Home / Berita / Berkembang, Gerakan Literasi Berbasis Masyarakat

Berkembang, Gerakan Literasi Berbasis Masyarakat

Gerakan literasi berbasis masyarakat terus berkembang di sejumlah daerah. Dukungan terhadap gerakan ini umumnya tumbuh dengan basis kesukarelawanan dan melibatkan masyarakat akar rumput.

Rumah Literasi Banyuwangi, misalnya, yang digagas sejumlah anak muda dari berbagai profesi, kini berkembang di sekitar 30 titik di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Para anak muda ini giat mengampanyekan gerakan literasi yang kemudian menginspirasi berbagai pihak untuk mendirikan gerakan serupa di komunitas mereka.

Pada akhir pekan lalu, di Banyuwangi, salah satu pendiri Rumah Literasi Banyuwangi, Ira Rachmawati, mengatakan, para relawan yang antara lain terdiri dari aktivis LSM, guru, jurnalis, pegawai, dan siswa bersama- sama rutin menggelar lapak buku gratis di tempat publik di Banyuwangi. Tempat-tempat tersebut seperti area pantai dan taman.

“Kami mendukung siapa pun yang juga mengampanyekan gerakan literasi. Mereka bisa berkontribusi dalam bentuk apa pun. Kerja ini merupakan gotong royong untuk mencerdaskan bangsa,” ujar Ira yang berprofesi sebagai jurnalis.

Salah satu relawan yang mengampanyekan gerakan literasi di daerah pesisir ialah Della Hermawan (17), siswa SMKN Glagah, Banyuwangi. Modal yang dimilikinya berupa buku-buku bacaan yang dipinjam dari perpustakaan sekolah dan jaringan Rumah Literasi Banyuwangi.

Della menggelar puluhan buku bacaan itu di warung ibunya yang lokasinya dekat dengan tempat kapal penyeberangan bersandar atau tak jauh dari Pelabuhan Ketapang. “Saya suka bercocok tanam dan membaca dari buku mengenai cara-cara bercocok tanam. Saya ingin anak-anak dan masyarakat juga bisa mendapatkan pengetahuan dari membaca buku,” kata Della yang mendirikan Rumah Baca Pesisir.

Taman bacaan masyarakat
Gerakan literasi berbasis masyarakat tumbuh subur pula melalui ribuan taman bacaan masyarakat (TBM) yang tersebar dari kota hingga pelosok. Sayangnya, di tengah berbagai TBM yang berkembang pesat, ada pula TBM yang “mati suri”.

Ariful Amir, pengurus Forum TBM yang juga pengurus Yayasan Nusa Membaca, mengatakan, TBM mendukung Gerakan Indonesia Membaca agar budaya baca tumbuh di semua kalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang tua. Pegiat TBM memiliki pengalaman untuk mengembangkan berbagai aktivitas menarik yang memanfaatkan buku sebagai sumber ilmu untuk pemberdayaan masyarakat.

Menyambut Hari Buku Sedunia pada 23 April, Rumah Dunia, yang didirikan oleh penulis Gol A Gong di Banten, menggelar berbagai kegiatan terkait literasi, antara lain lomba menulis cerpen untuk pelajar, lomba membuat poster, dan menggambar. Ada pula hibah buku kepada pengelola TBM. Selain itu, digelar pula peluncuran 32 buku dalam sehari.

Virginia Veryastuti, pengurus Forum TBM, mengatakan, dukungan untuk Gerakan Indonesia Membaca harus merupakan sinergi dari masyarakat, pegiat literasi, taman bacaan masyarakat, swasta, dan pemerintah. Diingatkannya pula, gerakan ini perlu bersifat berkelanjutan. Pada tahun ini, ada 31 kabupaten/kota yang mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca.(ELN)
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 April 2016, di halaman 11 dengan judul “Berkembang, Gerakan Literasi Berbasis Masyarakat”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: