Pola Makan Karang Bantu Hadapi Penghangatan Laut

- Editor

Jumat, 17 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski pada akhirnya semua karang bakal memutih, ada kelompok karang yang mampu bertahan lebih lama dari proses pemutihan akibat penghangatan laut. Ini hasil penelitian dari The University of Hong Kong.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Penyelam mengidentifikasi kondisi beserta kelimpahan karang dan ikan pada sekitar Pulau Hatta di Banda Naira, Maluku Tengah, Selasa (5/11/2019). Kondisi karang di Pulau Hatta sebagai kontrol atau pembanding dari kondisi pada perairan di Taman Wisata Perairan Laut Banda Naira serta Kawasan Konservasi Perairan Ay dan Rhun. Kegiatan dari Coral Triangle Center ini juga menyurvei kondisi sosial-ekonomi masyarakat setempat. Gubernur Maluku sejak tahun 2016 mencadangkan Kawasan Konservasi Perairan Ay dan Rhun seluas total 47.968,74 ha.

Para peneliti di School of Biological Sciences and Swire Institute of Marine Science, The University of Hong Kong, berhasil membangun sebuah metode baru untuk menentukan apa yang karang makan dan menunjukkan ketergantungan pada sumber-sumber nutrisi tertentu untuk menghadapi tantangan pemutihan (bleaching) yang terjadi akibat penghangatan laut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advanes, ini disebut-sebut memecahkan teka-teki yang dihadapi ilmuwan selama beberapa dekade. Teka-teki tersebut yaitu menentukan pola makan (diet) karang dengan mengukur jumlah mangsa yang ditangkap dengan tentakel penyengat serta berapa banyak makanan yang disediakan oleh ganggang fotosintesis di dalam sel mereka.

Dalam publikasi resmi pada situs University of Hong Kong, dijelaskan, tim peneliti tersebut dipimpin Inga Conti-Jerpe. Mereka membandingkan ratusan “sidik jari” isotop karang yang stabil yang dikumpulkan di Hong Kong, lengkap dengan ganggang yang berasosiasi dengan karang.

Hasilnya menunjukkan sejumlah karang memiliki sidik jari isotop yang cocok dengan ganggangnya. Ini mengindikasikan keduanya berbagi nutrien. Karang lainnya memiliki sidik jari berbeda dari alganya. Ini menunjukkan pola makan keduanya berbeda yang didasarkan pada partikel mangsa yang tertangkap dan dikonsumi.

Para peneliti menemukan bahwa semakin karang predator memiliki polip (individu karang) berukuran besar maka karang lebih tergantung pada proses fotosintesis, sebuah relasi yang sebelumnya kontroversial saat pertama kali diungkap tahun 1974.

“Kami menjadi tahu bahwa ukuran polip adalah faktor yang menyebabkan luas permukaan terhadap rasio volume karang, suatu sifat yang telah diamati ilmuwan lain ini mungkin dapat dikaitkan dengan pelambatan pemutihan (bleaching) karang di lapangan,” kata Conti-Jerpe.

Mereka akhirnya menjalankan ujicoba penghangatan pada karang di Hong Kong. Para peneliti ingin memastikan keakuratan diet karang dapat memperkirakan waktu yang tersedia bagi karang untuk dapat bertahan pada suhu tinggi tanpa mengalami pemutihan.

Hasil-hasil ini memiliki implikasi bagaimana terumbu karang akan berubah ketika perubahan iklim berlangsung. Karang yang bergantung pada fotosintesis lebih cepat memutih sedangkan karang predator dapat menahan suhu pemanasan lebih lama.

“Hasil penelitian kami membantu memprediksi spesies karang mana yang lebih mungkin bertahan hidup ketika lautan hangat. Sayangnya, yang kami temukan adalah bahwa spesies yang paling rentan adalah spesies yang biasa digunakan dalam upaya restorasi terumbu karang. Untuk memastikan keberhasilan jangka panjang dari rehabilitasi terumbu, inisiatif restorasi harus mengalihkan fokus mereka ke spesies yang tahan terhadap pemutihan,” kata David Baker, Associate Professor School of Biological Sciences dan Swire Institute of Marine Science yang mengawasi penelitian ini.

Pemutihan karang sulit dihindari
Di sisi lain, meski nutrisi karang predator dapat memberi perlindungan dari pemutihan, para ilmuwan mencatat bahwa dengan suhu tinggi yang berkelanjutan semua spesies dalam penelitian akhirnya memutih. “Strategi” karang itu hanya memberi sedikit waktu bagi karang untuk bertahan.

“Menangkap banyak makanan tidak menyelamatkan karang dari pemutihan,” jelas Conti-Jerpe.

Temuan penelitian ini akan membantu para ilmuwan, konservasionis dan pembuat kebijakan mengantisipasi jenis karang yang akan menghilang lebih dulu dan bagaimana ini akan mengubah ekosistem terumbu secara keseluruhan, termasuk layanan yang mereka berikan.

SATYA WINNIE UNTUK KOMPAS–Keindahan hamparan terumbu karang dan ikan-ikan di lepas pantai Pulau Lihaga, Likupang Barat, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (28/11/2019).

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 17 April 2020

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 34 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB