Tempe Tingkatkan Kekebalan Pencernaan

- Editor

Sabtu, 29 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Makan tempe ternyata amat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan mikroorganisme probiotik dalam tempe mendorong pembentukan imunoglobulin A. Bakteri kebal utama itu melindungi saluran pencernaan dari mikroba dan virus penyakit.

Selain itu, makan tempe juga membantu mengurangi berat badan karena bahan pangan tersebut berperan sebagai suplemen diet. Produksi imunoglobulin A (IgA) secara teratur menghabiskan energi sehingga membantu mengurangi berat badan.

Susan Soka memaparkan hal itu saat mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka doktoral di Institut Pertanian Bogor, Kamis (27/11). Disertasinya berjudul ”Pengaruh Suplementasi Tempe terhadap Profil Mikrobiota Usus dan Imunoglobulin A pa- da Tikus Sprague Dawley (SD)”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Disertasi itu disusun berdasarkan percobaan pada 30 tikus SD betina yang dibagi dalam enam kelompok. Tiap kelompok mendapat perlakuan berbeda dalam pemberian pakan, terutama pada kandungan protein bubuk tempe. Dalam riset itu, tempe yang dipakai diperoleh dari penjual di Empang dan Warung Jambu, Kota Bogor. Tempe itu dikukus selama 10 menit dan dihaluskan sebelum diberikan pada tikus dalam percobaan 28 hari.

Siap tempur
Menurut Susan, tikus yang diberi pakan yang mengandung bubuk tempe lebih banyak memiliki sistem kekebalan tubuh lebih baik. Pada dinding usus, tumbuh mikrobiota IgA. Selain sebagai pelindung dinding usus, bakteri IgA ibarat pasukan siap tempur. Saat ada bakteri perusak atau patogen masuk dan menyerang sistem pencernaan, bakteri IgA langsung maju berperang.

Kandungan mikroorganisme pemicu pembentukan bakteri IgA itu menunjukkan, tempe dapat jadi bahan makanan terbaik bagi bayi dan anak-anak. ”Sistem kekebalan tubuh akan prima,” kata dosen Fakultas Bioteknologi Universitas Katolik Atma Jaya, meraih gelar sarjana kimia dan master biokimia dari Universitas Katolik Leuven, Belgia, itu.

Penguji terbuka guru besar IPB Prof Dr Made Astawan dan Achmad Dinoto, PhD dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyarankan ada riset lanjutan manfaat tempe terhadap mamalia, primata, bahkan manusia. Perlu diyakinkan, apakah kandungan protein atau karbohidrat dalam tempe yang memicu pembentukan bakteri IgA.

Tim promotor, Prof Dr Antonius Suwanto, Prof drh Dondin Sajuthi, PhD, dan Dr Iman Rusmana, juga meminta Susan terus meneliti manfaat tempe.

Prof FG Winarno, guru besar IPB dan penggagas gerakan makan tempe, mengatakan, tempe adalah warisan teknologi pangan terpenting bagi dunia dari Indonesia. Tempe tak sekadar enak dan bergizi, tetapi juga menyehatkan. Beberapa peneliti internasional pernah membuktikan, di dalam tempe ada antibiotik dan berbagai vitamin. (BRO)

Sumber: Kompas, 29 November 2014

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB