Home / Berita / Terumbu Karang; Ekosistem Vital nan Rentan

Terumbu Karang; Ekosistem Vital nan Rentan

SAAT ini, 500 juta orang di dunia menggantungkan hidup pada terumbu karang sehat. Hebat? Belum. Sebab, peran terumbu karang bagi kehidupan manusia diyakini masih jauh lebih besar dari yang manusia pahami kini. Namun, itu semua bergantung pada perilaku manusia.

Lalu, apa sebenarnya terumbu karang? Tahun 1846, geolog Joseph Jukes mencatat kesan tentang terumbu karang ketika kapalnya lego jangkar di lepas pantai Pulau Lady Elliot, di selatan gugusan karang besar Australia, Great Barrier Reef. Ia menulis, ”Warna-warni tiada bandingannya—hijau cerah, kontras dengan warna coklat dan kuning yang lebih suram, diselingi bermacam nuansa ungu, mulai dari merah muda pucat sampai biru tua. Di antara cabang-cabang karang, seperti burung di antara pepohonan, hidup berbagai jenis ikan yang indah berkilau… fantastis” (Terumbu Karang dan Perubahan Iklim, diadaptasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2011).

Terumbu karang adalah hamparan organisme di dasar laut atau pantai yang secara visual didominasi karang, yang sebenarnya hewan laut. Karang itu inang alga menyerupai tumbuhan (zooxanthellae) yang saling menguntungkan. Hubungan keduanya memungkinkan karang memanfaatkan cahaya matahari untuk tumbuh layaknya tumbuhan.

Bersimbiosis terus-menerus dilimpahi pakan siang-malam membuat karang terus tumbuh menghasilkan struktur kerangka keras kalsium karbonat (CaCO3). Cara hidup itulah yang kemudian membentuk terumbu.

Ada syarat terumbu karang tumbuh optimal, di antaranya perairan berlimpah makanan (plankton), suhu perairan yang pas, salinitas (kadar keasinan) 35-36 per mil, keasaman 8,2, hingga kejernihan air yang membuat cahaya matahari leluasa sampai ke dasar pantai.

Kenaikan suhu air sangat berbahaya. ”Jika ada kenaikan suhu 2-3 derajat celsius enam pekan, karang menderita,” kata Suharsono, peneliti senior pada Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

10305736hTerumbu karang sehat adalah rumah ideal beraneka jenis ikan karang dan ikan hias bernilai ekonomi tinggi. Dari 34 filum (cabang) hewan, 32 di antaranya ada di terumbu karang. Terumbu karang juga diperkirakan menyokong 1 juta-9 juta spesies, di mana kurang dari 10 persen yang teridentifikasi dan dideskripsi secara taksonomis.

Terumbu karang, yang 100 kali lebih produktif dari laut sekelilingnya, juga memasok 9 juta dari 75 juta ton ikan laut tangkapan komersial dunia.

Di dunia, gugusan karang Great Barrier Reef dikenal kaya ragam karang dan ikan. Namun, belum seberapa dibandingkan kekayaan di kawasan Segitiga Terumbu Karang, yang meliputi area Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
Kondisi Indonesia

Luasan terumbu karang dunia memang kurang dari 0,1 persen permukaan bumi. Namun, itu rumah bagi 25 persen ikan di laut. Artinya, sumber protein melimpah bagi masyarakat pesisir, yang di Indonesia identik dengan kemiskinan.

Sebagai gambaran, di perairan Raja Ampat, Papua Barat, salah satu lokasi penyelaman paling diidamkan di dunia, telah diidentifikasi 535 spesies karang. Jumlah itu setara dengan dua pertiga dari seluruh jenis karang yang dikenal dunia!

Data The Nature Conservancy (TNC), dari sekali menyelam di Raja Ampat, tercatat 283 spesies ikan berbeda. Atas temuan itu, wilayah tersebut disebut sebagai ekosistem unik dengan jumlah jenis karang dan ikan sangat banyak: gudang biologis paling berharga di bumi.

Secara keseluruhan, luas terumbu karang Indonesia 2,5 juta hektar atau hampir 20 persen total terumbu karang dunia. Biodiversitasnya sangat tinggi, lebih dari 590 jenis karang dan 280 jenis ikan. Itu belum termasuk jenis moluska hingga alga, yang dengan sentuhan teknologi sangat berpotensi menjadi berbagai materi yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Sayangnya, keberadaan terumbu karang berpacu dengan kerusakan alam, perubahan iklim, dan ulah manusia. Perbaikan belum terlambat, yakni mengubah perilaku lebih ramah, khususnya pada lingkungan laut.

Ancaman lingkungan
Secara alami, kenaikan suhu badan air membuat hewan karang dan alga simbionnya, zooxanthellae, stres dan mati. Secara global, suhu air laut cenderung terus meningkat sebagai dampak perubahan iklim.

Di Indonesia, itu diperparah kerusakan di darat yang menambah tekanan pada ekosistem terumbu karang. Contohnya, sedimentasi akibat penggundulan hutan, sampah, dan pertambangan.

Lumpur sedimen menutup badan karang sehingga karang dan zooxanthellae tak bisa bernapas dan berfotosintesis. Salah satunya dibuktikan LIPI yang menunjukkan tutupan terumbu karang di Lingga Pulau Kongka (barat Sumatera) sejak 2006 hingga 2011 berkurang 40 persen akibat pertambangan bijih bauksit di darat.

”Sepanjang kondisi perairan baik, karang pulih alami. Jika rusak karena manusia, susah hidup,” kata Giyanto, pakar terumbu karang LIPI yang mengerjakan laporan pemantauan terumbu karang (Coremap).

Dampak lain, tingginya emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer memicu proses kimia yang menyebabkan pengasaman air laut. Pengasaman itu merusak jejaring makanan di lautan.

Perairan asam menyebabkan berbagai fauna bercangkang, mulai fitoplankton dan zooplankton hingga kerang, udang/lobster, kepiting, dan karang memiliki struktur cangkang rapuh.

Gangguan terus mendera. Praktik peledakan bom hingga penambangan karang belum dapat dihentikan. Menyelami perairan di Indonesia, patahan dan serpihan karang jamak ditemui. Untuk memulihkan butuh waktu puluhan hingga ratusan tahun.

Berbagai literatur menyebut, demi tumbuh 1 sentimeter saja, karang bercabang (akropora) butuh waktu setahun. Sementara karang otak atau karang batu, periode pertumbuhannya jauh lebih lambat!

Mengingat penting dan vital, sekaligus kerentanan terumbu karang, 13-17 Mei 2014, Indonesia menggelar Konferensi Terumbu Karang Dunia di Manado, Sulawesi Utara. Lebih dari 100 negara diharapkan hadir membahas keberlanjutan masa depan terumbu karang dunia.

Oleh: Ichwan Susanto

Sumber: Kompas, 16 Mei 2014

————–

KERJA SAMA ANTARNEGARA
Segitiga Terumbu Karang Sambut Brunei

Pertemuan setingkat menteri oleh enam negara pendiri Inisiatif Terumbu Karang Dunia, Kamis (15/5), di Manado, Sulawesi Utara, menerima Brunei sebagai anggota baru. Perluasan kerja sama itu diharapkan memperluas dan meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya perlindungan ekosistem dan sumber daya perairan dunia.

”Para menteri mengesahkan beberapa langkah terakhir dalam proses pengakuan Brunei sebagai anggota baru CTI-CFF (Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security), yang tadi hadir masih sebagai pengamat,” kata Ewon Ebin, Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Kamis sore, pada konferensi pers seusai memimpin pertemuan itu. Ketua mendatang dipegang menteri dari Papua Niugini.

Pihak Brunei diwakili Pehin Dato Yahya (Menteri Industri dan Sumber Daya Utama/Minister of Industry and Primary Resources). Namun, ia tak ikut dalam konferensi pers.

Ewon Ebin mengatakan, keanggotaan CTI-CFF bersifat terbuka bagi negara lain, seperti negara-negara di kepulauan Pasifik yang juga memiliki terumbu karang. Mengikuti organisasi regional ini, setiap anggota akan mendapat perhatian dan peningkatan kapasitas melalui program-program CTI-CFF.

Sementara itu, dalam pertemuan setingkat menteri yang berlangsung setengah jam kemarin juga diumumkan terbentuknya kelembagaan regional CTI-CFF yang bermarkas di Manado. Menurut rencana, sekretariat CTI-CFF itu akan diresmikan Wakil Presiden Boediono.

Inisiatif Terumbu Karang itu dicetuskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan menghimpun enam pemimpin negara dalam Coral Triangle Initiative tahun 2009 di Manado. Enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Niugini, dan Kepulauan Solomon, menandatangani ide itu. Seiring perjalanan, nama CTI berubah menjadi CTI-CFF.

Negara-negara itu menyepakati pembentukan kelembagaan CTI-CFF ditandai ratifikasi minimal empat negara. Kepulauan Solomon menjadi negara keempat peratifikasi setelah Malaysia, Indonesia, dan Timor Leste.

Direktur eksekutif yang akan memimpin Sekretariat CTI-CFF masih diseleksi. Menurut Sudirman Saad, Executive Secretary National Coordinating Committee dari Indonesia, ada dua nama calon direktur eksekutif. Mereka adalah Prof Widi Agoes Praktikto (mantan dirjen di KKP dan Sekjen D8 di Turki, serta Guru Besar ITS) dan Prof Nur Aini (guru besar di Malaysia). (ICH/ZAL)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: