Home / Berita / Puncak Migrasi Burung Tak Terganggu Asap

Puncak Migrasi Burung Tak Terganggu Asap

Puncak migrasi burung ke Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan tak terganggu kabut asap yang melanda September-Oktober. Puncak migrasi tetap sesuai siklus, yaitu November. Sebelumnya, ada kekhawatiran migrasi terganggu.

Sejak awal November, ribuan burung air memadati hamparan muara sungai-sungai di TN Sembilang. Burung air itu berasal dari berbagai jenis, seperti bangau bluwok putih, bangau hitam, trinil lumpur asia, dan biru laut. Jumlahnya 30.000 ekor.

“Ternyata tidak ada pergeseran puncak musim burung migran. Sebab, kabut asap berakhir November, yang memang puncak burung migran,” ujar polisi hutan TN Sembilang, Een Suhendra, di Banyuasin, Jumat (20/11).

Sebagian burung menempuh perjalanan ribuan kilometer saat musim dingin di Siberia menuju musim panas di Australia. Rombongan burung itu singgah di TN Sembilang selama 3-4 bulan.

TN Sembilang terletak di pesisir pantai timur Sumatera dan Selat Bangka yang ditempuh lima jam perjalanan dengan kapal cepat dari Kota Palembang. Sebagian besar ekosistemnya terdiri dari lahan basah, rawa-rawa, dan hutan mangrove yang berlimpah makanan burung air, seperti ikan, remis, kerang, dan cacing.

7b7f723fb5c7418baa8f85236a797d7eKOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM—Ribuan burung beterbangan di hamparan berlumpur di muara sungai di Taman Nasional (TN) Sembilang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (18/11). Setiap November, 30.000-40.000 burung singgah di TN Sembilang saat migrasi tahunan dari Siberia menuju Australia. Mengamati burung migran siap dijadikan potensi wisata minat khusus.

Menurut Kepala TN Sembilang Syahimin, TN Sembilang ditetapkan sebagai situs dalam jaringan kerja situs jalur terbang pada 2012. “Hanya ada dua taman nasional yang masuk situs ini, satunya lagi Taman Nasional Wasur di Papua,” katanya.

Jalur terbang yang melintasi Indonesia adalah jalur terbang Asia Timur-Australasia yang meliputi 22 negara dari Rusia timur, Alaska, Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Australia dan Selandia Baru. Situs-situs jalur terbang itu rumah 33 spesies burung air yang terancam punah dan 13 spesies yang hampir terancam punah.

Status itu menunjukkan pentingnya kelestarian TN Sembilang secara internasional. Saat ini, kian banyak situs persinggahan berkurang karena alih fungsi dan aktivitas manusia.

Menurut Syahimin, musim burung migran merupakan aset penting TN Sembilang. Upaya mendorong pengamatan burung migran menjadi pariwisata lingkungan terus dilakukan, termasuk membangun menara pantau. (IRE)
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 November 2015, di halaman 13 dengan judul “Puncak Migrasi Burung Tak Terganggu Asap”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: