Pembuatan sel surya skala mini membutuhkan svak-tu dua-tiga hari.

Saat Titan menyelesaikan studi doktoralnya pada 2021, ia sudah membuat panel suryaperovslcite dalam skala riset, bukan dalam bentuk panel surya besar. Ukuran sel suryanya 1 x 1 inci dan efisiensinya 18-19 persen. Panel ini, kata dia, masih bisa dikembangkan karena panel kelompok lain sudah bisa mencapai efisiensi 24-25 persen. Setelah ia pindah ke Berlin, Jerman, tahun lalu, penelitian itu dilanjutkan oleh mahasissva lain. Titan bersama koleganya mempublikasikan sekitar 20 karya ilmiah tentang perovskite.

Di Jerman. Titan melanjutkan riset pascadoktoral di Helmholtz-Zentrum Berlin, lembaga riset yang berfokus pada pengembangan energi ramah lingkungan. Berbeda dari sebelumnya, perovskite yang ia kembangkan di sini berbahan dasar timah dengan campuran seperti metilamonium, iodin, dan bromin. Tantangannya tentu berbeda dari perovskite berbahan dasar timbel.

“Timah lebih tidak stabil daripada timbel. Ia bereaksi dengan oksigen. Kita tidak bisa taruh di ruangan biasa (karena) ia bakal terdegradasi. Kalau timbel terdegradasi dalam waktu lebih lama, beberapa bulan. Timah itu dalam hitungan menit sudah terdegradasi,” katanya. Titan memprediksi bahwa paling cepat lima tahun atau munglcin bisa lebih dari io tahun dari sekarang produk sel surya perovskite akan tersedia.

Titan juga memaksimalkan penggunaan machine learning untuk pengembanganperovskite. Ini sebenarnya sudah mulai dia rintis saat meneliti di MIT. Pembuatan sel surya perovskite mengandung banyak sekali variabel. Selain bahan campuran yang beda-beda, ada pula persentase setiap bahan. Komputasi dengan machine learning sangat membantu melihat kombinasi dan hasilnya. Tantangannya ada pada pengumpulan data karena elcsperimenperovskite beda-beda. “Machine learning membantu membaca kombinasi data dan menginterpretasikannya,” ujamya.

Titan tertarik pada perovskite karena mengaku tertantang untuk menjassab sesuatu yang ia tidak ketahui. Faktor utamanya adalah krisis iklim, yang sudah terlihat jelas dampaknya di depan mata. Ini menimbulkan desakan kuat untuk melakukan transisi energi dari yang berbahan fosil ke energi baru dan terbarukan, seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi.

Sel suryaperovskite, menurut Titan, layak dikembangkan di Indonesia. Meski jangkauan kelistrikan Indonesia sudah luas, persentase sumber listrik yang berasal dari batu bara justru naik. Padahal dampak krisis iklim sudah sangat nyata. “Ini bukan berarti transisi penuh ke panel surya, tapi bagaimana caranya kebutuhan energi orang terpenuhi, yang mungkin bisa juga dengan nuldir tapi dengan emisi sekecil mungkin,” ucapnya.

Titan berharap pemerintah punya keinginan politik yang kuat untuk melakukan transisi energi. Menurut dia, ada sejumlah hal yang bisa dilakukan pemerintah, seperti membuat kebijakan yang memudahlan pengembangan energi terbarulcan. Namun yang juga lebih penting adalah kebijakan di hulu. “Riset mengenai ini (energi terbarukan) bagaimana?” katanya.

Di Indonesia, sudah ada sejumlah upaya penelitianperovskite. Christin Rina Ratri, peneliti di Satuan Kerja Pusat Riset Material Maju Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), meneliti perovskite saat menempuh studi master di The University of Manchester, Inggris. Bahannya dari timbel iodite. “Hasilnya belum sampai ke hilir,” ucapnya pada Selasa, 19 April lalu. Christin menambahkan, ada peneliti BRIN lain yang kini sedang menelitinya.

Peneliti lain yang juga mengkaji perovskite adalah Rahmat Hidayat dari Institut Telmologi Bandung. Pada mulanya ia mengerjakan sel surya polimer dan berkolaborasi dengan peneliti Jepang sejak 2010. Setelah mengikuti sebuah seminar intemasional, ia beralih ke penelitian perovskite sejak 2017. “Hasilnya masih pada skala laboratorium. Prototipe belum ada,” tuturnya pada Selasa, i9 April lalu.

Rahmat mengatakan capaian penelitiannya memang belum sejauh Titan. Ia menilai Titan didukung oleh atmosfer riset yang memadai. Selain anggaran, ada pula fasilitas yang lebih memadai. Bahan untuk penelitian ini juga khusus dan pasokannya banyak di luar negeri. “Kalau ingin mendukung, pemerintah bisa memberikan fasilitas lebih baik untuk mendukung penelitian semacam ini,” ujar pengajar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB ini.

ITB bersama Institut Pertanian Bogor dan Universitas Indonesia sebenarnya sudah pemah menjajaki kerja sama dengan MIT melalui Tonio Buonassisi, profesor teknik mesin MIT. Pada 2019 sudah ada pembicaraan secara daring mengenainya. Menurut Rahmat, saat itu juga sudah dijajaki topik penelitiannya. Salah satunya adalah perovskite. Kerja sama itu tak berlanjut karena adanya penyesuaian anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19. “Enggak tahu kapan mulai jalan lagi rencana itu,” katanya.

Titan mengakui bahwa dia lebih beruntung daripada koleganya di Indonesia. Semasa di MIT, pendanaan penelitiannya didukung oleh Kementerian Energi Amerika Serikat dan perusahaan minyak dan gas yang akan beralih ke energi terbarulan. Selama meneliti, dia memiliki anggaran yang cukup untuk membeli bahan penelitian, termasuk untuk menghadiri konferensi yang relevan dengan tema penelitiannya.

Dia mengaku kerap berkomunikasi dengan koleganya di Indonesia dan mendengarkan apa saja tantangan yang mereka hadapi, seperti dana yang terbatas dan beban tugas. Dosen di Indonesia biasanya memiliki beban mengajar yang besar sehingga sulit untuk berfokus dalam riset. Mengenai keterbatasan dana riset, Titan bisa memahaminya karena ada kebijakan anggaran pemerintah. Mungkin karena kita belum sampai di level sekian persen duit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) untuk riset,”ucapnya.

Rahmat menilai penelitian semacam perovskite layak dikembangkan di Indonesia. Sebagai akademikus, ia merasa lucu saat melihat penelitian di jurnal internasional mengenai pengembangan tenaga surya banyak ditulis oleh peneliti dari Eropa dan Korea Selatan, tapi bukan dari negara tropis seperti Indonesia. “Sementara yang mendapat sinar matahari lebih banyak itu kita,” tuturnya.

Secara nasional, Rahmat menjelaskan, pengembangan riset seperti perovskite juga penting untuk menjawab kebutuhan energi yang akan lebih besar ke depan, apalagi kalau Indonesia mengembangkan kendaraan listrik. Ada tekanan kuat untuk meninggallcan energi berbahan fosil seperti batu bara sehingga energi terbarukan seperti tenaga surya bisa menjadi alternatif. “Tapi penggunaan energi terbarukan ini jangan cuma jadi pasar.” ucapnya.

Noor Titan Putri Hartono mengatakan yang bisa dibantu oleh pemerintah adalah studi kelayalcan pemanfaatan perovskite. Sebab, ini industri berbiaya besar. Tentu saja dengan menimbang potensi bahan yang tersedia. Ia menilai penelitian semacam ini penting, selain riset murni untuk menemukan formula yang membuat bahan pembangldt listrik tenaga surya ini lebih stabil dan lebih efisien untuk menggantikan silikon.

NOOR TITAN PUTRI HARTONO
Tempat dan tanggal lahir Cimahi, 13 Desember 1992

Pendidikan
S-1 Teknik Mesin Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Amerika Serikat, 2012-2016 S-2 Teknik biesin MIT, 2016-2018
S-3 Teknik Mesin MIT, 2018-2021

Karier Peneliti Pascadoktoral di Helmholtz-Zentrum Berlin, Jerman. 2021
————————————–

Novalia Phishesha: Nanobodi untuk Mengobati Autoimun

Nanobodi Mengobati Penyakit Autoimun

Oleh: Dini Pramita

Novalia Pishesha menciptakan telmologi pengobatan penyakit yang efektif dan terjangkau untuk semua kalangan. Namanya menjadi rujukan teknologi nanobodi mengobati autoimun.

JANJI kepada bibi yang mengidap lupus mengantarkan perjalanan Novalia Pishesha selama 1.5 tahun di Amerika Serikat. Pengembangan karier akademisnya mempelajari teknologi rekayasa hayati (bioengineering) dimulai di City College of San Francisco (CCSF), California. Tekadnya: menemukan pengobatan yang tepat untuk penyakit autoimun. “Saya berjanji kepada bibi saya menemukan pengobatan yang efektif,” katanya melalui konferensi video, Rabu, 20 April lalu.

Nova—panggilan akrab Novalia—bekerja keras untuk bertahan hidup di perantauan. “Saya bekerja sebagai tutor hampir 24 jam seminggu dan juga menjadi laboran,” tutumya. Untuk membiayai lculiahnya, Nova mengandalkan berbagai macam beasiswa yang ia raih. Ia lulus dari CCSF dua tahun kemudian, pada 2oo9, dengan nilai sempurna.

Di Indonesia, tutur Nova, divonis dokter mengidap penyakit yang berhubungan dengan autoimun hampir sama dengan mendapat vonis mati. “Berbeda dengan di sini (Amerika Serikat), penyakit autoimun dapat ditangani dengan baik dan bukan vonis mati,” ujar Nova, yang menyebutkan beberapa temannya di sekolah menengah pertama meninggal karena lupus.

Data National Institute of Environmental Health Sciences, lembaga resmi Amerika Serikat, menyatakan pada 2019 terdapat 24 juta penduduk Amerika yang menderita penyakit autoimun. Jumlah itu berarti lebih dari 7 persen penduduk negara tersebut. Secara global, sebanyak 4,5 persen penduduk dunia mengidap setidaknya 1 dari sekitar 80 jenis penyakit autoimun.

Menurut Lupus Foundation of America, sekitar 1,5 juta penduduk Amerika mengidap lupus pada 2015. Adapun di dunia pada tahun yang sama ada setidaknya 5 juta kasus salah satu jenis penyakit autoimun itu dengan 90 persen di antaranya dialami oleh perempuan.

Di Indonesia, menurut data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan pada 2016, terdapat 2.166 pasien rawat inap yang didiagnosis menderita lupus, 550 di antaranya meninggal. Angka ini meningkat dua kali lipat dibanding pada 2014 yang mencatatkan 1.169 kasus. Adapun jumlah kematian pasien pada 2015 sebanyak 110.

Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem imunitas atau kekebalan tubuh menyerang tubuh sendiri. Pada pengidapnya, sistem kekebalan tubuh akan menyerang sel, jaringan, dan organ yang sehat karena kehilangan kemampuan membedakan substansi asing yang menjadi ancaman dengan sel yang sehat.

Setelah merampungkan kuliah di CCSF, Nova mendapat beasiswa pendidikan kesarjanaan di Department of Bioengineering University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Di sana ia banyak terlibat dalam penelitian ilmiah yang berkaitan dengan sel punca. Setahun setelah lulus dari University of California, ia mengambil program doktoral di Department of Biological Engineering Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika.

Di MIT, Nova mulai berfokus mengkaji teknik rekayasa sel darah merah untuk dikembangkan dalam pengobatan penyakit autoimun. Ia memodifikasi struktur sel darah merah dengan antigen yang dapat mempengaruhi toleransi sistem imun. Penelitiannya itu menjadi dasar bagi pengoperasian perusahaan rintisan bioteknologi Rubius Therapeutics yang baru saja masuk bursa saham Amerika Serikat tahun ini.

Nova bercerita, kelahiran Rubius bermula dari perusahaan venture capital yang tertarik mendanai proyek-proyeknya yang berbasis rekayasa sel darah merah. “Mereka mendekati profesor saya sehingga proyek-proyek itu dilisensikan keluar dari ruang akademis. Jadi bukan saya yang membangun perusahaan secara mandiri,” tuturnya.

DI MIT pula Nova mengembangkan penelitian berbasis nanobodi—antibodi dari alpaka (Huacaya alpaca), mamalia dari Amerika Selatan yang menyerupai lama. Ia mengibaratkan nanobodi sebagai akses keluar-masuk informasi dalam sel. Yang ia lakukan adalah membajak jalan tersebut guna mengirim informasi yang efisien untuk mematikan atau meredam respons imun secara spesifik.

Berbekal keberhasilannya mengembangkan pengobatan dosis tunggal dalam penggunaan teknik rekayasa sel darah merah, Nova berupaya melakukan hal yang sama dengan nanobodi. “Saya berpikir untuk mengembangkan dosis tunggal yang murah dan mudah dimanufaktur,” ucapnya. Terapi sel, menurut Nova, akan sulit dilakukan di Indonesia. Kesulitan itu antara lain menyangkut pengembangan manufaktumya, juga harganya yang tak dapat dijangkau semua kalangan.

Nova bercita-cita telmologinya ini dapat dikembangkan di negara berkembang di Asia dan Afrilca, termasuk Indonesia. “Karena penderita autoimun ada di hampir semua negara,” katanya. Keunggulan penggunaan nanobodi, Nova menjelaskan, adalah dapat menargetkan secara spesifik protein dalam sel penyaji antigen (APC) yang dinamai protein MHC class-II.

Melalui teknologi nanobodi yang ia kembangkan, targetnya adalah mematikan respons imun tertentu. Nova membandingkan, pada pengobatan penyakit autoimun umumnya, yang dilakukan adalah penonaktifan sel-sel imun dalam tubuh secara keseluruhan. Dengan begitu, tubuh tak punya pertahanan ketika terserang infeksi. “Kemungkinan meninggal karena infeksi cukup besar,” ujarnya.

Adapun teknologi nanobodi, ia mengldaim, hanya mematikan respons imun tertentu. Contohnya dalam kasus sklerosis ganda—jenis penyakit autoimun yang menyerang otak—respons imun yang dimatikan hanya yang menyerang otak. “Tujuannya agar masih bisa melawan penyakit infeksi seperti Covid-19,” tutur Nova, yang mendapat Broad’s Excellence and Achievement Awards for Extraordinary Work Related to the COVID-19 Pandemic dari Boston University, Amerika Serikat, pada 2020.

Menurut dia, cara ini bekerja baik dalam uji laboratorium menggunakan tikus. Ia mengklaim efikasinya hingga 100 persen. Dengan cara kerja seperti itu, perempuan asal Singosari, Malang, Jawa Timur, ini optimistis semua penyakit autoimun dapat disembuhkan, dari lupus, rematik, diabetes tipe 1, hingga sklerosis ganda. Sebab, kata dia, yang perlu diubah adalah informasi yang dikirim sesuai dengan jenis penyakit dan bagian sel atau organ yang diserang respons imun.

Menurut Neni Nurainy, ilmuwan di bidang biomedis yang juga anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, saat ini pengobatan penyakit autoimun menggunakan anti-inflamasi dan imunosupresif—obat yang menekan atau mengurangi kekuatan sistem imun. “Efek sampingnya lumayan banyak,” ucapnya.

Pilihan pengobatan lain adalah penggunaan antibodi monoklonal yang bekerja secara spesifik menetralkan protein yang sifatnya berlebihan di sel. Pengobatan ini digunakan pada penderita penyakit autoimun ataupun kanker. Namun cara ini masih sangat mahal. Menurut Neni, teknologi nanobodi yang diteliti Nova dapat menjadi terobosan karena lebih terjangkau dan spesifik menargetkan respons imun tertentu. “Pengobatan akan lebih bailc,” ujarnya.

Proyek penelitian ini mengantarkan Nova ke putaran keempat STAT Madness, kompetisi ilmiah dalam bioteknologi yang diselenggaralcan Boston Globe Media di Amerika Serikat. Proyek Nova satu-satunya yang dikirim Boston Children’s Hospital—institusi pendidikan kesehatan yang dikelola Harvard University—tempat ia bekerja saat ini.

Selain itu, Nova mendirikan perusahaan bernama Cerberus Therapeutics bersama seluruh timnya yang terlibat dalam riset. “Karni ingin teknologi ini lebih dekat dengan klinik-klinik secepatnya,” katanya. Dia juga membangun perusahaan ini agar lebih mudah mendapatkan pembiayaan, membangun fasilitas manufaktur, hingga membawanya ke publik yang lebih luas.

Bermodal persinggungannya dengan Rubius Therapeutics, Nova menjalankan Cerberus Therapeutics sebagai chief executive officer. Dalam akun Twitter miliknya, Nova mengatakan perusahaannya tengah merekrut peneliti-peneliti terbaik untuk terlibat mengembangkan Cerberus Therapeutics.

SETAMAT sekolah menengah atas di Singosari, Novalia Pishesha sempat mencicipi status sebagai mahasiswa kedokteran selama empat bulan di sebuah perguruan tinggi di Jawa Timur. Tapi saya merasa kuliah di sana tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Saya ingin lebih banyak melakukan riset, menemukan sesuatu,” tutur peraih Noul Co Ltd Young Scientist Award Korea Selatan pada 2022 ini.

Sebelumnya, ia memang sangat ingin mendalami ilmu bioteknologi. Karena itu, ia mendaftar menjadi mahasiswa di National University of Singapore dan Nanyang Technological University di Singapura. Meski mengantongi medali perunggu dari Olimpiade Matematika, Nova gagal masuk ke kedua kampus Negeri Singa itu.

Karena sangat ingin mendalami bidang bioteknologi dan bioengineering, Nova langsung memalingkan muka ke Amerika Serikat. “Kalau kita bicara soal bioteknologi, Amerika Serikat adalah salah satu negara yang paling maju di bidang tersebut,” ucap peneliti yang memiliki empat permohonan paten yang menunggu persetujuan dan dua paten yang telah diberikan United States Patent and Trademark Office ini.

Ada kendala lain ketika ia memantapkan hati ke Negeri Abang Sam. Ia memerlukan nilai SAT—ujian masuk perguruan tinggi di Amerika Serikat—selain bukti kemahiran berbahasa Inggris. “Saya tidak mempersiapkan diri sama sekali untuk ke Amerika, jadinya saya memilih masuk CCSF yang tidak memerlukan SAT dan hanya memerlukan TOEFL (sertifikat bukti kemahiran berbahasa Inggris),” ujamya.

Nova bercerita, ia datang dari orang tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Bahkan salah satu orang tuanya hanya lulusan sekolah dasar. Karena itu, ia tak menyia-nyiakan kesempatannya di Amerika. Selain itu, di sana ia merasakan kebebasan akademik yang tidak ada di Indonesia.

Menurut Nova, Boston adalah daerah dengan ekosistem pendidikan dan riset yang baik. “Pertanyaan dari sopir Uber saja, ‘Apa menurutmu revolusi di bidang biotech?’ ,” kata Nova, memberi contoh. “Karena penduduk Boston punya cara pandang yang baik dan mereka memahami biotelmologi,” ujar perempuan peneliti yang masuk Innovators Under 35 Asia Pacific dari MTT Technology Review pada 2021 itu.

Belajar dari kehidupan di Boston itu, ia mengatakan ada banyak hal yang perlu diperbaiki di Indonesia. “Ketika mewawancarai pelajar Indonesia untuk magang, kebanyakan mengatakan hanya membutuhkan waktu tiga bulan,” ucap Nova. “Padahal untuk memahami yang dikerjakan saja butuh waktu satu tahun, satu setengah tahun untuk orang yang tak memiliki latar belakang penelitian.”

Guna memperbaiki situasi ini, menurut Novalia Pishesha, Indonesia bisa mulai mengintensifkan obrolan yang lebih terbuka antarkampus dan mengedepankan kerja-kerja kolaborasi. Selain itu, ia menekankan pentingnya memulai gerakan perubahan pola pikir yang mendorong perkembangan iklim pengetahuan di Indonesia.

Novalia Pishesha
• Tempat dan tanggal lahir: Malang, Jawa Timur, 21 Februari 1988
• Pendidikan: Sarjana sains bidang rekayasa hayati dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat (2009-2011); Doktor bidang rekayasa hayati dari Department of Biological Engineering Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat (2012-2018)
• Pekerjaan: Instruktur pediatrik pada Pediatrics Boston Children’s Hospital Harvard Medical School, Amerika Serikat; Peneliti juniar pada Society of Fellows Other Academic Harvard Faculty of Arts and Sciences, Amerika Serikat

• Paten: “Nanobody-drug Adducts and Uses Thereof”, 2022, Boston Children’s Hospital (63/300,995); “VHHs and Uses Thereof”, 2021, Boston Children’s Hospital (63/154,455); “Production of Enucleated Red Blood Cells and Uses Thereof”, 2018, Whitehead Institute for Biamedical Research (16/641,203), terlisensi kepada Rubius Therapeutics; “In Vitro Production of Red Blood Cells with Sortaggable Proteins, 2014, Whitehead Institute far Biomedical Research (14/890,241), terlisensi kepada Rubius Therapeutics

• Penghargaan: Naul Co Ltd Young Scientist Award, Korea Selatan (2022); MIT Technology Review Innovators Under 35 Asia Pacific (2021); STAT+ Wunderkind The Boston Glabe (2021); Broad’s Excellence and Achievement Awards for Extraordinary Wark Related to the COVID-19 Pandemic (2020); Ambassador Award for Excellence from the Indonesian Embassy in Washington, DC (2018); MIT Graduate Women of Excellence (2017)

———————————————

Perempuan Peneliti untuk Sains Masa Depan

Herawati Supolo-Sudoyo

Sains bukan permainan anak laki-laki atau anak perempuan. Perlu ekosistem riset memberi ruang kepada perempuan peneliti.

“PEREMPUAN dari hampir setiap sudut dunia tidak memiliki dukungan terhadap fungsi mendasar sebagai umat manusia.” Gambaran nyata ini dikemukakan oleh Martha Nussbaum dalam bukunya, Introduction: Feminism & International Development. Dalam sejarah, ketidaksetaraan gender tetap ada di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sains. Asumsi bahwa perempuan jumlahnya terbatas dalam menjalankan peran di berbagai bidang, di luar peran pertama dalam keluarga, seolah-olah sudah merupakan hukum alam. Hal ini dapat memberikan sinyal yang salah mengenai kontribusi perempuan dalam sains karena masalah mendasar tidak menjadi perhatian.

Berdasarkan laporan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), perempuan hanya menduduld 3o persen peneliti di dunia. Bila ini diperdalam, jumlah yang memiliki jabatan hanya 15-20 persen. Walaupun banyak menghadapi rintangan, perempuan membuat kontribusi sangat besar yang membentuk kemajuan dalam bidang sains untuk tujuan kemanusiaan.
Pada 8 Desember 2020; Jennifer Doudna menerima Hadiah Nobel dalam bidang kimia di patio rumahnya di California, Amerika Serikat. Ia berbagi hadiah itu dengan Emmanuelle Charpentier untuk temuan pengembangan metode pengeditan gen (genome editing). Proses kehidupan suatu organisme dikontrol oleh berbagai gen pada asam deolairibonuldeat (DNA) kita.

Delapan tahun lalu, kedua peneliti tersebut mengembangkan metode untuk membuat perubahan pada gen secara presisi. Mereka menggunakan pertahanan imun bakteria, yang membuat virus tidak mampu berdaya dengan cara memotong DNA menggunakan gunting genetik. Dengan mengisolasi dan menyederhanakan komponen molekul gen penggunting, mereka mampu mengembangkan teknik untuk memotong DNA di tempat yang diinginkan. Gen gunting CRISPR/Cas9 dapat diaplikasikan untuk perbaikan tanaman, senjata melasan kanker dan berbagai penyalcit genetik, biotelmologi industri, serta temuan ilmiah baru. Anugerah ini juga bersejarah karena baru pertama kali diberikan kepada dua orang perempuan saja.

Dalam bidang genetik Rosalind Franldin adalah contoh kontribusi sains dalara suatu terobosan terbesar yang memberikan solusi di berbagai bidang. Franklin, seorang ahli kristalografi sinar-X, melengkapi data James Watson dan Francis Crick dalam menentukan struktur DNA beruntai ganda pada 1953. Watson, Crick dan Maurice Wilkins menerima Hadiah Nobel pada 1962 di bidang fisiologi atau kedokteran.

Barbara McClintock, seorang perempuan peneliti yang tancrouh, adalah ahli sitogenetik dan perempuan satu-satunya yang tidak berbagi Hadiah Nobel dalam fisiologi atau kedokteran pada 1983. Sepanjang kariernya, McClintock mempelajari sitogenetika jagung, studi tentang homosom dan ekspresi genetik. Pada sekitar 1920, genetika masih merupakan ilmu baru. Apa yang ditemukannya berada di luar pemahaman peneliti lain. Semua mengabaikan, tapi Mcaintock tetap persisten dan mempercayai diri serta bukti ilmiah yang diperolehnya. Pada 1960-an, komunitas sains baru menyadari makna temuannya; suatu perjalanan panjang, perlu waktu 40 tahun.

Saat ini perempuan dapat sukses dan berperan penting dalam komunitas sains yang masih didominasi laki-laki, walaupun kita ketahui masih banyak halangan, seperti beragam pengekangan yang dihadapi dalam pendidikan tinggi, jejak karier, lingkungan kerja, peran yang stereotipe, dan keseimbangan menjalanIcan fungsi keluarga. Ketidakseimbangan gender tersebut sebenarnya juga terlihat pada perempuan peneliti yang mendapatkan anugerah Nobel.

Sampai 2021, sebanyak 59 Hadiah Nobel dianugerahkan kepada perempuan peneliti, tapi distribusi dalam bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM) masih sangat terbatas. Sangat memprihatinkan bahsa hanya 4 orang dalam bidang fisika (1,8 persen dari 219), 7 untuk kimia (3,7 persen dari 188), dan 12 untuk fisiologi atau kedokteran (5,4 persen dari 224). Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan jumlah laki-laki yang meraih Hadiah Nobel, yaitu 885 orang. Hal ini sangat memprihatinkan mengingat rendahnya peningkatan jumlah tersebut sejak Marie Curie ditetapkan sebagai perempuan peneliti pertama peraih Nobel pada 1903, hampir 120 tahun lalu.

Peringatan Hari Kartini mengingatkan kembali pada satu masalah mendasar yang belum terselesaikan, tantangan yang dihadapi oleh perempuan secara global dalam bidang STEM. STEM diperlukan bagi kemajuan ekonomi secara nasional, sehingga memperluas dan membangun tenaga kerja STEM bagi pemerintah, industriawan, ataupun pendidik adalah isu penting. Menarik lebih banyak perempuan dan mempertahankannya dalam STEM akan memaksimalkan inovasi, kreativitas, dan persaingan.

Pendidikan dan kesetaraan gender adalah bagian integral Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dan katalisator pencapaian semua SDGs lain. Sains, teknologi, dan inovasi merupakan kunci SDGs. Peneliti dan perekayasa bekerja sama memecahkan berbagai persoalan manusia, seperti mengatasi dampak perubahan iklim, meningkatkan ketahanan pangan, mencari berbagai pengobatan, mengendalikan pemanasan global, mengelola sumber air bersih, mengembangkan energi terbarukan. memahami asal-usul semesta, dan melindungi keberagaman hayati.

Pada akhir 2019, dunia menyaksikan munculnya virus baru penyebab Covid-19. Kehidupan manusia terhenti dan berubah dengan penyekatan. Sejarah menyaksikan bagaimana manusia bertahan hidup dalam berbagai sabah dan pandemi yang mempengaruhi jutaan manusia. Walaupun teknologi dan kedokteran adalah hal penting, disadari bahwa manusia rentan terhadap patogen baru. Meningkatnya angka kematian dan kesakitan mengundang komunitas sains untuk mewaspadai dan mengembangkan strategi baru. Dari pemahaman tentang virus, metode diagnosis, gambaran manifestasi kIinik, sampai ke sekuensing genom serta penggunaan data genetik dan molekuler untuk mencari arah pengobatan dan vaksinasi yang efektif.

Pandemi ini menyadarkan semua pemangku kepentingan bahva sains dan pengetahuan yang mendasar telah mampu memberi informasi dan arah penanganan yang tepat. Di sini disadari pula semuanya bermula dari penelitian dan dukungan sumber daya manusia yang mumpuni, infrastruktur memadai, dan kepemimpinan ilmiah. Hasil penelitian juga telah dijadikan dasar pengembangan baik pelayanan maupun pemeriksaan dalam skala industri tidak hanya di dunia, tapi juga banyak startup di Indonesia.

Bagaimana dengan peran perempuan peneliti global? Dalam penanganan Covid-19, kita mengenal Sarah Gilbert, perempuan di balik vaksin Oxford/ AstraZeneca. Tim Oxford menggunakan metode yang sebelumnya digunakan untuk pengembangan vaksin malaria dengan platform rekombinan vektor virus. Pendekatan yang sama dilakukan untuk Covid-19. Hanya perlu saktu satu tahun vaksin Oxford/Astra Zeneca digunakan di dunia. Dr Özlem Türeci peneliti dan dokter pendiri BioNTech-Pfizer, berperan dalam pengembangan vaksin pertama mRNA vaccine dalam waktu satu tahun juga. Sebagai perempuan peneliti, Dr Türeci menerapkan keseimbangan gender dengan memiliki 54 persen tenaga kerja perempuan. Telah disadari perempuan berperan dalam sektor ekonomi.

Berbagai teknologi terbarukan omik (genomik, proteomik, transkriptomik, matabolomik, dan lain-lain) akan mendukung pendekatan kedokteran presisi di masa depan. Hal itu akan memacu dan mendukung generasi penerus untuk mengembangkan metode baru yang heatif dan inovatif: untuk mendeteksi, mengukur, serta menganalisis informasi biomedik yang berlimpah dalam bentuk parameter molekul, genomik, seluler, klinik, perilaku, fisiologi, dan lingkungan.

Partisipasi perempuan Indonesia dalam sains di berbagai bidang sudah cukup banyak. Yang diperlukan adalah komitmen bahwa penelitian bukan hanya sesaat, tapi berkesinambungan. Untuk itu, dukungan yang bermakna dari pemerintah buat pengembangan kemampuan sumber daya manusia, infrastruktur, dan dana riset mutlak diperlukan.

Di luar itu, kita dapat melihat peran berbagai organisasi untuk memajukan perempuan dalam sains. Salah satu contoh: L’Oreal-UNESCO For Women in Science Awards (FWIS), yang dibentuk untuk memperbaiki posisi perempuan dalam sains. Moto dunia memerlukan sains, sains memerlukan perempuan adalah suatu cara untuk memilih peran model perempuan peneliti bagi generasi muda.

Sampai 2020. L’Oreal FWIS telah memberikan penghargaan kepada lebih dari 100 perempuan peneliti terpandang pada puncak Icariernya dan lebih dari 3.000 peneliti muda dari 117 negara. Asia Tenggara adalah svilayah dengan perkembangan cukup baik untuk menyempitkan celah gender. Beberapa penerima penghargaan di Asia Tenggara adalah perempuan peneliti yang berkomitmen pada sains tidak hanya dalam skala nasional, tapi juga regional dan internasional.

Dalam sains, penelitian adalah panggilan dan bukan pekerjaan. Dalam dunia penelitian (pada umumnya) yang sifatnya tidak birokratis, dominasi itu bukan tidak dapat dipatahkan. Yang utama adalah bagaimana prestasi yang dicapai, komitmen dan kemampuan kerja dapat diperlihatkan karena kesempatan maju ditentukan oleh peer, baik nasional maupun internasional. Mereka yang menilai, mengundang, dan menghargai.

Jelas bahwa “sains bukan permainan anak laki-laki, juga bukan permainan anak perempuan. Sains adalah permainan semua orang. Sains akan menempatkan kita di mana sekarang dan ke mana akan bertolak”.

Sumber: Majalah Tempo, Sabtu, 23 April 2022

Share
%d blogger menyukai ini: