Home / Berita / Tidak Ada Kata Terlambat untuk Membaca Buku

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Membaca Buku

Bacalah buku untuk kesenangan, bukan hanya pengetahuan. Niscaya ini akan melahirkan kegemaran. Akan lebih baik apabila memulainya dari sekarang.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Buku bacaan anak langka tersedia di rumah. Lewat program Buku Masuk Rumah, tiap rumah secara bergiliran bisa membaca beragam buku bacaan sesuai kebutuhan, termasuk buku anak. Anak-anak Desa Banjarsari, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak sabar menanti giliran buku baru yang tiba tiap dua minggu sekali. Mereka saling bertukar buku bacaan karena buku bacaan sudah dilahap dalam waktu singkat.

Tidak ada kata terlambat untuk membaca buku. Mulailah membaca untuk kesenangan diri sendiri dan lingkungan keluarga.

Baca buku menjadi topik diskusi Kompas Talks bersama Tanoto Foundation pada peringatan Hari Aksara Internasional, Selasa (8/9/2020). Perbincangan ini mengupas tentang ”Bentuk Kebiasaan Sejak Dini: Indonesia Cinta Membaca”.

Pendiri Taman Bacaan Pelangi, Nila Tanzil, menekankan pentingnya membaca sejak usia dini supaya timbul kecintaan kepada buku. Orangtua berperan penting dalam proses ini karena menjadi contoh bagi anak. ”Orangtua bacalah buku supaya anak ikut membaca. Anak ikut karena melihat orangtuanya membaca buku setiap hari,” ucap Nila.

Saran ini berkaca dari pengalaman pribadinya. Lingkungan tinggalnya membentuk kecintaan kepada buku. Ibunya rutin membacakan buku sebelum tidur, sementara ayahnya gemar membaca dan punya beragam koleksi buku.

KOMPAS/PRIYOMBODO—Siswa SD Muhammadiyah 11 Jakarta Timur mengerjakan tugas sekolah dari buku bacaan koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta, Selasa (18/2/2020). Kunjungan ke perpustakaan merupakan upaya edukasi untuk menumbuhkan minat baca bagi anak-anak di tengah ancaman pengunaan gawai secara berlebihan pada era teknologi seperti saat ini.

Sebisa mungkin bacalah buku untuk anak setiap hari pada jam yang sama. Misalnya sebelum tidur, setelah bangun tidur, atau sore hari. Rutinitas ini akan menjadi kebutuhan anak. Untuk orangtua yang sibuk, luangkan waktu membaca buku bersama sebelum tidur. Sempatkan pula mengajak anak ke toko buku atau hadiahkan buku. Apalagi, ada banyak kemudahan di era digital, seperti banyak buku versi digital hingga platform buku gratis.

Bacalah buku dengan ekspresif. Contohnya intonasi suara naik dan turun atau menirukan karakter tertentu. Ajaklah anak berbincang di sela-sela cerita tentang apa yang akan terjadi dengan karakter dalam bacaan. Seusai membaca pun tanyakan buku bercerita tentang apa, siapa karakternya, dan bagian mana yang paling disukai.

Hal tersebut untuk menggugah ketertarikan dan imajinasinya. Niscaya akan tumbuh benih-benih suka buku. ”Kalau tidak biasa membaca sejak usia dini, tidak ada kata terlambat. Mulailah membaca. Bantu anak supaya suka membaca. Belikan buku cerita yang sesuai usia anak atau topik yang sesuai minat,” katanya.

Para guru juga dapat menerapkannya supaya murid suka membaca. Guru dapat memulainya dengan ekspresif saat membaca buku. Bacaan menjadi lebih hidup sehingga murid penasaran untuk membaca sendiri. Di sisi lain, sekolah setidaknya punya pustakawan. Perannya berbeda di masing-masing sekolah. Bisanya untuk mengelola perpustakaan atau mengenali kemampuan membaca anak lewat rekomendasi buku bacaan.

KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDI—-Selain menyediakan tempat membaca di dalam ruangan, perpustakaan Baca di Halaman juga merancang ruang baca di teras. Pengunjung memanfaatkan waktu bersantai dengan membaca, baik buku konvensional maupun digital, di bawah naungan pohon rambutan yang rindang, Minggu (2/2/2020), di daerah CIlandak, Jakarta Selatan.

Indeks aktivitas literasi membaca di 34 provinsi pada 2018 berada dalam kategori aktivitas literasi rendah, yakni 37,32. Indeks tersebut tersusun dari dimensi kecakapan sebesar 75,92, dimensi akses sebesar 23,09, dimensi alternatif sebesar 40,49, dan dimensi budaya sebesar 28,50.

Data Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada April 2019 ini memberikan gambaran perlunya upaya serius agar akses terhadap bahan literasi di sekolah dan perpustakaan dapat lebih ditingkatkan.

Dari 34 provinsi, sembilan provinsi masuk dalam kategori aktivitas literasi sedang (40,01-60), 24 provinsi masuk kategori rendah (20,01-40), dan satu provinsi masuk kategori sangat rendah (0-20). Bahkan, tiga provinsi dengan indeks tertinggi, yaitu DKI Jakarta (58,16), Yogyakarta (56,20), dan Kepulauan Riau (54,76), belum mampu mencapai angka 60 untuk kategori tinggi.

Tantangan
Tantangan meningkatkan minat baca berbeda antara perkotaan dan perdesaan. Untuk perdesaan, kendalanya infrastruktur, jarak, biaya tinggi, dan mengubah pola pikir orangtua dan guru bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan tidak hanya belajar.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Suasana acara peluncuran dan bedah buku karya siswa di SMA Labschool Jakarta, Rabu (3/5).

Nila lewat Taman bacaan Pelangi berupaya mengenalkan membaca untuk kesenangan. Caranya menyediakan buku cerita, bukan hanya pelajaran, dan advokasi kepada kepala dinas pendidikan bahwa perpustakaan harus punya pustakawan serta ada mata pelajaran keperpustakaan satu jam per minggu untuk setiap kelas.

”Kerja sama membentuk ekosistem yang saling mendukung supaya anak jatuh cinta kepada buku,” ujarnya. Kerja sama ini penting karena akses buku belum merata ke daerah-daerah. Padahal, anak-anak antusias membaca buku kalau tersedia.

Taman bacaan Pelangi sebagai organisasi nonprofit berupaya menghadirkan perpustakaan ramah anak. Sejak 2009, mereka telah membangun 132 perpustakaan di 18 pulau dari Lombok sampai Papua, mendistribusi 226.000 buku, menjangkau 32.500 anak, dan melatih 2.000 guru lokal.

Fokusnya di Indonesia bagian timur karena kemampuan membaca rendah. Misalnya segi pemahaman bacaan sebesar 46 persen di Nusa Tenggara dan Papua. Jauh tertinggal dari Jawa dan Bali sebesar 78 persen.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU—Gerakan Literasi Sekolah belum didukung perpustakaan yang memadai, terutama dari tersedianya buku bacaan yang menarik dan kegiatan membaca. Perpustakaan di salah satu SD di Langgur, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku.

Salah satu upaya menimbuhkan kecintaan kepada buku melalui Kampanye Indonesia Cinta Membaca. Kampanye yang akan berlangsung hingga 22 Desember atau bertepatan dengan Hari Ibu itu menyasar orangtua dan anak usia 0-6 tahun. Akan ada siaran di Instagram, lokakarya, rekomendasi buku cerita, dan kampanye lewat komunitas dan tokoh masyarakat.

Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Samto menuturkan, upaya penurunan buta aksara tetap tidak boleh berhenti. Buta aksara berpengaruh pada aspek kehidupan lainnya, seperti produktivitas ekonomi, sosial, dan kemampuan literasi.

Selama lima tahun terakhir, tingkat penurunan buta aksara melambat. Ini karena lokasi penduduk masih buta aksara semakin terletak di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Di wilayah ini, gerakan berantas buta aksara terkendala minimnya sumber daya.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik, selama 2011-2019, persentase penduduk usia 15-59 tahun yang buta aksara terhadap total populasi terus turun. Pada 2011, persentasenya mencapai 4,63 persen. Adapun pada 2019 persentase turun menjadi 1,78 persen.

BERNARDUS KURNIAWAN FEBRYANTO ALLVITRO UNTUK KOMPAS—Perpustakaan SMKN 6 Jakarta, Melawai, Jakarta Selatan, Senin (18/9). Buku yang disediakan perpustakaan sekolah tersebut lebih banyak buku-buku pelajaran sehingga buku bacaan untuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS) harus dibeli oleh para siswanya.

Ada enam provinsi yang masih memiliki persentase penduduk usia 15-59 tahun yang buta huruf tergolong tinggi. Keenam provinsi itu adalah Papua (21,9 persen), Nusa Tenggara Barat (7,56 persen), Nusa Tenggara Timur (sekitar 4,6 persen), Sulawesi Selatan (4,22 persen), Sulawesi Barat (3,98 persen), dan Kalimantan Barat (sekitar 3,81 persen). Intervensi pemerintah akan fokus di enam provinsi tersebut.

”Kami memetakan per orang beserta tempat tinggalnya. Dari hasil pemetaan seperti ini dibanding mendekati tokoh adat langsung, kami harap pelatihan keaksaraan lebih tepat sasaran,” ujar Samto dalam taklimat media ”Hari Aksara Internasional Ke-55”, Jumat (4/9/2020), di Jakarta.

Oleh FRANSISKUS WISNU WARDHANA DANY

Editor: ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 8 September 2020

Share
x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: