Taman Nasional Gunung Leuser Aset yang Masih Tidur

- Editor

Senin, 27 September 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh Tenggara, beberapa waktu terakhir ini kembali menjadi bahan pembicaraan. Pasalnya, belum lama ini Gunung Leuser nyaris memperangkap empat mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang melakukan pendakian ke taman nasional ini.

Gunung Leuser memang terkenal `angker’ dengan medan yang ganas bagi para pendaki. Lalu di kaki Leuser ini juga mengalir KruengTripa dan Lawe Alas yang diminati para pecinta arung jeram karena arus airnya yang sangat deras.

Tampak dari jauh Gunung Leuser memang anggun. Para pemanjat gunung biasanya memanjat kaki Leuser dari Desa Kulet, Aceh Selatan. Dua lokasi lainnya yang sering dijadikan pintu gerbang menerobos hutan perawan itu, adalah Ketambe di Kutacane dan Desa Kedah, Kecamatan Kutapanjang, wilayah Blangkeren Gayo Luas, Aceh Tenggara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kisah Obos van Daalen
Gunung Leuser sesungguhnya tidak saja menyimpan kisah menarik karena keangkerannya. Jauh di balik itu semua, jati diri Gunung Leuser banyak memendam kisah, dan persitiwa.

Tak lama setelah perang frontal rakyat Aceh dan Belanda di dataran tinggi pegunungan Gayo Lues Blangkejeren usai tahun 1904, Kapten van Daalen mengambil inisiatif untuk menjelajahi hutan Aceh yang dihuni gerilyawan muslimin Aceh.

Semula taktik dan strategi van Daalen ini terbatas untuk menumpas gerilyawan Aceh, yang tetap melakukan perlawanan tak kenal menyerah sampai Belanda angkat kaki tahun 1942 setelah Jepang mendarat. Namun, rupanya di luar soal militer van Daalen dibuat penasaran mendengar laporan para geolog, bahwa tanah Aceh temyata memendam berbagai deposit mineral yang menggiurkan.

Seperti diketahui, setiap pasukan patroli Belanda dan Marsose menyusup ke pedesaan dan menjelajahi hutan belukar guna mencari kaurn gerilyawan, termasuk di antara anggota pasukan itu selalu disertakan sarjana geologi. Berbeda dengan anggota pasukan lainnya, para geolog ini dalam tugasnya tidak dipersenjatai dengan senjata mesiu, karena mereka hanya melakukan penelitian.

—-Sejauh mata memandang hanyalah warna h ijau terbentang. Gunung Leuser yang masih perawan ini belum seluruhnya bisa dijelajahi lantaran medan yang sangat ganas. Puncak gunung yang selalu diselaputi kabut ini dinamakan Leuser untuk mengenang pimpinan ekspedisi pertama ke tempat ini.

Lantas itu sebabnya setelah situasi merdeka sekarang ini banyak rakyat Aceh menemukan sejumlah pilar daan tugu di beberapa bukit dan hutan pedalaman Aceh. Yang membangun pilar itu tiada lain adalah sarjana geologi Belanda yang menandakan di tempat itu ditemukan deposit mineral aneka jenis. Banyak pula pilar ini kemudian diratakan dengan tanah oleh rakyat, sehingga kehilangan bekasnya. Ini terjadi, terutama di masa Jepang.

Nah, dibukit-bukit menjelang hutan belukar Gunung Leuser pilar-pilar ini juga banyak bertebaran. Memang para patroli Belanda dan Marsuse waktu itu belum mampu menembus sampai ke atas hutan Gunung Leuser yang angker. Selain karena alamnya yang ganas. di sana juga terdapat banyak gerilyawan muslimin Aceh yang berkeliaran siap menerkam patroli Belanda lewat sudut bukit yang strategis.

Kisah Obos van Daalen dengan patroli dan Marsuse yang terkenal kejam itu tidak bisa berbuat banyak menghadapi perlawanan pimpinan gerilyawan muslimin di hutan Gunun Leuser. Nama-nama besar seperti Datok Seure, Datok Pinding, Datok Utel dan Tgk. Chik Tapa adalah pejuang yang tangguh. Panggilan Datok di Tanah Gayo adalah Tgk. Chik di Aceh pesisir.

Ekspedisi pertama 1920
Di penghujung akhir perang Aceh-Belanda, temyata kas keuangan Kerajaan Belanda nyaris kosong. Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia pun diberi tugas mengumpulkan dana dengan pungutan-pungutan yang memberatkan rakyat di pulau Jawa dan Sumatera.

Dalam rangka mencari sumber baru itu, pemerintah Belanda, sesuai sasaran ‘Obos’ van Daalen telah mengirimkan sebuah ekspedisi yang besar untuk menaklukkan puncak gunung yang kemudian diberi
nama pemimpin ekspedisi itu, yakni Leuser. Ekspedisi pertama itu terjadi tahun 1920 dipimpin Leuser, seorang ahli tumbuh-tumbuhan (botanist).

Dalam rombongannya itu tergabung sekitar 70 orang itu, termasuk juga sarjana pertambangan, minyak dan ahli tumbuh-tumbuhan, termasuk pengawalan Marsuse dan kuli-kuli rantai yang mengangkut kebutuhan pangan seluruh rombongan untuk waktu sebulan. Ekspedisi pertama itu gagal. Soalnya rombongan tidak berhasil mencapai puncak dan banyak di antaranya jatuh sakit, bahkaan ada pula yang sampai meninggal.

Untuk menghorman ekspedisi yang pertama dengan pengorbanan yang tidak sedikit itu pemerintah kolonial Belanda menamakan gunung tertinggi di Aceh itu sebagai Gunung Leuser.

Sepanjang tahun bagian puncak Gunung Leuser selalu dibalut kabut tebal. Terutama di ketinggian di atas 2.000 meter udaranya senantiasa mendung. Puncak gunungnya jarang terlihat karena selalu diliputi kabut tebal. Maka rakyat Gayo di Blangkejeren, Aceh Tenggara menamakan Gunung Leuser sebagai Bur Ni Saribulan, Yang berarti gunung yang menyapu awan sampai ke bulan.

Ekspedisi Kedua 1939
Ekspedisi kedua ke Gunung Leuser dilakukan tahun 1939 dipimpin seorang miliarder berkewarganegaraan Amerika Serikat asal Belanda, namanya, dr. Van de Biet. Besarnya anggota ekspedisi sekitar 100 orang. Tim ekspedisi ini naik ke Gunung Leuser melalui Desa Agusen, Palok, Blangkejeren.

Berbeda situasinya, ekspedisi kedua ini mendapat sambutan ramai dari masyarakat setempat dan rakyat melepasnya pergi dengan penuh kegembiraan. Rupanya pimpinan ekspedisi telah melibatkan rakyat untuk turut dalam ekspedisi sebagai kuli yang membawa bekal rombongan dan sejumlah Pawang Hutan yang mengenal lokasi.

Ekspedisi kedua ini berhasil mencapai puncak Gunung Leuser dan menanamkan sejumlah tumbuh-tumbuhan serta bunga yang cocok beriklim dingin. Mereka pun dibuat terkagum-kagum melihat indahnya pemandangan alam, jenis fauna dan flora beraneka ragam, pohon-pohon kayu sebesar truk tinggi menjulang serta pemandangan lainnya.

Selain itu diperkirakan Gunung Leuser yang anggun dan angker itu, memendam tambang emas, minyak dan berbagai jenis deposit mineral lainnya.

Pangeran Benhard, suami Ratu Juliana dari Belanda, bila suatu kali datang ke Indonesia, tak lupa ia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Ketambe, Kutacane, Aceh Tenggara. Taman Nasional ini terbesar bukan saja di Indonesia, tapi juga terindah di dunia. Dunia memiliki hanya tigabuah cagar alam yang benar-benar memukau dan mempesona. Sebuah di Amerika, yaitu di Amazone. Yang lainnya di Afrika, yaitu di Afrika Tengah. Dan satu lagi di Asia, yaitu Gunung Leuser. (Tgk. A.K. Jakobi )
————————–

Dunia pun Kagumi Fauna dan Flora Gunung Leuser

Sejak ekspedisi pertama dilakukan Leuser tahu 1920, baru 60 tahun kemudian kawasan ini mulai ditangani pemerintah. Itupun masih agak terbatas, sehingga tak banyak informasi yang diperoleh publik publik tentang keistimewaan cagar alam ini.

Kawasan pelestarian alam Gunung Leuser diresmikan oleh Menteri Pertanian tanggal 6 Maret 1980 menjadi Taman Nasional yang terbesar di Indonesia. Terbentang sepanjang lebih 100 Km, mulai dari dataran tinggi pegunungan Gayo di Leuser 3419 meter. Gunung Kemiri (3340) dan Gunung Bendahara (3010) menembus gugusan Bukit Barisan di Langkat dan Sumatera Timur.

Secara administratif, letak Kawasan Taman nasional Gunung Leuser berada di Kabupaten Aceh tenggara dan kabupaten Aceh Selatan di Propinsi daerah Istimewa Aceh meliputi 76,80% luas wilayahnya. Sedangkan sisanya seluas 23,20% terletak di Propinsi Sumatera Utara. Luas wilayah ini seluruhnya 862.975 hektare.

Taman nasional ini memiliki potensi sumber daya alam yang khas dan unik, mencakup ribuan jenis flora dan fauna yang spesifik, sumber-sumber bahan tambang/ galian aneka jenis, minyak, sumber air panas. Selain itu di taman nasional ini ekosistem terhitung lengkap mulai dari hutan pantai di Suaka Margasatwa Gunung Leuser dan Suaka Margasatwa Kappi di Blangkejeren.

Fungsi kawasan Taman Nasional Gunung Leuser adalah perlindungan dan pengawetan sumber-sumber plasma nutfah, pelestarian pemanfaatan sumber daya alam untuk tujuan rekreasi dengan mengembangkan objek wisata alam yang tersedia. Di samping itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian tentang konservasi sumber daya alam dan kebudayaan.

Seperti diketahui Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu lokasi paling lengkap dalam bidang penelitian konservasi sumber daya alam yang bertaraf internasional. Ini terbukti lebih banyaknya kaum ilmuwan dan para ahli asing yang datang ke Taman Nasional ini untuk melakukan penelitian, baik sendiri-sendiri maupun kelompok. Sedangkan peneliti nasional relatif masih terbatas.

Ragam ekosistem
Kawasan Taman Nasional yang luas itu, memiliki beberapa ekosistem, di antaranya ekosistem pantai, ekosistem rawa, ekosistem dataran rendah, ekosistem dataran tinggi dan eko-sistem daerah pegunungan.

Untuk wisatawan berbagai objek yang dapat dinikmati juga adalah gua alam, air terjunyang tinggi dan besar, air panas, gunung dan lembah yang indah dengan pemandangan alam yang mempesona.

Pengelolaan Taman Nasional ini dibagi empat zona. Zona Rimba. Zona Pemanfaatan Intensif, Zona Penyangga. dan Zona Wisata. Masing-masing zona memiliki aturan main yang berbeda. Dalam zona penyangga misalnya, boleh dilakukan kegiatan pertanian. Tapi tidak untuk zona yang lain.

Areal kawasan ini terletak pada ketinggian 0 (nol) meter di tepi pantai daerah Kluet di kabupaten Aceh Selatan sampai lebih 3.000 meter di Gunung Leuser dataran tinggi Gayo Lues di Blangkejeren, Kabupaten Aceh Tenggara.

Gunung-gemunungnya yang menjulang dengan lembah yang landai disertai ngarai dan su-ngai yang elok, melahirkan pemandangan alam yang indah dengan daerah pegunungan yang bergelombang ringan dan berat, terjal dan anggun.

Dari segi jenis batu-batuan yang unik dan beragam. ditemukan antara lain batuan sedimen, batuan vulkanik dan batuan pluton. Iklim tanahnya tanahnya didominasi oleh kompleks podsolik coklat dan litosol. Adapun klasifikasi kemampuan lahannya tergolong klas kemampuan VII, yaitu lahan yang cocok
unnik hutan lindung dan suaka satwa. Curah hujan cukup tinggi rata-rata 2000-3000 mm/tahun dan merata sepanjang tahun tanpa bulan yang kering.

Fauna dan Flora
Di Gunung Leuser sampai sekarang, paling tidak, dikenal enam jenis primata, seperti Mawas (pongo pygmaeus abelli), Siamang (hylobates syndactilus), Sarudung (hylobates lar), Kera (Macaca fascicularis), Beruk (Macaca nemestrinal) dan Kedih (Prebytis thomasi).

Selain itu Taman Nasional ini dihuni juga oleh Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Badak Sumatera, Gajah, Beruang Madu, Kambing Hutan, Macan Dahan, Sambar dan berbagai jenis burung, seperti Rangkong Badak (Buceros rhirtoceros) dan Kupu-kupu.

Sungainya terkenal pula memiliki ikan yang gurih, seperti ikan Jurung di sungai Alas dan ikan Gegaring serta lli. Gerep di sungai Tripa di Blangkejeren. Seperti diketahui, sungai Tripa yang bersumber dari Gunung Leuser turun ke Blangkejeren sampai terus ke Takengon dan bermuara di Peusangan (Aceh Utara).

Mengenai floranya tercatat sampai sekarang tidak kurang dari 3500 jenis tumbuh-tumbuhan yang spesifik, dan tidak dimiliki oleh negeri asing. Juga ada bunga Rafflesia. Bunga terbesar di dunia dan selalu menarik untuk diteliti dan dinikmati. Bunga ini ada dua jenis, yaitu Rafflesia Atlehensis dan Rizanthes Zipplenii. Di samping itu bertaburan aneka jenis anggrek yang indah dan memikat.

Sebagian besar kawasan Gunung Leuser masih belum dijamah manusia. Sehingga sering disebut Leuser sebagai hutan perawan, orisinil. Satuan-satuan kerja yang menempati pos-pos yang dibangun secara darurat, umumnva berada di kaki gunung, belum sanggup menguak sampai ke dalam hutan yang ganas. Oleh sebab itu jenis fauna dan floranya pun belum seluruhnya dapat diungkapkan secara persis.

Sumber: Media Indonesia, 21 Oktober 1992

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 109 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB