Home / Berita / Universitas Islam Internasional, Diarahkan Jadi Pusat Kajian Agama-Budaya

Universitas Islam Internasional, Diarahkan Jadi Pusat Kajian Agama-Budaya

Universitas Islam Internasional Indonesia yang mulai dibangun tahun 2018 di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, diarahkan menjadi pusat kajian agama Islam dan budaya. Perannya memperkuat model kepemimpinan Islam Indonesia di dunia.

Untuk mewujudkan hal itu, Pemerintah Indonesia tak hanya menyusun kurikulum dan menyiapkan materi pengajaran dengan role model Islam Indonesia, tetapi juga akan mengundang sejumlah dosen tamu dari beberapa universitas ternama di dunia. Mereka antara lain dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, dan Mesir.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk mempersiapkan pembangunan Universitas Islam Internasional (UIII), Jumat (19/1), di Jakarta, berharap kehadiran dosen untuk program magister dan doktoral itu dapat mencerahkan sekitar 5.000 mahasiswa UIII sebagai calon-calon pemimpin pembawa peradaban Islam modern di dunia.

KOMPAS/NINA SUSILO–Wakil Presiden Jusuf Kalla.

”Kita sudah menjajaki dan mereka (negara-negara) siap membantu mengirimkan dosen- dosen terbaiknya, di antaranya dari Inggris, AS, Kanada, Jepang, Australia, dan Mesir,” kata Kalla. UIII hanya akan menerima mahasiswa program S-2 dan S-3.

Secara terpisah, Ketua Panitia Harian Pembangunan UIII Komaruddin Hidayat menambahkan, UII akan memiliki tiga pilar, yakni fakultas, pusat kajian, dan pusat kebudayaan.

Menurut Komaruddin, selama ini, ribuan mahasiswa Indonesia selalu menerima beasiswa dari luar negeri, seperti Mesir, Maroko, Sudan, Yaman, dan Pakistan. Padahal, secara ekonomi, kemampuan negara-negara tersebut tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

Pesantren
Komaruddin juga menyatakan, di Indonesia, sekarang ini belum ada pusat kajian praktik Islam dan demokrasi di dunia Islam. ”Kami ingin di UIII ada pusat kajian tersebut sehingga kita bisa menggali pemikiran dan pengalaman Indonesia secara ilmiah. UIII ingin memperkuat Islam wasathiyah (moderat) berdasarkan riset mendalam.

”Tak kalah pentingnya juga UIII ingin mengenalkan dunia pesantren kepada dunia. Kita memperkuat tradisi yang ada dengan mendorong inovasi untuk berkontribusi pada dunia luar,” katanya.

Tentang biaya pembangunan gedung UIII, yang sebelumnya dinyatakan senilai Rp 3,9 triliun, Wapres Kalla menyatakan itu hitungan kasar, yang harus dihitung lebih teliti lagi. ”Perkiraan saya hanya Rp 3 triliun. Pembangunannya secara bertahap selama tiga tahun (bukan lima tahun seperti diberitakan Kompas 19/1). Sumber dananya dari APBN dan pinjaman dari Bank Pembangunan Islam (IDB).

Pembangunan gedung UII dimulai pertengahan 2018. Saat ini sedang dilakukan pendekatan kepada sekitar 300 keluarga yang masih menghuni lahan tersebut. ”Kami siapkan lahan seluas 143 hektar. Yang dipakai hanya sekitar 30 persen. Itu tidak termasuk situs yang disebut-sebut peninggalan Belanda,” kata Wakil Presiden.(HAR)

Sumber: Kompas, 20 Januari 2018

——————-

Presiden Minta Wapres Himpun Dana

Presiden Joko Widodo meminta Wakil Presiden Jusuf Kalla menghimpun dana untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia. Perguruan tinggi itu segera dibangun tahun ini hingga lima tahun mendatang di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Total biaya pembangunan universitas berstandar internasional yang menjadi model pendidikan tinggi Islam terkemuka dalam kajian keislaman strategis itu sekitar Rp 3,9 triliun.

”Dari APBN 2018, kami sediakan Rp 600 miliar. Tahun depan belum diketahui. Sisanya ada hibah dari negara-negara lain. Itu urusannya Pak Wakil Presiden, ya,” ujar Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono kepada pers usai mengikuti rapat terbatas pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (18/1).

Menurut Basuki, meski ada kendala karena biaya untuk pembangunan tahun pertama belum ada daftar isian pelaksanaan anggarannya dari Kementerian Agama, pihaknya mengusulkan ke bendahara umum negara, yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Basuki menambahkan, pembangunannya akan dimulai pertengahan 2018 dan selesai 2022. Areal kampus UIII seluas 143 hektar. Namun, luas bangunan hanya 20-30 persen dari totalnya. ”Pak Wapres menyatakan kampus UIII akan dibangun dengan desain futuristik agar menggambarkan peradaban Islam di masa datang,” katanya.

Pembangunan universitas itu didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian UIII yang ditandatangani pada 29 Juni 2016. Pertimbangannya, Indonesia perlu menjadi salah satu pusat peradaban Islam di dunia melalui jalur pendidikan tinggi berstandar internasional.

”Mengapa UIII ini didirikan padahal kita sudah punya banyak universitas islam negeri? Ini kita bentuk bukan hanya untuk menjawab kebutuhan domestik, melainkan juga menjawab kebutuhan internasional, di antaranya memperkokoh kepemimpinan Indonesia di dunia internasional,” ujar Presiden saat pembukaan rapat itu.

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Sofyan A Djalil menyatakan, bakal lahan untuk UIII kini dibenahi dari hunian liar. Gubernur Jabar sudah membuat tim penyelesaian dampak sosial. (INA/HAR)

Sumber: Kompas, 19 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: