Home / Berita / Terumbu Karang; Pertumbuhan 3-4 Persen Per Tahun

Terumbu Karang; Pertumbuhan 3-4 Persen Per Tahun

Berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, tutupan karang di perairan Indonesia mengalami pemulihan 3-4 persen per tahun. Data itu berdasarkan pengamatan kegiatan Coremap yang dibiayai Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia di semua areal utama ekosistem terumbu karang Indonesia seluas 2,5 juta hektar.

Lokasi-lokasi itu diklaim mewakili 30 persen lokasi terumbu karang di Indonesia. Terumbu karang di wilayah hangat/tropis yang rusak oleh alam relatif mudah pulih. ”Hanya butuh waktu 7-8 tahun,” kata peneliti senior P2O LIPI, Suharsono, di Jakarta, Kamis (17/4). Hal itu mengacu penelitiannya di terumbu karang Kepulauan Banda yang disapu lahar letusan tahun 1988.

Kondisi berbeda jika kerusakan disebabkan ulah manusia, seperti penangkapan ikan menggunakan bom atau pencemaran laut. Itu merusak komposisi biokimia air laut secara masif.

Menurut Suharsono, kondisi tutupan terumbu karang di 1.135 stasiun pengamatan menunjukkan 30,4 persen rusak, cukup baik 37,18 persen, baik 27,14 persen, dan sangat baik 5,29 persen. Terumbu karang dikategorikan sangat baik jika tutupannya lebih dari 75 persen. Buruk jika tutupan kurang dari 24 persen.

Lokasi di 8 kabupaten/kota, seperti sepanjang pantai barat dan pantai timur Sumatera 2004-2011, mengalami penambahan tutupan karang rata-rata 4 persen setahun. Penurunan tutupan karang di pantai barat Sumatera ada di Laehuwa Tuhemberua (Nias), Pulau Mansalar dan Poncan (Tapanuli Tengah), serta Sipora dan Siberut (Mentawai) karena tsunami 2004.

Di pantai timur Sumatera, penurunan tutupan terjadi di Pulau Kongka (Lingga) dan Pulau Karas (Batam). Di Pulau Kongka terganggu pertambangan bijih bauksit, sedangkan di Batam terganggu aktivitas manusia.

Sementara itu, di lokasi tengah dan timur yang meliputi 7 kabupaten/kota periode 2006-2011 mengalami penambahan tutupan karang rata-rata 3 persen setahun. Penurunan luas tutupan terjadi di Biak Numfor, Papua, karena terjangan badai (2009) dan pemutihan (2010).

Giyanto, peneliti terumbu karang juga dari P2O LIPI, mengatakan, kondisi terumbu karang di Indonesia membaik sejak 1993. Ia mengimbau penghentian penangkapan ikan menggunakan bom dan meminimalkan pencemaran di laut.

Sementara itu, peneliti pada Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Deny Hidayati, menunjukkan, lokasi-lokasi dengan kondisi terumbu karang mengalami perbaikan turut meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebab, populasi ikan pada ekosistem terumbu karang juga meningkat. ”Paling penting, meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga karang karena berdampak langsung pada ekonominya,” ujarnya. (ICH)

Sumber: Kompas, 19 April 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: