Ekosistem Unik Pulau Basu Terancam

- Editor

Senin, 15 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ekosistem unik perpaduan hutan mangrove, rawa gambut, dan daratan lumpur luas di Pulau Basu, Indragiri Hilir, Riau, terancam pembukaan kebun kelapa sawit besar-besaran. Itu diyakini bakal mengakhiri kisah panjang migrasi beberapa jenis burung asal Siberia dan Tiongkok ke pulau itu sejak ratusan tahun silam.

“Ancaman nyata berlangsung. Kerusakan justru di jantung pulau dengan ketersediaan air tawar. Kalau tidak segera berbuat, mari menunggu waktu saat burung-burung migran itu tak akan datang lagi. Mari selamatkan Pulau Basu,” ujar Haris Gunawan, pakar ekosistem rawa gambut Universitas Riau, di sela-sela kunjungan ke Pulau Basu di Tembilahan, akhir pekan lalu.

Kunjungan ke Pulau Basu itu inisiatif Bupati Indragiri Hilir Muhammad Wardan, yang ingin sebagian lokasi pulau dijadikan kawasan konservasi taman hutan raya. Ikut meninjau antara lain Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hani Hadiati, Kepala Pusat Pengelolaan Ekoregion Sumatera Amral Fery, Kepala Subdinas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau Johny Lagawurin, dan Kepala Badan Lingkungan Hidup Inhil Encik Kamal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pulau Basu merupakan habitat burung langka bangau putih susu (Mycteria cineria) dengan populasi sekitar 5.500 ekor. Selain itu, setiap tahun dimulai Juni, ribuan burung migran seperti bangau tongtong (Leptoptilos javanicus), kuntul kecil (Egretta garzetta), dan kediki kaki merah (Tringa totanus) singgah setelah terbang dari Siberia dan Tiongkok, sebelum menuju Australia.

Di sana, dua menit setelah masuk ke pulau itu melewati jalur Sungai Ular, pemandangan kawasan mangrove terbuka karena ditebangi pihak perusahaan. Tak lama kemudian terhampar ribuan hektar pepohonan kelapa sawit PT IJA yang memiliki izin konsesi seluas 7.800 hektar dari pulau seluas 45.000 hektar itu.

fa315f9f3c8e441582052a625829cfbdEkosistem Pulau Basu di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, terancam pembukaan perkebunan kelapa sawit besar-besaran. Pulau terluar di Riau itu merupakan habitat burung langka dan beberapa burung migran dari Siberia dan Tiongkok. Apabila tidak cepat ditangani, kisah migrasi burung besar-besaran di kawasan mangrove itu akan tinggal kenangan.–KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI

Pihak PT IJA juga membuka kanal rawa gambut yang langsung bersentuhan dengan Danau Mablu di tengah pulau. Air tawar dari danau akhirnya bercampur gambut dan keluar menuju laut. Pihak perusahaan segera menutup pintu kanal di danau setelah Wardan menulis surat khusus.

“Dahulu masyarakat melarang saya datang ke pulau itu karena daerah itu terkenal angker. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi yang angker,” kata Wardan.

Kehadiran PT IJA, menurut Encik Kamal, dimulai tahun 2013 ketika bupati sebelumnya masih menjabat. Semula, seluruh pulau itu kawasan lindung konservasi gambut, tetapi belakangan status kawasan lindung gambut dicabut.

Hani Hadiati mengungkapkan, pemberian izin perkebunan kelapa sawit di pulau terluar Indragiri Hilir itu ketelanjuran. Ia meminta para pihak terkait meneliti kembali perizinan itu.

“Coba dilihat bagaimana amdal perusahaan ini. Coba ditelaah serius agar dapat ditinjau ulang,” ujar Hani kepada perwakilan Kementerian LHK di Riau. (SAH)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 15 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Ekosistem Unik Pulau Basu Terancam”.

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 56 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB