Pemutihan Karang Juga Terjadi di Lapisan Dalam

- Editor

Senin, 10 September 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa pemutihan karang massal pada 2016 di Great Barrier Reef tidak terbatas pada kedalaman yang dangkal, tetapi juga berdampak pada terumbu karang yang tinggal dalam, di kedalaman sekitar 10-40 meter di bawah permukaan air laut.

Meskipun karang dalam sering dianggap sebagai tempat perlindungan dari anomali termal perairan laut, penelitian baru menyoroti keterbatasan peran ini dan berpendapat bahwa karang dangkal dan karang dalam sama-sama berada di bawah ancaman pemutihan massal.

Penelitian berjudul Deep reefs of the Great Barrier Reef Offer Limited Thermal Refuge During Mass Coral Bleaching ini diterbitkan pada 4 September 2018 di jurnal Nature Communications. Riset Pedro R Frade dari Centre of Marine Sciences, University of Algarve, Portugal dan kawan-kawannya ini berfokus pada acara pemutihan massal pada tahun 2016 yang menyebabkan kematian 30 persen karang dangkal di Great Barrier Reef, Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Peneliti P2O LIPI Mohammad Abrar mengamati terumbu karang saat penyelaman bersama tim Ekspedisi Terumbu Karang Harian Kompas di titik penyelaman NHR02 di sekitar Pulau Babua, Jailolo, Halmahera Barat, Kamis (27/7/2017).

“Selama masa pemutihan, umbalan (upwelling) air dingin pada awalnya memberikan kondisi yang lebih dingin di terumbu dalam,” kata rekan penulis studi, Pim Bongaerts, kurator zoologi invertebrata dan Hope for Reefs co-leader di California Academy of Sciences. Namun, lanjutnya, ketika upwelling ini berhenti menjelang akhir musim panas, suhu naik ke tingkat rekor tinggi bahkan di kedalaman.

Frade mengatakan, tim peneliti terkejut menemukan koloni karang yang memutih hingga kedalaman 40 meter di bawah permukaan laut. “Sungguh mengejutkan melihat bahwa dampaknya meluas ke terumbu karang yang remang-remang ini (perairan berwarna biru karena keterbatasan penetrasi cahaya matahari), karena kami berharap kedalamannya mungkin telah memberikan perlindungan dari peristiwa yang menghancurkan ini,” kata dia.

The Great Barrier Reef dikenal memiliki banyak area terumbu karang dalam yang sangat sulit untuk dipelajari. Menggunakan kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROVs), tim mengerahkan sensor ke 100 meter di bawah permukaan samudra untuk mengenali kondisi suhu pada kedalaman berbeda dari yang ada di habitat dangkal.

JURNAL PENELITIAN–Sebuah grafis menunjukkan jenis spesies terumbu karang, kedalaman, dan kondisi kesehatan karang. Grafis ini ada pada jurnal Nature Communications dengan judul Deep reefs of the Great Barrier Reef Offer Limited Thermal Refuge During Mass Coral Bleaching.

Sebuah tim penyelam kemudian melakukan survei selama puncak pemutihan di sejumlah situs pengamatan di Great Barrier Reef utara. Mereka mencatat pemutihan dan mortalitas terjadi pada hampir seperempat koral titik-titik pengambilan sampel di laut yang dalam. Ini melengkapi laporan sebelumnya tentang dampak pemutihan yang dialami hampir setengah karang yang lebih dangkal.

“Penelitian ini menggarisbawahi kerentanan Great Barrier Reef,” kata Dr Ove Hoegh-Guldberg dari The University of Queensland, tempat penelitian ini dilakukan. “Kami sudah menetapkan bahwa pengungsian karang dalam umumnya dibatasi oleh spesies yang overlap dengan karang dangkal. Namun, ini menambah pembatasan tambahan dengan menunjukkan bahwa terumbu dalam sendiri juga dipengaruhi oleh suhu air yang lebih tinggi,” kata dia.

Penelitian ini masih akan dilanjutkan terkait pemulihan alam yang terjadi. Mereka ingin membandingkan perbedaan pemulihan pada terumbu karang di kedalaman dan terumbu karang di perairan dangkal.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 8 September 2018

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB