Home / Berita / Mitigasi Perubahan Iklim dari Kandang Sapi

Mitigasi Perubahan Iklim dari Kandang Sapi

Perubahan iklim telah menyemai kekhawatiran dunia akan masa depan pangan. Bertambahnya jumlah penduduk menuntut lebih banyak produksi daging dan susu. Namun, tanpa disadari, kandang sapi telah menjadi penyumbang emisi karbon terbesar.

Aktivitas alamiah ternak sapi di kandang ternyata memicu peningkatan suhu bumi. Selama proses memamah biak, seekor sapi melepaskan 120 kilogram gas metana (CH4) ke udara setiap tahun. Bandingkan dengan pelepasan metana pada ternak domba 8 kg dan babi 1,5 kg.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN–Perusahaan susu terbesar di Finlandia memulai mitigasi perubahan iklim dari seluruh peternakan sapinya. Salah satunya, gas metana yang dikeluarkan dari produksi makanan dalam perut sapi ditangkap dan diolah menjadi energi biogas.

Dalam laporannya, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah menyebutkan bahwa kenaikan emisi karbon dari peternakan naik dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir. FAO pun memperkirakan pelepasan emisi akan meningkat hingga 30 persen pada 2050 jika tak ada upaya khusus untuk mengendalikannya.

Finlandia, salah satu negara yang tengah berpacu dengan target-target penurunan emisi, mulai melakukan sejumlah upaya. Setelah membuat peta jalan ekonomi sirkular, berbagai sektor pun didorong untuk memanfaatkan teknologi yang bersih dari emisi karbon.

Mereka pun dipacu memanfaatkan sumber daya berkelanjutan serta menjalankan ekonomi melingkar yang efisien. Dengan berjalannya sistem itu, pembangunan dimungkinkan memberikan manfaat lebih besar bagi kesejahteraan alam dan manusia.

Sektor peternakan salah satu yang dituntut untuk lebih ramah iklim dan lebih efisien. Jumlah ternak sapi yang sebelumnya hampir 500.000 ekor pada dua dekade silam telah berkurang setengahnya. Hal itu signifikan menekan pelepasan karbon.

Meskipun jumlah sapi berkurang, lewat efisiensi, produktivitas susu meningkat. Produksi susu semula 6.000 liter per ekor per tahun kini menjadi hampir 8.500 liter.

Namun, efisiensi saja rupanya belum cukup. Peternakan berskala besar di Finlandia menghasilkan sekitar 20 juta ton limbah per tahun. Pemerintah menargetkan limbah tak boleh lagi terbuang sia-sia, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi energi. Paling lambat tahun 2025, setengah dari total produksi kotoran ternak harus dapat diolah menjadi biogas.

Sejalan dengan target besar ekonomi berkelanjutan, produsen susu terbesar di sana, Valio, terpacu melahirkan berbagai upaya. Direktur Produksi Primer dan Pengadaan Susu Valio Juha Nousiainen mengatakan, dengan hanya mengurangi emisi memang tidak akan cukup untuk mencapai target kesepakatan iklim Paris soal pembatasan pemanasan global hingga 2 derajat celsius.

Valio merupakan perusahaan susu terbesar di Finlandia yang didirikan tahun 1905 oleh AI Virtanen. Bergelut dalam laboratorium, Virtanen menghasilkan banyak terobosan. Salah satunya inovasi pengawetan rumput pakan bagi sapinya yang berhasil memajukan dunia peternakan.

Sebelumnya, sapi-sapi di Eropa kerap kekurangan pakan selama musim dingin karena tak mendapatkan rumput yang berkualitas baik.

Ia pun menciptakan pengawetan rumput tanpa berkurang kualitasnya sehingga sapi tetap dapat memproduksi susu dengan kualitas baik selama musim dingin. Dari temuannya itu pula Virtanen mendapat Hadiah Nobel.

Setelah lebih dari satu abad, Valio tak terlena oleh pencapaian itu. Inovasi terus dibuat, kali ini untuk memitigasi ancaman perubahan iklim.

Ekosistem baru
Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengikis emisi di atmosfer dengan membangun satu ekosistem baru di peternakan. ”Kami menyebutnya ekosistem pro-manure,” kata Nousiainen, dalam kunjungan media dari 18 negara bertema ”Circular Economy and Cleantech in Finland” di Helsinki, awal November lalu.

Dengan ekosistem itu, kandang sapi dan hamparan rumput pakan menjadi penyerap karbon yang signifikan. Upaya itu secara bertahap diterapkan pada 5.300 peternakan plasma yang tersebar di seantero Finlandia.

Tahap awal, ladang rumput yang menjadi sumber pakan sapi diperkaya dengan beragam jenis tanaman. Di sini peternak menjadi ujung tombak menciptakan kondisi tanah, rumput, dan tanaman penyangga menjadi sumber penyimpan karbon.

Selain itu, kotoran dari sisa proses ruminansia ternak sapi ditangkap masuk ke dalam instalasi pengolahan. Senyawa metana, karbon dioksida, nitrogen, oksigen, karbon monoksida, dan hidrogen sulfida diolah menjadi biogas.

Bisa dibayangkan jika produksi kotoran ternak dari seluruh peternakan itu dapat menghasilkan biogas, berarti mampu menekan biaya produksi.

Biogas dimanfaatkan sebagai bahan bakar, termasuk untuk kendaraan. Truk-truk pengangkut susu tak perlu lagi membeli bahan bakar di SPBU, tetapi dapat memanfaatkan bahan bakar yang telah mereka hasilkan sendiri.

Sesuai peta jalan ekonomi melingkar, Finlandia menargetkan bahwa paling lambat pada 2050, biofuel sudah akan sepenuhnya mampu dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk transportasi. Artinya, pada saat itu sektor transportasi dipastikan bebas karbon.

Secretary General of the Nordic Council of Ministers Paula Lehtomaki mengatakan, ekonomi sirkular terus didorong. Itu dimaksudkan mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan yang mengedepankan lingkungan dan sosial.

Dalam ekonomi sirkular, pembangunan berfokus, antara lain, pada daur ulang produk, efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, perpanjangan masa pakai produk, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pengurangan sampah. Selain itu, pemanfaatan energi akan sepenuhnya berkelanjutan.

”Pemanfaatan batubara akan dihapus secara bertahap hingga 2029,” katanya. Begitu pula penggunaan minyak bumi dikurangi setengah. Sementara, berbagai jenis limbah dan sampah dikelola sebagai sumber energi.

Rantai produksi
Selain mengolah kotoran menjadi bahan bakar, Valio juga mengembangkan teknologi yang memisahkan nitrogen dan fosfor dari limbah itu menjadi fraksi pupuk. Hasilnya ditebar pada hamparan lahan untuk menyuburkan lahan.

Dalam kondisi yang sehat, tanah mengikat karbon dan menjadikannya sumber nutrisi. Kondisi tanah yang kaya mikroba bahkan bisa menyerap karbon dua kali lebih banyak dari tanaman.

Helena Karhujoki, Communications Manager Valio, menambahkan, dari kandang sapi, Valio mewujudkan rantai produksi susu yang ramah lingkungan. Upaya itu pun menghemat biaya produksi.

Mengurangi emisi karbon dan mengembalikan kotoran ternak ke dalam siklus nutrisi ternyata memberikan keuntungan bagi pemilik peternakan.

Mitigasi iklim dari kandang sapi selayaknya dapat diterapkan pula lebih luas di Indonesia. Berdasarkan data Badan Penelitian Ternak Kementerian Pertanian tahun 2015, populasi ternak di Pulau Jawa saja mencapai 6,7 juta sapi potong dan 519.901 sapi perah.

Bisa dibayangkan seberapa besar manfaatnya jika kotoran ternak dikelola menjadi energi. Akhirnya kandang sapi tak lagi menjadi sumber masalah, tetapi berperan dalam solusi untuk lingkungan.–IRMA TAMBUNAN

Sumber: Kompas, 11 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: