Home / Berita / Buku Digital Melengkapi Akses Membaca Anak

Buku Digital Melengkapi Akses Membaca Anak

Teknologi digital memudahkan akses anak kepada buku. Hal itu perlu didukung dengan ketersediaan judul-judul buku yang berkualitas.

Keberadaan buku digital dapat menjadi alternatif akses membaca bagi anak. Selain efisien pembelian dan penyimpanan, konten bacaan dalam buku digital dapat dipersonalisasi sesuai minat anak.

Deputy Country Representative for The Asia Foundation di Indonesia, Hana A Satriyo, mengatakan, sepanjang layanan internet tersedia, sekolah dan keluarga anak bisa mengakses buku digital. Saat ini, aplikasi penyedia buku berwujud digital sudah banyak bermunculan. Di antara aplikasi tersebut bebas akses atau gratis.

Sebagai contoh, Let’s Read yang dikembangkan The Asia Foundation. Platform ini menyediakan aneka buku bacaan anak sesuai jenjang usia dengan berbagai macam bahasa. Menurut Hana, keberadaan buku digital itu telah terbukti meningkatkan minat anak membaca sampai 10 buku per bulan.

”Karena berbasis sistem teknologi informasi, jejak kebiasaan pengguna anak bisa terekam, bahkan judul buku yang populer disukai anak. Kami bisa mengalihbahasakan satu judul buku bacaan anak sampai belasan bahasa di dunia,” ujarnya dalam dialog interaktif ”Buku Digital, Wajah Masa Depan Pengetahuan”, Jumat (23/4/2021), di Jakarta. Dialog interaktif ini untuk memperingati Hari Buku Sedunia.

Menurut Hana, produksi buku bacaan anak digital tidak sederhana. Penyusunan buku harus melibatkan penulis, animator, pengembang teknologi, sampai kurator.

”Berdasarkan pengalaman, kami harus bekerja sama dengan lembaga atau badan bahasa dan universitas di daerah. Karena platform Let’s Read terbuka, kami mempunyai tanggung jawab besar agar kata-kata dalam buku sesuai konteks bahasa sasaran dan kebutuhan anak,” ujarnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, yang hadir dalam acara itu, mengatakan, kurasi penting bukan hanya untuk menghilangkan materi tidak pantas bagi anak, melainkan juga menjaga ketertarikan anak untuk tetap mau membaca.

Menurut dia, konsep perpustakaan digital yang digagas Kemendikbud mengandalkan mahadata kebiasaan pengunjung. Hasil analisis mahadata dijadikan landasan untuk memberikan umpan balik kepada penulis ataupun pengelola perpustakaan.

”Dengan teknologi digital, kami bisa mengetahui buku bacaan anak yang selalu disukai, mulai dari tema sampai penulisnya,” katanya.

Jumlah buku
Kepala Perpustakaan Nasional RI Muhammad Syarif Bando, secara terpisah, membenarkan bahwa saat ini sudah banyak aplikasi yang menawarkan penjualan buku bacaan anak secara fisik ataupun digital. Perpustakaan Nasional RI juga mempunyai aplikasi yang memudahkan layanan peminjaman buku bacaan anak.

Namun, isu kurangnya jumlah judul buku masih terjadi. Menurut dia, isu itu bukan hanya terjadi di kategori buku bacaan anak, melainkan secara keseluruhan. Total jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai sekitar 270,20 juta jiwa, sedangkan total bahan bacaan baru 22.318.083 eksemplar. Dengan demikian, rasio nasional ketersediaan buku yaitu 0,09. Padahal, standar UNESCO menyebutkan tiga buku baru untuk setiap orang per tahun.

”Kemudahaan akses kepada buku karena digital semestinya diikuti dengan ketersediaan jumlah buku berkualitas. Jika tidak, anak-anak tetap mengalami masalah literasi,” katanya.

Ketua Umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) Netty Herawati mengatakan, bersa Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku) untuk anak, pihaknya mengajak guru berani menulis buku untuk anak. Sumber materi penulisan dapat menyesuaikan dengan pengalaman sehari-hari anak.

Gernas Baku telah dirintis sejak 2018. Tujuan utamanya adalah guru dan orangtua mau berkomitmen membacakan hingga membiasakan membaca kepada anak sejak usia dini. Namun, tantangan gerakan terletak pada ketersediaan buku bacaan, baik fisik maupun digital.

”Gernas Baku akan kami sosialisasikan ke 34 provinsi. Bersamaan dengan sosialisasi itu, kami mengajak guru berani menulis buku. Kami harap ada 1.000 buku,” ujarnya.

Oleh MEDIANA

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 23 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: