Home / Berita / Ujian Nasional Generasi Z

Ujian Nasional Generasi Z

Di 515 sekolah menengah atas sederajat, generasi Z yang akrab dengan dunia digital untuk pertama kali menjalani ujian nasional berbasis komputer, Senin (13/4). Jutaan naskah dengan rantai distribusi panjang digantikan sinkronisasi data hitungan menit. Pengisian jawaban dengan pensil digantikan satu klik! Tentu, perubahan tak selalu mulus.

Pukul 07.30. Murid kelas tiga SMK Negeri 35 Jakarta bersiap mengerjakan ujian nasional (UN) di laboratorium komputer. Tahun ini, bukan lembar soal dan jawaban yang tersedia di hadapan mereka, melainkan layar monitor. Tak ada lagi rutinitas menghitamkan bulatan-bulatan lembar jawaban dengan pensil 2B.

Saat jam ujian dimulai, siswa mengambil kata kunci (password) dari pengawas. untuk masuk ke naskah soal (login).

Menjawab soal pilihan ganda pun lebih mudah. Murid cukup mengeklik pada pilihan jawaban. “Ini lebih simple, cepat, dan enggak ada kepanikan. Kami hanya baca dan klik saja,” ujar Darpan (18), salah satu murid.

Darpan sempat kesulitan login ke dalam aplikasi naskah soal UN. Namun, itu teratasi setelah kode akses baru diberikan pengawas. Dia pun berpindah menggunakan komputer cadangan yang disediakan sekolah.

Senada dengan Darpan, Muhammad Razaaq (17), siswa XII IPS 1 MAN Model Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menyelesaikan UN dengan hati lega. Kemudahan ujian dengan komputer membantunya mengerjakan soal dengan cepat. “Dari waktu dua jam untuk mengerjakan soal Bahasa Indonesia, saya selesai sekitar 1,5 jam,” katanya.

Pertama kali
Untuk pertama kalinya UN berbasis komputer dilaksanakan di Indonesia. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat 515 sekolah jenjang SMA/MA/SMK dengan 160.947 murid yang mengikuti UN berbasis komputer di 29 provinsi. Baru sebagian kecil sekolah menyelenggarakan UN berbasis komputer. Jumlah peserta UN di Indonesia setidaknya 2,8 juta siswa sekolah menengah atas dan kejuruan.

Dengan komputerisasi, naskah soal dikirim oleh Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspendik Kemdikbud) secara daring ke server sekolah. Para murid mengerjakan soal secara luring (luar jaringan/offline).

Jawaban peserta ujian dikirimkan ke server Puspendik secara daring. Pengiriman hasil jawaban setiap hari setelah ujian selesai. Setelah semua terkumpul di Puspendik, barulah dikirimkan ke perguruan tinggi untuk dinilai.

Dengan sistem itu, kelak ritual kolosal UN, seperti penyediaan naskah serta rantai distribusi naskah, dapat dipotong. Bayangkan, pada 2015, pemerintah masih harus menyiapkan 35 juta eksemplar naskah UN untuk UN jenjang SMP dan SMA/MA/SMK yang diikuti 7,3 juta siswa.

a046242220f8410280fada81bb0e93bfSiswa menyelesaikan soal ujian nasional secara daring di SMK NU Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/4). Kesiapan teknis masih menjadi kendala terbesar bagi sejumlah sekolah dalam pelaksanaan ujian secara daring, seperti keterbatasan jumlah komputer, jaringan internet, dan genset listrik. Perubahan sistem ujian nasional ini dinilai lebih efisien, bersih dari kecurangan, serta distribusi soal lebih efektif.KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

Pemerintah mesti mengadakan pelelangan, mencetak, mendistribusikan soal, serta menyiapkan gudang penyimpanan naskah. Di Sidoarjo, Jawa Timur, misalnya, pengiriman soal ujian langsung dari percetakan PT Jasuindo Tiga Perkasa dengan pengawalan pihak dinas pendidikan kabupaten dan kota tujuan serta polisi.

“Jumlah soal yang didistribusikan 8.454 boks,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Saiful Rachman. Untuk mengamankan soal, Kepala Bagian Operasional Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Raydian menyiapkan ruang penyimpanan yang dijaga 30 personel.

Bandingkan dengan UN berbasis komputer yang distribusi soalnya secara digital. Kepala SMK Negeri 35 Jakarta Rahmedi, misalnya, menyediakan jaringan internet berkapasitas 10.000 megabyte per detik untuk UN. Sekolah itu punya cukup komputer. Sinkronisasi dengan server Kemdikbud sejak Minggu (12/4). “Semuanya tersambung dalam 30 menit,” ujar Rahmedi.

Kepala Puspendik Kemdikbud Nizam memperkirakan, dengan UN berbasis komputer, paling tidak anggaran bisa dihemat hingga 20 persen atau setidaknya Rp 70 miliar. Anggaran sebagian besar untuk pencetakan, penggandaan, distribusi naskah soal, termasuk pengamanan naskah hingga tiba di sekolah.

Bagi Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Ikhsan, menggunakan media komputer untuk ujian bukan hal sulit bagi siswa. “Mereka generasi yang langsung mengenal komputer sejak mengenal kehidupan,” katanya. Generasi Z, begitu penyebutan generasi melek digital yang lahir pada 1995-2005.

Gangguan teknis
Pelaksanaan UN berbasis komputer tak sepenuhnya mulus. Di Yogyakarta, saat hujan deras mengguyur, listrik di SMK Negeri 3 Kasihan tiba-tiba padam sekitar pukul 12.30. Puluhan murid yang sedang ujian seketika gaduh. “Saya sudah kerjakan 48 dari 50 soal. Kaget banget, takut datanya hilang,” kata siswi Jurusan Kriya Keramik SMKN 3 Kasihan, Roro Dhiya (18). Untungnya, Saat komputer kembali menyala, soal yang sudah dikerjakan masih tersimpan.

Di Jayapura, Papua, ujian di SMK Negeri 2 sempat terhenti 10-20 menit karena pemadaman listrik. Ada pula kasus trafo terbakar di SMK Negeri 17 Temanggung, Jawa Tengah, yang menyebabkan ujian mundur 30 menit.

Beragam masalah gangguan pada komputer juga mewarnai ujian. Di SMK Negeri 1 Banjarmasin, laptop yang digunakan seorang peserta tiba-tiba start ulang dengan sendirinya dan soal ujian tak bisa dibuka. Di Kota Kediri, Jawa Timur, soal di SMKN 2 dan SMKN 3 tidak dapat dibuka. Ratusan siswa yang dijadwalkan ujian pada pagi hari diundur pada sore hari.

Masalah serupa terjadi di SMKN 3 Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta. Siswa Jurusan Seni Lukis SMKN 3 Kasihan, Raka Hadi (18), sempat kecewa. Penundaan ujian itu membuat konsentrasinya terganggu. “Saya pulang ke rumah dulu karena ujian tertunda hingga sore hari,” kata Raka.

Teknologi memang menjanjikan kemudahan dan penghematan. Konsekuensinya, persiapan sistem, peranti keras, dan tenaga teknis mesti matang agar murid tidak dirugikan.(B02/NIK/HRS/FLO/LUK/WER/UTI/DKA/EGI/JUM/ODY/WSI)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 April 2015, di halaman 1 dengan judul “Ujian Nasional Generasi Z”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: