Habitat Burung Air Migran Terancam

- Editor

Rabu, 17 Oktober 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi iklim yang relatif hangat sepanjang tahun menjadikan Indonesia sebagai salah satu jalur migrasi burung air yang bermigrasi dari jalur Asia Timur-Australia dan jalur Pasifik Barat. Tempat-tempat yang sering disinggahi adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Namun, burung air ini terancam punah karena diburu manusia. Untuk itu, kerja sama sejumlah pihak dibutuhkan dalam upaya melindungi burung tersebut.

Hal ini mengemuka dalam diskusi bedah buku milik Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Sukadi Alikodra berjudul “Konservasi Burung Air: Perjuangan Melawan Kepunahan”, di Slipi, Jakarta, Selasa (16/10/3018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS–Para pembicara dalam bedah buku Hadi Sukadi Alikodra yang berjudul “Konservasi Burung Air: Perjuangan Melawan Kepunahan”, di Slipi, Jakarta Barat, Selasa (16/10/2018).

Dalam acara itu, hadir sebagai pembahas yakni Rudy C Tarumingkeng dari IPB, Azyumardi Azra dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ani Mardiastuti dari IPB, Yus Rusila Noor dari Wetlands International Indonesia, dan Agustinus Gusti Nugroho alias Nuggie.

Alikodra dalam buku itu menyebutkan, Indonesia menjadi tempat singgah burung pantai yang bermigrasi dari jalur Asia Timur-Australia dan jalur Pasifik Barat. Tempat-tempat yang sering disinggahi itu adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, NTT, dan Papua, (Alikodra: 2018).

Azyumardi Azra mengatakan, masyarakat memburu beberapa jenis spesies burung migran seperti berkik, trinil, dan kedidi karena memiliki nilai jual tinggi. Ada juga masyarakat yang memburu burung tersebut karena tidak mengetahui jenis burung migran dan burung yang dilindungi.

Perburuan terhadap burung air migran maupun burung air nonmigran hanya dapat diatasi dengan kesadaran bersama untuk menjaga dan melindunginya sebagai bagian dari makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup. “Tidak banyak orang tahu tentang burung air walaupun sering kita lihat,” ucap Ani Mardiastuti.

Ani menambahkan, masih banyak burung air yang menjadi obyek perburuan karena sebagian tempat persinggahannya berada di luar kawasan konservasi seperti pantai utara Indramayu-Cirebon, Jawa Barat dan Rawa Gelam Sungai Muning, Kalimantan Selatan.

Sepanjang September 2017 hingga Mei 2018 terdapat 80 ekor burung trinil dan 496 ekor burung berkik yang tertangkap jaring pemburu burung di Pantura Indramayu-Cirebon, (Alikodra: 2018).

Oleh karena itu, kata Ani, peran pemerintah dibutuhkan dalam melindungi migrasi burung dengan meratifikasi Convention On migratory Species (CMS). Namun, hingga kini konvensi tersebut belum diratifikasi untuk mencegah perburuan burung migran. Indonesia akan masuk daftar merah masifnya perburuan burung migran di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno, Indonesia merupakan negara tempat hidup berbagai spesies burung yang ada di dunia. Namun, kekayaan ini jadi tantangan untuk menjaga dan melestarikan berbagai spesies burung yang hidup maupun singgah ke Indonesia.

STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS–Wiratno

“Konservasi burung migran dibutuhkan kesadaran bersama. Di kawasan konservasi, masyarakat juga harus dilibatkan seperti saat survei dan riset,” ucapnya.

Konservasi burung migran dibutuhkan kesadaran bersama. Di kawasan konservasi, masyarakat juga harus dilibatkan seperti saat survei dan riset.

Wiratno menegaskan, pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku perdagangan, penangkapan, dan pembunuhan terhadap satwa dilindungi termasuk burung air migran.

Kerusakan habitat
Yus Rusila Noor memaparkan, ancaman terbesar keberlangsungan hidup burung air adalah kehilangan habitat. Hal ini karena tempat singgah satwa ini biasanya berada di lahan basah seperti rawa, pantai, dan danau.

Tempat tersebut merupakan area bagi burung migran untuk beristirahat dan mencari makanan seperti cacing, moluska, dan ikan. Namun, kerusakan lingkungan seperti pencemaran laut dan penebangan hutan mangrove mengancam ketersediaan pakan burung air migran.

“Pembangunan kawasan pemukiman atau pabrik juga perlu memperhatikan tempat tinggal burung air. Karena itu, kerja sama lintas instansi pemerintah dibutuhkan saat penataan ruang,” kata Yus. (STEFANUS ATO)–EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB