Usaha Sapi Perah Rakyat, Saatnya Para Peternak Menuai Berkah

- Editor

Kamis, 30 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TERPURUKNYA nilai rupiah terhadap dollar tidak selamanya berupa malapetaka bagi para peternak sapi perah. Di kala berbagai sektor usaha lain memasuki kondisi morat-marit, sekitar 85.000 peternak kecil yang menguasai hampir 90 persen produksi susu dalam negeri, justru menikmati berkah berupa kenaikan harga susu yang mencapai 21 persen per liternya. Bila sebelumnya, harga susu tertinggi dihargai sebesar Rp 702 per liter, maka sejak 1 Februari lalu menjadi Rp 850.

PENYEBABNYA, nilai dollar yang terus meroket membuat harga susu impor meningkat. Menurut berbagai data yang dihimpun, saat ini harga bahan susu impor (skim milk powder) mencapai 1.700 dollar AS per ton (setara dengan 9.000 liter). Dengan mengambil penetapan, kurs sebesar Rp 5.000, maka sedikitnya harga per liter susu mencapai Rp 944,4. Sementara, di negara-negara yang terkenal sebagai produsen susu dan memiliki ongkos produksi terendah seperti Selandia Baru, harga susu di tingkat peternak (farm gate price) mencapai Rp 850 per liter. Bahkan, di New South Wales, Australia bisa mencapai di atas seribu rupiah.

Tentu saja meroketnya nilai dollar kumng menggembirakan bagi pabrik-pabrik pengolahan susu. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan susu nasional per tahun yang kini mencapai 1.248 ribu ton, dua per tiganya harus dipasok negara-negara pengekspor susu. Oleh karena itu, mau tidak mau, sepuluh pabrik pengolahan susu seperti Indomilk, Friesche Vlag, Nestle, Ultra Jaya, dan lain-lain yang tergabung dalam Industri Pengolahan Susu (IPS) kini lebih memperhatikan pasokan susu dalam negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kenaikan harga susu ini secara otomatis akan mendongkrak nilai perdagangan di tingkat peternak. Tahun 1997 saja, berdasar data Ditjen Peternakan, produksi susu segar hasil peternakan rakyat mencapai 387 ribu ton dengan nilai sebesar Rp 252 milyar. Dengan adanya kenaikan harga dan diasumsikan tingkat produksi tetap, diperkirakan akan terjadi peningkatan nilai perdagangan sebesar Rp 53 milyar. Nilai ini diperkirakan dapat terus membengkak apabila harga susu impor juga terus meroket.

”Bayangkan, jika mereka mengimpor susu dengan dollar yang terus melambung, apa mereka bisa bertahan? Sekaranglah saatnya peternak dielus-elus dengan harga bagus agar bergairah memproduksi susu,” ungkap H Aman Sulaeman, ketua umum Koperasi Peternak Susu Bandung Selatan (KPSBS).

Apa yang dikatakan oleh Aman Sulaeman tersebut ada benarnya. Sebab, semenjak dikembangkannya secara serius usaha peternakan sapi perah rakyat pada tahun 1979 lalu, baru saat ini dan tahun 1986 lalu mereka menerima kenaikan yang paling besar.

BAGI sekitar 2.800 peternak di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung, kenaikan harga susu tersebut disambut gembira. Setidaknya, menurut Aming yang memiliki sepuluh ekor sapi, ibarat angin surga pelipur lara, di tengah himpitan ekonomi. Masa depan usaha mereka yang selama ini dipandang buram kini mulai menjanjikan. Betapa tidak, meskipun selama ini usaha peternakan sapi perah rakyat telah banyak mendapatkan perhatian namun tetap saja kondisi para peternak tidak kunjung membaik. Peliknya persoalan pemeliharaan dan tingginya tuntutan mutu susu, mengkategorikan jenis usaha ini sebagai usaha yang berisiko tinggi. Oleh karena itu, apabila tidak diimbangi imbalan harga jual susu yang memadai tentu membuat para peternak terus-menerus menderita.

Menurut catatan Litbang Kompas, ketimpangan pasar merupakan persoalan besar yang memberikan andil kian terpuruknya para peternak selama ini. Ketimpangan tersebut mudah, terlihat dengan membandingkan perkembangan harga susu di konsumen dan di tingkat peternak. Yang terlihat, kenaikan harga susu di tingkat konsumen masih terlampau besar ketimbang kenaikan di tingkat peternak. Bila sampai tahun 1996 lalu peternak rata-rata hanya menikmati kenaikan sebesar Rp 33 per liter, maka di tingkat konsumen mencapai Rp 120.

Dengan demikian, kenaikan di tingkat peternak hanya seperempat dari kenaikan yang terjadi di tingkat konsumen. Malah bila dirunut sepanjang tahun, perbedaan tersebut tidak kurang mencolok. Bila pada tahun 1979 lalu selisih harga susu di konsumen dan di peternak mencapai Rp 100, maka pada tahun 1996 lalu mencapai Rp 1.500. Kondisi demikian menyiratkan bahwa nilai tukar peternak terus-menerus merosot.

Selain ketimpangan di atas yang tak akalah menyedihkan bila membandingkan kenaikan harga susu dengan laju inflasi umum setiap tahunny. Dengan mengambil tahun 1979 sebagai tahun acuan perhitungan, kecuali pada tahun 1986/87, sepanjang masa, kenaikan harga susu selalu di bawah laju inflasi. Hal demikian terlihat nyata dengan membandingkan nilai susu dengan nilai beras. Bila pada tahun 1986 lalu dengan bermodalkan satu kilogram susu dapat membeli 1,4 kilogram beras dengan kualitas medium, maka pada tahun 1994, hanya mampu membeli 680 gram beras kualitas sama. Artinya, nilai riil susu yang mereka hasilkan semakin menurun. Kian lama para peternak menjadi semakin miskin.

Kondisi yang menyedihkan ini memang telah dirasakan para peternak. Malah, tidak jarang para peternak yang berpikir banting stir, menghentikan kelanjutan usahanya dan mencoba usaha lain. ”Jika harga susu tidak ekonomis, buat apa susah-susah memelihara sapi perah. Toh, dengan menjual dagingnya saja sudah untung. Apalagi, daging sapi perah disukai karena empuk,” ujar Ny Sopia (47), salah seorang peternak di Cisarua, kabupaten Bandung. Keputusan mengalihfungsikan ternak memang sudah menjadi alternatif umum. Terlebih, dengan meningkatnya pamor daging lokal akibat meroketnya harga daging impor, membuat para peternak sapi perah tergiur. Yang biasanya harga daging lokal per kilogramnya hanya Rp 13.000, kini melonjak menjadi Rp 17.000. Harga seekor sapi berumur setahun pun kini meningkat menjadi Rp 1,7 juta.

MERUNUT biaya produksi, sebenarnya besarnya kenaikan dirasakan masih kurang memadai. Menurut perhitungan Aming, seorang peternak, setiap hari untuk memproduksi susu 15-20 liter, biaya yang dikeluarkan Rp 15.000 per ekor. Ongkos tersebut sudah termasuk pakan hijauan dan konsentrat. Sebagai catatan, biaya pakan hijuan maupun konsentrat merupakan 75 persen dari biaya produksi. Berdasarkan angka-angka tersebut, ia memperkirakan harga susu yang layak sebesar Rp 1.100 per liter. Malah, menurut H Aman Sulaeman, di kawsan Bandung Selatan harga susu dikatakan ekonomis bila mencapai Rp 1.250.

Sebenarnya, kenaikan harga susu yang berlaku saat ini saja terhitung bukan sekedar berkah biasa. Bisa dikatakan demikian sebab kenaikan saat ini dapat digolongkan sebuah mukjizat, yang datang tanpa diduga. Sebelumnya, di atas kertas, dapat diramalkan kondisi peternakan sapi perah rakyat semakin morat-marit.

Betapa tidak? Tidak hanya ketimpangan harga seperti yang telah dijelaskan di atas saja yang terjadi pada para peternak. Di sisi lain, keberadaan usaha peternakan sapi perah rakyat selama ini tidak lepas dari campur tangan dan perlindungan pemerintah. Proteksi yang dilakukan pemerintah selama ini terbukti sangat menolong para peternak berusaha. Dalam pemasaran susu, misalnya, mustahil bila tanpa bantuan pemerintah susu produksi para peternak dapat diserap pasar.

Seperti yang dilaksanakan sejak tahun 1982 lalu, pemerintah melalui SK Bersama Menteri Koperasi No 236/KPB/VII/82, Menteri Perindustrian No 341/M/SK/7/ 82, dan Menteri Pertanian 521/KPTS/UM/7/82 mewajibkan IPS menampung seluruh susu peternakan rakyat. Malah, bukti setor susu sapi perah rakyat kepada IPS yang dijadikan bukti sekaligus kuota susu yang diimpor oleh IPS dari negara lain untuk memenuhi kapasitas produksi susu olahan. Kondisi demikian berarti, berapa pun produksi susu sapi perah rakyat akan ditampung sepenuhnya oleh pabrik pengolahan susu.

Sayangnya, situasi demikian tidak dapat berlangsung terus-menerus. Perdagangan bebas (WTO) pada tahun 2005 yang akan datang, mengancam keberadaan susu lokal. Dengan diberlakukannya liberalisasi perdagangan otomatis proteksi pemerintah dicabut. Padahal dalam hal harga beberapa waktu lalu hsrgs susu lokal masih dirasakan lebih mahal ketimbang susu impor. Sebagai catatan, dengan harga susu impor Rp 515,5 per liter (harga paling tinggi susu impor saat kurs dolar Rp 2.500) maka harga susu lokal pada tahun 1997 sudah sebesar Rp 702. Oleh karena itu, di era perdagangan bebas, bagi IPS lebih menguntungkan memilih susu impor.

Pada kenyataannya, yang terjadi tidak sampai menunggu tahun 2005. Keluarnya Inpres No 4/1998 beberapa waktu lalu yang terkait dengan paket reformasi dukungan IMF membuat kebijakan ratio susu lokal dan impor yang tertuang dalam surat keputusan bersama tidak berlaku lagi. Artinya, susu impor bebas masuk berapa pun besarnya. Namun, dengan kondisi kurs dollar seperti saat ini, harga susu impor malah berbalik, menjadi lebih mahal. Bukankah sebuah berkah yang tidak biasa? (Nasrulah/BI Purwantari)

Istilah Ekonomi

Consumer Cooperative: Koperasi konsumsi. Biasanya berbentuk badan usaha yang berdagang eceran yang dimiliki oleh para anggotanya. Tujuan pokoknya, menurunkan harga barang dengan jalan meniadakan laba perdagangan perantara. Caranya koperasi langsung membeli dari produsen barang-barang yang dibutuhkan.

Consuner Soverignity: Kedaulatan konsumen. Konsep yang menyatakan bahwa para konsumen mengendalikan kehidupan ekonomi. Apabila harga lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang akan dibayar oleh konsumen, maka permintaan akan berkurang dan harga akan turun. Begitu pula sebaliknya, bila, harga rendah maka para konsumen akan membeli sehingga merangsang pengusaha untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan mencari laba.

Economic Mobilization: Mobilisasi ekonomi. Setiap usaha yang memusatkan tenaga produktif sesuatu negara dengan tujuan tertentu, misalnya pertahanan nasional. Biasanya dilaksanakan secara sukarela, tetapi pemerintah harus turut campur tangan dalam bidang yang bersangkutan dengan produksi, kredit, harga, kesempatan kerja. (dis, dari Kamus Ekonomi terbitan Mandar Maju)

Teropong

“Pengembangan peternakan rakyat sapi dan kambing masing-masing 9.350 ekor dan 4.950 ekor di sembilan kabupaten serta tiga propinsi di kawasan di kawasan timur Indonesia.” (Bappenas)

Sumber: Kompas, 21 FEBRUARI 1998 HALAMAN 9

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB