Home / Berita / Lancar meski Belum Sempurna

Lancar meski Belum Sempurna

Ujian Nasional Hari Pertama Diwarnai Beredarnya Kunci Jawaban dan Kebocoran Soal
Penyelenggaraan ujian nasional SMA/SMK sederajat hari pertama, Senin (4/4), berjalan lancar. Meski demikian, ada sejumlah kendala teknis di beberapa daerah. Di Kota Medan, Sumatera Utara, sempat beredar kunci jawaban. Adapun di Lamongan, muncul isu kebocoran soal walau langsung dibantah otoritas setempat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Senin, saat konferensi pers di Kementerian dan Kebudayaan, Jakarta, memastikan pelaksanaan UN tahun ini yang diikuti 31.000 SMA/SMK sederajat berjalan relatif lancar.

Walaupun demikian, Anies menyatakan, UN hari pertama belum sepenuhnya sempurna karena masih ada kendala teknis. ”Memang ada masalah teknis yang bersifat insidental. Apakah itu masalah secara umum? Tidak, karena ukurannya sangat kecil,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, Anies mengapresiasi PLN dan Telkom yang berkontribusi untuk kelancaran UN.

Kendala teknis
Kepala Pusat Penelitian Pendidikan Kemdikbud Nizam menyampaikan, pihaknya mendapat laporan dari beberapa daerah mengenai kendala teknis dari jaringan. Menurut dia, dua dari empat sekolah di Kepulauan Bangka Belitung akan mengikuti UNBK susulan yang akan diselenggarakan mulai 18 April mendatang.

Namun, beberapa kendala bisa diselesaikan secara cepat. Nizam mencontohkan, kendala jaringan yang terjadi di SMAN Sungailiat, Kepulauan Bangka Belitung, mengakibatkan satu sesi UNBK tertunda. Kendala diselesaikan dengan menggunakan jaringan cadangan.

Selain itu, mengenai laporan- laporan ditemukannya kunci jawaban palsu, Nizam mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti setiap laporan yang masuk.

Pada kesempatan itu, Nizam menyampaikan, penyelenggaraan UNBK di luar negeri, seperti Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Moskwa (Rusia), dan Den Haag (Belanda), berjalan lancar. ”Kami juga melangsungkan UNBK di Sydney (Australia) untuk satu siswa,” ujarnya.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Dadang Sudiyarto mengatakan, kendala pada penyelenggaraan ujian nasional dengan kertas adalah kurangnya soal di beberapa ruang ujian. Namun, hal itu bisa diatasi dengan sigap.

Dadang mencontohkan, satu sekolah di Kalimantan Selatan mengalami kekurangan tiga lembar soal. Pihak sekolah didorong untuk memfotokopi kekurangan soal sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati.

Kunci jawaban
Sementara itu, kertas yang diduga kunci jawaban UN kembali beredar di Medan, Sumatera Utara. Tim Ombudsman Perwakilan Sumatera Utara, kemarin, menemukan dua lembar kertas kecil yang diduga kunci jawaban Bahasa Indonesia di SMA Negeri 2 Medan.

Temuan terjadi saat ombudsman melakukan sidak ke SMA itu saat ujian Bahasa Indonesia berlangsung. ”Anggota tim kami mengamati proses ujian dari balik dinding dan melihat ada peserta ujian yang melakukan kegiatan mencurigakan. Anggota tim kemudian meminta pengawas melihat dompet peserta dan menemukan dua carik kertas yang diduga kunci jawaban,” kata Ketua Perwakilan Ombudsman Sumatera Utara Abdyadi Siregar.

Kertas yang diduga kunci jawaban itu diketik komputer rapi dan bisa dilipat kecil. Ada tiga model jawaban dalam kertas itu. Satu kertas lagi isinya sama dengan kertas yang diketik komputer, hanya saja menggunakan kertas sobekan buku tulis dan ditulis dengan pensil. Pihaknya akan mencocokkan kertas yang diduga kunci jawaban itu dengan soal Bahasa Indonesia. Pihaknya juga masih menunggu arahan dari Ombudsman Pusat untuk langkah selanjutnya.

Temuan itu hampir sama dengan temuan Tim Ombudsman Sumut tahun lalu. Namun, tahun lalu kunci jawaban yang ditemukan untuk jenjang pendidikan SMP. ”Kami sudah melaporkan kasus tahun lalu ke Polda Sumut, tetapi hingga kini belum ada kelanjutannya,” kata Abdyadi.

Kepala SMA Negeri 2 Medan Sutrisno mengatakan, temuan itu di luar jangkauan pihaknya. Ia membantah kalau temuan itu adalah kunci jawaban. ”Tidak mungkin itu kunci jawaban. Kami sudah sampaikan ke anak- anak untuk jujur saja,” katanya.

Sekretaris Panitia Ujian Nasional Dinas Pendidikan Sumut Iwan Setiawan mengatakan belum mendapat laporan adanya temuan itu. ”Sudah dibentuk panitia di setiap kabupaten/kota. Mereka yang akan menangani,” kata Iwan.

Abdyadi mengatakan, sejak 2013, pihaknya selalu menemukan pelanggaran dalam pelaksanaan ujian nasional, khususnya kebocoran ujian nasional di Sumatera Utara. Melihat kasusnya, ia menduga kebocoran berlangsung sistematis. Sejauh ini belum ada langkah yang membuat para pelaku jera membocorkan soal ujian nasional. ”Sangat disayangkan uang negara habis, tetapi terjadi kebocoran,” kata Abdyadi. Ini juga merusak mental anak-anak dan jika tidak diberantas, ke depannya akan sulit bagi Sumut terbebas dari korupsi.

Sementara di Lamongan, Jawa Timur, merebak isu Kebocoran soal . Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Bambang membantah hal itu ”Tidak mungkin ada kebocoran karena soal berbasis kertas ditempatkan di kepolisian sektor. Kami telah konfirmasi dan mengecek ke lapangan bersama tim dari inspektorat jenderal pendidikan, isu itu tidak terbukti,” katanya.ACI/DEN/BAH/WSI/DEN/BAH/C04)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 5 April 2016, di halaman 11 dengan judul “Lancar meski Belum Sempurna”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: