Pemutihan Terumbu Karang Terus Meluas

- Editor

Jumat, 20 Januari 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemutihan karang melanda sekitar dua pertiga terumbu karang di Indonesia sepanjang tahun 2016. Kombinasi El Nino dan pemanasan global penyebab utamanya, selain faktor antropogenik rusaknya kawasan perairan.

“Kawasan terbanyak pemutihan karang adalah Nusa Tenggara, Bali, dan selatan Jawa. Juga di barat Sumatera, seperti Mentawai, Nias, Tapanuli Tengah, serta perairan Sulawesi dan Kalimantan,” kata M Abrar, peneliti terumbu karang pada Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Jakarta, Jumat (20/1). Mayoritas karang itu kemudian mati.

Pemantauan di beberapa lokasi, kata Abrar, terjadi penurunan tutupan karang 10-40 persen. “Terjadi hampir di semua kedalaman. Bahkan, sampai kedalaman 25 meter,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seperti dilaporkan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu Bumi tahun 2015 dan 2016 mencapai kenaikan tertinggi, yaitu 1,1 derajat celsius dibandingkan periode prarevolusi industri (1850- 1899). Itu diikuti kenaikan suhu air laut. “Pemutihan hingga kedalaman 25 meter menunjukkan kenaikan suhu ekstrem di laut tak hanya permukaan,” ujarnya.

Sejumlah penelitian menyebutkan, terumbu karang sensitif perubahan lingkungan dan suhu air. Pemutihan karang menandai hilangnya alga simbiotiknya, zooxanthellae. Tanpa pigmen warna itu, karang tak bisa hidup lama.

Karang cenderung memutih jika suhu meningkat tajam dalam waktu singkat atau meningkat perlahan-lahan. Perubahan salinitas tiba-tiba, kekurangan cahaya lama, dan penyakit juga bisa menyebabkan kematian karang.

Semakin intens
Ketua Kelompok Kebijakan Perubahan Iklim Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Anastasia Kuswardhani mengatakan, laporan terjadinya pemutihan karang sepanjang tahun 2016 memang banyak. “Kami masih mengkaji karena perubahan iklim atau lebih faktor antropogenik atau kerusakan lingkungan lokal,” kata dia.

Pemantauan perubahan suhu laut di lokasi pemutihan karang belum ada dalam rentang waktu panjang. “Pendataan baru dilakukan sehingga sulit menyimpulkan apakah ini dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Baru-baru ini, Australia melaporkan pemutihan koral hingga 93 persen di Great Barrier Reef, ekosistem koral terluas di dunia, 300.000 kilometer persegi yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. “Perairan Australia lebih rentan terdampak perubahan iklim. Di Indonesia memang ada tren kenaikan suhu air laut, tetapi lebih stabil dibandingkan negara lain, seperti Australia,” kata Anastasia.

Menurut Anastasia, penyebab pemutihan terumbu karang tak hanya perubahan suhu, tetapi banyak faktor manusia, seperti sedimentasi, polusi, dan penangkapan ikan dengan bahan peledak. Di Raja Ampat, Papua Barat, keragaman terumbu karang terkaya di dunia selamat dari pemutihan tahun 2016.

Koordinator Program Pengawasan dan Evaluasi The Nature Conservancy Raja Ampat Awaludinnoer mengatakan, “Raja Ampat memang dapat dua kali peringatan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) tentang ancaman pemutihan karang. Namun, tak terjadi. Saya kira faktor pengelolaan lingkungan turut menyelamatkan di Raja Ampat,” tuturnya.

Meski demikian, tren kenaikan suhu perairan tetap bisa berdampak di Raja Ampat. “Ada kecenderungan pemutihan karang di Indonesia kian sering dan meluas,” ujarnya. (AIK)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Januari 2017, di halaman 14 dengan judul “Pemutihan Terumbu Karang Terus Meluas”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 5 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB