Home / Profil Ilmuwan / Susanti Withaningsih: Sang Pemantau Burung Garuda

Susanti Withaningsih: Sang Pemantau Burung Garuda

“Ada kesenyapan yang aneh. Kemana saja perginya burung-burung? Tiada kicauan dan cericit burung pada musim semi tahun ini. Kesunyian mencekam di padang, hutan, dan rawa yang tak jauh dari kota itu.”

Kutipan tersebut diambil dari buku “Silent Spring” yang amat terkenal karya Rachel Carson. Buku itu terbit 50 tahun lalu. Buku itu monumental bagi bangkitnya kesadaran warga dunia tentang pentingnya melindungi kelestarian lingkungan dari penggunaan pestisida, seperti DDT alias “dichloro-diphenyl trichloroethane”.

Walaupun tak sama persis, penelitian Susanti Withaningsih tentang empat jenis elang di Jawa barat memiliki semangat yang sama.

Doktor biologi Universitas Padjadjaran, Bandung, yang diwisuda Selasa (7/8) ini memberi peringatan kepada kita bahwa rusaknya ekosistem hutan dan bentang alam yang mengitarinya akan memusnahkan burung pemangsa tersebut.

Burung pemangsa adalah bagian dari hidup Susanti (36), dosen tidak tetap Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran (Unpad). Setidaknya 15 tahun dari usianya diabdikan untuk penelitian elang, burung yang bertengger pada puncak rantai makanan.

Tak hanya memahami perannya terhadap ekosistem, Susanti juga belajar banyak dari burung elang. Salah satunya elang jawa (Spizaetus bartelsi), spesies yang disebut sebagai inspirasi lambang negara Indonesia, Garuda, karena jambul khas di kepalanya. Saat ini, binatang endemik Pulau Jawa ini masuk dalam kategori genting atau terancam punah.

Pada 10 Juli lalu, Susanti berhasil mempertahankan disertasinya terkait habitat elang jawa dan tiga jenis elang lain. Ia pun lulus dengan predikat cum laude, sama seperti predikat  kelulusan S-1 dan S-2-nya. Ketika diwisuda, ia juga memperoleh penghargaan sebagai Peraih Predikat Cum Laude Jenjang Pendidikan Doktor dari Program Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia memperoleh predikat cum laude walau pendidikan doktor ditempuhnya genap lima tahun. Ini karena publikasinya di jurnal internasional dan penyajiannya di beberapa simposium internasional burung pemangsa.

“Penelitian saya tentang elang saya rintis sejak masih kuliah di S-1,” ujarnya saat ditemui di kantornya, akhir pekan lalu.

Kantornya dahulu bernama Lembaga Ekologi, lalu berubah menjadi Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Unpad yang dirintis oleh almarhum Prof Otto Soemarwoto, pakar ekologi terkemuka Indonesia.

Pada 1997, Susanti bersama Yayasan Pribumi Alam Lestari mendampingi kru dari TV Jepang, NHK, membuat film dokumenter pertama tentang elang jawa. “Referensi mengenai elang yang ditulis orang Indonesia baru muncul pada 2006 oleh Dewi Prawiradilaga. Sebelumnya, penelitian elang jawa dan elang-elang lain dilakukan dua orang Belanda yakni Sebastian van Balen dan Vincent Nijman,” katanya.

Dua lokasi yang dipilih untuk pembuatan film dokumenter adalah kawasan Telaga Warna di Desa Cibulao, Puncak Pass, Cianjur, serta hutan Panaruban di Kabupaten Subang. Dari sana, ia belajar mengidentifikasi jenis-jenis elang, melacak titik yang diduga menjadi sarang elang, termasuk sebaran distribusi dan wilayah jelajah elang. Ia jadi terbiasa naik turun pohon di hutan untuk mendapatkan data tentang elang yang biasa bersarang di pucuk-pucuk pohon. Ia bersyukur karena itu menjadi bekal penelitian untuk disertasinya tentang elang jawa, elang hitam, elang brontok dan elang ular.

Satu pasangan
Dari pengalaman selama meneliti elang, Susanti ternyata belajar banyak. Elang yang kerap diperdagangkan secara ilegal ternyata memiliki hal-hal unik yang tidak banyak diketahui orang. Reproduksi elang jawa dan ketiga jenis elang lainnya cukup kompleks. Hanya berlangsung sekitar sekali setahun dan bertelur hanya sebutir.

Induk elang juga sensitif terhadap perubahan disekitarnya. Pembabatan hutan dan penangkapan liar merupakan ancaman utama bagi populasi elang. Jika ada suara yang asing, elang akan pergi meninggalkan telur sampai busuk dan gagal menetas. Jika pasangannya tidak ada, elang akan berhenti bereproduksi karena mereka adalah makhluk yang monogamus seumur hidup.

“Itulah yang harus dipikirkan oleh orang yang memburu elang. Satu ekor hilang berarti satu alur keturunan punah sudah,” ujar Susanti.

Padahal, punahnya hewan pemangsa puncak seperti elang menurut ekologi juga membawa dampak ikutan yang tak kalah mengerikan bagi lingkungan. Hilangnya predator mengakibatkan tidak terkendalinya populasi hewan yanga ada di bawahnya dan seterusnya. Merebaknya ulat bulu hingga tomcat adalah akibat hilangnya hewan pemangsa, selain juga karena perubahan iklim yang sudah diperingatkan oleh Prof Otto sejak 1970-an. Ia mengingat sosok Prof Otto yang tahun 2007 pada usia hampir 80 tahun ikut melepasliarkan dua elang di hutan Panaruban, Subang. “Beliau yang mengajarkan kepada saya peringatan Rachel Carson dalam buku Silent Spring,” tuturnya.

Sebagai hewan endemis, Susanti menegaskan bahwa elang jawa hanya ditemui di Pulau Jawa, mencari makanan yang spesifik di Pulau Jawa, dan tidak ikut bermigrasi seperti burung dari Benua Eropa. “Satwa yang terancam punah ini harus diselamatkan, bukan hanya karena menjadi simbol negara kita,” ujarnya.

Tentang statusnya yang hingga kini hanya anggota staf pengajar tidak tetap Program Magister Ilmu Lingkungan di Unpad, Susanti hanya tersenyum dan menyatakan, “Kita harus berupaya tidak berada di zona nyaman agar kita tetap kreatif.”

Yang luar biasa adalah kreativitas dan kegigihan Susanti memperoleh beasiswa serta hibah untuk membiayai kuliah dan penelitiannya yang mencapai lebih dari Rp 500 juta. Dana itu sebagian diperolehnya dari Beasiswa Unggulan, selebihnya yang terbesar dari hibah Strategis Nasional Ditjen Dikti dan beasiswa sandwich ke University of Tokyo untuk pembuatan peta sebaran elang.

Namun, yang lebih luar biasa adalah kepeduliannya untuk pengembangan sumber daya manusia bagi pelestarian lingkungan hidup. Susanti mengupayakan 10 guru memperoleh beasiswa tersebut untuk studi di Program Magister Ilmu Lingkungan Unpad. Hingga kini jumlah guru yang dibantu Susanti mencapai 32 orang, dua orang di antaranya kini sedang menempuh S-3 di belanda dan Jerman.

SUSANTI WITHANINGSIH
Lahir: Bandung, 19 Mei 1976
Pendidikan:
– S-1 Biologi FMIPA Universitas Padjadjaran, 1999
– S-2 Ilmu Lingkungan Hidup Unpad, 2002
– Doktor Biologi Unpad, 2012
Pekerjaan:
– Konsultan Bappenas (2003-2004), UNDP (2004-2006), dan Bank Dunia
(2009-2010 untuk konservasi lingkungan hidup
– Staf pengelola dan dosen tidak tetap Program Studi Magister Ilmu
Lingkungan Unpad, 2006-kini
Prestasi: Peraih predikat cum laude jenjang pendidikan S-1, S-2, dan doktor

OEH IRWAN JULIANTO & DIDIT PUTRA ERLANGGA R

Dikutip dari KOMPAS, SELASA, 14 AGUSTUS 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: