Home / Berita / Tsunami Palu, Bencana dari Darat dan Lautan

Tsunami Palu, Bencana dari Darat dan Lautan

Siapa pun yang pernah ke Palu, sebelum bencana melanda pasti akan mengagumi keelokan kota ini. Apalagi jika kita melihatnya dari perbukitan yang mengepungnya pada sore hari. Kerlip cahaya lampu kota memadat di lembah Sungai Palu. Di mulut teluk, jembatan baja warna kuning yang menjadi ikon kota ini terlihat gagah membelahnya.Namun, di balik keelokan ini tersembunyi ancaman mematikan. Lembah Palu yang dihuni 368.086 jiwa ini sesungguhnya dibelah jalur sesar aktif yang bermuara hingga ke teluk dan kemudian menyusup hingga ke Selat Sulawesi. Patahan yang dikenal sebagai Palu-Koro, yang membelah Pulau Sulawesi dari Teluk Palu ke Teluk Bone, merupakan salah satu sesar teraktif di Indonesia dengan kecepatan pergeseran 41-45 milimeter per tahun (Socquet dkk, 2006), dibandingkan pergeseran sesar Sumatera yang rata-rata 10 mm per tahun.

?Meski studi tentangnya tak sebanyak di Sumatera, namun peringatan agar kewaspadaan ditujukan pada sesar Palu Koro ini telah berulangkali dilakukan. Di antara ahli itu adalah peneliti Lembaga Ilmu Pengetahaun Indonesia (LIPI) Mudrik Darmawan Daryono, yang disertasi doktoralnya tentang sesar ini.

?Ketika gempa berkekuatan M 6,6 dan berpusat di daratan melanda Poso, Sulawesi Tengah, melanda pada Senin (29/5/2017) lalu, Mudrik langsung mengingatkan, bahwa bukan gempa ini yang paling ditakutkannya terjadi di Pulau Sulawesi, melainkan Sesar Palu-Koro. Kompas lalu menuliskan wawancara Mudrik dengan beberapa ahli lain, serta melengkapinya dengan sejumlah data pada Rabu (31/5/2017) dengan judul “Waspadai Gempa Besar di Sulawesi”.

?Namun, gempa bumi memang tak bisa diprediksi dengan pasti kapan akan terjadinya. Hingga pada Jumat (28/9/2018) pukul 18.02 WITA, terjadilah gempa berkekuatan M 7,4 yang mengguncang Kota Palu. Pusat gempa berada di kedalaman 11 kilometer (km) dan berjarak 26 km utara Kota Donggala atau 80 km barat laut Kota Palu, dengan mekanisme sesar geser.

Pukul 18.07 WITA, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini tsunami (PDT) untuk wilayah Palu dan Donggala Barat dengan perkiraan ketinggian 0,5-3 meter, dan perkiraan waktu tiba di pantai pukul 18.22 WITA.

?Namun, tsunami datang lebih cepat dan lebih tinggi dari perkiraan. Gelombang pertama menghantam Kota Palu sekitar pukul 10.10 WITA, atau hanya tiga menit setelah gempa. Tsunami sebenarnya telah menyapu pesisir Palu, saat BMKG mengumumkan pengakhiran PDT pada 18.36 WITA. Namun, hingga pengakhiran PDT itu sebenarnya BMKG tidak tahu telah terjadi tsunami besar di Kota Palu.

?“Kami mengakhiri PDT karena sesuai pemodelan tsunami, estimasi waktu tiba tsunami di Palu dan Mamuju sudah terlewati. Hasil observasi perubahan muka laut melalui tide gauge di Mamuju (237 km dari Palu) adalah 6 cm. Selain itu, mekanisme sumber gempa adalah strike slip (sesar mendatar) yang berdasarkan historis bisanya hanya menimbulkan tsunami kecil,” kata Kepala Subbidang Peringatan Dini Tsunami BMKG, Weniza.

?Pengakhiran PDT oleh BMKG ini belakangan banyak dikritik, selain juga tidak berfungsinya sirine tsunami (Kompas, 29/9/2018). Namun, BMKG memang bekerja dengan dukungan data terbatas atau praktis berdasarkan pemodelan. Tiadanya buoy tsunami membuat mereka tak bisa menverifikasi dengan pasti apakah tsunami benar terjadi dan menuju daratan. Demikian halnya, tide gauge yang ada di pesisir Kota Palu dalam kondisi mati.

?“Di perairan Palu belum pernah dipasang buoy tsunami. Dulu pernah mau dipasang tapi terkendala anggaran,” kata perekayasa Badan Pengekajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Udrekh. Lagi pula, tambah Udrekh, seluruh buoy tsunami yang sudah dipasang di Samudera Hindia dan beberapa perairan lainnya sudah rusak atau hilang.

?Peneliti tsunami dari Indonesia yang kini bekerja di GNS Science, New Zealand, Aditya Ridi Gusman, yang memodelkan tsunami di Palu mengatakan, lazimnya gempa yang dipicu sesar geser biasanya tak memicu tsunami besar. Tinggi tsunami biasanya berbanding lurus dengan gerakan vertikal sesar. Namun kenyataan yang terjadi menunjukkan tsunami yang terjadi cukup besar.

?Menurut perhitungan Aditya, dalam simulasi tsunami dengan menggunakan parameter gempa saja, tinggi tsunami di Palu harusnya hanya sekitar 25 cm. Dia menduga, ketinggian tsunami juga disebabkan adanya longsor bawah laut.

Sementara ahli tsunami BPPT Widjo Kongko menambahkan, ketinggian tsunami di Palu juga bisa dipicu karena kondisi Teluk Palu yang bentuknya mengerucut panjang, yang menyebabkan efek amplifikasi dan pengumpulan energi sehingga bisa lebih tinggi di bandingkan di lautan lepas.

Evakuasi mandiri
?Terlepas dari analisis tentang anomali tinggi tsunami dan polemik tepat tidaknya pengakhiran PDT, menurut Kepala Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, sistem peringatan dini tsunami tidak efektif untuk Kota Palu. Justru, jika masyarakat menanti peringatan dini tsunami dari BMKG akan terlambat menjauh dari pantai. Hal itu karena, sumber gempa yang sangat dekat dengan daratan sehingga tsunami bisa datang hanya dalam hitungan menit.

?“Sejak lama saya sudah mengusulkan agar metode peringatan tsunami disesuaikan dengan karakteristik dan ancaman risikonya, jangan disamakan seperti sekarang yang hanya tergantung pada peringatan dini tsunami dari BMKG yang secara sistem juga masih banyak kelemahannya,” kata Eko. ?

?Untuk daerah-daerah dengan sumber tsunaminya dekat seperti Bali utara hingga NTT (Nusa Tenggara Timur), di Mentawai, dan juga pantai barat Sulawesi, paling efektif dengan evakuasi mandiri. “Di daerah-daerah ini, tsunami bisa tiba rata-rata kurang dari 10 menit setelah gempa,” kata dia.

?Menurut Eko, masyarakat di daerah-daerah ini harus diajarkan jika merasakan guncangan kuat dan atau berlangsung cukup lama, harus segera menjauh dari pantai dan mencari tempat tinggi tanpa menunggu peringatan dari BMKG. Masalahnya, untuk Kota Palu, seperti terlihat kali ini bencana tsunami yang datang dari pantai bukan satu-satunya ancaman.

?Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga Senin (1/10/2018), pukul 13.00 WIB, jumlah korban jiwa sudah mencapai 821 orang. Selain karena tsunami, sebagiaan besar meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan.

?Kehancuran bangunan ini tak hanya karena konstruksinya buruk, namun likuifaksi terutama terjadi di darah Petobo yang menyebabkan ratusan rumah tertimbun lumpur hitam hingga tiga hingga lima meter meter. Tak lama setelah gempa, tanah di daerah ini berubah menjadi lumpur yang menyeret bangunan-bangunan di atasnya. Sementara di Balaroa, rumah-rumah amblas seperti terhisap ke tanah.

?Peneliti likuifaksi Geoteknologi LIPI, Adrin Tohari mengatakan, bagian tengah zona sesar Palu Koro dari Sigi ke Kota Palu tersusun oleh endapan sedimen berumur muda yang belum mengalami konsolidasi ataupemadatan sehingga sangat rentan mengalami likuifaksi jika terjadi gempa. “Jika ada gempa besar, daerah-daerahdi zona ini dapat mengalami amblesan lagi,” kata dia.

?Hal ini dikuatkan penelitian Mudrik Daryono, yang menemukan jejak likuifaksi dari bekas gempa-gempa di masa lalu di kawasan sekitar Palu – Sigi ini. Namun, temuan-temuan ini sebelumnya nyaris tak menjadi perhatian.

?Gempa dan tsunami yang sudah 19 kali melanda pesisir di Selat Sulawesi sejak tahun 1800, seharusnya membuka mata dan hati kita untuk menerima kenyataan bahwa di balik elok dan suburnya Kota Palu, terdapat risiko bencana yang harus diperhitungan dalam pembangunan kembali kota ini ke depan.

?Kematian ratusan korban jiwa kali ini tak boleh disiak-siakan. Petaka di pesisir Palu dan Donggala ini, harus menjadi momentum untuk perubahan pola bangunan, tata ruang, hingga sistem peringatan dini bencana di kota ini menjadi tangguh bencana. Tak hanya bagi Palu, kota-kota yang lain yang juga rentan harus disiapkan untuk menghadapi gempa dan tsunami yang bisa sewaktu-waktu datang.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 2 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: