Home / Berita / Terumbu Karang Rusak

Terumbu Karang Rusak

Dari Seluas 2,5 Juta Hektar, Hanya 6,39 Persen yang dalam Kondisi Sangat Baik
Tutupan terumbu karang di Indonesia sepanjang 2016 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penyebabnya, selain karena ulah manusia secara langsung, juga karena pemanasan global. Tren ini cenderung terjadi sejak 2013 dengan kecenderungan serupa terjadi di sejumlah negara lain.

Sebagian hal tersebut disampaikan dalam pemaparan status terumbu karang Indonesia terkini di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Rabu (7/6). Laporan itu disusun berdasarkan hasil verifikasi dan analisis data dari 1.064 stasiun pemantauan di 108 lokasi perairan Indonesia.

Laporan tersebut menyimpulkan, dari sekitar 2,5 juta hektar luas terumbu karang di Indonesia, hanya 6,39 persen terumbu karang berada dalam kondisi sangat baik, 23,40 persen dalam kondisi baik, 35,06 persen dalam kondisi cukup, dan 35,15 persen berada dalam kondisi jelek. Pengukuran didasarkan pada persentase tutupan karang hidup, yaitu kategori sangat baik (76-100 persen), baik (51-75 persen), cukup (26-50 persen), dan jelek (0-25 persen).

Profesor riset bidang biologi laut Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI, Suharsono, dalam paparan tersebut menjelaskan, tren penurunan juga terjadi di sejumlah negara lain. Beberapa di antaranya Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Bahkan tercatat, kerusakan karang akibat pemutihan di Great Barrier Reef Australia mencapai dua pertiga luasannya.

Suharsono menyebutkan, terdapat sejumlah akar penyebab kerusakan terumbu karang. Sejumlah akar penyebab itu adalah rendahnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap nilai penting terumbu karang, kemiskinan, keserakahan, kelemahan penegakan hukum, kurangnya kapasitas dan kapabilitas pengelola kawasan, perubahan iklim, serta peningkatan pencemaran.

Penyebab utama
Adapun penyebab utama kerusakan karang adalah pemakaian alat tangkap yang merusak, peningkatan pencemaran, serta pemanasan global yang memicu pemutihan karang dan diikuti penyakit dan hama karang. Akibat kematian karang, berbagai biota penghuni karang yang bersimbiosis dengan karang ikut menghilang, termasuk ikan komersial, kerapu.

Menurut Suharsono, frekuensi pemutihan karang yang cenderung semakin rapat dalam beberapa waktu terakhir dapat menambah potensi ancaman pada kondisi terumbu karang. Ini menyusul relatif sedikit atau bahkan tiadanya waktu bagi proses pemulihan terumbu karang setelah terkena fenomena pemutihan.

Ia memaparkan, sejauh ini pemutihan karang pernah berlangsung pada 1983 dengan 90 persen kematian karang di wilayah Laut China Selatan, Selat Sunda, Laut Jawa, Bali, dan Lombok. Lalu, pada November 1997 hingga Februari 1998 dengan 80 persen kematian karang di Sumatera Barat, Laut China Selatan, Jawa, Bali, dan Lombok.

Selanjutnya pada 2010, dengan luas terdampak kematian karang sebesar 30 persen. Peristiwa sepanjang April-Juni itu terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bali, Lombok, dan Wakatobi.

Adapun mengenai padang lamun di Indonesia yang luasnya, berdasarkan verifikasi LIPI, mencapai 1.507 kilometer persegi rentan terhadap pengaruh sedimentasi. Udhi E Hernawan, peneliti P2O LIPI, mengatakan, Luruhan erosi daratan yang membawa nutrien itu lebih cepat diserap alga dan rumput laut. Akhirnya, pertumbuhan alga yang lebih cepat ini mengalahkan lamun. “Sedimentasi membuat keruh perairan dan menghalangi sinar matahari (untuk fotosintesis lamun),” katanya.

Indonesia kini memiliki 15 spesies dari 69 spesies lamun di dunia. Ekosistem ini menjadi habitat bagi mamalia duyung serta tempat mencari makan bagi penyu dan berbagai jenis ikan serta aneka hewan lunak.

Kepala P2O LIPI Dirhamsyah pada kesempatan yang sama menyampaikan, pemaparan status terumbu karang dan padang lamun di Indonesia itu sejalan dengan kebijakan satu peta (one map policy) Badan Informasi Geospasial (BIG). Ini menyusul dengan telah ditetapkannya P2O LIPI sebagai wali data terumbu karang dan padang lamun Indonesia sejak Desember 2015 oleh BIG.

Deputi Bidang Informasi Geospasial Tematik BIG Nurwadjedi menyebutkan, status terumbu karang dan padang lamun Indonesia bakal digunakan untuk menyusun zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. “Karena, sampai hari ini belum ada. (Ini membuat) prihatin, padahal (zonasi) penting untuk mengelola sumber daya alam,” katanya.(ICH/INK)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Juni 2017, di halaman 14 dengan judul “Terumbu Karang Rusak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: