Tiga Ilmuwan Kuantum Raih Penghargaan Nobel Fisika 2022

- Editor

Senin, 10 Oktober 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penghargaan Nobel Fisika tahun ini diraih oleh tiga ilmuwan yang diumumkan pada hari 4 Oktober 2022 oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia di Stockholm. Alain Aspect dari Prancis, John F. Clauser dari Amerika Serikat (AS), dan Anton Zeilinger dari Austria menerima hadiah 10 juta kronor Swedia atau sekitar Rp 13,9 miliar dengan bagian yang sama.

Mereka bertiga fokus pada penelitian mengenai quantum entanglement yang merupakan fenomena fisik saat subpartikel saling mempengaruhi walaupun dalam posisi yang sangat jauh. Einstein mengenalkan istilah lain “spooky action at a distance”.

Teori dan hasil temuan
Untuk memahami Quantum Entanglement dengan lebih mudah, bayangkan dua buah partikel atau sebut saja dua bola dengan jarak yang amat jauh namun dapat terhubung secara inheren. Ketika diberikan dua bola dengan warna putih dan hitam, kemudian kita menerima bola putih, kita akan berpikir kemungkinan bola lainnya berwarna hitam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, sifat setiap partikel tidak tetap sampai partikel tersebut diperiksa. Dalam skenario bola ini bisa jadi bola berwarna abu-abu sampai benar-benar diperiksa, di mana satu menjadi putih dan yang lain hitam.

Hal itulah yang kemudian diperdebatkan oleh para fisikawan, bahwa partikel mungkin memiliki beberapa informasi rahasia atau “variabel tersembunyi”, yang menentukan sifat mereka.

Pada awal 1960-an, fisikawan Irlandia Utara John Stewart Bell menemukan kemungkinan untuk menguji “variabel tersembunyi” dengan melakukan beberapa kali percobaan jenis tertentu dan melihat bagaimana hasilnya berkorelasi, sebuah teori yang memunculkan apa yang dikenal sebagai ketidaksetaraan Bell.

Terinspirasi dari berbagai teori yang dijelaskan, ketiga fisikawan tersebut akhirnya mengeksplorasi Quantum Entanglement yang melibatkan lebih dari dua partikel yang mengarah pada percobaan teleportasi kuantum. Teleportasi kuantum sendiri merupakan sebuah fenomena yang memungkinkan untuk memindahkan keadaan kuantum dari satu partikel ke partikel lainnya di kejauhan.

Dari serangkaian penelitian tersebut, Aspect, Clauser, dan Zeilinger dianggap telah membuka jalan bagi teknologi baru berdasarkan informasi kuantum ini. Efek mekanika kuantum yang sebelumnya sulit terjelaskan mulai menemukan aplikasinya, mencakup komputer kuantum, jaringan kuantum, dan komunikasi terenkripsi kuantum yang aman.

Profil
Alain Aspect adalah seorang fisikawan Prancis kelahiran tahun 1947 yang terkenal karena karya eksperimentalnya pada Quantum Entanglement. Aspect adalah lulusan École Normale Supérieur de Cachan (ENS Cachan). Kemudian ia melanjutkan gelar magisternya di École supérieure d’optique pada tahun 1969. Pada 1983 dan 2008 ia mendapat Gelar doktornya dari Université Paris-Sud dan Universités Heriot-Watt. Sebelum meraih penghargaan nobel tahun ini, Aspect pernah meraih sejumlah penghargaan lain, yaitu Medali Holweck (1991), Penghargaan Wolf dalam bidang fisika (2010), Medali Albert Einstein (2012), ForMemRS (2015), Penghargaan Nobel Fisika (2022).

John Francis lahir 1 Desember 1942 adalah seorang fisikawan teoretis dan eksperimental asal Amerika Serikat yang dikenal karena kontribusinya pada dasar-dasar mekanika kuantum, khususnya ketidaksetaraan Clauser Horne Shimony Holt (CHSH). Ia mendapatkan gelar sarjana sains di bidang fisika dari Caltech di tahun 1964, kemudian menerima Master of Arts bidang fisika pada tahun 1966 dan PhD fisika pada tahun 1969 dari Universitas Columbia. Penghargaan yang ia dapatkan ialah penghargaan Wolf bidang Fisika pada tahun 2010 bersama dengan Alain Aspect dan Anton Zeilinger. Ketiganya juga secara bersama-sama menerima Penghargaan Nobel Fisika pada tahun 2022.

Anton Zeilinger adalah fisikawan kuantum Austria kelahiran 20 Mei. Sebagian besar penelitiannya seputar aspek fundamental dan penerapan keterikatan kuantum. Pada tahun 2007, Zeilinger menerima Medali Perdana Isaac Newton dari Institut Fisika, London untuk “kontribusi konseptual dan eksperimental perintisnya terhadap dasar-dasar fisika kuantum, yang telah menjadi landasan untuk bidang informasi kuantum yang berkembang pesat”. Selain itu ia juga mendapatkan penghargaan lain seperti Penghargaan Klopsteg Memorial (2004), Penghargaan Wolf dalam bidang fisika (2010), dan Penghargaan Nobel Fisika (2022). Ia mendapatkan gelar PhD di Universitas Wina, Austria.

ZAHRANI JATI HIDAYAH | THE GUARDIAN | QUARTZ | REUTERS

Reporter magang_merdeka

Editor Erwin Prima

Sumber: Tempo.co, Rabu, 5 Oktober 2022

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 47 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB