Home / Berita / Habitat Burung Air Migran Terancam

Habitat Burung Air Migran Terancam

Kondisi iklim yang relatif hangat sepanjang tahun menjadikan Indonesia sebagai salah satu jalur migrasi burung air yang bermigrasi dari jalur Asia Timur-Australia dan jalur Pasifik Barat. Tempat-tempat yang sering disinggahi adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Namun, burung air ini terancam punah karena diburu manusia. Untuk itu, kerja sama sejumlah pihak dibutuhkan dalam upaya melindungi burung tersebut.

Hal ini mengemuka dalam diskusi bedah buku milik Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hadi Sukadi Alikodra berjudul “Konservasi Burung Air: Perjuangan Melawan Kepunahan”, di Slipi, Jakarta, Selasa (16/10/3018).

STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS–Para pembicara dalam bedah buku Hadi Sukadi Alikodra yang berjudul “Konservasi Burung Air: Perjuangan Melawan Kepunahan”, di Slipi, Jakarta Barat, Selasa (16/10/2018).

Dalam acara itu, hadir sebagai pembahas yakni Rudy C Tarumingkeng dari IPB, Azyumardi Azra dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ani Mardiastuti dari IPB, Yus Rusila Noor dari Wetlands International Indonesia, dan Agustinus Gusti Nugroho alias Nuggie.

Alikodra dalam buku itu menyebutkan, Indonesia menjadi tempat singgah burung pantai yang bermigrasi dari jalur Asia Timur-Australia dan jalur Pasifik Barat. Tempat-tempat yang sering disinggahi itu adalah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, NTT, dan Papua, (Alikodra: 2018).

Azyumardi Azra mengatakan, masyarakat memburu beberapa jenis spesies burung migran seperti berkik, trinil, dan kedidi karena memiliki nilai jual tinggi. Ada juga masyarakat yang memburu burung tersebut karena tidak mengetahui jenis burung migran dan burung yang dilindungi.

Perburuan terhadap burung air migran maupun burung air nonmigran hanya dapat diatasi dengan kesadaran bersama untuk menjaga dan melindunginya sebagai bagian dari makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak untuk hidup. “Tidak banyak orang tahu tentang burung air walaupun sering kita lihat,” ucap Ani Mardiastuti.

Ani menambahkan, masih banyak burung air yang menjadi obyek perburuan karena sebagian tempat persinggahannya berada di luar kawasan konservasi seperti pantai utara Indramayu-Cirebon, Jawa Barat dan Rawa Gelam Sungai Muning, Kalimantan Selatan.

Sepanjang September 2017 hingga Mei 2018 terdapat 80 ekor burung trinil dan 496 ekor burung berkik yang tertangkap jaring pemburu burung di Pantura Indramayu-Cirebon, (Alikodra: 2018).

Oleh karena itu, kata Ani, peran pemerintah dibutuhkan dalam melindungi migrasi burung dengan meratifikasi Convention On migratory Species (CMS). Namun, hingga kini konvensi tersebut belum diratifikasi untuk mencegah perburuan burung migran. Indonesia akan masuk daftar merah masifnya perburuan burung migran di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno, Indonesia merupakan negara tempat hidup berbagai spesies burung yang ada di dunia. Namun, kekayaan ini jadi tantangan untuk menjaga dan melestarikan berbagai spesies burung yang hidup maupun singgah ke Indonesia.

STEFANUS ATO UNTUK KOMPAS–Wiratno

“Konservasi burung migran dibutuhkan kesadaran bersama. Di kawasan konservasi, masyarakat juga harus dilibatkan seperti saat survei dan riset,” ucapnya.

Konservasi burung migran dibutuhkan kesadaran bersama. Di kawasan konservasi, masyarakat juga harus dilibatkan seperti saat survei dan riset.

Wiratno menegaskan, pihaknya juga telah menjalin kerja sama dengan aparat kepolisian untuk menindak tegas pelaku perdagangan, penangkapan, dan pembunuhan terhadap satwa dilindungi termasuk burung air migran.

Kerusakan habitat
Yus Rusila Noor memaparkan, ancaman terbesar keberlangsungan hidup burung air adalah kehilangan habitat. Hal ini karena tempat singgah satwa ini biasanya berada di lahan basah seperti rawa, pantai, dan danau.

Tempat tersebut merupakan area bagi burung migran untuk beristirahat dan mencari makanan seperti cacing, moluska, dan ikan. Namun, kerusakan lingkungan seperti pencemaran laut dan penebangan hutan mangrove mengancam ketersediaan pakan burung air migran.

“Pembangunan kawasan pemukiman atau pabrik juga perlu memperhatikan tempat tinggal burung air. Karena itu, kerja sama lintas instansi pemerintah dibutuhkan saat penataan ruang,” kata Yus. (STEFANUS ATO)–EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 17 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: